Khotbah Perjanjian Lama

The Unseen Help

Oleh: Maria Natalia

Ester 6:1-11

BISS, Rabu, 24 Oktober 2018 ada sebuah berita yang cukup menghebohkan. Fransiskus Ong, seorang pengusaha di Palembang ditemukan meninggal dunia beserta isterinya Margaret dan anak-anaknya yaitu Rafael (18 tahun) dan Kathlyn (11 tahun). Peristiwa ini diduga peristiwa bunuh diri Fransiskus setelah sebelumnya membunuh istri dan anak-anaknya. Pdt. Andrew Stoecklein, seorang pendeta sebuah gereja di California memutuskan untuk bunuh diri pada Agustus 2018 lalu. Ia mengalami masalah depresi berat dan kecemasan terus-menerus sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Kematiannya meninggalkan duka dan luka yang mendalam untuk jemaatnya-terlebih isteri dan tiga anak laki-laki yang masih kecil-kecil. Beberapa waktu sebelumnya, saya pun mendengar dan sangat berduka bahwa ada jemaat yang dulu pernah saya layani dalam praktik pelayanan, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dalam usia yang begitu muda, 32 tahun. Dalam pengenalan saya, ia seorang pemuda yang bersemangat dalam pelayanan dan aktif. Sebuah akhir hidup yang tragis dan tidak pernah dibayangkan orang-orang terdekatnya.

BISS, sebuah pertanyaan besar yang melintas di benak saya: “Bagaimana mungkin anak-anak Tuhan memilih jalan yang demikian untuk mengakhiri hidup mereka? Apakah tidak ada cara lain untuk mengatasi masalahnya?” Namun saudara, bukankah faktanya, dalam kehidupan ini yang penuh dengan rupa-rupa persoalan, banyak orang yang mengalami situasi helpless dan hopeless. Situasi ketidakberdayaan dan tidak adanya pengharapan. Situasi yang tidak luput dari hidup orang percaya, situasi yang dialami oleh umat Allah di zaman Ratu Ester hidup.

Trouble in The Bible: Helplessness and Hopelessness of The Jews

SS, bangsa Yahudi di masa itu mengalami bagaimana mereka tidak berdaya dan rasa-rasanya sulit untuk berharap sesuatu yang baik dapat terjadi bagi mereka. Sebagai bangsa buangan di negeri Persia-Media, saat bangsa Israel sedang dalam ketakutan luar biasa akan ancaman terror pembunuhan yang disebarkan oleh Haman, tokoh antagonis dalam kitab Ester. Bahwa sudah ditentukan waktu untuk pembinasaan semua orang Israel: tua maupun muda; laki-laki maupun perempuan; renta ataupun anak-anak. Hal ini sudah disetujui oleh Raja Ahasyweros, penguasa kerajaan Persia-Media; bahkan disahkan dengan cap meterai raja yang artinya perintah pembunuhan tersebut tidak bisa ditarik kembali. Alasannya sangat sederhana: Haman sangat kesal kepada Mordekhai, orang Yahudi itu, karena tidak mau sujud menyembahnya ketika ia lewat. Terlalu hina bagi Haman untuk hanya menghukum Mordekhai, karena itu, ia memutuskan untuk membunuh seluruh orang Israel di dalam kerajaan Persia-Media.

Di tengah teror menakutkan, Mordekhai sepupu Ester berusaha mencari cara agar Ester yang saat itu sudah terpilih menjadi ratu untuk bisa menolong bangsanya dan membebaskan mereka dari ancaman yang mengerikan. Ester sudah menolak secara halus dengan mengatakan bahwa datang pada raja tanpa diperkenan raja maka hukumannya adalah kematian. Namun Ester akhirnya meminta agar Mordekhai dan seluruh bangsa Israel di tanah pembuangan itu untuk berdoa dan berpuasa baginya yang akan menghadap raja. Ester sebagai ratu merasa tak berdaya karena ia benar-benar tidak tahu apa respons raja ketika ia mendatanginya tanpa dipanggil sebelumnya. Ia dan umat sebangsanya adalah orang buangan di tanah Persia-Media, tentu tidak memiliki hak sebesar warga negara lain yang merupakan penduduk yang kehormatan di negeri itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *