Akulah Pintu
Yohanes 10:1-10
oleh: Jenny Wongka †
Sebuah lagu Sekolah Minggu yang berkesan bagi saya berjudul “Pintu”. Syairnya berbunyi demikian:
Pintu satu saja yang berpihak dua,
Dalam dan luar, engkau di mana?
Pintu satu saja yang berpihak dua,
‘Ku t’lah di dalam, di manakah kau?
Adapun berita yang ingin disampaikan dalam lagu tersebut ialah hanya ada satu kemungkinan bagi setiap orang bila diperhadapkan dengan pintu. Apakah ia berada di sebelah dalam ataukah di sebelah luar pintu tersebut? Tidak ada pilihan netral atau di tengah-tengah pintu itu!
Injil Yohanes adalah sebuah Injil yang unik. Keunikannya yang tidak ditemukan di dalam tiga Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) yaitu pengklaiman diri Tuhan Yesus yang terkenal dengan egw eimi yang berarti Aku adalah …. Sebagai contoh, Akulah terang dunia, Akulah roti hidup, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, Akulah pokok anggur yang benar, Akulah gembala yang baik, Akulah pintu, Akulah kebangkitan dan hidup.
Dari Yohanes 10:1-10, kita mendapatkan sebuah perumpamaan alegoris yang indah dengan penekanan kebenaran yang kuat. Suatu relasi yang ditekankan Tuhan Yesus cukup variatif, yang tidak mungkin dilukiskan dengan satu pandangan. Pelayanan dan karakter Sang Penebus disajikan di sini, yaitu Kristus bukan hanya seorang gembala bagi umat-Nya, atau hanya pelindung domba-domba-Nya. Ia bukan sekadar Guru dan Pemimpin bagi para murid-Nya, melainkan ada relasi kebenaran ilahi yang lebih jauh, yaitu Inkarnasi (Firman menjadi Manusia)-Nya. Hanya Kristus, Sang Putera Inkarnasi Allah itu yang sanggup bersabda, “Akulah pintu” sebagai sarana bagi umat manusia guna mendekatkan diri kepada Bapa dan hidup kekal. Kita akan simak uraian lebih lanjut melalui terang perikop Yohanes 10:1-10. Dari sabda Yesus yang berkata, “Akulah pintu,” saya melihat ada dua butir kebenaran sebagai berikut:
Tuhan Yesus Kristus Adalah Satu-satunya Jalan Keselamatan
“Akulah pintu” merupakan sebuah pernyataan kebenaran alegoris yang mengandung makna tiada nama lain, sebagaimana tersurat dalam Kisah Para Rasul 4:12, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Kita lebih diyakinkan lagi dengan sabda Yesus sendiri, “Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). Hanya melalui Yesus, berkat-berkat dicurahkan kepada kawanan domba spiritual-Nya. Yesus Kristus adalah Pintu pendekatan kepada berkat-berkat rohani yang dikulminasikan dalam frasa “menemukan padang rumput hijau”. Setiap orang yang masuk melalui Dia mendapati damai sejahtera dan sukacita. Untuk dapat masuk melalui pintu itu dituntut tiga faktor, antara lain: iman, kepatuhan, dan sikap mempercayakan diri (faith, submission, and trust). Untuk dapat beriman dituntut adanya pengenalan terhadap objek yang diimani itu. Dalam konteks perikop ini, para pendengar Tuhan Yesus sangat paham dengan ilustrasi gembala karena pekerjaan penggembalaan merupakan mayoritas mata pencaharian penduduk. Tuhan Yesus mengilustrasikan diri-Nya sebagai figur gembala yang baik, dan mengontraskan diri-Nya dengan pencuri dan perampok. Pengenalan yang tepat dengan cara membedakan gembala dari pencuri dan perampok, sangat vital bagi mereka.
Gembala yang baik Pencuri dan perampok
* masuk via pintu * memanjat tembok
* dikenal dan mengenal domba * orang asing
* melindungi domba-domba * membunuh dan membinasakan
Pengenalan yang tepat ini akan memberikan penegasan iman (faith), yang pada gilirannya melangkah pada kepatuhan (submission) kepada sang gembala. Patuh pada suara serta mengikuti tuntunan sang gembala. Kemudian disusul dengan mempercayakan diri (trust) kepada sang gembala itu. Dalam perikop ini kita melihat Yesus menyebut diri sebagai Gembala yang baik sekaligus sebagai Pintu. Sang Gembala yang menuntun kepada keselamatan sekaligus merupakan jalan masuk menuju keselamatan tersebut. Sebutan ganda ini boleh kita bandingkan dengan apa yang dilukiskan oleh penulis surat Ibrani, yang melukiskan Yesus sebagai Imam Besar sekaligus sebagai Anak Domba korban bakaran yang dipersembahkan satu kali untuk selamanya bagi penebusan dosa umat manusia.
