Bermegah dalam Penderitaan demi Penderitaan (Roma 5:1-5)
oleh : Andy Kirana
Shalom. Saat ini saya ingin membagikan berkat firman Tuhan yang sudah lebih dulu saya terima dan sangat menguatkan kehidupan saya secara pribadi. Saya berharap firman ini juga menjadi penghiburan, kekuatan, bahkan berkat bagi kita semua.
Tema yang akan saya sampaikan pada hari ini, yaitu Glory in Tribulations. Bermegah dalam kesengsaraan demi kesengsaraan. Ini adalah satu tema yang sangat powerful. Kenapa? Karena ini sering menjadi tantangan dalam kehidupan kita. Saudara mungkin tidak menyadari bahwa yang namanya tribulations atau kesengsaraan, kepedihan ini akan kita alami dalam hidup kita bersama Kristus. Namun, bagaimana firman Tuhan menyiapkan kita menghadapi situasi yang seperti itu? Tuhan mempersiapkan kita melalui surat Roma pasal 5 ayat 1 sampai ayat 5.
Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Sebelum kita belajar mengenai kebenaran firman Tuhan ini ayat demi ayat, supaya kita sungguh-sungguh mengerti apa yang menjadi isi hati Tuhan, apa yang menjadi pikiran Tuhan kepada setiap kita… saya ingin bertanya dua hal kepada Saudara-saudara semua. Pertama, menjadi orang Kristen itu, menurut Saudara, menyenangkan atau menyedihkan? Menyenangkan. Puji Tuhan. Kedua, menjalani hidup bersama Tuhan Yesus itu, menurut Saudara, mudah atau sulit? (Ada yang mengatakan ‘mudah”, ada yang mengatakan “sulit”, ada juga yang mengatakan “mudah-mudah sulit”). Mari kita cari jawabannya lewat firman Tuhan tadi.
Kita akan perhatikan ayat satu, bagian pertama lebih dulu: Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Saya ingin mengajak Saudara untuk melihat orang-orang yang berada di luar Tuhan Yesus. Bagaimana agar hidup mereka dibenarkan di hadapan Allah? Pada prinsipnya agar mereka dibenarkan di hadapan Allah, hidup mereka harus ditimbang. Berapa banyak kebaikan yang mereka lakukan dibandingkan dengan kejahatan, kesalahan dan dosa yang mereka perbuat. Menurut Saudara, kalau prinsip ini yang dipakai… mana yang lebih berat, kebaikan atau kesalahannya? Biasanya kesalahan dan kejahatan yang lebih berat. Karena apa? Karena dalam hidup ini tidak mungkin dibenarkan di hadapan Allah karena kebaikan yang kita lakukan. Tapi, saat ini kita diingatkan bahwa Saudara dan saya dibenarkan karena iman. Iman kepada siapa? Kepada Tuhan Yesus Kristus. Nah, sekarang enak ndak hidup bersama Tuhan Yesus? Hidup saudara ndak usah ditimbang-timbang karena Saudara sudah dibenarkan karena iman kepada Kristus.
Kita lanjutkan dengan ayat satu, bagian kedua: kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
Saudara… kita manusia adalah manusia yang berdosa dan kita tahu bahwa kita adalah manusia yang layak mendapatkan kutuk Allah. Kita dimurkai oleh Allah. Kita menjadi seteru Allah. Seperti itulah gambaran kehidupan manusia yang berada di luar Kristus. Maka, kita tidak heran bila saat menghadapi penderitaan dan kesengsaraan, mereka sering kali mengatakan, “Aku mendapatkan kutuk dari Allah… aku dihukum oleh Allah… aku mendapatkan balasan dari Allah.” Namun firman Tuhan saat ini mengatakan, Saudara hidup di dalam damai sejahtera, Saudara berada dalam shalom Allah karena Kristus telah memperdamaikan Saudara dengan Allah. Kita bukan lagi seteru Allah, kita sekarang adalah anak-anak yang dikasihi-Nya. Enak ndak jadi orang Kristen? Enak ya… Puji Tuhan.
Ayat kedua, Saudara. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini.
Jelas, hidup di luar Kristus adalah hidup dalam dosa. Dan Paulus katakan, upah dosa adalah maut. Upah dosa adalah neraka. Itulah tempat yang sesungguhnya bagi orang yang berdosa. Tapi, perhatikan, Saudara… firman Tuhan katakan: kita beroleh jalan masuk ke dalam kerajaan Allah oleh iman kepada Tuhan Yesus. Pada saat saya merenungkan ayat ini, saya diingatkan oleh Tuhan akan kebenaran ini. Pada suatu hari saya bertemu dengan teman-teman SMP. Setelah kami berbincang-bincang, saya katakan kepada mereka, “Sekarang saya menjadi hamba Tuhan.” Apa komentar teman saya, Saudara? Ada seorang teman yang nyeletuk, “Enak ya rek dadi wong Kristen iku… wis gak lapo-lapo langsung munggah swarga.” Amin. Itulah bagian Saudara dan saya di dalam Kristus. Bahkan bukan hanya itu bagian kita Saudara. Kita lihat di ayat 2 selanjutnya dikatakan: Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Kita seharusnya menghuni tempat yang paling bawah di dunia ini. Itulah ganjaran bagi manusia yang berada di luar Kristus. Tetapi, ayat tadi mengatakan bahwa Saudara akan diangkat ke tempat yang paling tinggi, mendapat kehormatan, mendapatkan kemuliaan Allah di dalam kerajaan-Nya. Wah, enak sekali kita yang sudah ada di dalam Kristus. Namun, apakah hanya itu saja yang menjadi bagian berkat kita?
Mari saya ajak Saudara melihat ayat 3 untuk memperoleh jawabannya.
Ayat itu dimulai dengan kata-kata “Dan bukan hanya itu saja.” Itu artinya, kita tidak hanya dibenarkan di hadapan Allah, kita tidak hanya boleh menikmati damai-sejahtera, kita tidak hanya beroleh jalan masuk ke dalam kerajaan Allah, kita tidak hanya dimuliakan, tetapi—mari kita baca bersama-sama—Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita. Wow! Saudara, empat hal tadi saya katakan sebagai anugerah Tuhan yang luar biasa, sedangkan yang terakhir ini adalah bonusnya. Pada umumnya bonus itu enak, ya Saudara… tapi coba perhatikan bonus kita: kita malah bermegah juga dalam… apa? Kesengsaraan. Pada saat merenungkan kata-kata ini, saya bertanya-tanya: bukankah ini sebuah kontradiksi… tampaknya ndak bisa dilogika dengan pikiran manusia. Wong bermegah kok dalam kesengsaraan. Itu bagaimana?
Kita akan coba pahami supaya kita ngerti dengan sungguh apa yang ingin disampaikan oleh firman Tuhan ini. Apa yang dimaksud dengan bermegah ini? Bermegah atau glory adalah suatu ungkapan atau perasaan di mana seseorang bersuka ria, bersuka cita, bergirang karena sesuatu hal yang begitu dahsyat, luar biasa, indah… yang patut untuk dibanggakan. Misalnya, Saudara menjadi juara pertama, menjadi karyawan terbaik dan saudara berbangga. Inilah yang namanya bermegah. Sekarang, apakah kesengsaraan itu? Kesengsaraan di dalam bahasa aslinya disebut tribulum… apa itu tribulum? Tribulum adalah alat untuk memanen gandum. Terbuat dari papan-papan kayu besar yang dijajar lalu di bawahnya diberi besi-besi atau batu-batu yang lancip. Kalau diperhatikan, besi-besi atau batu-batu di papan itu persis alat dapur, yaitu parut. Jadi, tribulum itu seperti parut raksasa. Untuk memanen gandum, tribulum itu ditarik sapi sedangkan sang petani naik di atasnya. Tribulum akan menggesut sehingga tribulum tadi akan memisahkan gandum-gandum dengan jeraminya. Karena itu, tribulum sering dipakai untuk memberikan gambaran ketika seseorang menghadapi masalah, kesulitan, kesusahan, tekanan, kepedihan, penderitaan dalam hidup ini. Itulah yang namanya tribulum. Itulah kesengsaraan.
Lalu, apa yang bisa dibanggakan dari kesengsaraan?
Kok rasanya tidak ada yang dibanggakan. Saudara pernah bezuk teman atau saudara yang sedang sakit? Bahkan mungkin sakitnya sudah tidak mungkin tertolong lagi. Dokter sudah angkat tangan. Kira-kira, mungkin tidak orang yang sakit itu mengatakan, “Wah… saya bermegah, saya berglori, saya bangga karena sakitku tidak akan bisa sembuh… dan sebentar lagi aku dipanggil Tuhan. Haleluya aku memuji-Mu Tuhan.” Apakah ada orang sakit yang mengatakan seperti itu? Saya pikir ini memang tidak masuk akal. Bahkan, ketika saya membaca dan merenungkan ayat 3 dan ayat 4; kenyataannya adalah kesengsaraan itu menimbulkan kemalasan, kemalasan menimbulkan kegagalan, kegagalan menimbulkan putus asa, dan putus asa menimbulkan… apa Saudara? Bunuh diri! Itulah jalan pikiran manusia. Jalan pikiran Allah ternyata berbeda. Saat ini saya ingin mengajak Saudara memahami jalan pikiran Allah. Karena ini adalah suatu kebenaran yang menakjubkan. Untuk itu, mari kita baca lagi ayat ini: … kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
Ada tiga hal yang diungkapkan dalam ayat-ayat itu.
Pertama, kesengsaraan menimbulkan ketekunan.
Saya ingin menggarisbawahi kata ‘ketekunan’. Kata ‘ketekunan’ ini bisa digambarkan seperti yang dialami seorang atlet dalam dunia olahraga. Dalam dunia olahraga kita mengenal motto no pain, no gain. Kalau kita ndak mau bersusah-susah, kita ndak akan mendapatkan hasilnya. Saudara, saya pernah menjadi olahragawan. Elek-elek begini dulu saya pernah menjadi atlet. Pada waktu PON XI saya mewakili kontingen Jawa Tengah di cabang lomba layang gantung. Sebelum diberangkatkan ke Jakarta dan bertanding di Puncak Pass Bogor, kami dilatih secara fisik dan mental dengan disiplin yang sangat ketat. Apa yang terjadi pada minggu-minggu pertama, Saudara? Ya ampuuuun… badan ini rasanya capek sekali. Boyok ini rasanya pegel. Kenapa? Karena setiap hari makanannya push up ratusan kali. Setelah push up kami harus pull up. Siang hari di bawah teriknya matahari kami harus berlari mengelilingi lapangan sepak bola ratusan kali. Capek sekali! Itu minggu-minggu pertama. Tapi, pada minggu-minggu berikutnya, rasanya badan ini sudah ndak capek lagi. Walaupun latihannya semakin diperberat, tetapi badan ini malahan rasanya semakin segar, sehat, dan kuat. Apa ini artinya? Stamina atau kekuatan tubuh saya semakin baik. Itulah yang sesungguhnya dikatakan oleh Paulus bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan. Ketekunan berlatih inilah yang menghasilkan stamina bagi setiap atlet. Tanpa stamina yang prima, tak seorang atlet pun siap bertanding. Dengan kata lain, dengan stamina ini setiap atlet siap bertanding. Kalau ada atlet mengatakan, “Aduh, saya ndak siap bertanding… boyokku pegel!” Ini bukan atlet, Saudara. Setiap atlet harus siap bertanding dan memenangkan pertandingan.
Nah, kita sekarang bisa mengerti mengapa Paulus mengatakan kita bermegah dalam kesengsaraan. Kenapa, Saudara? Karena dengan kesengsaraan itu sebetulnya kita sedang dilatih oleh ‘Pelatih Surgawi’ kita untuk menjadi atlet-atlet Kerajaan Allah yang siap memenangkan pertandingan dalam hidup ini. Bukankah itu membawa kebanggaan? Kalau atlet-atlet dunia ini menang dalam pertandingan, pasti akan membuat bangga orang tua dan keluarganya, pelatihnya, bahkan daerah atau negara yang diwakilinya pun pasti bangga. Lihat bagaimana mereka yang dapat medali di arak mengelilingi kota sebagai wujud kebanggaan kota dan negaranya. Semua orang bangga atas kemenangannya. Apalagi keluarga surgawi, Pelatih Surgawi, dan seluruh warga Kerajaan Allah pasti bangga dengan kemenangan kita dalam pertandingan hidup di dunia ini. Itulah yang namanya bermegah dalam kesengsaraan, Saudara.
Berikutnya yang kedua: ketekunan menimbulkan tahan uji.
Kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji. Kalau yang pertama tadi kita diajar dengan menggunakan analogi dunia olahraga, yang kedua ini kita diajar dengan menggunakan analogi dari dunia pendidikan. Tahan uji itu bisa disebut juga sebagai ujian yang selalu kita temukan dalam dunia pendidikan. Ujian akan menjadi pintu kenaikan tingkat. Karena itu, ketika sekolah mau tidak mau kita harus menghadapi ujian. Bahkan untuk menghadapi ujian itu kita belajar keras. Saya kira tidak ada orangtua yang mengatakan, “Wis, Nak… ndak usah belajar. Kamu pinter atau bodo ndak apa-apa, sak karepmu!” (menunjukkan foto suasana belajar tetapi para siswanya ada yang tidur di lantai, tiduran di kursi, tidur di meja, asyik ngobrol). Kalau Anda jadi guru, apa kira-kira perasaan Saudara bila murid-murid Saudara seperti ini? Malu… pasti malu. Karena itu kita juga percaya bahwa Guru Agung kita di surga juga akan malu bila kita sebagai murid-murid-Nya juga seperti itu. Inilah yang menjadi jalan pikiran Allah: bila engkau berada dalam kesengsaraan, engkau sedang berada dalam didikan Allah… dan engkau akan naik tingkat demi tingkat… setinggi-tingginya sehingga engkau semakin dekat dengan Tuhan. Dengan demikian, pada saatnya nanti Saudara akan diwisuda… engkau lulus. Kalau seorang murid lulus pasti akan membanggakan guru dan orang tuanya. Demikian juga dengan Guru Agung kita pun akan bangga, bermegah. Ini lho murid-murid-Ku yang Aku banggakan. Pastinya, Bapa surgawi pun akan bangga punya anak-anak yang pandai.
Yang ketiga: tahan uji menimbulkan pengharapan.
Kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Apa itu pengharapan? Ada yang tahu, Saudara? Saya percaya semua Saudara yang ada di sini punya pengharapan dan sebenarnya tahu apa itu pengharapan. Saya juga tidak akan menerangkan definisi atau pengertian tentang pengharapan, karena Tuhan sendiri sudah membuat definisi dan menerangkan apa itu pengharapan. Dan, uniknya pengharapan ini diambil dari analogi dunia kemaritiman. Mari kita lihat Ibrani pasal 6 ayat 19 dan ayat 20.
Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar, sampai selama-lamanya.
Saudara perhatikan ayat ke-19. Tuhan katakan, apa itu pengharapan? Iya. Pengharapan adalah sauh. Sauh itu apa? Sauh adalah jangkar. Jangkar itu ada di mana? Ada di kapal. Kapal ada di mana? Ada di laut. Pertanyaan berikutnya, apa fungsi jangkar? Ada yang tahu? Mosok deket laut gak ngerti rek… Ya, jangkar berfungsi untuk menahan kapal dari arus atau ombak. Kalau Saudara lihat di Tanjung Perak, ketika kapal berlabuh jangkar akan digunakan. Jangkar itu untuk markir kapal di dermaga. Tapi, ketika kapal di tengah laut dan diterpa badai, jangkar itu juga harus diturunkan. Supaya apa? Supaya stabil. Supaya aman. Nah, waktu mau dilabuhkan, jangkar itu oleh awak kapal dilabuhkan ke atas atau ke bawah, Saudara? Ke bawah.
Itulah jangkar atau pengharapan dunia ini. Jangkar atau pengharapan di dunia ini dilabuhkan ke bawah. Apa artinya? Jangkar atau pengharapan itu dilabuhkan pada uang, harta, kekayaan, pangkat, kepandaian, dan kesenangan dunia ini. Itulah jangkar atau pengharapan dunia. Apakah Saudara juga melabuhkan jangkar atau harapan Saudara ke bawah seperti itu? Bila seperti itu, tambatan Saudara tidak kuat, tidak aman. Bila Saudara melabuhkan pengharapan Anda pada hal-hal duniawi, Saudara bisa mengalami apa yang sebut S3. Stress, Stroke, Stop. Itu yang sering terjadi. Hati-hati, Saudara.
Nah, coba sekarang perhatikan firman Tuhan… apa yang Tuhan katakan. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir. Inilah jangkar anak Tuhan. Jangkar anak Tuhan bukan dilabuhkan ke bawah, tetapi ke atas. Dilabuhkan sampai ke belakang tabir di tempat di mana sekarang Tuhan Yesus berada sebagai Imam Besar kita. Beda, ya? Dengan jangkar kita dilabuhkan ke atas, kita akan kuat menghadapi badai kehidupan dunia ini. Kita akan tetap aman di tengah laut kehidupan yang bergelora. Di tengah-tengah kesengsaraan ada kepastian akan pengharapan kita di dalam Tuhan Yesus. Pengharapan yang seperti inilah yang tidak pernah mengecewakan kita.
Ya, pengharapan ini tidak mengecewakan. Pengharapan ini bukanlah pengharapan yang menipu kita. Seperti kekecewaan, rasa malu, dan kebingungan yang tak henti-hentinya akan ditimbulkan oleh hancurnya pengharapan orang fasik, tetapi harapan orang benar akan menjadi sukacita (Amsal 10:28). Saudara, kesengsaraan kita tidak akan mempermalukan kita. Walaupun kita disamakan dengan kotoran dari segala sesuatu dan diinjak-injak seperti lumpur di jalan, tetapi dengan memiliki pengharapan akan kemuliaan, kita tidak dipermalukan dengan semua penderitaan ini. Kesengsaraan kita adalah untuk perkara yang baik, karena Tuhan yang baik, dan dalam pengharapan yang baik. Itulah sebabnya kita tidak akan menjadi malu. Kita tidak akan pernah menganggap diri kita hina oleh kesengsaraan yang akan berakhir dengan demikian indah. Kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita!
Inilah yang diungkapkan oleh Paulus untuk memberikan kekuatan, untuk memberikan penghiburan kepada jemaat yang ada di Roma saat mereka mengalami situasi yang sulit dalam kehidupan mereka karena penganiayaan. Demikian juga hal ini ditujukan bagi kita semua yang akan dan sedang mengalami kesengsaraan dalam hidup di dunia saat ini. Kembali ke pertanyaan di awal tadi. Kalau memang begitu kenyataan yang terjadi saat kita mengikut Tuhan Yesus, mudah atau sulit jadi orang Kristen itu? Pasti, Saudara bisa menjawabnya dengan mantab!
Saudara, kita sudah belajar bagaimana bermegah dalam kesengsaraan. Kesengsaraan menimbulkan apa? Ketekunan. Ketekunan menimbulkan apa? Tahan uji. Tahan uji menimbulkan apa? Pengharapan.
Dari firman Tuhan itu kita belajar bahwa semakin dalam kesengsaraan, semakin dalam kekuatan iman yang diberikan Tuhan. Nah, saya ingin memperagakan bagaimana maksud firman Tuhan ini. Tetapi, sebelumnya, saya minta tolong apakah ada seorang bapak bisa bantu saya? (seseorang maju ke mimbar). Dengan bapak siapa? Junaedi. Saya membawa palu dan paku (menunjukkan kepada jemaat). Paku ini menggambarkan iman kita kepada Tuhan Yesus. Sedangkan palu ini adalah tribulations. Tribulum atau kesengsaraan yang mungkin harus kita hadapi dalam kehidupan ini. Saat palu ini diayunkan ke atas paku, apa yang terjadi? (meletakkan paku di atas balok kayu lalu memukul kepala paku dengan palu). Paku menancap di balok kayu. Pak Juanedy, coba sekarang pakunya dicabut! (Pak Juanedy dengan mudah mencabut paku). Bisa Pak? Bisa, gampang. Mengapa pakunya gampang dicabut? Nancepnya kurang dalem. Ada yang lain? Memukul pakunya kurang banyak. Ada lagi? O ya… mukul pakunya kurang keras. Mungkin ndak, Saudara… kalau palune kurang gede? Mungkin. (Mengambil palu yang lebih besar. Memakukan lagi paku di balok kayu dengan palu yang lebih besar). Pak Junaedy, coba tolong dilepas pakunya! Susah. Susah? Masak tidak bisa? (Pak Junaedy berusaha dan berhasil mencabut paku). Loh itu bisa?! Bisa, tapi lebih susah. Kenapa? Karena semakin menancap ke dalam sehingga sulit untuk dicabut.
Nah, sekarang saya pakukan lagi dengan palu yang besar ini (mengambil palu lagi yang lebih besar dari kedua palu yang ada. Memakukan paku pada balok kayu). Coba sekarang dicabut Pak… (Pak Junaedy berusaha mencabut tapi tidak berhasil). Susah sekali. Saya tidak bisa. Nyerah pak Andy.
Paku ini menjadi sulit dicabut karena menancap lebih dalam. Inilah yang kita pelajari saat ini. Apa pun palu kesengsaraan yang menimpa kita, paku iman ini harus menancap lebih dalam dan sulit dicabut. Sekarang, Saudara… kalau pada saat dipakukan tadi paku ini tidak saya pegang; kira-kira bisa nancep nggak? Nggak bisa. Paku akan berlari ke sana kemari. Karena itu, ketika tribulum itu terjadi dalam kehidupan Saudara, tetaplah berada di dalam pegangan tangan Tuhan. Kalau tidak, Saudara akan terlempar semakin jauh dari Tuhan. Kedua, besar-kecilnya palu bukan masalah. Palu kesengsaraan kecil, sedang atau besar bukan di situ masalahnya. Mungkin Saudara ingin yang kecil saja. Tidak masalah. Tapi, mau nggak setiap hari Saudara harus dipukuli berkali-kali supaya pakunya nancep dalam? Atau, Saudara maunya langsung yang besar… jadi sekali pukul langsung nancep dalam?
Besar atau kecil persoalan, tribulum yang kita hadapi, bila kita selalu berada dalam genggaman tangan Allah, iman kita akan menancap semakin dalam. Dengan iman kita yang semakin dalam, kasih kita kepada Tuhan pun akan semakin dalam. Sehingga kekuatan dunia ini, kekuatan musuh kita, tidak mampu mencabut paku iman kita yang menancap dalam Tuhan Yesus Kristus. Bukankah itu yang kita rindukan dalam kehidupan ini?

