Sebuah Pelajaran dari Sejarah (Ul. 11:1-7)
Oleh:Paula Christyanti Mulyatan
1:1″Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya. 11:2 Kamu tahu sekarang–kukatakan bukan kepada anak-anakmu, yang tidak mengenal dan tidak melihat hajaran TUHAN, Allahmu kebesaran-Nya,tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung, 11:3 tanda-tanda dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya di Mesir terhadap Firaun, raja Mesir, dan terhadap seluruh negerinya; 11:4 juga apa yang dilakukan-Nya terhadap pasukan Mesir, dengan kuda-kudanya dan kereta-keretanya, yakni bagaimana Ia membuat air Laut Teberau meluap meliputi mereka, ketika mereka mengejar kamu, sehingga TUHAN membinasakan mereka untuk selamanya; 11:5 dan apa yang dilakukan-Nya terhadapmu di padang gurun, sampai kamu tiba di tempat ini; 11:6 pula apa yang dilakukan-Nya terhadap Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, anak Ruben, yakni ketika tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya, kemah-kemah dan segala yang mengikuti mereka, di tengah-tengah seluruh orang Israel. 11:7 Sebab matamu sendirilah yang telah melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN.”
Saya yakin kita semua di sini memiliki pengalaman di masa lalu. Tidak mungkin kita tidak memiliki pengalaman, kecuali bagi mereka yang sudah beristirahat dengan tenang alias Rest in Peace. Tentu tidak menjadi masalah jika di sepanjang usia kita ini bertaburan pengalaman-pengalaman yang menakjubkan dan menggembirakan, misalnya kejatuhan durian runtuh alias dapat untung besar, pacar yang telah sekian lama kita doakan dan nantikan akhirnya kesampaian, anak yang juara kelas, atau kesembuhan terjadi dalam hidup kita.
Pasti kita akan melewati hari demi hari dengan langkah kaki yang ringan dan penuh sukacita. Namun, bagaimana dengan pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita? Bagaimana dengan kandasnya cinta yang telah dibangun sekian lama, sakit-penyakit yang tidak kunjung sembuh, kematian yang merenggut orang yang kita kasihi, ekonomi keluarga yang hancur berantakan atau anak yang kecanduan narkoba? Di dalam perjalanan hidup ini, biasanya kita akan bertanya, “mengapa saya, Tuhan? Dimanakah Engkau, Tuhan?”
Seperti sebuah pepatah yang mengatakan, “pengalaman adalah guru terbaik,” maka sadarkah kita bahwa sering kali Tuhan memakai masa lalu kita, baik sukacita atau dukacita, kesuksesan atau kegagalan, menjadi pembelajaran bagi kita di masa depan. Tetapi, pelajaran seperti apa yang ingin Tuhan ajarkan kepada kita melalui masa lalu kita? Mari pada hari ini kita sama-sama belajar dari pengalaman bangsa Israel yang telah terlebih dahulu diajar oleh Tuhan melalui pengalaman-pengalaman mereka.
Menaati Tuhan sebagai bukti cinta kepada Tuhan
Mengasihi Tuhan, Allahmu (ay. 2a)
Perikop yang telah kita baca merupakan nasihat Musa kepada bangsa Israel yang sebentar lagi akan memasuki tanah yang telah dijanjikan oleh Tuhan kepada nenek moyang mereka. Oleh sebab itu, Musa merasa penting untuk menceritakan kembali pengalaman-pengalaman yang telah bangsa Israel alami bersama Tuhan.
Cerita ini di mulai dari Allah yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Selama lebih dari 400 tahun, bangsa Israel disiksa, ditindas dan dipekerjakan menjadi budak di bawah suruhan Firaun. Mereka tidak dapat melawan. Mereka hanya bisa berseru minta tolong kepada Allah. Oleh sebab itulah, Allah menolong mereka dengan memberikan sepuluh tulah yang membuat Firaun akhirnya membebaskan bangsa Israel dari perbudakan.
Tidak sampai di situ, Allah kembali menunjukkan kuasa-Nya dengan membelah air Laut Teberau untuk menyelamatkan bangsa Israel dari kejaran bangsa Mesir. Bangsa Israel dapat menyeberangi Laut Teberau dengan berjalan di tanah yang kering, sedangkan Firaun beserta pasukan kereta kudanya binasa ditenggalamkan di dalamnya Laut Teberau.
Dalam perjalanan bangsa Israel di padang gurunpun, Allah tidak berhenti menunjukkan kebesaran dan kehebatan-Nya. Di saat mereka berteriak, “Tuhan, saya lapar!” Tuhan memberi mereka roti dari surga. Sebentar lagi, mereka berteriak, “Tuhan, bosan makan roti, mau daging!” Tuhan kirimkan burung-burung puyuh untuk mereka makan. Mereka berteriak lagi, “Tuhan, kami haus! Airnya sudah habis!”
Tuhan berikan air itu dari gunung batu. Pakaian yang mereka pakaipun tidak lusuh, kasut mereka tidak menjadi rusak, bahkan di sepanjang perjalanan mereka ada tiang awan dan tiang api yang terus menjaga dan menuntun mereka. Saya rasa pengalaman-pengalaman ini seharusnya cukup membuat mereka semakin mengasihi Tuhan. Bayangkan saja, kalau di zaman sekarang, ini sama halnya seperti saat kita mengendarai motor yang bernama Vivi, kemudian kita jatuh terguling, tapi ternyata kita tidak terluka sama sekali. Atau, seperti di saat kita harus mengantarkan barang pesanan orang dengan motor, tapi bensin hampir habis. Ajaibnya barang pesanan selesai diantar, motor itu baru mati.
Saya yakin pengalaman-pengalaman ini sangat berkesan buat kita. Betapa tidak, pengalaman-pengalaman itu sangat menakjubkan dan mungkin tidak pernah terjadi lagi di sepanjang kehidupan kita. Bukankah sudah selayaknya kita mengasihi Tuhan karena Tuhan sudah membuktikan cinta-Nya kepada kita?
Saat saya kecil, saya tidak sesehat dan sekuat sekarang. Dulu saya sering pingsan karena terjadi iritasi di otak. Pernah suatu kali selesai bermain Batman dan Robin bersama koko, kami disuruh tidur siang sama mami. Tetapi, saat mami membangunkan kami, saya tidak terbangun. Mami panik sekali. Mami langsung menggendong saya dan berlari ke Puskesmas terdekat untuk segera mengobati saya.
Maka dari itu, mami sangat menjaga saya agar tidak kecapean apalagi sakit demam. Kalau sudah demam, mami bisa tidak tidur semalaman, begadang menjagai saya takutnya pingsan lagi. Begitulah kasih seorang ibu, yaitu menjaga dan merawat anaknya dengan penuh cinta. Lalu, bagaimana kita membalasnya? Tentu bukan dengan uang melainkan dengan kembali mengasihi beliau. Kalau kita sudah merasakan kasih ibu yang sedemikian rupa kepada kita, masakah kita tidak mengasihi ibu kita? Sudah selayaknyalah kita mengasihi beliau. Bahkan dunia dapat mengatakan kita sebagai anak durhaka jika kita tidak mengasihi ibu.
Demikian jugalah dengan bangsa Israel dan khususnya kita yang telah berhutang banyak akan kebaikan dan kasih setia Tuhan dalam hidup kita. Bukankah kita pernah mengalami kuasa Tuhan yang menolong keluarga kita lewat dari krisis ekonomi atau menyembuhkan kita dari sakit-penyakit atau memanggil kita menjadi hamba-Nya pada saat ini? Masakan pada hari ini kita masih tidak mengasihi Tuhan? Kalau demikian, maka kita dapat dikatakan sebagai anak-anak yang berdurhaka kepada Tuhan.
