Renungan Berjalan bersama Tuhan

Tidak Dibiarkan Sendiri

Tidak Dibiarkan Sendiri

Hosea 11:5-11

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Salah satu sisi kehidupan yang paling tidak menyenangkan adalah pada saat kita sendirian. Sendirian bukan karena memang ingin menyendiri, melainkan karena ditinggalkan seorang diri atau dibiarkan sendiri. Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari pasangan suami istri berselisih paham yang kemudian berkembang menjadi konflik. Pada umumnya, mereka saling mendiamkan, tidak mau berbicara sampai berminggu-minggu. Demikian juga ketika hubungan orangtua dan anak bersitegang. Dengan mudah anak berdiam diri dan tidak mau lagi berbicara kepada orangtuanya, atau sebaliknya, orangtua yang mendiamkan anaknya. Sikap mendiamkan dimaksudkan untuk memberikan “pelajaran” kepada si anak.

Betapa hancurnya seseorang jika ia dibiarkan, apalagi dibuang. Itulah yang dirasakan oleh bangsa Israel ketika mereka meninggalkan Tuhan dan memilih untuk menyembah berhala. Hukuman Allah sudah mereka alami. Mereka kemudian benar-benar sadar bahwa di luar Allah, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam situasi demikian, Allah menyatakan pribadi-Nya yang begitu panjang sabar menggembalakan umat-Nya. Allah berkata, “Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan” (Hosea 11:8-9). Jelas, bangsa Israel mengalami suatu masa yang tidak enak. Allah membiarkan mereka hidup dengan bebas, bebas melakukan apa pun. Namun, Apa pun yang mereka lakukan tidak dipedulikan oleh Allah. Ternyata pengalaman itu benar-benar tidak menyenangkan.

Ketika mereka bertobat dan sungguh-sungguh kembali kepada Allah, Allah berjanji tidak akan membiarkan mereka dan tidak akan menghukum mereka. Dia tidak akan meninggalkan umat Nya sendiri. Itulah kasih Allah yang panjang sabar dan terus menuntun hidup kita tetap berada dalam kebenaran. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, janganlah kiranya Engkau membiarkan aku seorang diri atau dibuang. Ampunilah aku ketika aku mudah melupakan Tuhan. Ajarlah aku setia dalam iman, percaya, ibadah, dan kesaksian hidup.
  2. Tuhan, pimpinlah kami untuk menjadi umat-Mu yang setia dan jadikan gereja-Mu berkat bagi seluruh jemaat dan masyarakat. Tolonglah kami untuk melayani dengan hati, bukan sekadar menjalankan program pelayanan yang ada. Tolonglah agar kami mampu memperhatikan mereka yang tersisih, tersingkir, dan didiamkan. Jadikanlah kami sahabat mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *