Akhir Zaman: Kedatangan Yesus Kedua Kali
Mat 24:29-51; 25:1-13; Yoh 14:1-3
Pdt. Agus Surjanto
Alkitab ditulis dengan bahasa manusia (Ibrani, Aram dan Yunani) dan dalam situasi sosial budaya setempat (Mesir, padang gurun, Israel, Eropa dsb.). Karena itu, cukup banyak bagian-bagian alkitab yang bagi pembaca modern zaman sekarang merupakan hal yang sulit untuk dimengerti karena pembaca modern tidak lagi hidup dalam konteks/situasi sosial dan budaya pada zaman itu. Dengan demikian teks alkitab bisa disalah dimengerti oleh pembaca modern ketika pembaca modern menafsirkan teks alkitab itusesuai dengan konteksnya sendiri. Untuk dapat mengerti dengan baik, maka salah satu hal yang harus dilakukan oleh pembaca alkitab adalah mencoba memahami situasi sosial budaya pada saat tulisan itu dibuat. Tentu saja ada juga hal lain yang harus dipelajari seperti bahasa asli alkitab, konteks pembicaraan cerita, arti kata dan perkembangan istilah dan banyak hal lain. Tetapi bahwa situasi sosial dan budaya merupakan suatu hal yang penting untuk dapat memahami arti teks dengan benar harus tetap menjadi perhatian kita. Kalau tidak maka akan muncul penafsiran yang kemungkinan besar salah.
Tokoh kita kali ini adalah Tuhan Yesus yang diceritakan dalam alkitab akan datang kembali menjemput jemaat-Nya untuk masuk dalam Kerajaan Sorga. Kedatangan Kristus yang kedua kali ini merupakan suatu misteri. Alkitab mengatakan bahwa waktu kedatangan-Nya seperti pencuri pada malam hari, berarti tidak diketahui kapan. Yang menarik adalah Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang tahu. Malaikat tidak tahu, Anakpun tidak tahu. Hanya Bapa yang tahu (Mat 24:36). Perkataan ini sering dikutip oleh para bidat dan penganut agama lain yang mau menjatuhkan iman orang percaya. Dari pengakuan Tuhan Yesus ini orang-orang tersebut mengambil kesimpulan teologis yang berbahaya.
Pertama, ini bukti bahwa Tuhan Yesus sendiri mengakui bahwa Dia tidak mahatahu, berarti Tuhan Yesus itu bukan Allah. Kalau Dia Allah maka seharusnya Dia tahu segala sesuatu, termasuk kedatangan-Nya yang kedua kali. Kedua, pernyataan ini merupakan bukti bahwa dalam Allah Tritunggal ada hierarki. Yang paling tinggi Bapa, kemudian rangking kedua Anak dan rangking ketiga Roh Kudus. Adanya hierarki itulah yang membuat Tuhan Yesus tidak tahu kapan Dia akan datang kembali. Apakah memang Tuhan Yesus berarti bukan Allah atau kalaupun Dia Allah maka Dia Allah rangking kedua? Untuk memahami perkataan Tuhan Yesus di atas dengan benar, maka paling sedikit kita harus mengerti 2 hal :
Pertama, bahwa perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dalam alkitab, khususnya dalam kitab Injil, harus dimengerti sebagai perkataan atau perbuatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika Dia berinkarnasi sebagai Anak Manusia. Di luar kitab Injil, perkataan atau perbuatan Tuhan Yesus baru dapat dimengerti sebagai perkataan dan perbuatan Allah Anak. Mengapa? Karena ketika Dia berinkarnasi menjadi manusia, Tuhan Yesus telah mengosongkan diri sedemikian rupa sehingga tidak mempertahankan keilahian-Nya tetapi mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia (Flp 2:5-11). Istilah mengosongkan diri artinya meletakkan sifat-sifat keilahian-Nya dan tidak memakai sifat-sifat ilahi itu dalam semua perbuatan-Nya. Kalau Dia membuat mujizat itu bukan dari kuasa-Nya pribadi, tetapi diberikan oleh Bapa di sorga, atau Bapa mengijinkan Dia untuk memakai kuasa pribadi-Nya sebagai Allah Anak. Dengan kata lain ketika inkarnasi Allah Anak bergantung penuh kepada Allah Bapa dalam segala hal.
Dia sedang mengambil rupa seorang hamba, menjadi manusia dengan segala konsekwensi yang mengikutinya. Dalam keadaan inilah maka dikatakan bahwa “Bapa lebih besar daripada-Ku” (Yoh 14:28). Maksud dari peristiwa ini adalah untuk memberi teladan kepada jemaat bagaimana jemaat harus taat secara mutlak kepada Allah, sama seperti seorang hamba atau anak taat kepada bapanya. Sebab itulah istilah Anak dan Bapa dipakai oleh Tuhan Yesus. Istilah ini bukan untuk menunjukkan bahwa Bapa lebih tinggi derajatnya dari Anak, apalagi dimengerti sebagai hubungan biologis, tetapi untuk memberikan ilustrasi keteladanan.
Kedua, kita harus memahami dalam konteks apa Tuhan Yesus mengatakan perkataan-perkataan itu. Sangat menarik bahwa perkataanitu dikatakan dalam konteks kedatangan-Nya yang kedua kali. Dan kedatangan-Nya yang kedua kali sering digambarkan sebagai pengantin pria yang menjemput pengantin wanita (Why 19, 21). Perjanjian Lama seringkali melukiskan umat Israel sebagai pengantin wanita dan Allah sebagai pengantin pria (Yes 62:5; Yer 2:2, 32). Kita harus memahami situasi sosial dan budaya pada zaman itu tentang apa yang disebut dengan perjamuan kawin atau perkawinan dalam konteks sosial dan budaya orang Yahudi, karena pernikahan menggambarkan hubungan antara Kristus dengan jemaat-Nya (Efe 5:32). Dan konteks perkataan dalam Mat 24:36 adalah tentang kedatangan-Nya yang kedua kali.
Dengan memahami konteks budaya pada zaman itu maka kita dapat mengerti apa yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Alkitab menggambarkan kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai perjamuan kawin dengan Kristus sebaga pengantin pria dan jemaat sebagai pengantin wanita. Di dalam pengertian inilah maka kita baru dapat memahami perkataan Tuhan Yesus dalam Mat 24:36 dan Yoh 14:1-3 dengan tepat. Untuk itu kita harus mengerti tata cara pernikahan orang Yahudi. Dalam budaya Yahudi pernikahan diatur dalam beberapa tahap sebagai berikut :
Pertama, ayah pengantin pria bersama pengantin pria melamar pengantin wanita dan membayar uang mahar. Biasanya dilakukan setahun sebelum pernikahan dirayakan. Dengan langkah ini maka perjanjian telah diadakan dan kedua belah pihak harus setia dalam perjanjian ini. Perjanjian ini mengikat kedua belah pihak. Inilah yang terjadi dalam peristiwa Yusuf dan Maria. Alkitab mengatakan bahwa mereka bertunangan tetapi belum hidup sebagai suami istri (Mat 1:18). Namun dikatakan bahwa Yusuf ingin menceraikan Maria (Mat 1:19). Berarti pernikahan sudah merupakan kepastian dan mereka sudah pasti menjadi suami-istri, tetapi belum ditentukan hari pernikahannya. Setelah perjanjian dibuat, maka pengantin pria pulang kembali ke rumahnya sendiri dan nanti pada saat yang ditentukan akan datang kembali menjemput pengantin wanita.
Kedua, pengantin pria akan datang ke tempat pengantin wanita untuk menjemput pengantin wanita dan membawanya ke rumahnya. Langkah kedua ini dilakukan sebagai berikut :
Sebelum menjemput pengantin wanita, pengantin pria harus mempersiapkan tempat tinggal atau rumah untuk mereka tinggal nantinya. Rumah itu biasanya adalah tempat atau kompleks di mana ayahnya tinggal. Tuhan Yesus mengatakan bahwa di rumah Bapa-Nya banyak tempat tinggal dan Dia pergi ke sana (rumah Bapa) untuk menyediakan tempat bagi orang percaya (Yoh 14:1-3). Perkataan ini hanya dapat dimengerti dengan tepat ketika kita memahami bahwa Tuhan Yesus sedang menggambarkan bahwa Dialah pengantin pria itu dan jemaat adalah pengantin wanitanya.
Setelah rumah itu selesai maka kemudian ayah pengantin pria menentukan hari pernikahannya dan waktu penjemputan itu. Ayah pengantin pria yang mempunyai hak ini, bukan pengantin prianya. Inilah budaya Yahudi waktu itu. Karena itu walaupun pengantin wanita tahu bahwa dia akan dijemput tetapi dia tidak tahu kapan persisnya dia akan dijemput. Dia hanya diberitahu bahwa pengantin pria sedang dalam perjalanan untuk menjemput dia. Dan karena jarak yang harus ditempuh maka perjalanan mungkin bisa beberapa jam atau beberapa hari.
Ketiga, dalam perjalanan ke rumah pengantin wanita pengantin pria diiringi para pengiring dan sepanjang jalan mereka menyanyi dan menari sambil meniup sangkakala/terompet sebagai tanda bahwa pengantin pria sedang menjemput pengantin wanita. Pengantin wanita setelah mendengar tanda-tanda itu maka dia harus mempersiapkan diri untuk dijemput pengantin pria. Dia harus berhias dan mendandani dirinya sebagaimana seharusnya seorang pengantin wanita (Efe 5:25-27; Why 19:7; 21:1-2). Karena itu pengantin wanita harus senantiasa siap kapanpun penganti pria akan menjemputnya.
Keempat, upacara pernikahan dilakukan dengan mengundang tamu undangan khusus, kemudian dilanjutkan dengan pesta pernikahan yang bisa berlangsung selama 1 minggu dan dihadiri oleh banyak orang yang diundang. Alkitab pernah mencatat pernikahan di mana Tuhan Yesus hadir, yaitu di Kana (Yoh 2:1-12).
Dengan memahami kedua hal di atas, maka baru kita dapat mengerti perkataan Tuhan Yesus dengan tepat. Bahwa ketika inkarnasi Tuhan Yesus selalu menempatkan diri dalam konteks sosial dan budaya zaman itu sehingga semua perkataan-Nya dapat dimengerti oleh orang-orang pada zaman itu dengan baik. Dalam Mat 24:36 perkataan Tuhan Yesus memberi kesan bahwa Tuhan Yesus tidak tahu kapan Dia akan datang kembali. Berarti seakan-akan Dia bukan Allah atau kalaupun Allah maka Dia adalah Allah “kelas dua.” Bapa adalah Allah kelas satu. Tetapi kalau kita memahami bahwa Tuhan Yesus waktu itu sedang membicarakan tentang kedatangan-Nya kembali seperti seorang pengantin pria yang akan untuk menjemput pengantin wanita, maka kita dapat mengerti bahwa perkataan ini bukan bermaksud untuk mengajarkan bahwa Allah Anak kalah kuasa dengan Allah Bapa, atau Tuhan Yesus tidak mahatahu, tetapi bahwa penjemputan itu adalah keputusan Bapa dan Anak yang berbakti seharusnya taat kepada keputusan Bapa. Sebagai Allah Anak yang setara dengan Allah Bapa Tuhan Yesus tahu tetapi dengan rela Dia menyerahkan keputusan itu di tangan Bapa.
Sama seperti ketika Dia dengan rela memutuskan untuk taat minum cawan murka Allah di taman Getsemani dan juga dengan rela hati menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib, maka sekarang Dia juga rela menyerahkan keputusan-Nya untuk datang kembali kepada Bapa. Kalau dulu waktu inkarnasi Dia rela diutus oleh Bapa, maka sekarang Dia juga rela menyerahkan keputusan untuk diutus kembali kepada Bapa di sorga. Kebenaran ini hanya dapat kita pahami ketika kita mengerti budaya pernikahan orang Yahudi. Perhatikan bahwa tanda-tanda untuk kedatangan-Nya yang kedua kali adalah dengan tiupan sangkakala atau terompet (Mat 24:31). Ini adalah tanda yang sama yang digunakan oleh para pengiring pengantin pria ketika sang pengantin pria dalam perjalanan menjemput pengantin wanita. Sepanjang perjalanan menuju rumah pengantin wanita mereka meniup sangkakala/terompet dan bernyanyi dan menari dengan sukacita. Pengantin wanita ketika mendengar berita dari keluarga dan orang-orang bahwa pengantin pria sedang dalam perjalanan menjemput dia (karena ada pemberitahuan dan juga ada tiupan sangkakala/terompet) dan iring-iringan penjemputan, maka dia harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menyambut pengantin pria. Tiupan sangkakala/terompet adalah tanda kedatangan pengantin pria, yaitu Kristus, yang kedua kali. Tetapi tentu saja bukan terompet itu yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus ketika nanti Dia akan datang untuk ke-dua kalinya pada akhir zaman. Sangkakala/terompet adalah tanda/lambang sehubungan dengan penjemputan pengantin wanita. ini bukan berarti bahwa nanti pasti akan ada suara terompet waktu Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya. Kepada orang percaya Tuhan Yesus memberikan tanda-tanda akhir zaman (Mat 24) sebagai tanda kedatangan-Nya yang kedua kali. Tanda-tanda itulah yang disebut sebagai sangkakala/terompet itu.
Sama seperti pengantin wanita harus mempersiapkan diri untuk dijemput pengantin pria, demikian juga gereja (pengantin wanita) harus mempersiapkan diri ketika melihat atau mendengar tanda-tanda akhir zaman. Perumpamaan sepuluh gadis yang menunggu kedatangan pengantin pria (Mat 25:1-13) merupakan tanda awas bagi kita supaya ketika Kristus akan datang (dengan melihat tanda-tanda akhir zaman), kita juga benar-benar siap menyambut Dia, karena memang waktunya tidak diketahui. Tuhan Yesus telah memperingatkan kita bahwa Dia akan datang seperti pencuri, tetapi Dia meminta orang percaya mempersiapkan diri dengan memberikan tanda-tanda akhir zaman. Mungkin saja nanti ada tiupan terompet ketika Tuhan Yesus datang kedua kalinya, tetapi kalau memang terompet itu ada, itu akan terjadi tepat pada saat Tuhan Yesus datang. Tetapi kalau kita orang percaya menunggu bunyi terompet dan baru bersiap-siap menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali, berarti sudah terlambat. Terompet, dalam arti tanda-tanda kedatangan-Nya yang ke-dua kali, bukan benar-benar bunyi terompet, tetapi tanda-tanda akhir zaman seperti yang dinubuatkan dalam Matius 24.
Jelas sekali Tuhan Yesus mengatakan bahwa tidak ada yang tahu kapan saat itu. orang percaya seharusnya punya kepekaan untuk melihat tanda-tanda akhir zaman dan bukan mencari atau menunggu bunyi terompet dari sorga. Terompet itu hanya dibunyikan ketika pengantin pria sedang dalam perjalanan ke rumah pengantin wanita. Kalau sudah sampai ke rumah pengantin wanita, maka terompet tidak lagi ditiup. Apakah orang percaya bisa mendengar bunyi terompet (tanda-tanda) akhir zaman dengan jelas? Atau banyak orang percaya berlaku seperti pada zaman Nuh, makan dan minum, kawin dan mengawinkan (Mat 24:38) dan tidak menyadari bahwa air bah akan datang dengan mendadak melanda mereka?

