Renungan Berjalan bersama Tuhan

Tuhan yang Menuntun Aku

Tuhan yang Menuntun Aku

oleh: Pdt. Nathanael Channing

Yesaya 42:10-17

Apa yang dibutuhkan oleh seorang buta dalam pergumulan hidupnya? Tentu kita akan menjawab, “Yaa, matanya terbuka, dicelikkan, dan dapat melihat dengan jelas seperti halnya orang yang bisa melihat.” Betul, itu tidak salah, tetapi apa yang sangat dibutuhkan ketika matanya masih buta? Tidak lain adalah orang yang dengan rela dan penuh sukacita menggandeng dia pada saat ia mau berjalan dan mau pergi sesuka hatinya. Bukankah itu yang menjadi kebutuhan pokoknya? Jika tidak ada yang mau menggandengnya sebagai petunjuk jalan, jelas ia tidak dapat pergi ke mana-mana. Sekalipun hati dan pikirannya ingin pergi, tetapi kalau tidak ada yang bersedia menuntunnya, ia akan mengalami kesulitan. Sekalipun kita sering menjumpai orang buta yang berjalan sendiri dengan tongkatnya yang setia mendampinginya, kondisi itu tetap menyusahkannya. Ia akan merasa lebih senang dan merasa aman jika ada orang yang menuntunnya.

Sebutan “orang-orang buta” dalam Yesaya 42:16 mengingatkan Israel bahwa dalam hidup mereka sebenarnya mereka tidak berbeda dengan orang buta. Walaupun dapat melihat, tetapi sebenarnya mereka buta! Yesaya berkata, “Aku mau memimpin orang-orang buta di jalan yang tidak mereka kenal, dan mau membawa mereka berjalan di jalan-jalan yang tidak mereka kenal. Aku mau membuat kegelapan yang di depan mereka menjadi terang dan tanah yang berkeluk-keluk menjadi tanah yang rata. Itulah hal-hal yang hendak Kulakukan kepada mereka, yang pasti akan Kulaksanakan” (Yesaya 42:16). Tuhan memberitahukan kepada Israel bahwa sekarang Tuhan mau menuntun mereka yang tidak dapat melihat, mereka yang tidak tahu jalan yang benar. Tentunya “tidak dapat melihat” di sini bukan dalam arti harfiah bahwa Israel mengalami kebutaan. Yang dimaksudkan adalah mereka tidak tahu lagi mana jalan yang benar dan mana yang salah! Dengan demikian, kini Tuhan membuat jalan yang baru bagi mereka; jalan yang tidak diketahui dan dikenal oleh mereka. Di jalan yang baru itu sudah tidak ada lagi kegelapan. Tuhan memberikan terang dalam hidup mereka sehingga mereka tahu mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah yang menuju pada kehancuran!

Hidup ini sangat membutuhkan “tangan yang tidak kelihatan, yakni Tangan Tuhan, yang menuntun hidup kita supaya kita tidak tersesat dan terjerumus dalam kehidupan yang rusak. Rusak bisa berarti dalam hal moral, atau mempunyai kehidupan yang tidak mengenal Allah yang menyelamatkan hidup kita sehingga dalam hidup ini kita tidak pernah memikirkan keselamatan yang sejati untuk masa yang akan datang. Orang bisa merasa bahwa hidup ini sudah cukup hanya dengan bekerja, makan, minum, menikmati kesenangan,  itu semua sudah cukup! Jelas orang yang demikian adalah orang buta! Mereka perlu digandeng oleh tangan Tuhan yang akan membawanya pada kebenaran. Tangan Tuhan yang menuntunnya pada jalan yang benar dan penuh kasih, jalan yang terang dan bukan gelap atau remang-remang, jalan yang menegakkan keadilan dan memberikan damai sejahtera. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *