Renungan Berjalan bersama Tuhan

Tuhan, Aku Tidak Bisa

Tuhan, Aku Tidak Bisa

Yeremia 1:4-19

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Tuhan, aku tidak pandai berbicara”, “Tuhan aku tidak bisa”, “Tuhan aku masih terlalu muda”, itu semua pernah dikatakan oleh Musa, Harun, Yeremia, dan masih banyak tokoh Alkitab lainnya dalam menolak panggilan Tuhan. Mengapa mereka menjawab demikian? Karena Tuhan meminta mereka menjadi pelayan Tuhan, yang kemudian diberi jabatan sebagai pemimpin. Semua orang akan gentar ketika ditunjuk untuk jadi pemimpin, karena dalam bayangan mereka, seorang pemimpin harus pandai berbicara di depan orang, pandai berdiplomasi atau berelasi dengan orang banyak, dan sebagainya. Sekalipun itu ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya benar. Artinya, tidak semua pemimpin harus pandai berbicara karena yang dibutuhkan pada diri seorang pemimpin bukan cuma pandai berbicara, melainkan ia harus memiliki pemikiran yang baik. Ia harus bisa memikirkan pekerjaan yang diembankan kepadanya. Maka dari itu, ia harus bisa mengembangkan pelayanan dengan baik, bertumbuh, dan semakin besar. Jadi, pandai berbicara tidak termasuk hitungan kriteria sebagai seorang pemimpin.

Dengan tegas Tuhan berkata, “Lalu Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; Tuhan berfirman kepadaku: ‘Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu’” (Yeremia 1:9). Jelas melalui ayat ini kita dapat melihat bahwa kriteria pandai berbicara bukan prasyarat untuk menjadi pemimpin karena Tuhan dapat memperlengkapi orang-orang yang dipilih-Nya untuk menjadi pemimpin. Tuhan akan memberikan dan memampukan seeorang untuk berkata-kata dengan hikmat karena Tuhan sendiri yang menaruh perkataan-perkataan-Nya ke dalam mulut orang itu, yang artinya Tuhan sendiri yang memberikan kemampuan untuk berbicara dengan baik dan benar. Jadi, panggilan Tuhan tidak tergantung dari kemampuan diri seseorang apakah ia mampu atau tidak, tetapi dari “apakah bersedia atau tidak”. Jangan pernah mengatakan kepada Tuhan “aku tidak bisa!” Tuhan yang memilih orang-orang yang akan menjadi pemimpin adalah Tuhan yang juga sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Tuhan pasti memperlengkapi orang-orang yang dipanggil untuk mengerjakan tugas panggilan-Nya. Dan Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang tidak pernah salah pilih. Dia sudah memilih orang yang tepat untuk mengerjakan tugas panggilan-Nya.

Alangkah indahnya jika seluruh pelayanan kita selalu didasari dengan panggilan Tuhan. Dengan menjawab aku bersedia pada panggilan Tuhan, maka Tuhan pasti selalu memperlengkapi anak-anak-Nya yang terjun dalam pelayanan. Oleh karena itu, kita tidak perlu khawatir bila memiliki kelemahan dan kekurangan di sana sini. Karena kelemahan dan kekurangan itu bisa diperlengkapi dan yang memperlengkapi adalah Tuhan sendiri, yang tentunya melalui kerja sama kita. Kesediaan terhadap panggilan Tuhan akan membawa kita mengalami proses pembentukan Tuhan dan pemerlengkapan pelayanan dari Tuhan. Kemauan kita melayani Tuhan akan memperlengkapi kemampuan kita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *