Bersabar dalam Penderitaan (Yakobus 5:7-10)
oleh Teguh Hariyanto (Mahasiswa STT-IAA Pacet- Mojokerto)
5:7 Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan ! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. 5:8 Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! 5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. 5:10 Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.
Berita mengenai penganiayaan yang dialami oleh para TKW dan TKI seringkali terdengar dan termuat dalam surat kabar. Setiap kali saya melihat dan membaca berita yang berkaitan dengan penganiayaan tersebut, setiap kali saya bertanya-tanya dalam diri saya sendiri. Mengapa berita atau peristiwa itu tetap saja terjadi? Mengapa tidak ada tindakan tegas dari pemerintah untuk menyikapi hal itu? Dan lebih parahnya mengapa juga tetap saja ada orang-orang baik TKW atau TKI yang tetap berangkat bekerja di luar negeri sekalipun ada bahaya yang sedang mengancam mereka?
Bukahkah lebih baik kalau mereka bekerja di negeri sendiri saja? Tidak dapat dipungkiri bahwa kepergian mereka tidak lain karena masalah ekonomi. Sekalipun “bahaya” mengancam, dan di tengah-tengah ketidakpastian akan keselamatan hidup. pengharapan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik, gaji yang besar, dan tidak adanya lapangan pekerjaanlah yang membawa mereka untuk tetap memiliki tekad bekerja menjadi TKW.
Ya, jikalau mereka yang berharap memiliki kehidupan yang lebih baik dalam ketidakpastian, dan bahaya yang mengancam. Tetap saja memiliki kesabaran. Mereka tetap bersabar di dalam penderitaan mereka. Sekalipun mereka mengejar sesuatu yang fana. Seandainya tekad kita untuk tetap bersabar dalam penderitaan menantikan kedatangan Tuhan dibandingkan dengan mereka? Apakah kita memiliki tekad atau kesabaran, apakah kita memiliki semangat juang seperti mereka?
Bersabar dalam penderitaan. Mengapa kita harus bersabar dalam penderitaan?
-
1. Penderitaan dan kesulitan senantiasa ada di dalam hidup ini
Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi (ay. 7)
Sadar atau tidak sadar kehidupan ini tidak selamanya diliputi oleh sukacita. Ada sukacita juga ada dukacita. Penderitaan dan kesulitan ibarat sebuah kalung yang melekat dileher, artinya dimana ada kehidupan disitu ada kesulitan, dimana ada kehidupan disitu ada tantangan.
Hidup ada musimnya. Sebagaimana kita tahu ada musim gugur, musim semi, musim, menanam dan musim menuai. Anggap saja ketika kita sedang mengalami penderitaan, kesulitan atau tantangan kita sedang mengalami musim menanam (musim gugur) dan ketika kita berada dalam kondisi yang menyenangkan sebagai musim menuai.
Maka ketika kita sedang mengalami penderitaan tetaplah bersabar sebagaimana Yakobus menggunakan gambaran seorang petani yang menantikan hasil dengan bersabar menantikan hujan musim gugur dan hujan musim semi. Seorang petani hanya bersabar menanti hujan. Sekalipun semua ladang yang sudah ia siapkan tanpa hujan turun dari langit sedikitpun ia tak akan mampu untuk menurunkan hujan.
- 2. Ada orang yang lebih dahulu menderita mereka pun berhasil melewatinya
Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan (ay. 10)
Seringkali ketika kita diperhadapkan dengan penderitaan maka kita merasa bahwa apa yang kita alami tak pernah dialami oleh orang lain. Apakah benar demikian? Yakobus mengingatkan kita bahwa semua orang pernah mengalami penderitaan. Bahkan para nabi.
Seperti yang kita ketahui peranan nabi dalam kehidupan umat adalah nabi sebagai penyambung lidah Allah. Jika Allah hendak menyampaikan hukuman-Nya atau janji-Nya. Allah seringkali berbicara menyampaikannya lewat nabi-nabi yang sudah diutus dan dipilih-Nya. Tak mudah menjalankan tugas sebagai seorang nabi, selain daripada kehidupan yang terkadang lebih susah daripada jemaat, biasanya nabi tak pernah didengarkan dalam menyampaikan pesan Allah.
Tetapi para nabi tetap bersabar sekalipun mereka harus menderita demi menyampaikan pesan dari Tuhan (berbicara demi nama Tuhan). Memang setiap kita memiliki porsi penderitaan, kesulitan yang berbeda. Tetapi yang perlu kita ingat adalah kita pernah mengalami penderitaan dan kesulitan itu. Oleh sebab itu dalam menghadapi penderitaan dan kesulitan, tetaplah bersabar dan bertekun.
Ayat 11: Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.
Kisah Ayub juga menjadi teladan untuk tetap bertekun dan bersabar dalam penderitaan. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa Ayub bukanlah orang yang tidak hidup benar, tetapi Alkitab mengatakan ia adalah orang yang saleh pada zamanya. Tetapi kesalehan Ayub pun tak menjadikannya ia terhindar dari masalah dan penderitaan dan kesulitan.
Jelaslah kesalehan tak menjadi alasan untuk tidak memiliki masalah. Justru semakin berjuang untuk hidup benar dihadapan Tuhan. Semakin banyak tantangan yang menghadang. Dalam waktu yang seketika kekayaan Ayub lenyap, anak-anaknnya meninggal, penyakit borok dideritanya, bahkan istrinya pun mengajaknya untuk mengutuki Allah.
Tetapi dalam semuanya itu dikatakan Ayub tidak berbuat dosa. Bahkan juga sahabat-sahabatnya yang mencoba menghibur Ayub dan menilai bahwa apa yang dialami Ayub semata-mata karena dosa yang telah dibuatnya. Ternyata mereka salah memahami kenyataan hidup yang dialami Ayub.
Mereka laksana penghibur sialan. Dari apa yang dialami Ayub pada akhirnya semakin membawanya mengerti bahwa Tuhan tidak menutup mata dengan segala hal yang menimpahnya.
Ayub pun berkata:”Karena ia tahu jalan hidupku, seandainya Ia menguji aku, akau akan timbul seperti emas. Ayub 23:10. Dalam penderitaannya Ayub tetap bersabar bahkan melalui penderitaan itu ia mengalami Allah, bukan dari orang lain tetapi dari pengalaman hidupnya sendiri. Ayub 42:5 “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau
“Jika kita tidak mengenal penderitaan, maka kita tak akan termotivasi untuk bergerak maju.”
Dari kalimat ini kita harus menyadari bahwa penderitaan justru membawa kita untuk semakin melangkahkan kaki dengan mantap, memandang ke depan dengan penuh pengharapan
Jadikanlah penderitaan sebagai sarana untuk melihat Allah, berpengalaman dengan Allah dan mengenal Allah bukan dari kata orang tetapi kita benar-benar mengalami Allah. Amin Tuhan Yesus memberkati.

