Site icon

Cari Uang, Bukan Cinta Uang

Cari Uang, Bukan Cinta Uang (1 Timotius 6:6-19)

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

“Keluarga khan tidak cukup diberi makan cinta, Pak. Istri dan anak-anak butuh uang untuk sekolah, pakaian dan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Saya harus membanting tulang untuk mencari nafkah. Tentu saja, saya harus sering kali meninggalkan keluarga,” demikian tutur seorang pria selaku kepala rumah tangga. Setelah mendengarkan paparan pria itu, saya mengarahkan pandangan pada sang istri yang duduk di sebelahnya.

“Saya tentu mengerti bahwa suami bekerja keras mengumpulkan uang. Tapi, sebenarnya kami merasa apa yang kami miliki secara materi sudah cukup. Anak-anak sangat mengharapkan kehadiran ayahnya di rumah. Entah mengapa, harapan yang sederhana ini sulit menjadi kenyataan. Papa dari anak-anak ini tampaknya lebih suka mencari uang daripada tinggal di rumah.” Kembali saya mengarahkan pandangan pada si pria.

“Saya tidak cukup puas dengan materi yang kami miliki sejauh ini. Saya merasa masih kurang. Masih belum cukup,” tegas pria itu. “Cukup, Pa. Sejauh ini aku dan anak-anak merasa cukup,” tegas perempuan itu. Sejurus kemudian, di hadapan saya, mereka bertengkar secara terbuka.

Tak dapat dipungkiri, uang adalah bagian dari pergumulan hidup pernikahan dan keluarga. Keluarga membutuhkan uang, tetapi pencarian yang membabi buta justru menghasilkan masalah baru. Inilah yang diperingatkan dengan tegas oleh firman Allah, “Akar segala kejahatan adalah cinta uang” (1 Timotius 6:10).  Kita harus memperhatikan dengan saksama. Akar segala kejahatan adalah cinta uang, bukan cari uang. Firman Tuhan tidak melarang manusia mencari uang, tetapi cinta uanglah yang dikecam dengan keras. Uang itu sendiri tidaklah kotor atau jahat, tetapi sikap kita terhadap uang itulah yang bisa menjadi masalah.

 

Cinta Uang: Mengapa dan Apa Tandanya?

Dari mana sikap cinta uang ini muncul? Walau sikap cinta uang itu adalah kecenderungan yang umum, tetapi ada dua situasi yang paling berpotensi melahirkan sikap cinta uang. Kedua situasi ini sama-sama bermula dari keluarga.

Pertama, kita dibesarkan di tengah rumah tangga yang memiliki uang terlalu berlimpah sehingga kita dapat menikmati hidup ini dengan mudah. Oleh karena itu, kita menjadi biasa dengan keberadaan uang di kantong kita, dan tanpa disadari terbentuklah hubungan cinta antara kita dan uang. Kita akan melihat betapa diri kita tidak hanya tidak dapat hidup tanpa uang, tetapi lebih dari itu tidak pernah merasa cukup dengan seberapa pun uang yang ada.

Kedua, kita menjalani hidup yang sulit. Karena tidak tersedia uang, kita menjadi sangat sulit mendapatkan kenikmatan hidup. Kita belajar bahwa uang adalah sarana yang mutlak harus ada untuk meraih kenikmatan hidup. Kita sangat termotivasi untuk mendapatkan uang dan pada ahirnya tergelincir ke dalam sikap cinta uang dan bukan sekadar cari uang.

 

Apa sih indikasinya bila kita sudah berada dalam tahap cinta uang?

Pertama, bila kita sudah berada dalam tahap cinta uang, kita menjadikan uang sebagai pengukur segala sesuatu. Uang menjadi cara kita memandang dan menilai segala hal, misalnya apakah hal itu akan mendatangkan uang atau malah menghabiskan uang? Memandang pertemanan dan persahabatan dari kacamata menguntungkan atau tidak secara finansial? Sampai bahkan relasinya dengan Tuhan pun diukur dari kriteria menghasilkan uang atau tidak? Menguntungkan atau tidak?

Kedua, bila kita sudah berada dalam keadaan cinta uang, kita takkan sanggup lagi merasa cukup dan bersyukur. Rasa cukup yang diikuti dengan rasa syukur adalah indikasi bahwa kita mengendalikan uang tersebut, bukan sebaliknya. Kata orang, cukup itu relatif. Benarkah demikian? Apakah memang rasa cukup itu tidak memiliki standar ukuran?

Saya menikmati makan kepiting, dan suatu kali seseorang memesankan kepiting dalam jumlah yang sangat banyak, hanya untuk saya sendiri. Porsi pertama masih terasa enak. Porsi kedua masih dapat saya nikmati. Porsi ketiga, saya habiskan dengan susah payah. Porsi keempat? Saya menyerah karena nyaris muntah. Makan itu pasti ada batasnya, tidur juga ada batasnya. Sesungguhnya, kita mengenal rasa cukup itu. Lalu, mengapa terhadap uang kita tidak pernah bisa merasa cukup dan bersyukur? Karena rasa cinta itulah yang telah membutakan mata kita untuk melihat kebutuhan kita yang sesungguhnya. Kita terus bekerja keras, tidak pernah merasa bersyukur, dan pada akhirnya keluarga menjadi korbannya. Kita mengatakan bahwa demi keluargalah kita bekerja keras tanpa batas, tetapi keluarga justru merasa terlupakan dan terabaikan. Tak seorang pun akan mengaku bahwa dirinya cinta uang, tetapi tentu saja orang lain bisa menilai dari sikap orang tersebut terhadap uang: mencari uang atau sudah jatuh dalam lubang cinta uang.

 

Cinta Uang: Bagaimana Menghindarinya?

Firman Tuhan dalam 1 Timotius 6:11 berkata, “Hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan.” Kata “manusia Allah” di bagian ini berasal dari struktur bahasa Yunani yang mempunyai pengertian:  Manusia milik Allah. Jadi, firman ini hendak menegaskan kepada kita bahwa supaya tidak terjebak dalam cinta akan uang, kita harus mengingat identitas kita sebagai manusia milik Allah. Yang berhak menguasai hidup kita adalah Allah, bukan sikap cinta akan uang. Kita harus mencari uang untuk menghidupi keluarga, tetapi kita tidak boleh jatuh dalam rasa cinta akan uang. Arah rasa cinta kita harus kepada Tuhan, tidak selayaknya pada uang.

Kedua, kesadaran akan identitas bahwa kita ini milik Allah harus dibarengi dengan tindakan nyata, yakni mengejar apa yang berkenan di mata Allah: keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan. Artinya, ketika hati kita terarah pada apa yang diinginkan Allah, kita berada pada jalur kehidupan yang tepat. Jalur di mana bahaya cinta uang tidak akan melanda hidup kita. Jalur mewujudnyatakan kasih kepada Allah dalam tindakan nyata. Di mana kita belajar untuk mewujudnyatakan kasih kepada Allah itu? Di dalam komunitas hidup terdekat, bukan? Di dalam keluarga.

Yesus Kristus pernah menyimpulkan relasi manusia dengan uang dengan kalimat yang tepat, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon [uang]” (Matius 6:24). Maka dari itu, sebenarnya ini adalah soal pilihan kita! Pilihan ke mana kita akan mengarahkan hidup. Jika Allah adalah Tuan atas hidup kita, maka uang adalah budak atau alat. Namun, jika hati kita penuh dengan rasa cinta uang, maka Allah pun akan kita anggap sebagai budak kita untuk mendapatkan uang yang lebih banyak bagi kita.

Kepada siapa kita mengabdi: Allah atau Mamon? Kepada siapa keluarga kita mengabdi: Allah atau Mamon?

 

Exit mobile version