Belajar Berdoa dari Yesus Kristus (Lukas 11:2-4)
oleh: Pdt. Em. Samuel Tjahjadi
Sebagai orang kristen kita sama-sama memahami pentingnya berdoa. Namun pada saat yang sama, kita pun harus mengakui bahwa kita dalam praktek jarang berdoa. Paling tidak kita hanya berdoa, ketika akan tisur, bangun tidur, sebelum makan. Kadang-kadang saja kita menyediakan waktu khusus untuk berdoa – waktu krisis.
Kita merasa bahwa berdoa itu sulit, hanya diperuntukkan orang-orang yang mempunyai karunia dan iman untuk berdoa. Tidak semua orang bisa berdoa. Akan tetapi pandangan seperti itu keliru, karena bagaimana pun juga, dalam batas-batas tertentu, perkara-perkara rohani juga mengikuti hukum-hukum yang mengatur perkara-perkara duniawi. Antara lain: walaupun berdoa merupakan suatu kegiatan rohani, namun kita perlu belajar, praktek agar dapat berdoa dengan baik. Agar berdoa dengan baik, kita perlu belajar berdoa.
Tanpa kesediaan untuk belajar berdoa, kita tidak akan dapat berdoa. Perhatikan permintaan para murid,…Tuhan, ajarlah kami berdoa (ay.1). Dan Tuhan Yesus menyetujui perminta-an mereka dan memberikan mereka sebuah contoh doa. Apabila anda dan saya ingin meningkatkan kehidupan doa kita, kita harus mulai dengan kesadaran: saya perlu belajar dan saya mau belajar berdoa. Dan untuk itulah gereja mengadakan Persekutuan Doa – bukan untuk mereka-mereka yang sudah fasih berdoa, namun bagi mereka yang mau belajar berdoa.
BERDOA : MULAI DARI BAWAH
Contoh doa yang diajarkan Tuhan Yesus dikenal sebagai “Doa Bapa Kami”. Apakah kita mengikuti versi Injil Matius atau Injil Lukas, namun sudah jelas bahwa doa yang Tuhan ajarkan itu sangat singkat dan sangat sederhana. Betapa lambatnya pun kita mengucapkan doa itu, dengan khidmat, kita membutuhkan waktu hanya + 1 – 2 menit untuk mengucapkannya.
Dan betapa sederhananya doa tersebut: soal makanan tiap hari, soal kesalahan yang kita perbuat, pencobaan – perkara biasa yang kita hadapi sehari-hari.
Dengan demikian Tuhan Yesus ingin mengajarkan kepada kita, bahwa di dalam kita belajar berdoa, mulailah dengan perkara-perkara yang sederhana, kecil, tetapi konkrit. Tidak perlu berdoa yang muluk-muluk dan umum. mis. Tuhan berkatilah aku….berkat apa yang anda harapkan? Atau kita berdoa, Tuhan, jadikan aku garam dan terang dunia; aku menyerahkan diriku untuk kau pakai sampai ke ujung dunia. Terlalu muluk-muluk, mengapa tidak berdoa agar menjadi majikan kristen yang baik bagi prt, pegawai, buruh anda; jadi kepala keluarga, ortu yang baik. Anda kehilangan kunci rumah? daripada marah-marah kepada seisi rumah, saling menyalahkan, mengapa tidak berdoa meminta hikmat Tuhan untuk menemukannya? Uang belaja tidak mencukupi? Daripada mengomeli suami, mengapa tidak berdoa memohon agar Tuhan mencukupi kebutuhan; hikmat Tuhan agar mampu mngelola yang sedikit dengan baik.
Apabila setiap kali dan dalam segala hal anda berdoa, meminta kepada Tuhan, maka anda akan menemukan dan mengalami bahwa anda memperoleh apa yang anda minta. Ini janji Tuhan Yesus, ay.9, Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Dan selanjutnya, apabila anda sudah belajar untuk setiap kali meminta hal-hal yang kecil dan remeh kepada Tuhan dan mendapatkan apa saja yang anda minta dan doakan, maka pada suatu ketika, apabila anda menghadapi perkara besar, tantangan yang menakutkan – anda akan memiliki kebranian untuk berdoa (walaupun secara manusia tidak mungkin). Anda memiliki keyakinan iman “pasti dijawab Tuhan”; anda tahu dari pengalaman akan kuasa doa.
Inilah kekuatan kita sebagai orang beriman. Tahu bahwa Tuhan pasti menjawab doa-doa kita, memberi apa yang kita minta. 1 Yoh.5:14,….keberanian percaya…. Setiap kali kita berdoa setiap kali dijawab dan setiap kali mendapatlkan jawaban iman bertambah, keberanian pun makin bertambah pula untuk meminta yang lebih besar. Sampai kita menghadapi perkara besar, masalah yang menggemparkan, anda tidak akan mudah menjadi panik atau kehilangan pengharapan, karena anda tahu: berdoa pasti dijawab oleh Tuhan.
Begitulah cara kerja Tuhan : Ia selalu mulai dari bawah, mulai dengan yang sederhana, yang sehari-hari, yang kecil dan membawa dalam proses menuju yang besar dan kompleks, rumit. Luk.16:10, barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Kita mengagumi tokoh Daud sebagai seorang remaja yang belum mempunyai pengalaman dalam berperang. Namun mempunyai keberanian dan iman untuk melawan Goliat. Namun, sebenarnya hal itu tidak mengherankan, karena Daud sudah belajar sebelumnya akan kuasa Tuhan (1 Sam.17:34-37). Berbeda dengan kita bukan? Kita berdoa yang muluk-muluk, idealistis, hanya lip-service, besar omong tanpa isi.
Apabila anak sakit panas atau flu saja, anda tidak merasa perlu untuk berdoa, tidak berani, tidak mau berdoa, bagaimana mungkin anda mempunyai iman untuk berdoa bagi penyakit tumor/kanker? Apabila untuk kebutuhan uang sejumlah puluhan ribu rupiah saja, anda tidak berani berdoa; lebih berani minta-minta, mencuri, menipu, bagaimana mungkin anda mempunyai iman untuk berdoa bagi kebutuhan jutaan rupiah? Apabila untuk masalah kecil dan sederhana, anda merasa sanggup menanganinya sendiri, tidak memerlukan kuasa Tuhan lewat doa, maka dalam menghadapi perkara besar, anda juga akan merasa tidak memerlukan Tuhan. Ini hukum kehidupan!
Anak sakit panas, flu, didoakan tidak mau karena merasa tidak perlu, sudah minum obat turunkan panas/flu,… penyakit umum, lalu ketika minta-minta tolong karena anak terkena stuip, suami terkena serangan jantung…lalu anda minta dukungan doa…..anda minta tolong karena percaya? Bukan!…tetapi karena anda takut, panik, putus asa.
Jadi, apabila anda hendak mengalami kebenaran firman Tuhan: bahwa doa adalah kekuatan orang beriman, doa dijawab Tuhan, belajarlah berdoa dan meminta kepada Tuhan segala perkara, juga yang remeh, kecil dan biasa. Tidak perlu ribut, berkelahi, marah-marah, saling me-nyalahkan, ngotot dsb. Yak.4:1-3 menasehati, masuklah ke dalam kamarmu, diam dan berdoalah, minta dan lihatlah jawaban Tuhan. Nanti anda akan makin disadarkan bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh hidup, bahwa Ia mengasihi anda dan menjawab doa-doa anda. Dan iman anda kian bertumbuh, menjadi iman yang hidup dan perkasa.
Dengan berdoa seperti itulah kita juga belajar mengetahui berdoa menurut kehendak Tuhan. Apabila kita belajar minta segala sesuatu dari Tuhan, boleh saja ada doa-doa yang tidak benar, namun nanti dari perjalanan hidup doa anda, anda akan tahu mana yang boleh/tidak boleh …karena Tuhan mengabulkan dan tidak mengabulkan. Yang penting: anda mau belajar dan mau diajar, bukan kristen tegar tengkuk. Orang yang berani berdoa dalam segala sesuatu kepada Tuhan, dia akan menjadi orang kristen yang berani, perkasa, tabah, tidak takut dalam menghadapi masa-masa gelap dan sulit. Karena dia tahu ke mana ia harus pergi. Dan.6:11,12,…seperti yang biasanya…. Ini bukan fanatisme atau nekad, melainkan orang yang tahu siapa Tuhan yang dipercayainya. Ia tidak takut karena sudah biasa berdoa.
BERDOA DALAM KETERGANTUNGAN
Ada banyak orang kristen, juga hamba-hamba Tuhan yang tidak setuju dengan nasehat agar berdoa secara konkrit, apalagi berdoa untuk hal-hal yang remeh, kecil dan biasa. mis. ibu dalam P.D. minta didoakan agar anak dapat pekerjaan, ditegur Penatua, percaya saja.
Pada dasarnya kita manusia ini = makhluk yang angkuh, sombong, selalu mau bersandar pada kekuatan dan kepandaian kita sendiri., juga kekuatan iman kita. Tidak mau bersandar dan bergantung kepada orang lain, juga tidak kepada Tuhan. Tuhan….itu adalah alamat terakhir yang kita datangi untuk meminta tolong…dan biasanya kalau sudah kasep.
Sedikit-sedikit minta tolong, itu namanya kekanak-kanakan, harus percaya. Sama saja dalam kehidupan sehari-hari, anak sakit, ya obati sendiri, nanti kalau sudah tidak kunjung sembuh, sudah kasep, baru cari dokter, dan bila dokter tidak sanggup karena sudah terlambat, baru cari Pdt untuk didoakan. Bila akhirnya tetap tidak tertolong, dokternya, Tuhannya yang dipersalahkan.
Memang benar sepintas lalu nampaknya kekanak-kanakan, namun nanti ketika dalam keadaan gawat darurat, justru yang kekanak-kanakan adalah orang yang paling kuat, tabah. Karena sudah belajar, sudah tahu dari pengalaman: bagi Tuhan masalah besar atau kecil, rumit atau remeh, sama saja, sama mudahnya bagi Tuhan.
Sebaliknya orang yang bersandar pada kekuatan sendiri, yang merasa terlalu tinggi untuk berdoa, memang nampaknya kuat, tetapi nanti….pada waktu menghadapi keadaan gawat, ketika sumber-sumber manusiawi sudah habis, kehabisan kata-kata untuk ribut-ribut, kehabisan tenaga untuk berkelahi, dia si orang kuat akan putus asa, frustrasi dan hancur sendiri. Karena tidak pernah belajar mempercayakan diri kepada Tuhan, sehingga dalam keadaan gawat pun ia tidak dapat percaya.
Selanjutnya, apabila semua yang saya lakukan itu dengan bersandarkan pada kekuatan sendiri, saya tidak akan dapat mengetahui saya dapat atau tidak. Apakah ini hasil jawaban doa atau hasil usahaku? Dan disinilah setan akan masuk, kamu tidak dapat, doamu tidak dijawab. Lalu takut dan bimbang menggoda, tahyul masuk, jimat-jimat berdatangan. Itulah rahasia mengapa sampai orang-orang yang kita pandang kuat dalam iman bisa main dukun, jimat.
Oleh karena itu Tuhan Yesus mengajarkan makanan yang secukupnya. Makanan secukupnya setiap hari. Tiap hari belajar meminta, maka suatu ketika dalam menghadapi masalah besar, saya tahu, saya pasti dapat. Soal lama atau sebentar, sesuai dengan keinginan saya atau berbeda, bukan masalah, karena itu wewenang Tuhan. Namun saya tahu, pasti saya peroleh.
Maka bodohlah orang kristen yang tidak mau belajar berdoa dalam perkara-perkara kecil dan remeh, sederhana, masalah sehari-hari. Apakah anda sudah berdoa dalam segala hal? Inbilah arti berdoa dengan tidak berkeputusan…bukan ber-doa 24 jam, dalam kamar terus, ikut bidston di sana sini. Tetapi dalam segala hal dalam artian, juga yang remeh, spontan secara refleks datang kepada Tuhan karena tahu Dia-lah keselamatanku.
Pada zaman sekarang, banyak orang mencari uang, harta, kedudukan, status, kesenangan dsb. Mencari ini dan itu yang tidak berguna. Namun orang yang bijak tahu ia hidup dalam zaman macam apa dan apa yang harus dicarinya dan mendapatkannya: Tuhan yang hidup, Tuhan yang baik.
Hiduplah dengan Tuhan dan ini bukan bermain gereja, bertepuk tangan, menyanyi, bicara rohani. Melainkan setiap saat, dalam setiap kebutuhan tahu bagaimana menerimanya dari tangan Tuna,

