Khotbah Perjanjian Baru

Telinga Seorang Murid

Jadi, jika kita gampang tersinggung, memiliki prasangka negatif, gampang merasa terhina, gampang putus asa, karena kata-kata yang diucapkan orang lain, kita rugi sendiri. Sebaliknya, jika kita bersikap seperti ibu dari Thomas Alfa Edison, maka apa pun kata-kata yang dilontarkan kepada kita, bisa menjadi alat untuk membuat kita bertumbuh dan mempertajam potensi kita, berkat Tuhan akan mengalir kepada kita, mujizat Tuhan terjadi dan orang yang berkata-kata sembarangan itu yang akan dipermalukan.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Untuk  mendengarkan dengan bijaksana bukan semata-mata soal telinga, melainkan soal hati. Orang banyak itu hatinya tidak percaya, merendahkan orang lain karena melihat penampilannya, penuh prasangka buruk, sombong, merasa paling benar, paling suci, paling hebat, dst dan mereka kehilangan kesempatan yang mulia untuk menerima anugerah keselamatan beserta semua berkat yang mengikutinya.

Jadi, yang harus diubah terutama adalah hati, bukan telinga. Kalau hati benar, maka  telinga juga benar.

Kita membutuhkan hati yang lemah lembut dan rendah hati serta mata hati yang tajam untuk dapat memahami dan menerima kebenaran apa adanya dan bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus.

Kebenaran itu memang menyakitkan dan memalukan, sebab kebenaran itu seperti terang yang menyingkapkan sisi-sisi gelap hati kita yang tersembunyi. Seperti pisau yang mengoperasi luka kita dan membersihkan nanah yang ada di dalamnya. Namun, jika kita mau menerima dan berproses dengan Tuhan, maka Tuhan akan mentranformasi hidup kita dan membuatnya luar biasa.

Caranya bagaimana? Ketika kita mendengar kata-kata yang menyakitkan, jangan mau dikuasai oleh sakit hati, datanglah kepada Tuhan dan ceritakan dengan jujur perasaan saudara dan minta Tuhan menyingkapkan kebenaran-Nya. Siapa tahu orang itu benar, hanya saja saudara belum sadar karena masih ada luka hati, prasangka buruk, penghakiman, dll yang belum kita selesaikan, sehingga kemampuan kita untuk mendengarkan terdistorsi. Doa pemazmur: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mz 139:23-24), dapat menolong kita.

Ketika Tuhan menyingkapkan kebenaran-Nya di dalam hati kita, akui dengan jujur,  minta ampun dan ampuni orang yang telah menyakiti kita. Seringkali, ketika hati kita diubahkan, persepsi kita  terhadap kata-kata tersebut berubah.  Jika ini terus-menerus kita lakukan, maka suatu hari nanti, kita akan heran dengan pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita.

Kabar baiknya, sering kali potensi kita muncul justru ketika kita mendengar kata-kata yang menyakitkan dan kita mampu mengelolanya dengan baik.

Kiranya Tuhan menolong kita membersihkan hati kita dan memberi kita telinga seorang murid. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *