Renungan

Wujud Rasa Hormat

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya.

(Amsal 30:5)

Suatu kali saya melarang anak-anak makan cokelat. Walaupun mereka tidak mengatakan apa-apa, tetapi wajah mereka menampakkan ketidaksukaan. Saya tahu anak-anak menyukai cokelat sehingga larangan itu tidak menggembirakan hati mereka. Saya pun harus menjelaskan, “Cokelat itu memang enak. Kalau dalam kondisi sehat, tidak apa-apa kamu memakannya. Tapi, sekarang kamu sudah mulai batuk-batuk. Jadi, berhentilah sementara makan cokelat.”

Sebagai orangtua, salah satu tugas saya adalah melindungi anak-anak saya. Larangan yang saya sampaikan lewat kata-kata adalah salah satu bentuk perlindungan bagi anak-anak.

“Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya” (Amsal 30:5).

Kata “murni” di bagian ini berarti sudah teruji tidak ada kepalsuan. Tuhan tidak menyampaikan kepalsuan, Dia dapat dipercaya. Melalui firman-Nya inilah Tuhan menjadi perisai atau melindungi orang-orang yang berlindung kepada-Nya. Itulah sebabnya berulang kali dan dalam pelbagai cara Tuhan berfirman kepada manusia. Itu bukan karena Tuhan ingin merampas sukacita manusia, melainkan karena Dia ingin manusia mengalami sukacita yang sejati dalam perlindungan-Nya.

Sayangnya, kita kerap kali melawan kehendak Allah sehingga ada konsekuensi-konsekuensi tertentu dalam kehidupan ini. Pada saat itu barangkali kita menyesal mengapa tidak hidup dalam ketaatan. Ketidaktaatan menjanjikan kenikmatan sementara namun berujung pada penyesalan.

Ketaatan adalah wujud rasa hormat kepada Tuhan. Ketidaktaatan adalah ketidakpercayaan kepada Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *