Khotbah Pra Paska & Paska

Yesus di Taman Getsemani

*Sebuah dialog imajiner-kontemporer

Murid              :     Yesus, maafkan saya.  Saya tadi tertidur, rasanya mata ini ingin terpejam terus, mungkin saya kelelahan. Begitu pula dengan teman-teman.

Yesus              :     Ya, saya melihatmu tidur dan saya sudah coba membangunkanmu tiga kali, tapi rupanya kalian tidak sanggup berjaga-jaga dengan-Ku.

Murid              :     Iya, sekali lagi maafkan saya dan teman-teman, kami tidak menemani-Mu berdoa dan tidak sanggup untuk membuka mata. Rasa kantuk membuat mata ini rasanya begitu berat untuk dibuka.  Tapi Yesus, bolehkah saya bertanya sesuatu?

Yesus              :     Iya boleh, silakan bertanya …

Murid              :     Tadi memang saya sangat mengantuk, tetapi kalau saya tidak salah lihat, samar-samar sepertinya Engkau berdoa dengan begitu khusyuk dan Engkau nampak sangat sedih, dan… takut.  Apa benar demikian Yesus?

Yesus              :     Iya, demikanlah seperti yang kau lihat …

Murid              :     Mengapa Engkau sampai seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Sebab selama ini saya belum pernah melihat Engkau bergumul hingga sedemikian berat. Ada apa, Yesus? Apa karena penderitaan yang belakangan ini sering Kau katakan kepada kami akan segera tiba?

Yesus              :     Ya, benar yang engkau katakan.  Aku berdoa kepada Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Bapa-Ku kehendaki.

Murid              :     Yesus, apakah itu berarti sebenarnya Engkau tidak menghendaki penderitaan-Mu tiba? Apa Engkau terlalu takut untuk menderita? Apa ini semua terlalu berat bagi-Mu?

Yesus              :     Persoalannya bukan karena Aku tidak mau menderita. Bukan karena Aku tidak menginginkan salib. Bukan karena Aku menginginkan kenyamanan hidup. Tetapi karena penderitaan yang akan Kuhadapi itu memisahkan Aku dari Bapa-Ku.  Aku akan menanggung hukuman dosa manusia, seluruh kejahatan dan dosa manusia ditimpakan kepada-Ku. Sama seperti dosa memisahkan manusia dengan Allah, maka Aku pun akan terpisah dari Allah. Itulah yang paling Aku takutkan: terpisah dari Bapa-Ku, ditinggalkan oleh Bapa-Ku.  Inilah yang membuat-Ku begitu sedih dan bergumul.

Sekali lagi bukan karena Aku tidak siap untuk menderita, apalagi tidak mau menderita. Sebab seperti yang engkau ketahui, sepanjang perjalanan hidup-Ku hingga sekarang, Aku juga sudah banyak menghadapi penderitaan.  Puncak penderitaan-Ku adalah keterpisahan dari Allah, itu penderitaan bagi jiwa-Ku. Jauh lebih menyakitkan daripada hinaan dan ludahan orang, mahkota duri, cambukan dan tombak yang menusuk, bahkan paku yang tertancap.

Murid              :     Sekarang saya mengerti mengapa Engkau begitu sedih. Ketaatan-Mu pada Bapa memang tidak perlu diragukan lagi.

Tetapi hari ini saya mengetahui sesuatu yang baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *