Khotbah Perjanjian Baru

Tinggi dan Rendah Seorang Hamba Tuhan

Tinggi dan Rendah Seorang Hamba Tuhan (Matius 23:1-12)

oleh : Vincent Tanzil

 

23:1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 23:2 “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 23:3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 23:4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 23:5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 23:6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 23:7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 23:8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 23:9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 23:10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 23:11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 23:12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

 

Belakangan ini di media banyak bermunculan berita mengenai penyalahgunaan kekuasaan.  Ada yang melakukan tindakan korupsi, manipulasi, bahkan pembunuhan, dengan menggunakan kekuasaan yang mereka miliki.  Rakyat cenderung muak dengan pemerintah yang demikian.  Mereka menyerukan pemimpin yang lebih baik, pemimpin yang besar, terhormat, namun rendah hati dan mau melayani.  Tetapi adakah pemimpin demikian?  Di pemerintahan, jarang; di gereja, jarang.  Lalu apakah kita harus jatuh kepada anarkisme, anti-pemerintahan?  Atau masuk ke dalam komunisme, yang katanya semua milik bersama dan kaum proletar lebih utama?  Sebuah gereja tanpa kemajelisan, sinode, atau kependetaan?  Tidak.  Permasalahannya bukan terletak pada sistem, namun pada pemimpinnya.  Seluruh sistem macam apapun akan senantiasa korup selama manusia berdosa yang memegangnya.  Masalah yang sama juga dialami oleh Yesus dalam perikop yang kita baca tadi.  Bagaimana Yesus menanggapinya?

Sarana agama dapat disalahgunakan untuk membangun kemuliaan diri (5-7)

Di tengah dunia yang masih sangat menghargai agama, maka merupakan hal yang imperatif untuk mengorek kekuasaan melalui sarana-sarana religius.  Contohnya saja pemilihan pemimpin di negara kita ini.  Ketika salah seorang calon dirasa kurang religius, maka mulai beredar foto-foto perjalanan umrohnya.  Seseorang yang religius memang bisa mendapatkan nama yang lebih baik, apalagi demi kepentingan politis.

Demikian pula orang Farisi dan Ahli Taurat.  Mereka bukanlah orang-orang yang memiliki kuasa politis tertentu di Israel.  Kita tahu bahwa orang Saduki lebih baik dalam berelasi secara politik.  Namun demikian, orang Farisi dan Ahli Taurat mendapatkan popularitas di mayoritas kalangan Yahudi pada masa itu.  Mengapa demikian?  Sebab, mereka memang nampak lebih religius dibandingkan orang-orang pada zaman itu.  Mirip dengan kondisi zaman sekarang, orang yang memiliki hidup yang saleh lebih dihargai oleh masyarakat ketimbang mereka yang tidak.  Nuansa keagamaan mereka dengan kita sekarang tidak jauh berbeda.  Mereka berusaha untuk memiliki kehidupan yang seturut dengan hukum Taurat sebaik mungkin.  Mereka berusaha keras untuk menjalankan “studi biblika” yang ketat agar mereka dapat memiliki kehidupan agama yang tepat.  Bisa dikatakan bahwa mereka adalah kaum yang ortodoks dalam pengajaran, serta pietis, atau saleh, dalam kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *