Khotbah Perjanjian Baru

The Miracle of Life Change

Si Hitam menggelengkan kepalanya dengan sedih dan berkata: ”Kau tahu, Kuning, aku takut akan ketinggian dan kurang mampu untuk terbang.” Kemudian ia menggulung sayapnya dan berusaha untuk masuk kembali ke dalam kepompong.

Si Kuning berkata: ”Hitam, kau tidak diciptakan untuk tinggal di dalam kepompong. Kau diciptakan untuk terbang. Ayo, kita pergi.”

Si Hitam tidak mau terbang. Ia kembali ke dalam kepompong yang gelap dan penuh dengan ulat. Ia terbaring di sana, di tempat yang tidak nyaman dan berbau busuk.

Si Kuning melompat dan terbang menuju jalan hidup yang sama sekali baru. Hidupnya benar-benar sebuah petualangan.

Saudara, kehidupan jemaat di Efesus persis seperti Si Hitam. Setelah mengalami hidup baru, mestinya mereka menikmati kehidupan yang baru di dalam Tuhan Yesus. Tetapi kenyataannya, mereka justru kembali ke kehidupan yang lama. Mereka kembali ke dalam kegelapan. Firman Tuhan pagi ini mengajarkan kepada kita bahwa orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Allah pasti akan mengalami perubahan hidup. Dan ini merupakan mukjizat yang terjadi di sepanjang kehidupan kita bersama Tuhan Yesus.

Apa yang ingin diungkapkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus? Mari kita akan melihat di ayat 17 sampai ayat 19:

Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

Ayat ini memberi tahu kita mengapa jemaat Efesus tidak mengalami perubahan, yaitu karena hidup mereka seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka mengenal Kristus, mereka sudah diselamatkan, tetapi kenyataannya mereka hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah. Paulus katakan, “Pikiranmu sia-sia… Apa yang kamu pikirkan kosong, tidak ada gunanya.”

Paulus kemudian menunjukkan kondisi lain hidup mereka. Mereka tidak lagi mau bersekutu dengan Allah. Mereka tidak lagi mau bersekutu bersama-sama. Mereka meninggalkan persekutuan. Apa alasan mereka meninggalkan persekutuan? Paulus katakan, penyebabnya adalah kebodohan yang ada di dalam diri mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka bebal. Mereka sesungguhnya tahu apa yang seharusnya mereka perbuat, tetapi mereka tidak melakukan kebenaran itu. Alasan kedua, karena kedegilan hati mereka. Saudara, hati yang degil itu sama dengan hati yang membatu. Dan, itu bisa terjadi pada kehidupan orang yang percaya. Apa akibatnya? Paulus katakan, perasaan mereka telah tumpul. Apa yang dimaksud Paulus dengan perasaan yang telah tumpul? Kata ‘tumpul’, dalam bahasa aslinya, sebenarnya yang dimaksud begini… kalau setiap hari Saudara mencangkul atau menyabit; apa yang terjadi dengan telapak tangan Saudara? (seorang jemaat menjawab: kapalan). Ya, betul… tangan Saudara akan kapalan. Kalau telapak tangan Saudara kapalan, kapalan itu ditusuk dengan jarum terasa atau tidak? Nggak krasa (tidak terasa-red). Itu yang terjadi dengan kehidupan jemaat di Efesus. Jemaat Efesus tidak lagi bisa merasakan salah ketika melakukan kesalahan atau merasa berdosa ketika melakukan dosa karena perasaaan mereka telah tumpul. Mereka sudah kapalan. Akibat berikutnya, mereka menyerahkan diri pada hawa nafsu dan melakukan dengan serakah segala macam kecemaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *