Site icon

Bersaksi di Marketplace

Oleh: Pdt. Budianto Lim

Kisah Para Rasul 17:16-34

Dalam minggu ke dua bulan misi, kita diajak memeriksa kesaksian hidup di tengah marketplace. Istilah marketplace di kalangan Kristen terlalu sering didengungkan sebagai marketplace ministry yaitu kesaksian hidup kristiani di tengah lapangan pekerjaan atau bisnis. Akhirnya yang belum atau tidak bekerja kantoran merasa bersaksi di marketplace sebagai hal yang tidak relevan. Perenungan dari Alkitab akan menunjukan bahwa kita tidak perlu membatasi arti marketplace hanya sebagai arena hidup bekerja atau usaha. Ada 2 referensi Alkitab – Kisah Rasul 17 & Daniel 1. Kita hanya fokus pada kesaksian di marketplace yang Paulus tunjukan, KPR 17:16-34.

Bagaimana kita bisa bersaksi di tengah marketplace secara efektif dan tepat guna sangat dipengaruhi oleh pemahaman kita akan konteks hidup sehari-hari. Mengenai hal ini, saya mau ajak jemaat perhatikan sebuah eksprimen yang sudah didokumentasi demikian.

Sebuah eksperimen dilakukan kepada 5 monyet lapar. Kelima monyet tersebut dimasukin ke kandang kosong & di tengah kandang diletakkan tangga. Di atas tangga itu ada 1 ikat pisang. Waktu ada monyet yang naik ke tangga mau ambil pisang, monyet itu disemprot pakai air dingin. Otomatis itu monyet turun gak jadi ngambil. Ketika monyet kedua ingin lakukan hal yang sama, ia juga disemprot. Semua monyet kebagian semprotan air dingin waktu mau ambil pisang. Hal ini terjadi beberapa kali sampai tidak ada monyet yang berani naikin tangga untuk ambil pisang tersebut.

Eksperimen ini berlanjut dengan cara mengeluarkan 1 monyet yang udah basah kuyup dari kandang tersebut dan monyet baru dimasukan ke kandang. Ketika monyet yang baru itu pengen manjat tangga ambil pisang, 4 monyet lainnya yang sudah ketakutan disemprot, pegangin kaki monyet nekad tersebut. Dan ini terjadi beberapa kali, sampai monyet nekad itu akhirnya kehilangan idealismenya dan malas manjat lagi.

Kemudian monyet kedua yang sudah basah kuyup dikeluarin dan diganti dengan monyet yang baru. Monyet kedua yang baru juga berusaha manjat tapi dihalangi sama keempat monyet lainnya. Sampai dia juga akhirnya malas manjat lagi. Proses ini diulangi sampai semua monyet lama yang pernah kena semprot diganti dengan monyet baru. Jadi sekarang ada 5 monyet baru yang tidak pernah kena semprot air dingin, tetapi gak ada yang berani manjat. Kemudian proses mengeluarkan 1 monyet diganti dengan monyet baru lainnya dijalankan lagi. Anehnya ketika monyet terbaru mau manjat, 4 monyet lainnya tetap mencegah dia. Padahal mereka tidak pernah kena semprot air dingin. Tidak ada yang tahu mengapa semua monyet berperilaku begitu. Takut disemprot air dingin sudah mendarah daging atau membudaya dalam diri semua monyet. Tidak ada yang berani manjat ambil pisang meskipun semuanya lapar.

Identitas monyet yang seharusnya makan pisang sudah berubah karena takut disemprot air dingin sudah membudaya di kandang tersebut. Ketakutan sudah membudaya, menjadi bagian jati diri para monyet.

Eksperimen tersebut memberi kita gambaran betapa kuatnya budaya hidup masyarakat bisa mempengaruhi kita. Bahkan kita ikutan berperilaku seperti masyarakat tanpa lagi memeriksa sejauh mana itu semua mencerminkan idealisme identitas kristiani.

Ini tantangan terbesar bagi kita utk menyaksikan Kristus di tengah konteks marketplace. Banyak perilaku dari dunia yang sudah membudaya, itu yang lebih mengarahkan hidup kita komunitas Kristen. Contoh di Singapura tentu budaya meritokrasi yang menyerap ke semua lini kehidupan. Kita semua berselancar di arus dan gelombang yang sama dengan masyarakat tanpa terlalu mengkritisi budaya tersebut. Jika ada orang Kristen yang mengkritisi, biasanya orang itu yang suka dipandang aneh sendiri. Misal: berapa banyak dari kita yang mengatakan ‘gak apa2, kita kerja di Singapur, mau gak mau kerja tabrak ritme hidup yang Tuhan Allah tanam’; berapa byk dr kita yang gosipin teman-teman yang lakukan home schooling karena tidak mau ikut sistem?

Susahnya adalah ketika satu cara pikir dan cara hidup sudah nempel dengan identitas, kita gak merasa kenapa2 – seperti eksperimen atas 5 monyet tadi.

Lama kelamaan distinctiveness kita sebagai orang Kristen kurang nampak di tengah marketplace. Karena tidak nampak perbedaan, apa yang bisa menarik orang-orang yang belum kenal Kristus?

Tentu meritokrasi hanyalah salah satu. Hal lain mungkin kuatir hari depan, mengamankan masa depan, itu juga bagian dari identitas yang sudah membudaya di Singapura. Mulai dari ngantri daftar anak sekolah, sampai beli asuransi untuk tutup semua celah resiko biaya hidup. Semua lini hidup kita dipengaruhi oleh konteks marketplace Singapura. Makanya kita tidak bisa melimitasi istilah marketplace hanya dalam konteks bekerja di kantoran. Waktu kita pergi ke pasar, supermarket, ngantar/jemput anak sekolah, waktu jadi volunteer di sekolah, terlibat dalam community council, lagi break makan siang, naik public transport, lagi di gym, sport hall, dll – itu semua adalah marketplace. Mengapa kita jangan melimitnya? Karena kisah kesaksian Paulus, marketplace bukanlah dalam artian konteks orang-orang kerja/dagang. Coba perhatikan ayat 15-16a.  Paulus bisa ada di Atena karena ia diungsikan oleh komunitas Yahudi kota Berea yang menerima pengajaran Paulus tentang Kristus. Namun banyak orang Yahudi dari kota Tesalonika yang sengaja datang ke Berea untuk nyusahin Paulus. Perhatikan Kis.17:11-12. Komunitas ini tidak mau ambil risiko Paulus dicelakai oleh mereka yang dari Tesalonika. Paulus diantar ke pelabuhan lalu ditemani sampai ke Atena. Di Atena, Paulus tidak punya rencana pelayanan, tetapi nungguin Silas dan Timotius – ayat 15-16a.

Kesaksian Paulus di marketplace kota Atena, ayat 16b, terjadi diawali dengan adanya kesedihan dan keprihatinan atas kondisi spiritual masyarakat Atena.

Jika Atena abad pertama adalah salah satu pusat kebudayaan, ekonomi dan perdagangan dunia tidak luput dari masalah kerohanian, maka kota-kota maju dunia zaman sekarang seperti Singapura, dll, juga tidak luput dari masalah kerohanian. Kesaksian Paulus di Atena adalah bukti eksplisit penerapan Amanat Agung Tuhan Yesus yang bunyinya: “kemanapun kamu pergi, jadikanlah semua bangsa murid Kristus”! Bagaimana caranya? Beritakan Kristus, ajaran-Nya dan hidupilah identitas kristiani tersebut!”

Saya yakin dan percaya orang Kristen, keluarga kristen, komunitas Kristen, TIDAK MUNGKIN menyaksikan supremasi Kristus jika tidak ada keprihatinan atas kondisi spiritual masyarakat dimana kita hidup. Inilah hal pertama bagaimana kita menjadi saksi di tengah marketplace.

Apa keprihatinan yang muncul dalam batin kita, ketika mengamati hidup masyarakat Singapura? Kesedihan & keprihatinan yang Paulus tunjukan bukan sekedar urusan pendidikan, ekonomi, relasi sosial – tetapi isu penyembahan berhala. Paulus prihatin dan sedih hatinya karena orang-orang di Atena yang adalah ahli pikir, ahli logika, filsuf – ternyata menyembah patung-patung berhala yang tidak dikenal.

Menjadi saksi Kristus dalam ranah publik dimulai dengan keprihatinan rohani

Tapi itu hanyalah awal. Saya percaya banyak di antara kita yang prihatin atas kondisi masyarakat zaman sekarang entah Singapura atau Indonesia. Waktu nanti kita pulang dari gereja, coba renungkan apa konteks hidup sehari-hari yang perlu diprihatinkan secara rohani?

Sayangnya banyak dari orang Kristen stop pada keprihatinan dan kurang berbuat apa-apa. Kalau pun berbuat sesuatu, banyak orang Kristen yang kurang mantap bahwa sentral solusinya adalah Yesus Kristus yang sanggup ubah hati dan mindset.

Kesaksian kita gak ada bedanya kalau hanya sebatas general truth yang disanjung; tidak ada keunikan jika hanya sebatas moralitas umum. Kesaksian kita ada arti dimata Allah dan berbeda dimata masyarakat, jika sentralitas Kristus tidak dikompromi.

Ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa tertarik dengan kesaksian Paulus karena ada yang baru di dalamnya. Ada yang unik. Ada yang tidak masuk dalam kategori filsafat yang selama ini mereka bicarakan dan perdebatkan. Keunikan kesaksian Paulus di marketplace dilandasi dengan keyakinan iman bahwa Yesus Kristus adalah solusi sentral.

Itulah mengapa masih sering kita amati pelayanan injil Kristus yang berat sebelah – kita lakukan community development, bantuan sosial, dukung pendidikan – tetapi tidak memberitakan Injil. Kemudian banyak pakai alasan dengan mengatakan “injil itu intinya kasih dan kasih paling efektif diwujudkan bukan diabjadkan sebagai kalimat-kalimat indah.” Akhirnya pemberitaan Injil, memperkenalkan siapa Yesus Kristus tidak terjadi. Bagaimana orang lain tertarik dengan keunikan dan kekuatan Injil kalau yang beri kesaksian juga tidak yakin?

Atau sebaliknya, kita beritakan Injil namun kurang gesit memberi solusi hidup.

Gereja kita punya pelayanan ke Yobel dan akhir Oktober ini akan ke Wates, Yayasan Pendidikan Bopkri. Mari beri kesaksian kasih tanpa mengabaikan pemberitaan Injil kepada generasi muda yang dilayani. Mari beritakan Injil sekaligus memberi solusi atas kebutuhan hidup tanpa menjadikan mereka malas.

Yang menarik di episode ini adalah Paulus fokus bukan pada solusi yang mengubah faktor eksternal hidup masyarakat, tetapi fokus pada solusi berupa pribadi Yesus Kristus yang mati dan bangkit. Bersaksi di tengah marketplace bukan pamer kalau kita orang Kristen pasti dan selalu sukses. Gak usah jadi orang Kristen, kerja keras, pintar ambil kesempatan, ketemu jodoh bisnis yang pas – pasti sukses dan berhasil. Bersaksi di tengah marketplace memiliki objek yang disaksikan yaitu pribadi Yesus Kristus yang mati demi dosa dan bangkit mengalahkan kuasa dosa.

Seperti apa bentuk konkrit menyaksikan siapa Yesus Kristus di tengah marketplace? Jawabannya nanti kita peroleh di ayat 18-31. Namun sampai di sini, kita bisa menyimpulkan 2 hal pertama bagaimana bersaksi ditengah marketplace:

[1] Keprihatinan rohani atas hidup masyarakat;

[2] Keyakinan iman pada Yesus Kristus sebagai solusi sentral.

Kedua aspek tersebut adalah pondasi untuk bersaksi. Insight ketiga dari apa yang Paulus lakukan ketika ia bersaksi. Bersaksi di tengah marketplace menuntut penggunaan rasio dan intelektual. Paulus dialog, tukar pikiran, tanya jawab, beri argumen persuasif dengan komunitas Yahudi dan non-Yahudi tanpa bikin iklan macam-macam. Ayat 17 – Paulus menyampaikan pikirannya tentang Yesus Kristus kepada orang-orang yang pas ada di sinagogue setiap hari selama ia di Atena. Ia utarakan keyakinan imannya akan supremasi Yesus Kristus yang bangkit dari kematian secara rasional. Iman Kristen bukan iman buta, tetapi iman berlandaskan pengetahuan yang dapat divalidasi secara rasio. Tindakan Paulus ini adalah contoh mengasihi Allah dengan pikiran.

Tidak sedikit orang Kristen yang malas mikir gimana jawab temennya yang bertanya tentang pengajaran Kristen. Bersaksi di tengah marketplace Singapura yang terdiri dari banyak free thinker tapi merasa religius menuntut kita perlengkapi diri dari sisi intelektual.

Saya kagum dengan Prof John Lennox ketika ia datang ke Singapura bulan September kemarin dan memberikan seminar di ARPC. Beliau adalah profesor matematika di Oxford University & credentials-nya Anda bisa lihat di slide. Marketplace bagi ilmuwan dengan reputasi raksasa tersebut adalah konteks universitas yang juga menelurkan saintis seperti Stephen Hawking, Richard Dawkins, dan lain-lain. Dalam seminar tersebut, beliau menyebutkan beberapa kebingungan masyarakat mengenai relasi antara God and Science. Kesan mendalam yang saya peroleh adalah upayanya memberi kesaksian tentang supremasi TUHAN dan jujur memberi assesment terhadap sains. Beliau memberi kesaksian akan TUHAN melalui debat secara rasional dan intelektual, tanpa menjadi dingin. Sebab dalam kesaksiannya, Prof Lennox juga membagikan pengalaman pribadi menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Bersaksi di tengah marketplace Singapura menuntut kita perlengkapi diri bagaimana memberi jawaban dari sisi intelektual atas iman kita. Mulailah dengan anak-anak kita, yang mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sering tidak terpikirkan. Jangan ngomelin anak kalau nanya yang ngak-ngak mengenai iman Kristen. Tapi juga jangan sembrono memberi jawaban.  Saya percaya pembinaan misi sabtu dan minggu lalu sudah memberkati jemaat semua. Jangan biarkan menguap. Pikirkan terus apa yang sudah Anda dengar, olah, dan bicarakan dengan Sdr/i di GPBB. Jadikan GPBB training ground untuk mempertanggungjawabkan iman Anda. Mari jadi orang Kristen yang mengasihi Allah dengan pikiran.

Insight keempat: Saksikanlah Kristus di tengah marketplace dengan cerdik dan bijaksana. Apa maksud cerdik dan bijaksana?

Bagi Paulus, ia tidak melakukan dialog, tukar pikiran langsung di tengah konteks non-Yahudi melalui sidang Areopagus. Sidang Areopagus adalah semacam komite terdiri dari para penatua dan berada di bawah otoritas raja Atena. Istilah sidang Areopagus menunjuk pada pertemuan publik di bukit seperti yang masih ada sampai sekarang di Atena. Paulus tidak mulai bersaksi di Areopagus. Tetapi ia mulai dalam konteks yang tepat yaitu sinagogue Yahudi yang juga berfungsi sebagai House of Learning. Paulus mulai kesaksiannya melalui wadah dimana ia sebagai Rabi pasti diterima. Ada common ground antara Paulus dengan komunitas Yahudi di Sinagogue. Dari situ, berita beredar dari mulut ke mulut dan akhirnya yang non-Yahudi pun tertarik ikutan. Saya kira ini kecerdikan dan kebijaksanaan Paulus yang patut kita pertimbangkan. Bersaksi di marketplace dengan cerdik-bijaksana bisa terjadi melalui wadah sosial terdekat dengan hidup kita, selain gereja.

Kalau ke salon, pergilah ke salon yang sama – sehingga ada common ground yang bisa jadi kesempatan bersaksi. Sama halnya kalau kita service kendaraan, ke supermarket, ke hawker center umumnya akan ketemu orang yang sama, bisa buka kesempatan untuk bersaksi. Gunakan gym atau fasilitas olah raga di apartment/condo anda – pasti ketemu konteks sosial non-believers. Spend waktu bersama mereka sambil terus doa dalam hati. Ciptakan common ground – kalau kita adalah orang Kristen yang tulus, kesaksian hidup akan mengalir dan Roh Kudus bekerja dalam hati para pre-believers.

Seperti apa isi kesaksian kita mengenai Yesus Kristus di tengah marketplace? Kita bisa lihat mulai dari ayat 22-31. Fokus kesaksian Paulus adalah memberitakan Allah Sang Pencipta, karya penciptaan-Nya dan bagaimana seharusnya manusia meresponi semua pengetahuan tersebut. Di satu sisi Paulus memberi afirmasi atas religiusitas para filsuf dari Atena. Tetapi di sisi lain, Paulus memberi kesaksian bahwa Allah bisa dikenal karena Ia menyatakan siapa diriNya kepada manusia.

Ayat 24-27, Paulus menyebutkan hal basic karya Allah yang menjadikan langit-bumi dgn segala isinya. Karena TUHAN adalah penguasa segalanya, maka TUHAN tidak butuh manusia untuk melayani-Nya seolah-olah apa yang ada dibumi adalah kepunyaan manusia. TUHANlah yang memberi nafas hidup dan menentukan batas-batas kediaman tiap bangsa. Paulus juga menegaskan tujuan dari kebesaran TUHAN Allah dalam ciptaan yaitu supaya manusia cari TUHAN yang tidak jauh.

Setelah Paulus memberi afirmasi tambahan dengan mengutip para pujangga orang Yunani, di ayat 28, Paulus dengan tegas memberi teguran bahkan panggilan pertobatan di ayat 29-30. Ayat 31 adalah penutup yang isinya adalah jaminan penghakiman jika tidak bertobat. Penghakiman yang pasti terjadi melalui seorang yang telah ditentukan Allah. Bahkan Allah memberi bukti dengan membangkitkanNya. Paulus tidak menyebut nama Yesus Kristus. Tetapi semua orang yang mendengar dan kita yang membaca tahu siapa yang ia maksud.

Pendekatan Paulus ini bisa jadi model bagi kita waktu mau bersaksi di tengah lingkungan yang banyak belum kenal Yesus atau salah mengerti kekristenan. Beri afirmasi dengan tulus dan jujur atas kepercayaan orang lain. Namun jangan berhenti disitu. Minta pencerahan Roh Kudus untuk beri kita pikiran jernih buat mengutarakan siapa Yesus Kristus.

Setiap kali saya kunjungan kepada orang-orang yang belum kenal Yesus Kristus, tapi mau didoakan – ini pendekatan yang saya terapkan. Di dalam doa, saya fokus pada Allah Pencipta yang mau datang menghampiri manusia yang hancur hatinya minta tolong. Biasanya saya tutup dalam doa dengan menyebut Allah Sang Penebus.

Exit mobile version