Carilah Uang, namun Jangan Menjadi Hamba Uang (Keluaran 16:1-20)
oleh : Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya
16:1 Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir. 16:2 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; 16:3 dan berkata kepada mereka: “Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.” 16:4 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. 16:5 Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.” 16:6 Sesudah itu berkatalah Musa dan Harun kepada seluruh orang Israel: “Petang ini kamu akan mengetahui bahwa Tuhanlah yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir. 16:7 Dan besok pagi kamu melihat kemuliaanTUHAN, karena Ia telah mendengar sungut-sungutmu kepada-Nya. Sebab, apalah kami ini maka kamu bersungut-sungut kepada kami?” 16:8 Lagi kata Musa: “Jika memang TUHAN yang memberi kamu makan daging pada waktu petang dan makan roti sampai kenyang pada waktu pagi, karena TUHAN telah mendengar sungut-sungutmu yang kamu sungut-sungutkan kepada-Nya–apalah kami ini? Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada TUHAN.” 16:9 Kata Musa kepada Harun: “Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Marilah dekat ke hadapan TUHAN, sebab Ia telah mendengar sungut-sungutmu.” 16:10 Dan sedang Harun berbicara kepada segenap jemaah Israel, mereka memalingkan mukanya ke arah padang gurun–maka tampaklah kemuliaan TUHAN dalam awan. 16:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 16:12 “Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.” 16:13 Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu. 16:14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi. 16:15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu. 16:16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.” 16:17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. 16:18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya. 16:19 Musa berkata kepada mereka: “Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi.” 16:20 Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka
Setiap hari mulai dari pagi sampai sore kita bergumul untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kita harus bekerja kadang sampai larut malam untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita harus mendapatkan uang untuk hidup. Wajar saja jika ada percakapan di antara kita tentang bagaimana cara kita bisa memperoleh lebih banyak uang untuk menunjang kehidupan kita. Keinginan untuk mendapatkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah wajar dan lumrah. Mungkin hanya orang-orang tidak waras yang tidak tertarik dengan uang. Pada umumnya kita semua tertarik pada uang, termasuk juga saya.
Tulisan ini akan dimulai dengan kesadaran bahwa uang adalah merupakan bagian dari realita hidup manusia. Kita makan, membeli pakaian, membangun rumah, dan lain-lain harus mengeluarkan uang. Bahkan, kadang-kadang ke kamar kecil saja kita harus membayar. Duduk di gereja pun kita dimintai uang persembahan. Oleh karena itu, sangat naif jika kita berkata bahwa kita tidak mau berurusan dengan uang. Kita tidak bisa memilih mau berurusan dengan uang atau tidak. Sebaliknya, kita akan selalu berurusan dengan uang karena kita ini tidak mungkin lari dan menghindar dari urusan uang, maka pertanyaannya adalah dengan sikap seperti apakah kita berurusan dengan uang di dalam kaitannya dengan kebutuhan hidup?
Pada dasarnya uang berfungsi sebagai alat tukar untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Namun, dewasa ini uang mempunyai fungsi yang lain.
Uang bukan sekadar sebagai alat jual beli dan sebagai alat untuk pembeli kebutuhan hidup, tetapi uang telah menjadi sarana untuk memuaskan ego kita. Uang dipakai untuk memuaskan segala keinginan dan segala kemauan kita. Sebagai alat untuk pembeli kebutuhan hidup, uang memiliki batas-batasnya. Setiap bulan kita bisa menghitung secara jujur dan cermat seberapa banyak uang yang kita butuhkan untuk hidup. Kita bisa menghitungnya. Akan tetapi, ketika uang sudah menjadi alat pemuas ego, maka kebutuhan kita akan uang itu tidak akan pernah mengenal kata cukup. Kalau kita mau jujur terhadap diri kita dan benar-benar menghitung berapa uang yang sebenarnya kita butuhkan untuk menjalani hidup ini, maka kita bisa menghitung jumlahnya, tetapi apabila kita menggunakan uang untuk memenuhi dan memuaskan ego kita, maka seberapa pun banyaknya uang yang kita butuhkan, pasti tidaklah cukup. Jadi kita ini bergumul dengan dua fungsi uang: apakah uang berperan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup kita ataukah uang kita gunakan sebagai alat untuk pemuas ego kita.
Sekitar tiga atau empat tahun yang lalu saya membeli sebuah komputer seharga satu juta rupiah. Harga ini terbilang murah karena saya membeli komputer kepunyaan saudara saya sendiri. Selama ini komputer itu berfungsi dengan baik dan saya rasakan cukup karena pekerjaan saya 90 persen berhubungan dengan ketik-mengetik sehingga tidak memerlukan komputer yang terlalu canggih. Namun, setelah saya dan teman-teman pergi ke sebuah pameran komputer dan melihat berbagai jenis komputer yang baru berikut perkembangan-perkembangannya yang paling modern; tiba-tiba saya merasa kurang nyaman. Apalagi ketika teman saya berkata, “Komputermu masih yang dulu? Memorinya berapa sih? Cuma 64, kan? Sekarang zamannya 512. Hard-disk-nya berapa giga?” Semakin banyak pertanyaannya, semakin tidak nyaman saya. Setelah melihat-lihat dan berkeliling-keliling, saya merasa punya kebutuhan yang baru. Saya merasa perlu membeli komputer baru. Akan tetapi, ketika malam tiba, saya mempunyai kesempatan untuk merenung dan bersikap jujur terhadap diri sendiri. Saya melihat kembali dan mempertimbangkan, sungguhkah saya membutuhkan komputer baru? Untuk sekadar memenuhi kebutuhan saya dalam ketik-mengetik, komputer saya yang lama sudah cukup. Namun, untuk memuaskan ego saya, pasti komputer itu terasa kurang memadai.
Begitu juga dengan hal pakaian. Dengan uang sebesar Rp 60.000-Rp 70.000 kita bisa membeli pakaian yang cukup baik dan nyaman. Akan tetapi, jika kita mau membeli pakaian untuk memuaskan ego kita, jangankan uang 60.000, Rp 600.000-Rp 700.000 pun rasanya kurang. Akan tetapi, baju seharga Rp 60.000 mungkin tidak akan memuaskan ego kita karena itu bukan baju bermerek terkenal. Sebaliknya, jika kita mengenakan baju bermerek terkenal dan mahal harganya serta bergengsi, itu akan memberi kepuasan pada ego kita. Demikian pula dengan makanan. Makanan seharga Rp 7.000 mungkin sudah cukup sehat dan memadai, tetapi pasti tidak akan memuaskan ego kita. Rasanya lebih bergengsi jika kita makan di McD, Sizler, atau di Chicken Harzt daripada jika kita makan di warung si Mbok Bariah alias warung tegal.
Mari kita jujur terhadap diri kita sekarang. Sebenarnya kita semua bisa menghitung berapa besar uang yang kita butuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Jika kita menggunakan uang agar kita bisa cukup makan, cukup berpakaian secara layak, dan cukup menikmati hal-hal lain pada skala yang wajar, kita bisa menghitung berapa banyak uang yang kita perlukan. Akan tetapi, ketika kita menjadikan uang sebagai alat pemuas ego, kita tidak akan pernah mengenal kata cukup.
Saya mengatakan semua ini karena kita hendak membicarakan bagaimana Tuhan memenuhi kebutuhan kita sebagai umat-Nya. Sebelum kita mendakwa Tuhan dengan bertanya, “Mengapa Engkau tidak memenuhi kebutuhan hidup saya?” Marilah kita memeriksa diri dulu dengan jujur, apakah yang kita minta dan yang kita doakan kepada Tuhan adalah uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita atau uang untuk memuaskan ego kita yang tanpa batas itu? Kita harus mengakui bahwa kadang kala ketika kita berdoa, “Tuhan saya perlu ini dan saya memerlukan itu lebih banyak” maka sering kali itu kita lakukan hanya untuk memuaskan ego kita. Ketika Tuhan tidak memberikannya, kita menjadi marah dan menuduh bahwa Tuhan tidak memenuhi kebutuhan kita. Padahal, Tuhan tahu dengan pasti dan hati kecil kita pun sebenarnya tahu dengan pasti bahwa kebutuhan kita pasti sudah terpenuhi. Akan tetapi, kita merindukan lebih banyak lagi, lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi hanya untuk memuaskan ego kita.
Bagian Alkitab yang kita baca tadi mengisahkan orang Israel yang kali ini betul-betul bergumul dengan kebutuhan hidup. Kali ini mereka bukan berhadapan dengan soal ego lagi, tetapi dengan soal kebutuhan hidup mendasar, yaitu soal makanan. Mereka sudah berjalan di padang gurun selama dua bulan dan persediaan makanan pasti sudah habis. Dalam kondisi lapar, selain bisa mengantuk, orang juga bisa merasa lebih emosional dan kehilangan kendali atas dirinya. Apalagi dalam sebuah kumpulan besar, seperti orang Israel itu. Pastilah begitu banyak orang yang kelaparan dan pasti perasaan mereka itu sudah mulai meluap-luap karena marah. Itulah sebabnya ketika mereka tidak mendapatkan makanan, mereka berkata, “Ah sekiranya kami dulu di Mesir, kami tidak akan mati seperti ini. Di Mesir kami bisa makan semuanya, tetapi sekarang kami tidak mempunyai makanan.” Di dalam kondisi kebutuhan hidup yang mendesak, manusia bisa tidak rasional lagi. Bukankah orang Israel yang dulu pernah berdoa, “Tuhan, bebaskan kami dari penjajahan?” Dulu mereka pernah berteriak kepada Tuhan agar Tuhan melepaskan mereka dan membiarkan mereka hidup dengan bebas. Ketika Tuhan sudah membebaskan mereka dan memimpin mereka keluar sekarang mereka berteriak-teriak dan menuduh serta mendakwa Tuhan mau membunuh mereka dengan kelaparan.
Di sini kita bisa berbicara tentang sifat manusia. Jika manusia itu memiliki kebutuhan yang mendesak dan begitu mencekam, manusia itu bisa kehilangan akal sehatnya.
Pada saat seperti itu, manusia bisa mengabaikan semua pertimbangan moral sehingga tidaklah mengherankan jika ada orang yang didesak oleh kebutuhan hidup, ia lalu mencuri, merampok, dan melakukan hal-hal yang jahat. Ternyata manusia jika begitu terdesak dan terpojok oleh pergumulan akan kebutuhan hidupnya, bisa melakukan hal-hal yang selama ini tidak terbayangkan sebelumnya.
Di dalam situasi yang mendesak seperti inilah Tuhan mengerti bahwa orang Israel tidak bisa dibiarkan kelaparan. Tuhan memberikan sesuatu kepada orang Israel, yaitu manna dan burung puyuh. Burung puyuh untuk memenuhi keinginan mereka akan daging dan manna untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari orang Israel. Jadi, Tuhan memahami betapa sulitnya hidup orang Israel. Ayat ke-4 mengatakan bahwa ketika Tuhan memberikan manna, Tuhan tidak hanya memberikan makanan kemudian selesailah persoalan kebutuhan hidup itu. Tidak! Tuhan mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu supaya bisa makan.” Kemudian dijelaskan di bagian akhir, “supaya mereka Kucoba apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.”
Dengan kata lain, ketika Tuhan memenuhi kebutuhan mereka yang utama soal makanan, Tuhan juga hendak mendidik mereka. Manna yang diberikan adalah sebuah sarana yang dipakai Tuhan untuk menguji orang Israel apakah ketika seluruh kebutuhan hidup orang Israel dipenuhi oleh Tuhan sehingga setelah mereka bisa makan, mereka menghujat Tuhan atau tidak. Tuhan ingin tahu apakah mereka taat atau tidak. Orang Israel melihat kebutuhannya hanya seputar soal makan saja. Akan tetapi, Tuhan melihat lebih dari itu. Bagi Tuhan ini adalah soal pembentukan karakter hidup. Tuhan memberikan mereka makanan dan juga mengajar mereka. Hal ini terbukti ketika Tuhan memberikan manna, Ia juga memberikan perintah bahwa pada hari Sabat, manna itu janganlah diambil. Namun, orang Israel tetap saja melanggar perintah tersebut. Tuhan sudah memberikan perintah bahwa mereka harus mengambil manna seperlunya setiap hari, tetapi orang Israel mengambil lebih banyak sehingga manna itu busuk. Orang Israel melakukan hal yang jahat di mata Tuhan.
Banyak orang beralasan bahwa mereka berada dalam keadaan kepepet dan terdesak ketika mereka melakukan hal yang jahat. Katanya, “Saya tidak ada jalan keluar lagi selain melakukan hal ini.” Bukankan itu yang sering kita dengar dan baca di koran? Sudah kepepet dan tidak punya uang lagi, maka mereka terpaksa melakukan kejahatan. Meskipun demikian, pengalaman orang Israel mengajarkan bahwa memang kebutuhan hidup yang mendesak bisa memicu orang untuk melakukan hal yang jahat, tetapi tunggu dulu: masalah karakter adalah jauh lebih penting. Ketika bangsa Israel mendapati bahwa kebutuhan hidup mereka sudah terpenuhi seharusnya mereka sudah bisa tenang dan bisa taat kepada Tuhan. Akan tetapi, kenyataannya mereka tidak begitu. Mereka tetap melakukan hal yang jahat di mata Tuhan dan tetap memberontak melawan Tuhan. Jadi, tampaknya bukan sekadar karena kekurangan kebutuhan hidup maka kita berhak melakukan yang jahat. Tampaknya karena karakter yang kurang terbentuk, maka kekurangan kebutuhan hidup menyebabkan manusia melakukan hal yang jahat.
Kita sering mendengar orang berkata, “Dulu, sewaktu belum mempunyai apa-apa, keluarga kami rukun sekali, tetapi setelah tiba-tiba kami mendapatkan suatu warisan yang sangat besar, mulai berkelahilah kami.” Betapa banyaknya gereja yang rukun dan sejahtera meskipun dalam keadaan pas-pasan, namun tiba-tiba penuh dengan huru-hara dan pertikaian yang tajam setelah medapatkan bantuan dalam jumlah yang sangat besar.
Inilah dilema kehidupan manusia. Ketika kurang, kita berteriak-teriak kepada Tuhan dan minta Tuhan mencukupi kebutuhan kita. Akan tetapi, ketika semua sudah ada dan tercukupi, akankah kita berhenti dan merasa puas? Tidak! Kita akan meminta lebih banyak lagi, lebih banyak lagi, dan lebih banyak lagi! Pada saat seperti itulah uang bukan menjadi sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi menjadi sarana untuk memuaskan ego yang tentu saja tidak akan mengenal kata cukup. Lalu kita akan memakai apa pun dalam diri kita sebagai sarana untuk mendapatkan lebih banyak. Demi kepuasan ego kita, kita akan mengabaikan hal-hal yang kita tahu adalah kehendak Tuhan. Di sini tampaknya Tuhan melihat dan memahami bahwa pergumulan manusia yang utama bisa jadi memang bukan soal uang: soal ada atau tidak adanya uang. Ada atau tidak ada uang tidak akan menjadi masalah besar kalau kita mempunyai pengendalian diri.
Seperti yang Tuhan ajarkan lewat peristiwa manna itu, yaitu meskipun manna itu turun setiap hari, orang Israel tidak boleh menimbun dan tidak boleh serakah. Tuhan ingin mengajar mereka untuk mengendalikan diri. Ambil secukupnya. Besok ambil lagi secukupnya dan tidak perlu membangun gudang yang besar. Tuhan memerintahkan demikian karena melihat bahwa masalahnya bukan pada kurangnya makanan, tetapi pada kurangnya pengendalian di dalam diri orang Israel. Tuhan ingin mengajar tentang pengendalian diri melalui berkat manna. Akan tetapi, orang Israel gagal dalam ujian itu, bukan? Diperintahkan untuk mengambil secukupnya, namun mereka mengambil banyak sehingga manna itu berulat dan membusuk. Diperintahkan hari Sabat adalah hari khusus untuk Tuhan, tetapi mereka tetap bekerja mengambil manna dan ternyata mereka tidak mendapatkan manna pada hari itu.
Tuhan memenuhi kebutuhan umat-Nya. Tuhan tidak bertanggung jawab untuk memuaskan ego umat-Nya.
Kita sadari dan pahami bahwa Tuhan tidak sekadar puas memenuhi kebutuhan kita, tetapi ia ingin mendapatkan hati kita. Ia ingin mengajar kita tentang penguasaan diri. Jika kita berkata bahwa saat ini kita sedang kesulitan keuangan, mari kita periksa dulu hati kita: apakah kita memang ingin memenuhi kebutuhan kita atau memuaskan ego kita? Sungguhkah kita menjadikan uang untuk memenuhi kebutuhan kita atau kita sebenarnya telah menjadikan uang untuk memanjakan ego kita? Sebelum kita berbicara ke sana ke mari bahwa kita kekurangan uang, mari kita lihat daftar kebutuhan hidup kita. Apakah daftar itu memuat kebutuhan hidup kita ataukah di dalamnya terselip hal-hal yang memuaskan ego kita? Yang akan Tuhan penuhi adalah kebutuhan hidup kita, bukan kepuasan ego kita.
Mungkin ada yang berkata, “Pak, memang sulit. Saya sudah mencoba hidup sesederhana mungkin, tetapi harga bahan bakar minyak naik, sedangkan pendapatan saya tetap. Saya sudah mengikat pinggang erat-erat, tetapi masih saja kekurangan.” Kalau memang inilah situasi sulit kita saat ini, marilah kita datang dengan keberanian di hadapan Tuhan untuk meminta berkat-Nya. Kita bisa mengatakan, “Tuhan, Engkau pernah berfirman akan memelihara burung di udara dan bahwa bunga di padang akan Kau dandani. Sekarang kami membutuhkan berkat-Mu”. Kita boleh datang dan meminta serta memohon seperti itu. Namun, satu hal yang perlu kita ingat, janganlah pikiran kita berkutat dengan keinginan untuk terus meminta saja, tetapi putarlah otak mencari peluang yang baru. Tuhan memang pernah berkata bahwa Ia akan memelihara burung di udara, tetapi toh burung itu harus terbang begitu jauh ke sana ke mari. Burung itu harus mengepakkan sayapnya untuk mencari makanan. Walaupun Tuhan berjanji akan memelihara burung di udara, tetapi Tuhan tidak menjatuhkan makanan ke sarang burung itu. Burung itu tetap harus berupaya untuk mencari kehidupannya.
Kita sering merasa tidak ada jalan keluar, tetapi biarlah kita memohon agar tangan tidak berpangku tangan begitu saja. Biarlah kita tetap bersemangat, walau berada dalam situasi sulit seperti ini. Ketika ada penyerahan diri yang jujur dari kita dengan mengatakan bahwa kita memang berada dalam keadaan berkekurangan, biarlah kita terus bekerja, maka dalam situasi seperti inilah kita akan merasakan Tuhan memenuhi kebutuhan kita. Di luar rencana kita, Ia akan mencurahkan berkat-Nya di dalam hidup kita sehingga kita tidak berkekurangan, walaupun mungkin kita tidak akan berkelimpahan secara berlebihan. Memang ada misteri di dalam cara Tuhan memenuhi kebutuhan kita dan cara Tuhan itu tidak sama untuk setiap orang. Ada misteri bagaimana Tuhan bisa bekerja memberikan berkat atau rezeki. Semua orang punya cerita mengenai hal itu, tetapi yang paling utama adalah kesadaran kita untuk mau memeriksa diri dan berkata jujur kepada diri kita sendiri apakah kita menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, ataukah sekadar memuaskan ego kita. Ketika kita dengan jujur mengakui bahwa kita memang memerlukan sesuatu, maka kita layak untuk meminta kepada Tuhan. Jika kita meminta, dengan cara-Nya dan misteri-Nya sendiri, Tuhan akan memenuhi kebutuhan umat-Nya.

