Renungan Berjalan bersama Tuhan

Usirlah Pencemooh Itu!

Usirlah Pencemooh Itu!

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Usirlah pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan akan berhentilah perbantahan dan cemooh.” (Amsal 22:10)

Pepatah mengatakan, “Banyak jalan menuju ke Roma” yang artinya ada banyak cara, jalan, kesempatan, metode, strategi, dan sebagainya untuk mencapai satu tujuan. Demikian juga dalam hal berelasi dan berkomunikasi, ada banyak cara untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi yang berhubungan dengan seseorang. Namun, yang memengaruhi segalanya adalah karakter seseorang, juga cara berbicara seseorang—ada yang keras, halus, kasar, menyakitkan, sabar, lemah lembut, tahu sopan santun, tidak tahu diri, suka “debat kusir”, dan sebagainya. Semua itu sangat berpengaruh dalam berelasi dengan orang lain. Tentunya dalam berelasi dengan siapa pun, semua orang menghendaki hasil yang baik, menyenangkan, mendatangkan sukacita dan damai sejahtera. Tidak ada orang yang menginginkan pertengkaran, perselisihan, dan salah paham dalam berkomunikasi.

Namun, berbeda dengan pencemooh. Mereka tidak pernah merasa puas jika tidak menimbulkan keributan. Setiap berbicara, mereka selalu dominan, menguasai, dan mau mengatur. Mereka menggunakan berbagai cara agar dapat menguasai suasana percakapan. Tak heran jika ada seorang pencemooh dalam percakapan, keributan pasti akan terjadi. Mengapa? Karena pencemooh kerap tidak mau mendengarkan dan menerima pendapat orang lain. Bukan itu saja, yang dikatakannya bisa saja penuh dengan bualan tanpa dasar dan makna. Bagaimana jika kita berhadapan dengan seorang pencemooh?

Amsal memberikan nasihat yang cukup keras kepada mereka yang menjadi pencemooh, yaitu “usirlah dia”! Mengapa begitu keras? Rupanya Amsal mempunyai banyak pengalaman bertemu dengan seorang pencemooh. Sudah banyak bukti tentang cara pencemooh berkomunikasi dengan orang lain. Melalui pengalamannya, Amsal menyimpulkan bahwa seorang pencemooh adalah orang yang kesukaannya bertengkar dan berbantah-bantahan. Lalu, bagaimana menghentikan pertengkaran dan perbantahan? Tak lain adalah dengan menghindari orang yang suka berbantah dan bertengkar. Diusir mempunyai pengertian bahwa ia sudah tak lagi dilibatkan dalam percakapan. Dengan demikian, sudah tidak ada lagi pertengkaran dan perbantahan.

Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang membangun dan menguatkan, bukan komunikasi yang memakai segala cara dan segala jalan untuk memenuhi kemauannya. Ketika pencemooh tidak terlibat, maka semua persoalan dapat diselesaikan dengan baik, tidak ada perbantahan. Yang ada adalah pertukaran pendapat, saling melengkapi dan mengisi, saling menguatkan dan mengasihi. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tolonglah dan sadarkanlah aku jikalau aku cenderung menjadi pencemooh. Bimbinglah aku melalui banyak teman agar dapat membentuk komunikasi yang baik. Ajarlah aku untuk bersabar dan mau menerima pandangan orang lain ketika menghadapi perbedaan pendapat. Masih banyak pendapat yang sebenarnya baik di luar diriku, maka ajarlah aku untuk tidak merasa menjadi orang yang paling baik. Dengan demikian, aku dapat membawakan komunikasi yang sehat.
  2. Tuhan, tolonglah kami sebagai gereja agar dapat menciptakan suasana komunikasi yang saling membangun. Kami sadar betapa dalam kehidupan berjemaat ada beberapa orang yang vokal, yang suka menguasai pembicaraan dalam rapat sehingga tanpa sadar rapat gerejawi selalu menjadi ajang perdebatan yang tak berujung pangkal. Tuhan, ampunilah kami sebagai pemimpin gereja jika dalam rapat terjadi perdebatan antarpencemooh. Pimpinlah rapat kami, baik rapat internal atau Persidangan Majelis Jemaat, Rapat Bidang, Rapat Komisi atau Panitia, agar semuanya berjalan dalam bahasa yang membuat hati sukacita, yang menguatkan, dan yang membangun semangat pelayanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *