Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Pra Paska & Paska, Khotbah Topikal

Tujuh Perkataan Salib: Bagian Kedua

Tujuh Perkataan Salib: Bagian Kedua

Pdt. Agus Surjanto

Perkataan keempat (Eli, eli lama …. Mat 27:46) Eli, eli lama sabhaktani” yang artinya Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku (Mat 27:46). Inilah seruan puncak penderitaan yang dialami oleh Tuhan Yesus. Momen inilah sebenarnya yang ingin dihindari oleh Tuhan Yesus ketika berdoa di taman Getsemani. Cawan murka Allah inilah yang paling mengerikan bagi Anak Manusia. Pernyataan kasih yang luar biasa, karena Tuhan Yesus rela mengalami murka Allah demi menebus dosa manusia. Anak Manusia yang selalu penuh dengan kemesraan dengan Allah Bapa harus menerima murka Allah Bapa yang penuh. Inilah hukuman dosa bagi seluruh umat pilihan dari segala tempat, dari segala waktu dan segala zaman. Semua murka Allah ditumpahkan dengan penuh kepada Anak Manusia waktu itu. Penderitaan ini merupakan suatu misteri, karena inilah pengalaman tertama dan pengalaman terakhir dari Tuhan Yesus yang harus menerima murka Allah Bapa. Dan pengalaman ini hanya dapat terjadi ketika Allah Anak menjadi Anak Manusia. Misteri ini tidak pernah akan dapat dimengerti oleh manusia sampai kapanpun.

Bagaimana mungkin Bapa murka kepada Anak? Hanya ketika Allah Anak menjadi Anak Manusia, murka Allah, yang seharusnya ditanggung manusia berdosa, dapat turun kepada-Nya. Dan hanya Anak Allah yang berinkarnasi menjadi Anak Manusia yang mampu menanggung murka Allah yang penuh itu di atas kayu salib. Selain Allah Anak, maka tidak ada satupun yang mampu menerima murka Allah yang penuh ini. Bayangkan dosa seluruh umat pilihan dari segala tempat, dari segala waktu dan segala zaman harus ditanggung oleh Tuhan Yesus. Kalau dia bukan Allah Anak yang berinkarnasi menjadi Anak Manusia, maka murka itu pasti akan menghancurkan Dia. Tetapi karena Dia adalah Allah Anak yang menjadi Anak Manusia, maka Dia sanggup menerima seluruh murka itu. Tidak ada satu oknumpun yang dapat menerima murka Allah yang penuh itu. Satu-satunya oknum yang dapat menerima murka Allah yang penuh hanyalah Anak Allah yang berinkarnasi menjadi Anak Manusia. 

 Untuk dapat merasakan dan menerima murka Allah yang penuh itu, maka Allah Anak harus memasuki ruang dan waktu dan menjadi Anak Manusia. Akan tetapi Tuhan Yesus sekali-kali tidak pernah meninggalkan ke-Allahan-Nya. Dia hanya mengosongkan diri-Nya, tetapi Allah Anak tidak pernah membuang ke-Allahan-Nya. Posisi sebagai Allah Anak itulah yang memungkinkan Dia untuk tidak hancur ketika menerima murka Allah yang penuh itu. Dan dalam inkarnasi itu, Dia masuk dalam ruang dan waktu sehingga benar-benar merasakan murka itu secara penuh. Karena keadilan Allah memang harus ditegakkan. Harus ada yang menanggung hukuman dosa, sehingga hutang dosa itu dapat ditebus. Harus ada oknum yang membayar seluruh hukuman dosa itu kepada Allah Bapa. Dan Tuhan Yesus telah melakukan hal itu untuk jemaat-Nya. Memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh seharusnya membuat kegentaran yang mengerikan bagi kita, sekaligus menjadi ucapan syukur yang tak henti-hentinya. Karena kitalah Tuhan Yesus harus mengalami kengerian yang begitu dahsyat, sehingga harus berteriak “Eli, eli lama sabakhtani.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.