Seorang turis di Siria tertarik sekali, bahkan mengamati dengan saksama, bagaimana seorang gembala menuntun kawanan domba ke dalam kandang pada suatu petang. Kandang domba itu dibangun dengan empat sisi tembok yang cukup tinggi yang hanya dilengkapi dengan satu jalan masuk atau keluar, namun tidak terlihat adanya pintu ataupun gerbang masuk. Sang turis mendekati gembala itu sambil bertanya, “Tidak adakah binatang buas masuk untuk menerkam domba-domba Bapak?” “Oh, tidak!” jawab sang gembala, “sebab sayalah pintu itu ketika domba sudah masuk ke dalam kandang. Saya akan berbaring di ambang kandang ini. Tidak ada domba yang keluar tanpa melewati tubuh saya, demikian pula tidak ada serigala yang dapat masuk ke kandang untuk mencabik-cabik domba saya tanpa melewati tubuh saya.”
Demikian pula makna dari ungkapan Tuhan Yesus sebagai Pintu untuk kita. Dia adalah Pintu keselamatan satu-satunya bagi kita yang menjaga kita dari terkaman serigala buas yang akan mencabik-cabik kita. Dialah pintu yang mengawasi keluar masuknya kita. Apakah kita sudah memperoleh keselamatan itu?
Tuhan Yesus Kristus Adalah Jaminan Pasti Domba-domba Masuk-Keluar dan Menemukan Padang Rumput
Saya sangat tertarik saat mendalami tentang negeri penggembalaan domba dari Ensiklopedia. Di situ dikatakan bahwa sangat tidak umum, namun fakta menyatakan cukup jelas, bahwasanya banyak negeri penghasil domba di dunia ini terdapat di area yang cukup kering. Kebanyakan kawanan domba justru terpelihara dengan baik di dalam area ini, sebab kesehatan mereka lebih terjamin dari serangan parasit dalam cuaca yang cukup kering tersebut. Sebagai konsekuensi logisnya, tentunya tidak umum pula bila di tengah area kering ini bisa kita temukan padang rumput yang hijau. Sebagai contoh, negeri Palestina, tempat Daud menulis mazmur dan menjaga kawanan domba ayahnya, teristimewa di dekat kota Betlehem, merupakan sebuah negeri kering kerontang dengan terik matahari yang cukup tinggi.
Padang rumput hijau tidak timbul begitu saja secara alamiah, tetapi merupakan hasil jerih lelah yang besar, yang membutuhkan waktu, upaya, dan keterampilan khusus untuk mengolah tanah. Padang rumput hijau dihasilkan dengan upaya keras menyingkirkan semak belukar, batu-batu yang bertebaran di tanah; menggali sekaligus melonggarkan tanah dengan cermat sebagai persiapan untuk ditanami rumput; melakukan pengairan yang baik. Pada gilirannya, semua upaya ini akan menghasilkan padang rumput hijau nan subur untuk makanan kawanan domba sang gembala tersebut. Semua gambaran ini merepresentasikan kemampuan dan keterampilan luar biasa seorang gembala yang penuh perhatian. Jika kawanan domba bisa menikmati enaknya rumput hijau yang segar, bahkan sebagai tempat membaringkan diri di kala merasa penat, maka sesungguhnya itu merupakan hasil jerih lelah sang gembala yang penuh tanggung jawab itu.
Yesus Kristus adalah Pintu, sehingga domba-dombanya terjamin menemukan padang rumput yang hijau. Padang rumput hijau itu esensial bagi kawanan domba. Dalam perenungan pribadi saya, tatkala Allah berbicara mengenai sebuah negeri bagi umat-Nya Israel, Dia juga menyediakan sebuah negeri yang berlimpah susu dan madu, sebuah negeri yang diliputi sukacita dan kemenangan, serta negeri yang memuaskan untuk umat-Nya. Sebagai anak-anak Allah, Perjanjian Lama melukiskan bahwa umat Israel bergerak meninggalkan negeri Mesir dan masuk ke negeri perjanjian Allah; ini juga sebagai gambaran bagaimana Allah menuntun kita keluar dari perbudakan dosa dan masuk ke dalam kehidupan berkemenangan. Kita dijanjikan kehidupan serupa ini, yang hanya dimungkinkan melalui karya Yesus Kristus atas diri kita masing-masing.
Betapa Kristus membersihkan kekerasan hati dalam ketidakpercayaan kita masing-masing. Betapa Dia mencoba untuk mencabut akar-akar kepahitan hidup kita, menghancurkan kecongkakan dan kebanggaan hidup kita. Kemudian, Dia mencoba untuk menebarkan benih firman-Nya yang berharga itu, yang diharapkan bisa membuahkan damai sejahtera dan sukacita. Dia mengairi tanah itu dengan embun dan hujan, yaitu dengan kehadiran-Nya melalui Roh Kudus. Dia memedulikan hidup kita dengan suatu kerinduan besar agar hidup kita menjadi suatu kehidupan yang produktif.
Semua upaya Sang Gembala ini tidak lain demi kawanan domba-Nya sendiri, Dia ingin melihat setiap domba-Nya menjadi puas dan kenyang dengan penyediaan rumput yang hijau dan segar. Namun, sayang sekali keberdosaan kita cenderung keluar dari padang rumput hijau-Nya, demi menikmati daya tarik dunia di sekitar kita. Padahal berada di luar padang rumput hijau-Nya itu justru akan membawa kehancuran bagi hidup kita. Sebagai pintu, Kristus menjamin agar jalan keluar-masuk kita aman dan kita dapat menemukan padang rumput yang hijau.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah kisah nyata. Pada masa Perang Dunia I, sejumlah laskar Turki berdaya upaya untuk mencuri seluruh kawanan domba dari sang gembala yang sedang tidur. Peristiwa ini terjadi di sebuah area pegunungan dekat kota Yerusalem pada saat cuaca cukup hangat. Tiba-tiba sang gembala sadar bahwa kawanan dombanya sedang digiring oleh para laskar Turki untuk jauh meninggalkan dia. Ia menyadari ketidakberdayaan dirinya dalam menghadapi beberapa laskar Turki yang masing-masing bersenjata. Ia tahu jelas dengan tongkat gembalanya ia tidak mungkin mampu melawan laskar Turki tersebut.
Manakala menyaksikan kawanan domba sedang menuruni pegunungan itu, sang gembala berdiri sambil menangkupkan kedua telapak tangannya untuk menghasilkan bunyi alunan suara yang khas. Dengan tiada henti-hentinya alunan suara itu mendengung. Kawanan domba itu berhenti sejenak sambil mendengarkan suara khas tersebut. Tiba-tiba seperti mendapatkan komando, kawanan domba itu segera berjalan berbalik arah menuju datangnya suara khas itu. Para laskar Turki kewalahan untuk menggiring kawanan domba itu pergi mengikuti mereka. Tanpa memakai senjata ampuh untuk melumpuhkan para laskar Turki tersebut, sang gembala berhasil mendapatkan seluruh kawanan dombanya tanpa ada seekor pun yang hilang. Kawanan domba itu kembali kepada gembalanya dengan selamat karena patuh dan mengenal baik suara khas sang gembala.
Tuhan Yesus bersabda, “Domba-dombaKu mendengarkan suara-Ku.” Oh, sangat mungkin secara temporal domba-domba tertipu untuk mengikuti suara pencuri atau perampok; namun, tatkala sang gembala berseru, domba-domba segera mengenal suara sang gembala dan mengikutinya. Melalui tulisan ini, saya rindu kita semua tanpa kecuali bukan hanya menambah pengenalan kita mengenai Sang Gembala, tetapi juga sungguh-sungguh berada dalam pintu keselamatan, sebab di sanalah kita terjamin untuk mendapatkan padang rumput yang hijau. Doa dan harapan saya: kiranya tiada seorang pun di antara kita kini masih terus menikmati kesenangan yang bersifat sementara di luar pintu keselamatan, Yesus Kristus. Saya kini berada di dalam pintu itu, di manakah posisi Anda?

