Renungan Berjalan bersama Tuhan

Tinggal di Sotoh Rumah

Tinggal di Sotoh Rumah

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah daripada diam serumah dengan perempuan yang suka bertengkar” (Amsal 21:9).

Sandang, pangan, papan paling tidak menjadi kebutuhan dasar dalam hidup manusia. Kita membutuhkan pakaian. Makan menjadi tuntutan kebutuhan yang paling primer. Sedangkan papan, yaitu kebutuhan akan tempat tinggal. Orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Orang bisa tinggal di mana saja, di pinggir jalan, kolong jembatan, dan sebagainya, tetapi mereka jangan sampai tidak makan! Apabila kebutuhan makan sudah tercukupi dengan baik, maka seseorang akan segera memenuhi kebutuhan lainnya, yaitu pakaian dan tempat tinggal.

Untuk mendapatkan tempat tinggal, seseorang pasti akan melewati proses yang panjang. Mencari rumah atau menyewa, pasti tak semudah membeli makanan atau pakaian. Banyak sekali pertimbangan, seperti daerahnya nyaman atau tidak, sarana transportasinya mudah atau sulit, faktor keamanannya terjamin atau tidak, tetangganya menyenangkan atau menyusahkan, daerah itu berudara bersih atau tergolong daerah yang tercemar, dan sebagainya. Selain itu, faktor harga juga mejadi pertimbangan yang sangat penting. Kalau seseorang itu termasuk orang yang mampu secara ekonomi, ia dapat membeli rumah. Namun, jika tidak mampu secara ekonomi, maka ia harus menyewa rumah.

Fungsi rumah sudah jelas, yaitu untuk tempat tinggal bersama, tempat berteduh, tempat menjalani hidup bersama dengan keluarga. Tempat permulaan dan akhir aktivitas semua orang yang ada di dalamnya. Artinya, orang memulai aktivitas sejak pagi hari dari rumah dan setelah selesai melakukan aktivitas tersebut, pasti ia akan kembali ke rumah. Amsal menyebutkan “diam serumah” sebagai in a wide house, arti harafiahnya adalah “a house of companionship,  “Rumah Persahabatan” yang mempunyai makna bahwa semua orang yang berada di dalam satu rumah itu seharusnya mempunyai dan menjalin relasi satu sama lain seperti seorang sahabat. Bukan saja seperti seorang saudara karena seorang saudara belum tentu bisa menjadi sahabat, melainkan orang yang mempunyai relasi persahabatan akan melebihi relasi saudara. Situasi dan kondisi rumah yang seperti itulah yang seharusnya terjadi dalam setiap keluarga. Rumah bukan tempat untuk bertengkar atau berselisih paham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *