Khotbah Perjanjian Baru

Telinga Seorang Murid

Namun, jika kita membandingkannya dengan teks yang sama yang ditulis oleh Matius, ada catatan disana: lalu mereka kecewa dan menolak Dia. (Matius 13:57a). Demikian juga dengan catatan Markus (Markus 6:3c). Bisa diterjemahkan: “Siapa sih dia itu? Koq berani-beraninya berkata begitu? Dia itu kan hanya anak tukang kayu!”

Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” Artinya, Tuhan Yesus membaca pikiran mereka yang berkata: “Buktikan dulu kata-katamu dengan mujizat seperti yang kata orang kamu lakukan di Kapernaum, baru kami akan percaya.”

Maka, Tuhan Yesus pun berkata lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” Matius menambahkan: “Dan karena ketidak percayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakannya di situ.”  Demikian juga Markus berkata: “Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit.” (Markus 6:5-6a).

Jadi, kata-kata Tuhan Yesus yang indah itu, tidak berdampak baik melainkan justru berdampak buruk karena mereka tidak percaya. Mereka tidak percaya karena mereka melihat penampilan fisiknya, tidak melihat siapa Dia yang sebenarnya. Mereka tidak bisa melihat siapa Dia yang sebenarnya, karena mereka memiliki prasangka buruk, bahwa tidak mungkin anak tukang kayu bisa menghasilkan hal yang begitu mulia.

Mereka bertambah marah ketika Tuhan Yesus menunjukkan kebenaran bahwa pada jaman Elia banyak perempuan janda di Israel, tetapi Tuhan justru mengutus dia kepada janda Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada jaman Elisa banyak orang di Israel yang sakit kusta tetapi yang Tuhan sembuhkan hanya Naaman, orang Siria.

Mengapa mereka bertambah marah? Karena kebenaran tersebut menusuk hati mereka dan membuka mata mereka akan sebuah fakta bahwa mereka tidak sebaik yang mereka kira. Orang Yahudi sangat mengagungkan bangsanya dan berpikir bahwa Tuhan pasti berkenan bahkan mengistimewakan mereka.  Bukankah mereka adalah bangsa pilihan yang derajatnya lebih tinggi dari semua bangsa di dunia ini?

Kata-kata yang kita dengar berdampak baik atau buruk, tidak tergantung dari kata-kata itu sendiri, melainkan bagaimana sikap hati kita dalam menerimanya.

Pada hari anaknya dikeluarkan dari sekolah hanya setelah dua bulan masuk sekolah, ibu dari Thomas Alfa Edison mendengar kata-kata yang menghancurkan dari guru anaknya: “Anak ibu sangat bodoh sehingga tidak bisa dididik di sekolah ini.” Namun, Thomas Alfa Edison, bukannya hancur, melainkan menjadi penemu listrik yang namanya dicatat di dalam sejarah dunia. Mengapa? Karena ibunya menanggapi kata-kata tersebut bukan dengan tersinggung, marah atau merasa terhina, melainkan dengan membawanya kepada Tuhan sehingga ia bisa melihat dengan mata iman, bahwa anaknya tidak bodoh, hanya memiliki keunikan yang harus ditemukan dan bertekad untuk mendidik sendiri anaknya itu serta menemukan keunikannya. Maka, selama bertahun-tahun dengan ribuan kali kegagalan, ibu dari Thomas Alfa Edison itu mendampingi anaknya melakukan percobaan demi percobaan hingga akhirnya menuai hasil yang luar biasa itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *