Site icon

Aku Memulihkanmu

Aku Memulihkanmu

1Petrus 2:24-25

oleh Andy Kirana

Bapak, ibu, dan anak-anak yang dikasihi Tuhan…Puji syukur kita naikkan ke hadirat Tuhan atas waktu yang indah pagi ini, kita semua boleh menikmati berkat firman Tuhan. Firman-Nya akan kita renungkan melalui tema “Aku Memulihkanmu,” yang didasarkan pada Surat 1Petrus 2:24-25. Mari kita baca bersama-sama.

Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Bapak, ibu, dan anak-anak yang dikasihi Tuhan…Saat ini kita ada di Bulan Keluarga Tahun 2021. Kita semua diajak untuk menghayati bahwa Kristus yang mengasihi itulah yang juga memulihkan luka batin. Penghayatan ini penting sekali, karena setiap orang pada dasarnya memiliki luka batin. Walau luka itu kecil, namun bisa menjadi duri yang akan menghambat perkembangan hidup kita. Meski setiap orang mengetahui bahwa ia memiliki luka batin, sayangnya tidak semua orang mau membicarakannya. Membicarakan luka batin sering kali dianggap seperti meneteskan obat merah ke atas luka di tubuh. Perih rasanya saat mengetahui kekurangan-kekurangan bahkan dosa-dosa kita. Oleh karena itu mari di Bulan Keluarga ini kita belajar membuka diri, menyelidiki luka batin, merenungkan firman-Nya, dan memohon kepada Tuhan untuk memulihkan kita.

Saya mau bertanya kepada orangtua: Apakah Saudara-saudara sebagai orangtua sudah melakukan tugas dan tanggung jawab untuk mengajar kepada anak-anakmu? (semua otangtua terdiam). Sudah atau belum? (orangtua tidak ada yang menjawab, hanya tersenyum). Baiklah, kalau demikian saya mau bertanya kepada anak-anak saja: Apakah selama ini kalian sudah diajari oleh orangtuamu? (jawab anak-anak: kadang-kadang). Mengapa saya kok menanyakan hal ini? Karena saya teringat akan pernyataan Profesor James E. Loder, seorang ahli dalam pendidikan Kristen. Beliau mengetengahkan suatu prinsip kedekatan dan keharmonisan antara orang tua dan anak melalui wajah. Yaitu, bagaimana wajah orangtua itu mewakili konsep gambar Allah. Hal ini tidak bisa digantikan oleh siapa pun atau apa pun. 

Prinsip itu menjadi masalah di Indonesia, khususnya yang kelas menengah ke atas, karena banyak orangtua yang menyerahkan anaknya ke babysitter. Sehingga nanti wajah yang paling diingat oleh anak itu malah wajah babysitter-nya, bukan wajah orangtuanya. Ketika anak ini hendak mencerap gambar, maka yang dia ambil adalah gambar babysitter-nya dan bukan gambar orangtuanya. Kalau kita melihat Kitab Ulangan pasal 6, maka Allah melalui Musa bukan memberikan perintah kepada babysitter. “Hai babysitter, ajarkan ini kepada anak-anak tuanmu.” Tidak ada perintah seperti itu. Tetapi inilah perintah kepada setiap orangtua: “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu.” Kepada anak-anakmu, bukan kepada anak-anak tuanmu. Juga perintah ini bukan diberikan kepada guru. “Hai guru-guru, ajarkan ini kepada murid-muridmu.” Bukan! 

Dan perintah ini pun bukan untuk para kakek-nenek. “Hai kakek-nenek, ajarkan ini kepada cucu-cucumu.” Apa yang diajarkan kakek-nenek itu kepada cucunya? Apa pun yang mereka minta, pasti akan diberikan. Kalau kita mempunyai anak, kita bisa mengerti perbedaan antara orangtua dan kakek-nenek. Pada umumnya, orangtua ingin membentuk karakter anak mereka sehingga mereka akan menerapkan disiplin kepada anak mereka. Tetapi waktu kakek-nenek datang ke rumah – apalagi kalau mereka setiap hari bertugas sebagai “MC” (Momong Cucu) karena suami-isteri bekerja –  semua disiplin menjadi hilang. Dengan cepat anak kita akan sadar bahwa orangtua akan menolak permintaan mereka, tetapi kakek-nenek pasti akan mengabulkannya. Sang cucu menjadi pintar untuk langsung saja meminta kepada kakek-nenek-nya. Sekali lagi, firman Tuhan mengatakan untuk mengajarkannya berulang-ulang kepada “anak-anakmu.” Itulah tugas orangtua, bukan tugas kakek-nenek!

Inilah akibatnya… Karena jarang bertemu, jarang berinteraksi, maka orangtuanya tidak kenal anaknya dan anaknya tidak kenal orangtuanya. Akhirnya, orangtua kehilangan otoritas. Secara kompensasi akhirnya orangtua berusaha memiliki otoritas atas anak melalui apa yang mereka punya dan dapat tawarkan, yaitu uang atau barang. Lambat laun anak menjadi mengerti bahwa ganjarannya harus uang atau barang. Ketika masih kecil dikunci dengan uang atau barang, anak tidak bisa berbuat macam-macam. Tetapi ketika dia besar dan bisa cari uang atau barang sendiri, maka dia akan berbuat macam-macam. Saya harap kita mengerti akan hal ini. Kita harus hati-hati dalam hal ini. Jangan main-main dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita. Karena dengan berbuat demikian, secara tidak langsung orangtua sudah menanamkan luka batin ke dalam diri anaknya. 

Bapak, ibu, dan anak-anak yang dikasihi Tuhan…Kalau memang sedemikian seriusnya masalah luka batin ini dalam kehidupan, terlebih kehidupan keluarga, lalu bagaimana kita bisa memulihkan luka batin? Jawabannya: Luka batin hanya bisa disembuhkan melalui anugerah Allah yang memulihkan. Bagaimana anugerah Allah itu memulihkan kita? Melalui 1Petrus 2:24-25 kita menemukan tiga aspek yang dilakukan Kristus sebagai Sang Pemulih.

Pertama, dengan memikul dosa kita (ayat 24a)

Tindakan orang yang luka batinnya bisa mengakibatkan perbuatan dosa. Orang yang mengalami luka batin bisa tanpa sadar melukai orang-orang yang ada di sekitarnya. Ada pula tindakan-tindakan lain yang berakibat buruk bagi kehidupan, karena keinginan membalas dendam terhadap perlakuan buruk yang pernah diterima hingga menyebabkan hidup terluka. Jika kita terluka dan tidak mengakui bahwa kita mempunyai kebutuhan, maka jelas tidak ada tempat untuk kesembuhan. Kita tidak bisa bertobat dari apa yang belum kita akui, kita tidak bisa mengakui apa yang tidak kita dukai, dan kita tidak bisa mendukai apa yang belum kita lihat. Mengakui kebutuhan kita akan pemulihan merupakan suatu tanda kesehatan mental yang baik. Mendukai dosa kita merupakan bukti sikap yang jujur. Melihat dosa dengan jelas adalah tanda pasti dari kasih karunia Allah. Berani mengakui, mendukai, dan melihat dosa adalah tanda bahwa Kristus bertakhta di hati kita.

Oleh karena itu, dengan jujur kita harus mengakui bahwa kita mempunyai beban yang tidak bisa ditanggung. Kita harus meletakkan semua beban luka batin kita di hadapan Tuhan dan membiarkan Kristus bekerja dalam hidup kita. Selama kita berusaha memikul beban sendiri, maka tidak mungkin Tuhan akan memikul beban luka batin kita dan memulihkannya. Karena janjinya sangat jelas, Tuhan akan memikul dosa kita. Inilah kasih karunia Allah. Kristus sendiri menderita di salib untuk menanggung beban dosa yang disebabkan oleh perbuatan jahat kita. Dosa di sini termasuk juga kesalahan, kutukan, dan hukuman akibat dosa itu. Dengan kematian-Nya di kayu salib, manusia memperoleh pengampunan dosa dari Allah. Beban yang berat menjadi ringan karena Kristus yang memikulnya, dan kita hidup dalam kebenaran-Nya.

Kedua, dengan menyembuhkan penyakit kita (ayat 24b)

Luka-luka Kristus adalah anugerah Allah yang memulihkan. Paradoks ini sungguh-sungguh menakjubkan hati kita. Kristus terluka supaya kita sembuh. Ia mati supaya kita hidup. Kita mati bersama Dia, dan dengan demikian kita “mati bagi dosa” sehingga kita “hidup untuk kebenaran.” Paul David Tripp dengan apik membahasakan demikian: “Tuhan itu kudus, jadi dosa itu serius. Tuhan itu pemurah, jadi dosa bisa diampuni. Di kayu salib, kekudusan dan kasih karunia-Nya berciuman.” Berbeda dengan ciuman Yudas yang mematikan. Inilah ciuman mesra Kristus dari kayu salib yang menghidupkan, yang menyembuhkan, dan yang memulihkan.

“Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” Kata-kata itu diungkapkan rasul Petrus untuk menunjukkan betapa beratnya jalan Kristus untuk memulihkan kehidupan kita. Kata “bilur-bilur-Nya” berkaitan dengan penderitaan yang dialami Tuhan Yesus ketika Ia dilukai saat penyaliban-Nya. Dengan jalan salib itu Tuhan Yesus menghendaki nantinya tidak ada lagi sesama manusia yang hidup dengan saling melukai. Dengan kata lain hal itu dapat dimaknai: Stop saling melukai! Kamu telah sembuh. Ya, telah sembuh! Kamu telah menjadi baik kembali, dijadikan sehat – dipulihkan. Kamu telah dipulihkan secara utuh (holistik).

Ketiga, dengan memelihara kita (ayat 25)

Tuhan Yesus adalah Gembala yang Baik. Manusia adalah domba yang mudah tersesat dan menjauh dari Allah. Mereka masuk ke dalam daerah-daerah yang berbahaya di dalam kehidupan, sehingga mudah terluka. Bahkan perilaku domba yang terluka ini sangat berbahaya. Mereka bisa melakukan tindakan-tindakan seruduk sana seruduk sini, sehingga melukai sesamanya. Itulah tindakan domba yang oleh Robert Robinson disebut sebagai “domba binal yang sesat” (lihat Kidung Jemaat nomer 240 bait 2). Dan, jangan lupa ya… kita semua mirip dengan domba! Kita semua! Saudara dan saya! Kita membutuhkan pemulihan yang terus menerus. Rasul Petrus menggambarkan pemulihan ini seperti domba yang kembali kepada gembalanya. Proses pemulihan merupakan kisah pertobatan. Domba-domba yang tersesat menemukan kembali Gembala mereka, oleh karena mereka telah dicari-Nya. “Punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya” (Mzm. 100:3).

Kristus, Sang Gembala sekaligus Sang Pemelihara (Penilik), berjalan di depan dalam hidup mereka. Ia mengetahui hati pengiring-pengiring-Nya. Ia tahu apa yang menjadi keperluan-keperluan mereka. Bukan saja Kristus mencari kita ketika kita tersesat, tetapi Ia juga menjaga setelah kita diselamatkan sehingga kita tidak tersesat. Sang Penilik melakukan pengawasan dan pendampingan dengan mengajak umat melihat kehidupan yang telah dijalani di masa lalu serta perbedaan hidup di masa kini. Ia menyadarkan umat-Nya tentang pemulihan yang bersumber dari Allah. Ia terus memulihkan dengan memelihara jiwa seperti seorang gembala yang bertekun, penuh kasih menjaga domba-domba-Nya. Ia tidak pernah berhenti berjaga dan terus terjaga untuk mengamati domba-domba-Nya agar terhindar dari ancaman dan bahaya. Allahlah yang menjaga dan memelihara kita. 

Kristus adalah Sang Pemikul, Sang Penyembuh, Sang Gembala dan Sang Pemelihara hidup kita. Sebesar-besarnya dosa kita, masih ada Tuhan yang memikul. Separah-parahnya penyakit kita, masih ada Tuhan yang menyembuhkan. Sesesat-sesatnya jalan kita, masih ada Tuhan yang menggembalakan. Serapuh-rapuhnya batin kita, masih ada Tuhan yang memulihkan. Sekurang-kurangnya hidup kita, masih ada Tuhan yang memelihara. Haleluya!

Bapak, ibu, dan anak-anak yang dikasihi TuhanProses pemulihan luka batin itu seperti menyetrika baju. Apakah ada di antara Saudara dulu pernah menyetrika baju pakai setrika jadul… setrika arang? (jemaat: ada). Siapa yang mau memperagakan menyetrika baju? (jemaat: saya pak). Sila maju ke depan mimbar (salah seorang jemaat maju ke depan mimbar). Sekarang coba peragakan proses menyetrika baju pakai setrika arang mulai dari persiapan sampai selesai. Bisa? (jemaat: bisa). Jemaat menjelaskan dan memeragakan proses demi proses sampai baju menjadi licin dan siap dipakai. Baju yang tadinya lungset (kusut) sekarang sudah menjadi licin dan rapi. Namun harus diingat untuk menjadikan baju licin dan rapi diperlukan tekanan dan panas yang pas dari setrika yang digunakan. Jarang ada orang menyetrika dengan setrikaan dingin, sebab tidak menghasilkan apa-apa alias sia-sia. Dengan baju yang rapi dan licin kita bisa percaya diri, tanpa takut akan pembicaraan negatif orang lain yang melihatnya. 

Demikian juga proses anugerah pemulihan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus terhadap kita. Kadang memang tidak enak dan menyakitkan karena ada “tekanan” yang menindih dan “panas” yang menyengat kehidupan kita. Namun itu semua membawa hasil yang memuaskan dalam kehidupan kita bersama-Nya. Inilah wujud pemeliharaan Tuhan Yesus bagi kita. Dan ingat, seperti baju yang disetrika tidak hanya sekali saja, demikian juga penyetrikaan (pemeliharaan) Tuhan Yesus berlangsung selama kita hidup di dunia ini. Sampai saatnya nanti Pengantin Laki-laki kita datang menjemput, kita sudah siap dan berdandan dengan pakaian yang licin dan rapi. Kita sebagai mempelai perempuan sudah cantik di hadapan Kristus, karena Dia yang memulihkan dan mendandani kita. Haleluya. Amin.

Exit mobile version