Menaati Tuhan, Allahmu (ay. 2b)
Sebuah cinta tidak dapat dikatakan hanya di bibir saja, tetapi perlu disertai sebuah tindakan nyata bahwa aku benar-benar mencintaimu. Betharia Sonata pun bernyanyi, “semua bisa bilang sayang, semua bisa bilang. Apalah artinya sayang tanpa kenyataan.” (dinyanyikan)
Ucapan semanis apapun tidak akan ada artinya jika tidak disertai perbuatan nyata. Kalau manusia saja membutuhkan cinta yang dinyatakan, bagaimana dengan Tuhan Sang Pencipta manusia. Tuhan juga menuntut umat-Nya untuk mencintai-Nya lebih dari sekadar ucapan manis saja. Tuhan meminta kita untuk menaati segala perintah dan ketetapan yang telah Tuhan berikan. Namun, bagaimana dengan bangsa Israel pada waktu itu? Apakah mereka mampu menaati segala perintah dan ketetapan Tuhan?
Rupanya menaati Tuhan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meskipun bangsa Israel telah mengalami sendiri pengalaman-pengalaman menakjubkan bersama Tuhan, mereka masih gagal menaati Tuhan. Bahkan sampai terjadi pemberontakan besar-besaran yang dilakukan oleh Datan dan Abiram serta ratusan orang Israel lainnya. Mereka menentang kepemimpinan Musa. Mereka merasa seharusnya merekalah yang memimpin bangsa Israel karena mereka berasal dari suku Ruben alias anak sulung Yakub, sedangkan Musa berasal dari suku Lewi.
Namun untuk kesekian kalinya Tuhan menunjukkan kekuatan dan kebesaran-Nya di hadapan seluruh bangsa Israel. Tuhan mengangakan tanah dan menelan habis para pemberontak dan seluruh keluarganya. Inilah bentuk hajaran Tuhan kepada umat-Nya yang tidak taat kepada perintah dan ketetapan-Nya.
Kata “hajaran” di ayat 2 tidak semena-mena merupakan pukulan atau ganjaran dari Tuhan. Kata hajaran dapat dipahami sebagai discipline atau lesson. Itu berarti pengalaman-pengalaman kita di masa lalu dapat dijadikan Tuhan sebagai tempat untuk mendidik dan mendisiplinkan kita supaya kita semakin mengasihi dan menaati Tuhan. Oleh sebab itulah, kita tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa Tuhan itu jahat apalagi Tuhan itu tidak ada di saat masa-masa kelam menghimpit kita. Karena bisa jadi itu adalah bentuk pendisiplinan Tuhan bagi kita agar kita semakin mengasihi dan menaati Tuhan.
Mengasihi dan menaati ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Kita tidak bisa hanya mengatakan, “aku cinta pada-Mu, Tuhan” tanpa ada tindakan nyata yang kita lakukan. Namun, kita juga tidak bisa menaati Tuhan tanpa didasari rasa cinta. Kalau demikian, maka itu sama saja seperti golongan suami-suami takut istri alias suami yang menaati istrinya karena takut sama istrinya. Tetapi, kita tidaklah demikian.
Kita menaati segala perintah dan ketetapan Tuhan sebagai bukti cinta kita kepada Tuhan.
Ada seorang pemain tenis profesional asal Amerika yang bernama Arthur Robert Ashe. Dalam masa karirnya, Ashe berhasil meraih tiga gelar grand slam yang merupakan turnamen paling bergengsi. Gelar itu adalah US Open (1968), Australian Open (1970), dan Wimbledon (1975). Sebuah prestasi yang sulit diraih pada masa itu. Namun, setelah Ashe menggantungkan raketnya alias pensiun, ternyata Ashe mengalami serangan jantung.
Dia terpaksa harus menjalani dua kali operasi by pass. Tetapi bukan sembuh yang dia dapat, dia malah didiagnosa terinfeksi virus HIV karena transfusi darah yang dia jalani. Kenyataan pahit ini akhirnya tersiar kepada publik dan banyak orang menyayangkan tragedi yang menimpa petenis yang rendah hati ini.
Sampai suatu kali ada sepucuk surat dari penggemarnya yang berbunyi, “Mengapa Tuhan memilih kamu untuk menerima penyakit ini?” Pertanyaan yang biasa saja, tapi sungguh dalam. Ashe pun berkata, “Jika saya berkata, ‘Tuhan, kenapa saya?’ kepada hal-hal buruk, maka seharusnya saya juga berkata, ‘Tuhan, kenapa saya’ kepada hal-hal baik yang terjadi dalam hidup saya.”
Ashe menyadari betul bahwa semua kesuksesan karir yang telah dia capai di masa lalu hanya mungkin terjadi karena kebaikan dan kasih Tuhan kepadanya. Sehingga pada saat kesakitan dan penderitaan itu terjadi dalam hidupnya, dia tidak menjadi putus asa, melainkan dia tetap mengasihi dan menaati Tuhan.
Pengalaman-pengalaman kita di masa lalu bersama Tuhan merupakan bekal bagi kita untuk berjalan menuju masa depan. Di saat kesulitan dan penderitaan itu datang, mungkin kita harus berhenti sejenak dari perjalanan kita dan mulai menengok ke masa lalu kita. Kita melihat bagaimana dulu Tuhan pernah menolong kita membuat paper demi paper yang sulit bagi kita.
Tuhan pernah menyembuhkan kita atau anggota keluarga yang kita kasihi. Atau, Tuhan pernah mencukupi kebutuhan kita, bahkan hal sepele sekalipun, seperti sabun atau makanan yang kita idam-idamkan. Bukankah itu semua bentuk cinta kasih Tuhan kepada kita? Dengan mengingat kembali pengalaman-pengalaman kita di masa lalu bersama Tuhan, kita dimampukan untuk tetap mengasihi dan menaati Tuhan.
Pengalaman-pengalaman kita di masa lalu merupakan sebuah pelajaran dari Tuhan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita dan Dia selalu menyertai kita. Maka dari itulah, mari kita membalas cinta kasih Tuhan itu dengan kembali mengasihi Dia dan menaati segala perintah dan ketetapan-Nya.
Mengapa kita sering kali masih gagal untuk mengasihi dan menaati Tuhan? Padahal kita telah melihat dan mengalami sendiri penyertaan Tuhan, kebaikan-Nya, dan kehebatan-Nya. Tetapi, mengapa mengasihi dan menaati Tuhan itu masih sulit untuk dilakukan?
Saya rasa salah satu penyebabnya adalah karena tantangan yang kita rasakan di masa depan bukan sekadar pengulangan di masa lalu, tetapi sering kali jauh lebih berat. Contoh sederhananya saja dalam hal menyontek atau plagiat. Mungkin kita sudah berusaha semaksimal mungkin mengerjakan tugas kita. Tetapi, karena deadline yang mepet dan ditambah kondisi fisik kita sedang lemah.
Sering kali kita mengutip satu dua kalimat dan berharap dosen tidak tahu akan hal itu. Bukan karena kita tidak mau berusaha, tapi terkadang kita sudah berjuang mati-matian tapi kondisi yang menyebabkan kita jatuh lagi lubang yang sama. Tetapi, pertanyaannya sekarang adalah apakah kita mau terus terlena dengan ketidakberdayaan kita?
Apakah kita mau terus-menerus menyakiti hati Tuhan? Mari kita ingat kembali kebaikan, kesetiaan, dan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita selama belasan atau puluhan tahun. Pernahkah Tuhan mengecewakan kita dan membiarkan kita sendirian? Tak maukah sekarang kita juga berkorban bagi Tuhan dengan setia mengasihi dan menaati segala perintah dan ketetapan-Nya? Karena kesetiaan Tuhan di masa lalu merupakan jaminan penyertaan Tuhan di masa depan. Amin

