Di Suatu hari, kami kedatangan keponakan yang masih berusia 10 tahun.Pada saat dia datang ke rumah kami, pada saat yang sama pula istri saya sedang selesai memandikan anak kami. Tiba-tiba keponakan kami ini berkata kepada istri saya:
“Tante, saya bantuin pasangi bajunya audrey ya (nama anak saya)”
“Kamu bisa tah?”
“Bisa tante”
“Baiklah, kalau gitu kamu pakai-kan bajunya Audrey ya,tante mau jemur handuknya dulu”
Setelah beberapa menit, selesai menjemur handuk, istri saya menuju kamar, dimana keponakan dan anak kami berada, pada saat itu pula, selesai juga keponakan kami memasangkan baju dari Audrey.
“loh kok gini masang bajunya” tanya istri saya.
“Iya tante, karena tadi kancing bajunya copot, jadi Elsa naikin saja kancing bawahnya ke lubang atasnya, kan sama toh tante, audrey masih pakai baju”
Bapak / Ibu / saudara / saudari (nantinya akan ditulis dengan kata salam), anda bisa membayangkan bukan bagaimana bila salah satu kancingnya lepas, maka bagian bawah dari kancing yang lepas itu dinaikan ke lubang atas, maka timbulah baju yang tidak selaras dan rapi antar bagian kanan dan kiri – atas dan bawah.
Apakah anda juga pernah mengalaminya?
Nah apakah anda bisa menyimpulkan cerita saya tadi?
Ya, sekali kita salah meletakan atau menempatkan posisi yang salah, maka langkah-langkah selanjutnya juga ngikut menjadi salah alias menjadi kacau.
- Seorang anak kecil yang seharusnya berada dirumah – menjadi seorang anak yang harus bekerja keras di jalanan, untuk memenuhi kehidupannya.
- Seorang suami yang seharunya mengasihi istrinya berada dipelukan perempuan yang lain, selain dari orangtuanya.
- Seorang Ibu yang seharusnya mengasihi anaknya menyerahkan kepada Baby Sister untuk mendidik dan mengasihi anaknya. Ia sibuk bekerja untuk mencari penghargaan diri.
- Seorang pelajar yang seharusnya berada di sekolah tapi sayang sekali dia berada di tahanan karena masalah narkoba.
- Seorang bayi yang seharusnya berada di pelukan kasih orang tua, dibuang-dititipkan di panti asuhan karena hubungan suami istri yang tidak sah dalam pernikahan.
- Seorang pria yang seharusnya pada jam kerja berada di meja kerja, bukan dia sibuk dengan pekerjaanya namun ia sibuk dengan permainan judi.
- “Kaki kita” yang memiliki potensi memasukan bola ke gawang lawan kita gunakan berjalan tanpa ada tujuan.
Dan masih banyak lagi kisah-kisah yang bisa di dengar – lihat – baca dari kekacauan-kekacauan yang ada di dunia ini karena kita salah memposisikan diri kita.
Allah telah membuat ketetapan bagaimana seharusnya kita bersikap dalam hiraki rumah tangga, hiraki hubungan antara tuan dan hamba dalam pekerjaan, hubungan antar pelayan dalam pelayanan gerejawi. Bila kita salah mengubah dan meletakan posisi maka yang terjadi adalah dampak yang buruk bagi pribadi, keluarga dan kelompok sekitar kita.
Seperti bagian yang baru saja kita baca dalam perenungan Alkitab kita.
Bagian yang barusan kita baca adalah bagian yang akan memberikan pelajaran bagi kita tentang apa yang sudah kita terima dan dampaknya bila kita salah meletakan sebuah posisi dalam hidup ini.
Mungkin kisah ini cocok bila diberi judul “makar di tengah Padang Gurun Paran”
a. Tokoh yang terlibat
Ada 3 kelompok besar dalam cerita ini, yaitu: pertama: Musa dan Harun sebagai kelompok yang dilengserkan, Orang lewi dan Suku Ruben adalah kelompok pemberontak alias oposisi dan ketiga adalah follower (pengikut) dari kelompok pemberontak.
b. Macam pemberontakan
Lalu mengapa mereka memberontak kepada Musa dan Harun.
- Apakah Musa dan Harun melakukan tindakan amoral?
- Apakah Musa dan Harun melakukan tindakan pencemaran nama baik sehingga merugikan bangsa Israel?
- Apakah Musa dan Harun melakukan tindakan penyalahgunaan kekuasaan atau penyelewengan yang difirmankan oleh Allah?
Korah memberontak kepada Musa dan Harun bukan pada masalah moral tapi karena sebuah Jabatan, kita bisa mengetahuinya tujuan atau yang melatar belakangi pada ay ke 10
… dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?
Itulah perkataan Musa kepada orang Korah.
Siapakah Korah Bin orang Lewi itu?
Korah adalah satu kelompok dari suku Lewi, bukankah suku Lewi adalah satu suku yang juga dikhususkan oleh Allah. Setidaknya terdapat 4 Pasal yang berbicara khusus tentang suku Lewi ini, yang ditugaskan untuk melayani masalah peribadatan di Kemah Pertemuan. Pada ayat ke 9 dan dan ayat ke 10 a.
… Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi?
Semenjak ada pademi covid 19 ini, semua pelayanan gerejawi seakan dimaksimalkan, dan dikerjakan dengan serius. Terutama pada pelayanan ibadah minggu. Setiap orang yang bertugas adalah orang-orang pilihan. Demikian pula dengan pemberita Firman Allah. Biasanya mereka adalah orang-orang pilihan bila bukan pendeta senior atau orang yang memiliki pengaruh di tengah jemaat.
Seorang pendeta muda yang cukup saya kenal baik, sempat menelepon saya, menanyakan apakah saya juga melayani di pemberitaan khotbah, sebab kawan saya ini mengeluh bahwa dia tidak lagi mendapatkan tugas melayani khususnya dalam khotbah minggu pada jemaat umum, tidak terjadi seperti sebelum masalah pandemi melanda, dan gereja mulai mengunakan ibadah online, dia sering memimpin pemberitaan Firman (berkhotbah)
Kemudian kawan saya ini mulai mengeluh tentang gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh gembala seniornya, gaya khotbah dan eksposisi khotbahnya hingga ke masalah pribadinya.
Seperti itulah yang terjadi antara Orang lewi dan Imam, mereka adalah kelompok yang sama-sama melayani Tuhan di kemah pertemuan dan sama sama dikhususkan oleh Tuhan, meskipun terdapat tugas-tugas pokok yang berbeda, yang semuanya sudah diatur oleh Allah, agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam melakukan tugas.
Namun, Keiri-hatian terhadap jabatan imam, yang melatar belakangi tindakan dari orang lewi (korah) melakukan makar terhadap Harun. Dan Korah (orang Lewi), ini memandang rendah Harun sebagai orang yang dipilih oleh Allah.
Mungkin Korah melihat ada mungkin banyak tindakan yang kurang sempurna dimata kaum Lewi (Bil 12) atas kepemimpinan Harun sebagai Imam. Bahkan, Korah melakukan upacara perbakaran, yang semestinya tidak boleh dilakukan oleh suku Lewi (baca : oleh Korah). Mungkin Korah berkata demikian: “gini saja, aku juga bisa, liatlah, aku lebih baik dari apa yang dilakukan oleh Harun kan, bukan? ”
Mengapa Suku Ruben memberontak kepada Musa?
Lalu bagaimana dengan suku Ruben (Datan-Abiram-On), mengapa mereka memberontak?
- Apakah ada urusanya atau hubungan dengan keimaman dari Harun?
- Apakah ada urusanya dengan jabatan pelaksaanan tugas di Kemah Pertemuan?
