Daud dan Yonatan: Sahabat Sejati
1Sam 18-20
Pdt. Agus Surjanto
Allah menciptakan Adam dan Hawa sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Tanpa orang lain manusia akan sangat sulit untuk bertahan hidup. Dan dari sekian banyak orang lain yang dibutuhkan oleh manusia itu, maka sahabat adalah orang yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Alkitab mengatakan bahwa sahabat adalah saudara dalam kesukaran (Ams 17:17). Dari ayat-ayat berikut ini (Hak 1:24-25; 2Sam 15:31-32; Ams 17:9; Luk 15:9; Yoh 15:13-15) maka paling sedikit ada 3 komponen penting dalam persahabatan, yaitu kepercayaan, komitmen, dan keintiman.
Ketiga komponen ini harus dalam keadaan seimbang. Kalau tidak maka akan ada kesulitan dalam persahabatan itu. Misalnya, kepercayaan yang kita berikan pada sahabat kita secara otomatis akan menuntut komitmen dari sahabat kita tersebut. Kepercayaan menyangkut soal rasio, komitmen menyangkut kehendak dan keintiman menyangkut emosi. Berarti dalam persahabatan sejati, seperti yang dimaksudkan oleh Alkitab, ada tuntutan untuk menjalin persahabatan kita dengan seluruh keberadaan diri kita (rasio, emosi dan kehendak). Tetapi menjalin persahatan dengan cara yang seperti itu tidak ada dalam natur manusia yang sudah jatuh dalam dosa. Kasih persahabatan (filia) tidak pernah akan mampu membuat manusia mengasihi sahabatnya dengan seluruh keberadaan dirinya, karena kasih filia terutama hanya berpusat pada emosi manusia, ditambah kepercayaan yang terbatas dan sedikit komitmen.
Dan kita tahu bahwa kasih yang dari manusia, termasuk kasih filia, adalah selalu kasih yang punya kecenderungan manipulatif, yang melakukan segala sesuatu sebenarnya hanya untuk kepentingan diri sendiri, walaupun mungkin tersamar dengan rapi. Di dalam istilah psikologi ada istilah aktualisasi diri (Maslow) yang pada pokoknya adalah kebutuhan psikologis untuk menempatkan diri pada posisi paling tinggi dari kebutuhan manusia. Walaupun dalam praktek aktualisasi diri banyak berdampak positif terhadap orang lain, tetapi tetap kepuasan tertinggi diperoleh oleh diri yang berhasil mengaktualisasikan dirinya. Persahabatan sejati membutuhkan campur tangan Allah yang memberikan kasih agape kepada dua sahabat sejati tersebut. Dengan modal kasih yang dari sorga itulah maka persahabatan sejati dimungkinkan terjadi.
Persahabatan antara Daud dan Yonatan adalah persahabatan yang luar biasa dan menjadi model yang paling sempurna dalam masalah persahabatan. Dikatakan bahwa ketika mereka berjumpa bertautlah hati mereka dan sejak itu mereka saling mengasihi satu sama lain (1Sam 18:1-4). Daud mengasihi Yonatan dengan seluruh keberadaan dirinya, demikian juga Yonatan terhadap Daud. Bahwa Daud dan Yonatan saling mempercayai 100% kelihatan dalam peristiwa-peristiwa yang mereka alami bersama. Ketika Daud terancam akan dibunuh Saul, maka Yonatan melakukan pembelaan dengan segenap hatinya (1Sam 19:4-5) dan Daud karena percaya penuh kepada Yonatan, maka ia mau keluar menemui Saul (1Sam 19:1-7). Daud mengambil resiko yang besar karena dia tahu bahwa Saul ingin membunuh dia sehingga dia harus bersembunyi.
Tanpa kepercayaan 100% terhadap Yonatan, tidak mungkin Daud berani keluar menemui Saul. Harus diingat bahwa Yonatan adalah pewaris takhta Saul. Bisa saja demi takhta itu Yonatan sengaja menjebak Daud untuk keluar dan akhirnya dibunuh oleh ayahnya. Ada cukup banyak alasan dapat dikemukakan Yonatan yang dapat membuat dia tetap bersih atas pembunuhan Daud, andaikata niat Yonatan memang mau menjebak Daud. Tetapi Daud percaya kepada Yonatan 100% dan ternyata kepercayaan itu tidak sia-sia. Betapa tajam dan benar pandangan Daud terhadap persahabatannya dengan Yonatan. Demikian juga Yonatan berani mempercayakan keturunannya kepada pemeliharaan Daud karena dia mempercayai Daud dan yakin bahwa Daud akan memelihara keturunannya setelah menjadi raja kelak (1Sam 20:14-17). Secara logis, anak atau keturunan dari raja terdahulu bisa menjadi ancaman yang cukup serius bagi raja yang baru. Tetapi Daud tetap melakukan permintaan Yonatan dengan segenap hati. Mereka berdua bisa sehati seperti itu karena mereka mau meletakkan kehendak Allah di atas segala-galanya.
Kehendak Allah adalah kehendak yang harus ditaati, yang harus dinomorsatukan, walaupun mungkin dilihat dari sudut pandang manusia kelihatannya “merugikan” salah satu pihak yang bersahabat itu. Persahabatan yang sejati menjadi bermakna luar biasa ketika dipimpin oleh kehendak Tuhan. Daud dan Yonatan bisa sehati dan sepikir karena mereka berdua berani mengesampingkan kepentingan pribadi masing-masing dan mereka berdua dengan sehati mengedepankan kehendak Allah dengan segenap hati. Yonatan tahu bahwa Allah telah memilih Daud menjadi raja atas Israel. Dan karena tahu itu kehendak Allah maka Yonatan rela menyerahkan mahkota itu kepada Daud. Yonatan percaya penuh bahwa kehendak Allah adalah yang berbaik untuk mereka berdua dan juga untuk keturunan mereka. Dia tidak merasa “rugi” menyerahkan takhta kerajaan kepada Daud, karena Yonatan tahu bahwa memang itulah kehendak Allah. Betapa pentingnya peran Allah dalam persahabatan sejati ini.
Daud dan Yonatan juga memiliki komitmen yang luar biasa. Bukan hanya karena mereka sahabat, maka mereka punya komitmen yang hebat. Tetapi karena mereka mau menyertakan Allah dalam komitmen mereka sehingga kepentingan Allah menjadi fokus utama dalam persahabatan mereka berdua (1Sam 20:41-43). Sebagai sahabat, Yonatan dan Daud tentu saja ingin sering berjumpa dan sering berbagi keintiman, akan tetapi ketika harus ada suatu keputusan yang akan menjauhkan mereka berdua, maka mereka sepakat untuk berpisah satu sama lain. Walaupun dengan berat hati, mereka mengambil suatu komitmen untuk berpisah. Suatu keputusan yang tidak mudah bahwa dua sahabat terpaksa harus berpisah. Pertemuan itu mungkin itu adalah pertemuan mereka yang terakhir. Mereka berdua sadar betul bahwa setelah itu tidak mungkin lagi mereka akan berjumpa, kecuali membahayakan jiwa Daud, karena Saul sudah begitu marah kepada Daud. Bahkan gara-gara Yonatan membela Daud, hampir saja dia terbunuh di tangan Saul sendiri (1Sam 20:32-33). Berarti kemarahan Saul sudah sampai pada puncaknya, sehingga dia lupa diri bahwa Yonatan adalah anaknya sendiri. Seorang sahabat sejati yang mengedepankan rencana Allah memang seharusnya berani mengambil komitmen dan keputusan-keputusan yang sulit.
Dalam kacamata manusia, keputusan Daud dan Yonatan untuk berpisah barangkali akan dilihat sebagai keputusan yang tidak tepat dalam persahabatan. Banyak orang berpikir bahwa mereka tidak perlu berpisah seperti itu. Bukankah masih banyak kesempatan mereka untuk dapat saling memberi kabar satu dengan yang lain, atau menanyakan keberadaan masing-masing? Memang mungkin saja kesempatan-kesempatan seperti itu bisa ada, akan tetapi mereka berdua mengambil keputusan untuk tidak melakukan hal itu, karena hal itu akan sangat berbahaya bagi mereka berdua. Kalau Saul tahu bahwa Yonatan masih berhubungan dengan Daud, mungkin saja dalam kemarahannya ia mencoba membunuh Yonatan lagi seperti yang pernah dilakukannya. Atau bisa saja melalui komunikasi Daud dan Yonatan akhirnya Saul tahu keberadaan Daud dan tentu saja itu akan membahayakan keselamatan Daud. Alkitab mencatat bahwa Saul terus mencari tempat persembunyian Daud (1Sam 23:1-14). Ketika Yonatan pernah mengambil suatu kesempatan untuk menjumpai Daud, maka ternyata mata-mata Saul mengetahui hal itu dan tindakan Yonatan itu nyaris membuat Daud tertangkap. Hanya karena campur tangan Allah maka Daud dapat terlepas dari tangan Saul (1Sam 23:15-28).
Setelah itu dua kali Daud pernah terancam karena Saul tahu tempat persembunyian Daud (1Sam 24 & 26). Komitmen Daud terhadap Yonatan bahwa ia akan memelihara keturunan Yonatan, Mefiboset, juga pada akhirnya dilaksanakan oleh Daud (2Sam 9). Dan pemeliharaan itu dilakukan Daud setelah terjadinya peperangan antara Daud dengan keturunan Saul yang lain, yaitu Isyboset, yang berarti adalah paman Mefiboset. Cukup masuk akal kalau Daud berpikir bahwa Mefiboset juga bisa menjadi ancaman bagi pemerintahan Daud. Bahwa kemungkinan itu dapat terjadi terlihat ketika Ziba, hamba Mefiboset, memfitnah Mefiboset di hadapan Daud dengan menceritakan bahwa Mefiboset mau memberontak untuk menjadi raja (2Sam 16:1-4). Walaupun sempat termakan oleh fitnah itu, akan tetapi pada akhirnya Daud mengetahui kejadian yang sebenarnya dan menerima Mefiboset kembali. Ini semua tentu karena Daud mempunyai komitmen persahabatan dengan Yonatan. Bahkan ketika nyawa Mefiboset sebagai keturunan Saul terancam oleh orang Gibeon, maka Daud melindunginya sehingga nyawa Mefiboset selamat (2Sam 21:17). Memang persahabatan sejati seharusnya mempunyai komitmen yang seperti itu.
Demikian juga keintiman antara Daud dan Yonatan adalah keintiman yang berdasarkan kepada kasih agape. Masing-masing pihak tidak mau mengambil keuntungan emosional dari pihak lain. Yang diketengahkan adalah justru pengorbanan kepada pihak lain. Inilah keintiman sejati yang tidak memanipulasi keintiman pihak lain untuk kepentingan diri sendiri. Yang selalu dirasakan dan dipikirkan adalah apa yang dapat saya lakukan untuk sahabat saya (1Sam 20:4). Ingin mengerti perasaan dan pikiran sahabatnya, apa yang diharapkan, apa yang dirindukan, apa yang digumulkan. Yonatan sadar bahwa bukan dia yang akan duduk di takhta Israel, tetapi Daud. Dan sebagai ayah yang baik, maka Yonatan menceritakan pergumulannya dan harapannya akan masalah anak-anaknya kepada Daud. Dia tahu bahwa kalau Daud mau berjanji menjaga keturunannya, maka hal itu pasti akan dipenuhi oleh Daud. Dengan menyerahkan keturunannya ke tangan Daud, maka Yonatan sepertinya memberikan jaminan bahwa dia tidak akan berambisi menjadi raja menggantikan ayahnya. Dia rela Daud menjadi raja Israel. Inilah yang membuat Daud ingat akan keturunan Yonatan ketika ia sudah menjadi raja dan kemudian mencari tahu apakah masih ada yang dapat dia lakukan untuk keluarga Yonatan.
Ketika tahu bahwa masih ada keturunan Yonatan yang masih hidup, maka dengan segera Daud mencarinya kemudian mengambil Mefiboset dan memeliharanya seperti anak raja (2Sam 9). Inilah keintiman berdasarkan kasih yang berpusat pada orang lain, bukan pada diri sendiri. Daud mengerti benar isi hati Yonatan. Dan keintiman yang Daud tunjukkan kepada Yonatan melalui Mefiboset tidak sia-sia. Walaupun Daud sempat tertipu oleh hamba Saul yaitu Ziba yang juga menjadi hamba Mefiboset (2Sam 16:1-4), akan tetapi karena kasihnya kepada Yonatan, maka Daud akhirnya kembali mempercayai Mefiboset. Kasih dari Daud inilah yang dirasakan oleh Mefiboset, sehingga dia berkabung demi Daud (2Sam 19:24). Bahkan dia dengan rela hati menyerahkan ladangnya kepada Ziba yang telah menipu dia karena Daud sudah pulang dengan selamat (2Sam 19:30).
Demi Daud Mefiboset rela kehilangan hampir semua kekayaannya. Mefiboset tahu bahwa kalau dia menggugat Ziba yang telah mengambil tanahnya, maka yang akan sulit adalah Daud. Karena ketika Daud ditipu oleh Ziba yang mengabarkan bahwa Mefiboset mengkhianati Daud, maka Daud mengambil keputusan untuk menyerahkan tanah Mefiboset kepada Ziba. Perkataan seorang raja harus dapat dipegang. Walaupun Daud pada akhirnya tahu bahwa dia ditipu oleh Ziba akan tetapi apa yang sudah dijanjikannya kepada Ziba tidak dapat ditarik kembali, karena diucapkan di hadapan banyak saksi. Perkara Mefiboset dan Ziba menjadi sulit karena waktu peristiwa pembicaraan antara Ziba dengan Mefiboset tidak ada saksi sehingga sangat sulit dibuktikan siapa yang berbohong. Dalam situasi seperti itu tentu saja kalau Mefiboset menggugat, yang sangat sulit adalah Daud. Tetapi Mefiboset ternyata mengesampingkan kepentingannya demi kasihnya kepada Daud. Dengan kasih agape seperti itu maka keintiman sejati baru bisa tercapai.
Tanpa kasih agape maka yang namanya keintiman akan dirusak oleh kepentingan diri sendiri. Keintiman yang timbul bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Seringkali sebuah persahabatan terpecah dan ternoda karena emosi kita dimanipulir oleh “sahabat” kita demi kepentingan pribadinya. Betapa seringnya kita mendengar orang Kristen tertipu karena tergerak emosinya oleh belas kasihan. Penyalah gunaan keintiman emosional telah dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai sahabat, sebagai saudara seiman. Keintiman emosional yang tidak ditopang oleh kasih agape akan mudah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Itulah yang akan membuat “persahabatan” itu akhirnya retak.
Dari peristiwa Daud dan Yonatan, kita dapat belajar bahwa persahabatan sejati adalah ketika keduanya mau mengikut sertakan Allah dalam persahabatan mereka, menomor satukan kehendak Tuhan dan mencari kehendak Allah dalam persahabatan itu. Setiap relasi yang mengiku tsertakan Allah akan menjadi suatu relasi yang sangat indah karena di situlah kasih agape dari sorga memperoleh tempatnya. Kalau Allah ditinggikan maka kasih dari sorga itu akan mengalir turun. Benar sekali yang dikatakan berulangkali oleh Yonatan kepada Daud bahwa Allah selalu ada di antara mereka berdua (1Sam 20:23, 42).
Beberapa pertanyaan untuk refleksi :
- Sahabat yang sejati diharapkan oleh semua orang. Menurut anda bagaimana kita bisa mengenal orang tersebut sebagai sahabat yang sejati?
- Kita juga ingin bisa menjadi sahabat sejati bagi orang lain. Kira-kira tindakan atau hal apa yang harus kita tunjukkan kepada orang tersebut sehingga orang tersebut yakin bahwa kita bisa menjadi sahabat yang sejati.
- Sahabat sejati bagaimanapun adalah manusia yang penuh dengan kelemahan. