Khotbah Perjanjian Baru

The Power of Jesus’ Name

The Power of Jesus’ Name

Kisah Para Rasul 3:1-10

Oleh Elisabeth N.

 

Pendahuluan

Saudara-saudara, Saya akan memperagakan sebuah sulap, silakan memperhatikan! (Menunjukkan suatu sulap: menghilangkan sepotong kain dalam Koran dengan menggunakan sebuah tongkat melalui kata kunci Bim Salabim).  Saudara, sulap tadi dapat berhasil dengan sebuah kata kunci, yaitu Bim Salabim.  Mungkin beberapa dari kita berpikir, “wah kata kunci itu memiliki kuasa magic sehingga sulap bisa berhasil.” Apa yang SS pikirkan kalau saya berkata bahwa dengan kata kunci yang memiliki kuasa ini maka bila mengucapkannya saja persoalan hidup kita dapat diselesaikan, juga penyakit bisa menjadi sembuh, dan kita bisa mendapatkan apa yang kita minta terlebih segala harapan dan impian kita akan terwujud.  Wauw, walaupun kelihatannya sedikit berhayal, namun menyenangkan bukan bila memiliki kata kunci yang memiliki kuasa seperti itu.  Kalau ada kata kunci itu bisa menjawab seluruh pertanyaan hidup kita, siapa yang tidak mau?  Namun sayang Saudara-saudara, kata kunci bim salabim yang saya sebutkan tadi tidak benar-benar memiliki  kuasa.  Sulap tadi hanya sebuah tipuan (memperlihatkan letak menipunya).  Sehingga kita tidak perlu percaya tentang apapun berkaitan dengan kata yang sering dipakai oleh-oleh pesulap-pesulap itu.  Tapi ada satu kabar sukacita bagi setiap kita anak-anak Tuhan, karena di dalam Kristus, kita memiliki satu kata kunci yang betul-betul berkuasa.  Kata kunci itu adalah nama Yesus.  

Nama Yesus adalah nama yang berkuasa sehingga sebagai anak-anak Tuhan selayaknya kita harus percaya dan menjadi saksi  atas kuasa nama Yesus

Inilah  juga yang ditunjukkan oleh Petrus dan seorang lumpuh dalam perikop yang kita baca tadi, yaitu mereka percaya dan menjadi saksi atas kuasa nama Yesus.

 

(1) Percaya Akan kuasa nama Yesus (ay.1-7)

 

Penjelasan

Saudara-saudara, kepercayaan adalah sebuah faktor penting dalam relasi.   Hubungan apapun dapat menjadi kurang sehat kalau tidak ada rasa saling percaya, entah itu relasi suami-istri, rekan kerja, sahabat, dll.  Begitu juga relasi kita dengan Tuhan.  Bagaimana kita dapat merasakan kuasa Tuhan kalau tidak menaruh percaya kepada-Nya?  Hal sebaliknya ditunjukkan oleh Petrus dan seorang yang lumpuh, mereka melihat kuasa nama Tuhan bekerja karena percaya kepada nama-Nya.

Saudara, mari kita perhatikan ayat 1-5.  Dalam bagian ini, ada seseorang yang sangat membutuhkan pertolongan, ia adalah orang lumpuh (ay.2).  Pernahkah Saudara membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang lumpuh? Mungkin kalau saya bahasakan menjadi orang lumpuh dalam perikop ini sebagai berikut: “Saudara-saudara, sudah lebih dari 40 tahun saya menderita lumpuh, karena sejak lahir saya sudah cacat.  Setiap hari, saya diusung orang untuk mengemis, karena hanya itulah yang bisa saya lakukan.  Mungkin Saudara bisa menebak bagaimana mental saya.  Yah, saya hidup dari  belas kasihan orang.  Saya hidup sampai mati mungkin hanya untuk menderita.”

Pengemis itu mengemis pada posisi yang strategis, yaitu di pintu  Bait Allah yang dinamakan Gerbang Indah (Ditampilkan dengan power point). Gerbang Indah ini merupakan pintu yang menghubungkan halaman muka orang kafir (pintu halaman umum) dengan halaman wanita. Ini gerbang paling depan Saudara-saudara, jadi mau nggak mau, orang yang akan masuk ke Bait Allah pasti lewat pintu ini.  Namanya saja Bait Allah, jadi yang lewat ditempat ini adalah orang-orang religius, wajar jikalau mereka menaruh belas kasihan, apalagi bagi orang Yahudi, memberi sedekah itu adalah suatu bentuk penghormatan kepada Allah.  Saudara-saudara, Gerbang ini luar biasa indahnya, terbuat dari perunggu Korintus yang sangat mahal, nilai emas dan perak saja masih kalah.  Kalau pada zaman Saudara sekarang, seIndonesia bahkan istana merdekapun tidak bisa menandingi indahnya.  Jadi paling tidak, pengemis ini salah satu pemgemis elit, VIP (Very Important Pengemis)”.  Nah Saudara, sekilas begitulah gambaran tentang pengemis itu.

Setiap ada orang yang lewat, hati pengemis itu selalu berharap, ”semoga dapat duit.”  Pengharapan itu juga yang ia rasakan saat Petrus dan Yohanes lewat untuk  berdoa sore jam 3, itu waktu berdoa untuk orang-orang Yahudi.  Lalu pengemis yang lumpuh ini meminta sedekah kepada mereka. Saudara-saudara, Dalam bahasa aslinya, tense yang dipakai untuk menerangkan kata “meminta sedekah” adalah imperfect, yang menunjukkan permohonan terus menerus.  Artinya, pengemis ini meminta bukan hanya sekali, namun meminta berkali-kali.  Dan yang aneh Saudara-saudara, Petrus tidak langsung memberikan sedekah, ia justru memperhatikan si pengemis dan berkata, “Lihatlah kepada kami!”  Mereka saling bertatapan tajam.  Si Petrus mencermati apa yang menjadi kebutuhan pengemis ini, “apakah uang atau sebenarnya butuh yang lain?” sedangkan si pengemis menatap Petrus dengan harapan, “Pasti sebentar lagi dapat sedekah?”.

Saat pengharapan si pengemis ini sudah memuncak Saudara-saudara, Petrus berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku”.  Wah, hancur harapan si pengemis ini.  Namun Petrus mengerti bahwa bukan uanglah yang menjadi kebutuhan utama dari si lumpuh ini, ia membutuhkan hal lain yang jauh lebih berharga yaitu Kesembuhan di dalam Kristus.  Sehingga, Petrus melanjutkan pernyataannya,” Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!”  Sambil Petrus memegang tangan kanan dan membantu orang lumpuh ini berdiri, apa yang terjadi SS? Kaki yang lebih dari 40 tahun tidak bisa bergerak sama sekali dan yang sepertinya tidak mungkin sembuh itu, tiba-tiba dapat berdiri dan melompat.  Alkitab tidak mencatat bahwa hal itu terjadi melalui proses, tetapi seketika itu juga artinya dengan cepat dan instan, kaki itu sembuh hanya melalui sebuah ucapan. Sungguh, kejadian yang mengherankan. Hal ini tentu membuat hati si pengemis ini mengalami kegirangan yang luar biasa.  Ia memperlihatkan hal tersebut dengan memuji Allah sambil lompat sana lompat sini, berjalan kian kemari mungkin sambil berseru, “haleluya, haleluya, aku sembuh !!!”

Saudara, apa kunci dari keberhasilan kuasa nama Yesus supaya dapat menjawab kebutuhan pengemis itu untuk sembuh? Yaitu dengan percaya.  Ketika Petrus mengatakan, “Demi nama Yesus, berjalanlah!”,  ia tidak sedang mengatakannya dengan ragu-ragu atau dalam hatinya berkata, “aduh, ini nanti berhasil nggak ya?” Tidak ada perasaan seperti itu, Petrus mengatakannya dengan keyakinan yang penuh.  Begitu juga dengan si lumpuh itu Saudara-saudara,  dalam pasal 3:16 dikatakan bahwa karena kepercayaan, orang lumpuh tersebut beroleh kesembuhan.  Dan apa hasilnya? Kesembuhan itu nyata, Petrus melihat dan orang lumpuh ini merasakan bahwa nama Yesus itu memang berkuasa melakukan pekerjaan mengagumkan.

Saudara saat itu, Petrus menyebutkan “Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret”.  Mengapa harus disebutkan Nazaret? Saudara-saudara, nama Nazaret ini sebagai identitas, ini nama yang dituliskan Pilatus pada kayu Salib (Yoh. 19:19) saat Yesus disalibkan.  Dengan begitu, kemungkinan tahulah orang lumpuh ini bahwa Nama tersebut adalah pribadi yang telah berkorban, Nama yang dianggap rendah dan tanpa kemuliaan oleh orang Yahudi, namun Ia sebenarnya adalah Mesias yang berkuasa. Saudara-saudara, Istilahnama memiliki siknifikan penuh dari seorang pribadi, sehingga Nama dengan Pribadi yang disebutkan itu tidak dapat dipisahkan yaitu Yesus, Nama yang menunjukkan pribadi Kristus sendiri.

Saudara-saudara, sampai disini telah terbukti bahwa nama Yesus itu berkuasa, nama Yesus hebat, tidak ada kuasa dalam dunia ini yang lebih besar dari kuasa nama Yesus.  Berikut ini beberapa ayat Alkitab yang menyatakan kepada kita bahwa nama Yesus itu berkuasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *