Site icon

Aku Sudah Datang


Lukas 2:22-40

Oleh: Sepridel Hae Tada 

Saudara-saudara, jelang akhir semester dan akhir tahun seperti ini mengingatkan saya akan pengalaman ketika masih kuliah di SAAT Malang. Di kalangan mahasiswa ada suatu istilah yang popular yaitu pengharapan eskatologis. Eskatologis artinya masa yang akandatang. Apa sih pengharapan eskatologis bagi kami? Jawabannya adalah liburan bersama keluarga. Oleh karena itu, sekitar 1-2 bulan sebelum liburan tiba, maka sebagian besar mahasiswa sibuk hunting tiket pesawat supaya dapat yang murah! Tiket yang sudah ditangan itu menjadi penyemangat dalam menghadapi UAS! Inilah masa “penderitaan” yang menegangkan bagi sebagian mahasiswa. Inilah masa-masa begadang semakin sering, botol-botol minum yang biasanya berisi air putih berganti jadi kopi supaya kuat begadang, pesanan delivery makanan di malam hari bertambah, dan sebagainya. Rasanya setiap semester ada saja mata kuliah “maut”sehingga bagi mahasiswa hanya berharap bisa lolos bukan lulus! Lepas dari segala ketegangan UAS, tiket liburan menjadi penanda bahwa pada tanggal sekian“penderitaan” dan “penantian” kamu akan berakhir!

Saudara-saudara, rasanya jauh lebih mudah dan menyenangkan jika kita tahu kapan kesulitan kita akanberakhir atau kapan penantian kita akan menjadi kenyataan! Seperti dalam cerita saya tadi, sesusah-susahnya UAS, tapi kami tahu kapan UAS akan berakhir, kapan liburan akan dimulai dan kapan akan berakhir! Coba bayangkan jika dalam kalender akademik tidak ada jadwal liburan mahasiswa maupun pegawai! Kita semua cuman dijanjikan bahwa ya suatu saat nanti ada liburan. Namun, tanggalnya kapan tidak di informasikan pada kita! Dugaan saya, mungkin tiap hari di antara kita akan terus bertanya kapan liburannya? Dan pasti kita akan sangat menantikan datangnya hari libur tersebut!

Saudara-saudara, menantikan sesuatu yang dijanjikan adalah apa yang dilakukan oleh Simeon dan Hana dalamteks yang kita baca tadi. Mereka hidup dalam pengharapan akan kedatangan Mesias yang telah dijanjikan sejak zaman Adam. Pada akhirnya, momentum kedatangan Mesias disaksikan langsung oleh Simeon dan Hana. Mereka adalah saksi mata kedatangan Mesias yang dijanjikan. Inilah timing penggenapan janji Allah yang membawa sukacita dan pengharapan. Mari kita lihat kembali kisah kedatangan Yesus.

1. Kedatangan Yesus sesuai dengan nubuat dalam Perjanjian Lama

Saudara-saudara, kisah Simeon dan Hana yang bertemu bayi Yesus memang tidak sepopuler kisah orang majus atau para gembala. Hal ini terbukti, dalam drama-drama Natal hampir tidak pernah dipentaskan pertemuan mereka dengan bayi Yesus. Namun, sebenarnya Simeon dan Hana mewakili orang Yahudi saleh yang menantikan kedatangan Mesias yang dijanjikan!

Sebagaimana keluarga Yahudi lainnya, keluarga pasangan muda Maria dan Yusuf juga harus melakukan3 ritual sesuai hukum Taurat setelah kelahiran Yesus, yaitu sunat, penyerahan anak sulung, dan pentahiran ibu yang melahirkan. Sunat dilakukan pada hari kedelapan sekaligus pemberian nama, yaitu Yesus. Ini bisa dilakukan oleh imam setempat. Sedangkan, pentahiran dan penyerahan anak harus di lakukan di bait Allah Yerusalem. Dalam Imamat 12, dicatat bahwa seorang perempuan Yahudi yang melahirkan anak laki-laki akan menjadi najis selama 7 hari, lalu harus menunggu 33 hari lagi baru boleh datang ke bait Allah. Intinya harus menunggu 40 hari. Namun, jika anaknya perempuan, maka hitungannya 2 kali lipat! Yaitu 80 hari. Jadi, bisa dipastikan bahwa Maria datang ke bait Allah setelah hari ke-40 lewat. Untuk keperluan pentahiran, seorang ibu harus mempersembahkan 1 ekor domba berumur setahun dan satu ekor burung tekukur/merpati. Coba kita perhatikan korban yang dibawa oleh Maria dan Yusuf. Ya, sepasang burung tekukur atau 2 ekor anak merpati. Ini adalah jenis korban yang biasa diberikan oleh keluarga tidak mampu atau miskin. Dari jenis korban yang bisa mereka berikan, bisa disimpulkan bahwa Yusuf dan Maria bukanlah orang yang kaya raya!

Dalam momen yang spesial di bait Allah itulah muncul Simeon dan Hana. Dari teks yang kita baca, ada kesamaan dari Simeon dan Hana, yaitu: 1. Orang Yahudi yang saleh dan sungguh-sungguh beribadah kepada Allah. 2. Menantikan penghiburan bagi Israel. Hal ini berkaitan erat dengan pengharapan akan kedatangan Mesias yang dijanjikan. Mesias akan datang untuk melepaskan umat Allah dari belenggu dosa dan kegelapan. 3. Mereka sudah lansia. Hana adalah seorang janda tua yang berumur sekitar 84 tahun. Simeon juga sudah berusia lanjut. Darimana kita tahu? Dari perkataan Simeon di ayat 29 bahwa ia telah siap mati setelah melihat bayi Yesus yang dijanjikan.

Usia kedua orang saleh yang telah tua ini menunjukkan sesuatu yang penting.  Yaitu bagaimana Simeon dan Hana telah bertekun dan bertahan untuk terus berharap akan kedatangan Mesias dalam kurun waktu puluhan tahun sampai masa tua mereka! Ini bukan penantian dalam hitungan sehari, seminggu, sebulan, atau setahun! Hari itu, akhirnya mereka bisa langsung berhadapan muka dengan bayi Yesus yang baru berumur 40 hari. Inilah hari puncak dari penantian panjang mereka. Inilah momen penuh sukacita dan pengharapan.

Sukacita itu terlihat dari isi pujian Simeon pada ayat 29-32. Inti dari pujian syukur ini adalahkeselamatan itu menjadi nyata bagi orang Israel maupun bagi bangsa-bangsa lain. Keselamatan menjadi nyata karena Mesias telah datang. Simeon percaya bahwa bayi mungil dalam gendongannya bukan bayi biasa! Inilah Mesias yang akan mati disalibkan dan menyelamatkan manusia berdosa. Inilah Gembala Agung yang akan menuntun pulang domba-domba-Nya yang tersesat. Inilah terang yang akan menerangi umat dalam kegelapan. Dialah terang yang memberikan pengharapan di tengah kelam dan suramnya hidup manusia!

Sungguh luar biasa, mata iman Simeon dan Hana membuat mereka mengenali sosok Mesias meski Ia masih dalam rupa seorang bayi berusia 40 hari! Pengharapan mereka tidak memudar meski kekuatan fisik mereka melemah! Mungkin dalam tahun-tahun penantian itu ada kalanya seperti lelah menanti. Namun, mereka tidak pernah berhenti berharap. Pengharapan mereka berakar pada dasar yang kokoh, yaitu Allah yang setia dan selalu memenuhi janji-Nya.

Saudara-saudara, Natal adalah momen penuh sukacita dan pengharapan hanya karena kehadiran Yesus dalamhidup kita. Apapun yang terjadi dalam hidup kita saat ini, seharusnya tidak mengurangi kadar sukacita dan pengharapan dalam Natal tahun ini. Pada awal Desember lalu, saya sempat ngobrol dengan dua sahabat saya. Kami kembali merenungkan apa arti joy and hope dalam Natal di tengah pengalaman yang satunya gagal apply beasiswa ke luar negeri untuk yang kesekian kalinya dan yang satunya kehilangan orang tua yang berarti dalam hidupnya! Pada akhirnya kami menyimpulkan bahwa ditengah kekecewaan yang sedang dialami saat ini, Natal seperti reminder bahwa kami tetaplah orang-orang yang dikasihi Allah. Oleh karena itu selalu ada alasan untuk bersukacita dan berharap kepada Tuhan.

2. Kedatangan Yesus tidak sesuai dengan harapan orang Yahudi abad pertama


Kedatangan Yesus memang sesuai dengan deskripsi PL mengenai Mesias. Namun, sayangnya tidak semua orang Yahudi bahkan termasuk para pemuka agama Yahudi menyambut kedatangan Yesus seperti Simeon dan Hana. Mengapa?

Yesus lahir dan hidup di masa orang-orang Yahudi berada dalam penjajahan Romawi dan orang-orang Yahudi sendiri telah tersebar ke berbagai tempat. Tentu saja mereka mengharapkan bahwa mereka akan terbebas dari penjajahan Romawi dan mereka yang telah tersebar akan kembali ke Palestina. Oleh sebab itu, Mesias sebagai Raja yang akan datang, diharapkan akan datang sebagai Raja yang akan menghancurkan musuh-musuh umat Allah, dan menjamin kedamaian bagi Israel.  Mesias akan memulihkan kerajaan Israel dan sebagai dampaknya adalah kembalinya mereka yang telah tersebar ke Palestina. Jadi, harapan akan kedatangan seorang pembebas yang heroik sangat berakar kuat dalam pemikiran orang Yahudi.

Mari kita perhatikan figur Mesias yang ditampilkan Yesus ketika Ia datang ke dunia. Yesus, hadir sebagai sosok yang sederhana, seorang tukang kayu sekaligus anak tukang kayu! Yesus datang dalam kerendahan hati dan kasih bukan dengan kekuasaan dan murka untuk menyingkirkan kerajaan Romawi. Yesus tidak membangun kerajaan fisik untuk menentang Roma. Bahkan, Yesus mati disalibkan dan bagi orang Yahudi hanya orang yang terkutuk saja yang mati disalib! Jadi, figur Mesias yang ditampilkan Yesus tidak cocok dengan harapan orang Yahudi! Itulah sebabnya mereka menolak Yesus sebagai Mesias.

Para nabi dalam PL sebenarnya berbicara tentang penderitaan Mesias dan pemerintahan Mesias. Mesias harus menderita demi penggenapan rencana keselamatan bagi manusia berdosa. Ironis sekali, kehidupan yang sulit di bawah pemerintahan Romawi telah mengubah konsep Mesias dalam pemikiran orang Yahudi. Mereka tidak lagi memperhatikan figur Mesias yang menderita, tetapi hanya memperhatikan figur Mesias yang berkuasa sebagai Raja. Sekalipun Yesus melakukan banyak mujizat yang menunjukkan identitas-Nya sebagai Mesias, mereka tetap tidak bisa percaya dan menerima hal itu (Yoh. 14:11).  Para pemimpin agama dan sebagian orang Yahudi saat itu telah gagal menangkap poin penting dari penderitaan Mesias yang sebenarnya telah disaksikan oleh para nabi.  Bahkan murid-murid-Nya pun belum bisa menangkap figur Mesias yang menderita (Mat 16:21-23). Tidak heran jika murid-murid Yesus pun ternyata sampai menjelang kenaikan Yesus ke surga masih mengira Yesus datang sebagai seorang pembebas yang akan memulihkan kerajaan Israel (Luk. 24:21, Kis. 1:6).

Saudara-saudara, konsep yang keliru tentang Mesias mengakibatkan orang Yahudi pada masa itu memiliki pengharapan yang salah. Hal ini telah membutakan mata hati dan pikiran mereka sehingga mereka tidak mengenali Yesus yang telah datang sebagai Mesias yang sebenarnya! Berbeda dengan tokoh Simeon dan Hana tadi, mereka malah telah mengenali sosok Mesias yang sebenarnya sejak Ia masih bayi!

Saudara-saudara, ini menjadi peringatan bagi kita. Jangan sampai konsep kita tentang Tuhan keliru karena terbentuk dari keinginan atau pengalaman hidup kita yang sulit dan buruk. Ada orang yang kecewa dengan Tuhan karena doa-doa yang tidak dijawab. Orang ini berharap seharusnya Tuhan segera menjawab “ya” untuk permohonan-permohonannya. Ada orang yang tawar hati karena hidupnya justru bertambah sulit setelah ia sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Mungkin saja orang seperti ini berharap seharusnya hidup menjadi lebih mudah bersama Tuhan.

Menjelang momen Natal ini, tidak ada salahnya jika kita kembali bertanya pada diri kita: “Figur Mesias seperti apa yang saya nantikan?” Apakah saya benar-benar telah mengenali Tuhan yang telah dideskripsikan oleh Alkitab? Atau jangan-jangan kita sedang kecewa dengan Tuhan karena Ia tidak melakukan sesuatu seperti yang kita harapkan? Konsep yang keliru tentang Tuhan hanya akan membunuh sukacita dan pengharapan Natal.

Saudara-saudara, Jumat,11 Desember lalu, saya dikirimkan sebuah foto oleh salah seorang kakak saya. Foto itu membuat saya sedikit baper di pagi hari. Itu adalah foto keluarga yang telah di krop sehingga yang terlihat hanyalah foto mama saya yang sedang memangku saya beberapa bulan setelah saya lahir. Foto itu dikirimkan kepada saya karena memang tanggal 11 Desember lalu adalah peringatan 24 tahun mama saya meninggal. Pada waktu melihat foto itu, saya memang mengingat mama saya, namun kenangan saya terbatas karena saya hanya memiliki waktu bersama mama saya selama 6 tahun pertama dalam hidup saya. Jadi, melihat foto itu sebenarnya lebih mengingatkan saya pada masa-masa Natal kelabu tanpa sukacita dan pengharapan yang pernah saya alami bertahun-tahun setelah mama saya tiada. Memang, saat Natal selalu ada perayaan yang meriah di gereja, pohon natal yang ada di ruang tamu, kue-kue yang banyak di rumah. Namun, bagi saya tetap saja kurang. Apalah arti Natal tanpa kehadiran mama saya? Kalau memang Tuhan itu penuh kasih, kenapa Dia berlaku kejam pada kami dengan mengambil mama saya di hari-hari menjelang Natal yang katanya penuh sukacita?

Saudara-saudara, tanpa saya sadari, sampai sebelum bertobat ketika SMA, saya telah hidup dengan konsep yang keliru tentang Tuhan. Akibatnya, sosok Tuhan itu menjadi Tuhan yang mengecewakan. Akhirnya, saya cukup sulit menyelami kasih Tuhan yang besar, sukacita, dan pengharapan dalam momen Natal.

Dalam perenungan saya di hari Jumat lalu, saya sungguh bersyukur kepada Tuhan. Setelah saya mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh, dalam kasih-Nya yang berlimpah, saya melihat Tuhan yang mengajarkan apa artinya kasih, sukacita, dan pengharapan dalam Natal. Pembelajaran itu hadir lewat pengalaman-pengalaman berharga, yaitu pengalaman Natal tanpa berkumpul dengan keluarga, tanpa kado, tanpa kue-kuenatal yang berlimpah, dan tanpa perayaan yang meriah! Momen Natal merupakan momen penuh kasih, sukacita, dan pengharapan karena saya kembali mengingat bahwa saya adalah orang yang dikasihi Allah. Saya memiliki Tuhan Yesus,sehingga selalu ada alasan untuk bersukacita dan berharap kepada-Nya meski realita hidup kadang kala mengecewakan!

Saudara, dari firman Tuhan hari ini, kita diingatkan bahwa Yesus yang sudah datang adalah sungguh-sungguh Mesias yang dijanjikan Allah. Ada orang-orang yang antusias menyambut kedatangan-Nya. Ada juga yang menolak-Nya karena orang-orang tersebut memiliki gambaran ideal Mesias versi mereka sendiri. Marilah kita dalam masa-masa adven ini mengingat 2 kebenaran yang penting, pertama, Yesus pernah datang sebagai bayi di kota kecil Betlehem. Hal ini merupakan penggenapan akan janji keselamatan bagi kita manusia berdosa. Kedua, Yesus akan datang kedua kalinya sebagai Raja yang berkuasa dan Hakim yang adil. Ini memberikan pengharapan bahwa kelak kita akan bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus. Amin.

Exit mobile version