- Apakah ada masalah dengan jabatan pelaksanaan tugas sebagai kaum Ruben, sebagai pemimpin dalam tugas perjalanan ke dua (Bil 10:18)?
Bila semua jawabanya adalah BUKAN, Lalu apa yang melatar belakangi dari tindakan pemberontakan ini.
Kita bisa melihat dalam ay 13-14, sebagai alasan mengapa tiga orang ini melakukan pemberontakan?
Belum cukupkah, bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami?
Sungguh, engkau tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ataupun memberikan kepada kami ladang-ladang dan kebun-kebun anggur sebagai milik pusaka. Masakan engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini?Kami tidak mau datang.”
Orang-orang Ruben, lebih tidak menyetujui kepemimpinan musa … menjadikan tuan atas kami … Sikap dari orang-orang Ruben ini ditandai dengan sikap tidak mau tunduknya atas panggilan Musa kepada mereka semua, … kami tidak mau datang (ay12).
Mereka mendasarinya dari apa yang mereka lihat, bahwa Allah tidak membawa kepada kita suatu daerah yang penuh dengan susu dan madu (Bil14).
Namun lebih jauh dari sikapnya itu, orang-orang Ruben, tidak mempercayai janji Allah saat membawa bangsa Israel ke tanah perjanjian, mereka ingin kembali ke Mesir.
Tidak mempercayai janji Allah, itu sama artinya dengan Allah tidak mempercayai pribadi Allah yang berjanji.
Tindakan yang salah ini akhirnya memprovokasi rakyat atau orang lain agar kembali ke Mesir dengan mencari dan mengajak 250 tua-tua sebagai pendukungnya (ay2). Berarti mereka telah membuat sebuah rencana yang struktur-sistematis dan masif.
c. Motifasi Pemberontakan
Bila kita amati secara terbuka maka dua pemberontakan ini memiliki benang merah yang sama, yaitu mereka sebuah sikap merasa dirinya mampu menggantikan orang lain dan tidak mempercayai Allah.
Mereka merasa mampu melaksanakan kepemimpinan sebagai Imam yang menggantikan Harun, dan mampu menggantikan kepemimpinan Musa sebagai pemimpin bangsa Israel.
Dalam hati kecil, Korah, Datan dan Abiram seakan berkata bahwa “Allah salah menempatkan mereka sebagai imam dan pemimpin, kurang becus mereka memimpinya.”
Tindakan yang salah, diresponi pula dengan tindakan selanjutnya yang salah. Tidak mengakui akan keberadaan Musa dan Harun sebagai orang pilihan Allah adalah sama artinya dengan tidak mengakui Allah sebagai pemimpin.
Salah menetapkan posisi akan membawa dampak bagi kehidupan kita, bukan hanya pribadi tapi juga orang lain.
Beberapa minggu yang lalu, seorang kawan baik saya bercerita kepada saya bahwa ia di datangi seorang kawan kita bersama, yang berprofesi sebagai pembisnis musiman, artinya yang sedang ngehits maka ia akan bisniskan.
Dia bertanya kepada kawan saya demikian, “bisakan engkau membuat label stiker seperti ini”
(sambil menunjukan gambar produk hand sanitizer yang terkenal)
“bisa” kawan saya menjawabnya.
“tolong buatin dong, seperti ini komposisinya, cuma namanya saja yang diganti dan warnanya di bedain, terserah kamu deh, gimana bagusnya”
Kemudian kawan saya ini mencoba bertanya:
“lah kalau gitu, komposisinya berbeda dong dengan produknya yang kamu punya”
Ia menjawab:“ya bedalah, tapi gak pa-palah, toh orang mana ada yang tahu dan teliti, yang penting sudah punya”
(salam) anda menangkap ada maksud di balik cerita yang barusan saya ceritakan. Sebuah produk hand sanitizer yang sudah memiliki brand terkenal dan telah melalui tes pengujian standar. Tiba-tiba standar yang resmi itu “ditembak” – “dicomot” – “diduplikasi” oleh sebuah produk yang ecek-ecek, tidak melalui tes pengujian standar, mencantumkan pada kemasanya produknya, lalu apakah yang akan terjadi?
- Ketika kita melihat sebuah jabatan, kok rasanya enak ya, kemudian kita memaksa dan berupaya mendongkrak – menendang – dengan trik tertentu agar orang tersebut menjadi dan digantikan oleh saya.
- Kita lihat seorang hamba Tuhan yang membawakan Firman Tuhan, kemudian kita berkata “kalau gitu doang, aku bisa deh menggantikanya”.
- Kita lihat pelayan Tuhan (diaken / penatua / koordinator pelayan) dan kita berkata “kamu gak cocok melayani, banyak yang kacau, coba deh kalau aku, kayak gitu aja kagak bisa ?”
Mungkin kita menemukan adanya pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh mereka kurang dan belum berjalan dengan baik. Tapi kita bisa melihat disini bahwa motifasi yang salah akan berdampak pada tindakan-tindakan yang salah pula.
(Salam) Sama seperti dalam pelayanan, demikian pula dengan pekerjaan kita, mungkin anda sedang bertanya dalam hatimu demikian:
“Pak apakah boleh saya memiliki perusahaan yang besar dan banyak?”
Semua tergantung pada, apa yang melatar belakangi (memotifasinya) bila itu untuk menuntut penghargaan bagi kita agar orang memandang kita sebagai orang yang sukses, itu yang salah. Maka pastinya akan muncul banyak tindakan yang merugikan, seperti kapal yang ada di medan pertempuran, keluarga mu akan kacau porak poranda.
Beda dengan, saya mengembangkan potensi sebagai wujud dari sikap tanggung jawab saya kepada Tuhan, maka keluarga pun ibarat api yang menghasilkan bom semangat untuk terus maju di tengah permasalah dan keletihan dalam bekerja.
Lihatlah bahwa setiap pelayanan dan pekerja selalu dibungkus dengan sebuah motifasi, sekarang tergantung kepada kita semua, dan setidaknya semua motifasi tersebut akan diuji oleh waktu dan permasalahan, sehingga kita akan menemukan motifasi sesungguhnya dalam sebuah pelayanan atau di pekerjaan.
Dan nampak bukan, bahwa setiap motifasi berakibat pada tindakan selanjutnya. Motifasi yang baik akan nampak bahwa kita melakukan tindakan yang positif, sedangkan sebaliknya motifasi yang buruk akan nampak pula dengan kita melakukan tindakan yang negatif.
Lalu bagaimana saya menanggapi sebuah keadaan yang demikian?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Musa mendatangi dan bertanya kepada Tuhan (Bil 16:22), namun bila kita mengacu dalam Perjanjian Baru, maka kita akan mendapatkan konsep yang baru dalam penetapan dalam sebuah posisi.
Dalam perjanjian baru, khususnya dalam kitab 1 Korintus, meskipun ada begitu banyak isu atau status yang dilontarkan disana namun adanya sebuah isu dimana jemaat kristen di Korintus menolak kehadiran Paulus yang “berkedudukan – memiliki jabatan (posisi)” sebagai Rasul?
Dalam 1 Korintus 12:12-31, sebenarnya Paulus ingin menjelaskan tentang kesatuan dalam jemaat, dimana ada isu tentang perpecahan jemaat, sekaligus Paulus ingin menjelaskan tentang kedudukannya sebagai seorang Rasul.
Memang agak aneh, mengapa agak aneh?Sebab gereja di Korintus adalah gereja yang di dirikan dan dirintis oleh Paulus, dan ketika ia akan hadir kembali ke Korintus, Jemaat Korintus mempertanyakan tentang posisi kerasulan dari Paulus? Aneh bukan
Hal ini saya seperti anda seorang bapak meninggalkan rumah untuk bekerja, pada sore harinya saat kembali ke rumah, anak anda berkata kepada anda, siapakah kamu? lalu untuk apa kamu datang kemari? kalau kamu pemilik rumah ini dan ayahku, mana buktinya?
Dalam konteks jemaat Korintus, kita bisa menemukan jawabanya di 2 Kor 3:3 … (kamu) Jemaat korintus adalah bukti dari kerasulanku. Sama seperti bapak tadi dia menjawab, kamu adalah buah hati dari bapak dan ibu.
Dalam 1 korintus 12, itulah Rasul Paulus memberikan beberapa penjelasan tentang pokok-pokok pelayanan dalam gereja, pertama: bahwa tidak ada pelayanan yang rendah dan tinggi, semua memiliki kedudukan yang sama. Kedua: Bahwa semua pelayanan memiliki tujuan untuk membangun dan ketiga: pelayanan itu semua berasal dari Allah.
Pada Ayat ke, I korintus 12:26 … Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat. Itulah yang harus kita percayai dalam pelayanan ini saat memandang sebuah posisi dalam pelayanan, bahwa Allah menetapkan.
Kata menetapkan dalam bahasa Yunani adalah e-theto, yang merupakan kata serapan dari kata theos yang berarti Allah. Dari sini kita bisa mengerti sekarang bahwa menetapkan berarti Allah yang memilih dan memberikannya itu kepada kita.
Dalam sebuah kamus, kata e-theto (berasal dari kata: tithemi), diartikan seperti Allah memberikan anak pada sebuah kandungan.
Kita tahu bahwa orang yang mengandung seorang anak, berasal dari hubungan suami dan istri, namun yang memberikanya kehidupan seorang anak adalah Tuhan.
Nah sekarang kita tahu bahwa, posisi itu berasal dari Tuhan, dimana Tuhan melihat diri kita dan kualitas hidup kita. Dan Posisi bukan hanya sekedar bentuk dari prestasi yang kita raih namun adalah sebuah pengabdian dari anugerah, karena Allahlah yang memberikanya kepada kita.
Sama seperti seorang pelatih, dia mengetahui kapan waktunya pemain cadangan masuk dan menggantikan pemain di lapangan dalam sebuah pertandingan.
Apa yang akan terjadi bila seorang pemain memaksakan dirinya masuk? jawabanya sama seperti keponakan saya memasukan kancing baju bukan pada posisinya, yaitu akan terjadi kekacauan.
Karena Allah adalah yang menetapkan, maka kita tahu akan sifat Allah dalam hal menetapkan, bahwa itu adalah hak preogratifnya Allah. Kembali dalam kitab Bil 16:5-7, siapakah Musa dan Harun dalam keseharian, orang biasa, namun Allah-lah yang memilih (kata ibrani adalah bac-har = menetapkan) mereka berdua.
Pelajaran terbesar ketika Tuhan Yesus hendak memulai pelayanan, Dia harus berhadapan dengan Iblis. Tiga kali percobaan diujikan kepada Tuhan Yesus, menawarkan sebuah posisi, Tapi Dia berkata “sebab ada yang tertulis”, oleh sebabnya maka Bapa berkenan kepadaNya, sehingga langit terbuka dan berkata Inilah Anak KU yang Ku kasihi, kepadaNya aku berkenan.
Dan Salib adalah posisi yang terbaik bagi Yesus, sehingga dalam perkenanannya Allah, tertulis Allah sangat meninggikan Dia dalam sebuah posisi yang tinggi dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan di atas bumi dan yang di bawah bumi, dan lidah mengaku: Yesus kristus adalah Tuhan.
(salam) Mari kita lakukan bagian kita dengan sepenuh hati-segenap jiwa-semua kekuatan kita, sebagai bentuk pengabdian kita kepada Tuhan, bila kita mendapatkan bagian kita saat ini maka itu adalah bentuk dari pemberian bukan hanya sebuah prestasi. Mari kita lakukan bagian kita dalam sebuah ketaatan dan kerendahan hati di dalam Tuhan yang telah memberikanya posisi pada saat ini kepada kita.

