Khotbah Perjanjian Baru

Terikat … dan Akhirnya Terlepaskan!

Terikat … dan Akhirnya Terlepaskan!

Lukas 13:10-17

oleh: Jenny Wongka †

Lukas Pasal 13 menceritakan sebuah kisah yang terjadi pada masa pelayanan Yesus di bumi sementara Dia memberikan pengajaran-Nya di dalam sebuah rumah ibadat atau sinagoga. Tiba-tiba perhatian-Nya terarah pada seorang perempuan yang sudah 18 tahun lamanya dirasuk roh jahat sehingga ia sakit sampai punggungnya bungkuk dan tidak dapat berdiri tegak. Hati Tuhan kita tergerak oleh belas kasihan atas penderitaan perempuan itu. Kemudian Dia memanggilnya dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh!” Kemudian Dia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu dengan tegak untuk pertama kalinya setelah 18 tahun. Hari itu adalah hari pembebasan baginya. Hari yang paling menyukakan dan paling pantas untuk disyukuri. Ia tidak akan dapat melupakan hari itu karena Kristus telah membebaskannya.

Melalui perikop kisah ini, saya mengajak Anda merenungkan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita pelajari.

Seorang Perempuan yang Diberkati di Bait Allah

Kisah ini dibuka dengan kalimat, “Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang sudah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri dengan tegak” (Lukas 13:10,11).

Perikop ini terjadi di pada Hari Sabat di dalam Rumah Ibadat (synagoge) atau The House of God (Rumah Allah). Sebenarnya wanita tua ini memiliki alasan kuat untuk tinggal di rumahnya sepanjang hari, karena kondisi fisiknya tidak memungkinkannya bepergian, dan keadaan itu membuatnya malu karena berisiko dicemooh orang lain. Tetapi ia meneguhkan dirinya dengan pergi ke rumah ibadat untuk beribadah kepada Allah tanpa memedulikan sakit yang dialaminya dan cemooh yang akan ia terima.

Perempuan ini, dengan teladan indahnya telah membuat saya merasa malu. Sebagai orang yang dianugerahi kesehatan yang baik dan tubuh yang tidak bercacat, sering kali saya dan banyak orang Krisen di muka bumi ini memiliki seribu satu alasan untuk tidak hadir dalam ibadah Hari Minggu. Mari kita mencoba menghitung berapa banyak Hari Tuhan (hari Minggu) yang kita pakai untuk berbakti kepada Tuhan dibandingkan dengan yang kita pakai untuk bersenang-senang ataupun bertamasya?

Memang banyak orang Kristen yang masuk ke Rumah Allah untuk berbakti, tetapi mereka tetap membawa beban berat dari segala masalah mereka. Mereka merasa kesulitan berkonsentrasi dalam kebaktian dan tidak sabar menantikan saat pendeta mengucapkan berkat tanda kebaktian usai, supaya mereka bisa segera pulang dan menonton film seri komedi kesukaan mereka di televisi, atau menonton pertandingan olahraga tim maupun pemain kesayangan mereka, atau sekadar bersantai di rumah sembari membersihkan rumah atau membaca koran. Betapa sulit bagi orang-orang masa kini yang sanggup menyelami dan memiliki jiwa seperti Pemazmur yang berkata: “Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku, ‘Mari kita pergi ke rumah Tuhan.’” (Mazmur 122:1).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *