Anak Allah yang Turut Menderita
Yohanes 19:1-30
Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya
Jumat, 11 Maret 2011…Gempa yang disusul dengan tsunami melanda Jepang. Sekitar 1.200 orang diperkirakan tewas, sementara puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Apa artinya berita itu bagi kehidupan kita? Tahukah Anda bahwa setiap tahun ada 1,3 juta orang yang kehilangan nyawa akibat kecelakaan lalu lintas? Di Indonesia sendiri rata-rata setiap hari terdapat 30 orang meninggal di jalanan. Tahukah Anda setiap tahun ada 200 ribu penderita baru kanker di Indonesia, dan 20% di antaranya mengalami kematian akibat kanker itu. Apa arti fakta dan data itu bagi kita?
Fakta tentang adanya bencana alam, kecelakaan, dan sakit penyakit itu memang bisa membuat kita merasa prihatin, dan mungkin juga tergerak melakukan sesuatu. Namun, masalahnya akan menjadi jauh berbeda ketika bencana alam, kecelakaan, dan sakit penyakit itu menimpa keluarga kita atau diri sendiri. Fakta tentang adanya penderitaan itu kini telah berubah menjadi sesuatu yang personal bagi kita.umat, 11 Maret 2011 gempa yang disusul dengan tsunami melanda Jepang. Sekitar 1.200 orang diperkirakan tewas, sementara puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Apa artinya berita itu bagi kehidupan kita? Tahukah Anda bahwa setiap tahun ada 1,3 juta orang yang kehilangan nyawa akibat kecelakaan lalu lintas? Di Indonesia sendiri rata-rata setiap hari terdapat 30 orang meninggal di jalanan. Tahukah Anda setiap tahun ada 200 ribu penderita baru kanker di Indonesia, dan 20% di antaranya mengalami kematian akibat kanker itu. Apa arti fakta dan data itu bagi kita?
Ketika Derita Menyapa Manusia
“Saya tidak pernah mengerti mengapa semua hal ini terjadi. Pak Pendeta tahu ‘kan suami saya selama ini sehat-sehat saja. Gemar berolahraga, menjaga makan dengan baik, tidak ada gangguan kesehatan yang serius. Tiba-tiba saja ia jatuh, koma selama beberapa hari, dan meninggal.” Saya terdiam mendengar rentetan kalimat dari seorang wanita yang ditinggal suaminya beberapa waktu yang lalu. “Saya bilang kepada Tuhan, ‘Di manakah Engkau? Katanya Engkau baik dan mengenalku secara pribadi. Tidak, Engkau tidak mengerti aku. Kalau Engkau mengerti aku, Engkau tidak akan mengambil suamiku.’ Saya dan anak-anak masih membutuhkan seorang kepala rumah tangga. Di mana Tuhan?”
Saya terdiam dengan perasaan haru. Sungguh penderitaan itu bukan hanya menjadi hal yang faktual bagi ibu yang biasanya memberi penghiburan bagi orang lain itu, melainkan kini menjadi hal yang personal. Ketika penderitaan menjadi personal, kita mengalami guncangan yang dahsyat. Ketika penderitaan itu berubah dari sesuatu yang faktual menjadi personal, maka di sinilah pergumulan iman atau bahkan guncangan iman bisa terjadi. Di dalam pergumulan ini, pertanyaan kita adalah mengapa hal ini terjadi? Sanggupkah aku melewatinya? Kapan semua penderitaan ini akan berakhir? Pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.
Tatkala kita masih berjuang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, menyelinaplah sebuah pertanyaan yang lain: Di manakah Tuhan ketika penderitaan ini terjadi? Mengapa Dia mengizinkan hal ini terjadi? Akankah Dia mengadakan mukjizat-Nya? Kita akan merasa cukup kuat untuk menghadapi penderitaan ketika kita mendapatkan kepastian tentang apa yang Tuhan kerjakan di dalamnya. Namun, di manakah Dia di tengah semua penderitaan ini?
Anak Allah yang Turut Menderita
Pada hari Jumat siang, kurang lebih dua ribu tahun yang lalu, ada tiga orang tergantung di atas atas kayu salib, menanti hukuman mati melalui penyaliban. Itu bukan peristiwa yang asing bagi orang-orang Israel pada masa itu. Mereka sudah menyaksikan puluhan bahkan ratusan kali orang tergantung hingga mati di atas kayu salib. Penjahat besar, pemberontak, dan orang-orang yang mengaku sebagai Mesias yang dinantikan. Merekalah yang tergantung di sana sebagai balasan atas kejahatan mereka. Balasan yang setimpal.
Ketiga orang yang tergantung itu adalah dua orang penjahat besar dan seorang yang bernama Yesus. Yang terakhir inilah yang membuat segalanya berbeda. Salah seorang penjahat di sisi Yesus berkata kepada rekannya yang juga digantung di sisi satunya, “ … orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Lukas 23:41). Kepala prajurit yang sangat terbiasa mengeksekusi orang sampai mati di atas kayu salib pun berkata, “Sungguh. Ia ini adalah anak Allah” (Matius 27:54).
Mengapa Yesus, anak Allah, tergantung di atas kayu salib jika Dia tidak melakukan kesalahan apa pun? Yesaya menjelaskan mengapa Yesus harus tergantung di atas kayu salib, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yesaya 53:4-5).
Mengapa Yesus, anak Allah, tergantung di atas kayu salib? Karena Yesus tidak ingin menghadapi penderitaan hanya sebagai fakta yang Dia ketahui. Yesus menghadapi penderitaan secara personal. Yesus bukan hanya tahu, tetapi Dia juga mengalami penderitaan sampai titik puncaknya, yakni kematian. Dia berurusan dengan penderitaan bukan hanya secara faktual, melainkan juga personal. Ketika manusia bertanya: di manakah Engkau ketika penderitaan terjadi? Yesus merentangkan tangan-Nya di atas kayu salib, merasakan paku yang menghunjam tangan dan kaki-Nya, seolah-olah Dia ingin berkata, “Aku di sini bersamamu. Di dalam penderitaan dan kematian.”
Jika Allah berurusan dengan penderitaan secara faktual dan personal, maka bukankah ini adalah jaminan bahwa kita tidak pernah ditinggalkan seorang diri di dalam penderitaan dan pergumulan. Dia beserta kita. Dia mengerti dan peduli. Menemani dan menjadi teman berbagi. Namun, lebih dari itu, bersama-Nya kita melewati dan mengalahkan ekspresi tertinggi dari penderitaan, yakni kematian. Bersediakah kita percaya dalam nama yang telah mengalahkan kematian itu untuk mengalami kehidupan yang kekal itu?
Pada hari Jumat siang dua ribu tahun yang lalu itu, Yesus tergantung di atas kayu salib. Semoga penyaliban itu bukan sekadar data atau fakta bagi kita. Semoga penyaliban itu menjadi sesuatu yang personal di dalam kehidupan kita, yang membawa kita memutuskan untuk percaya pada pengurbanan Dia yang menebus dan membebaskan kita dari dosa.

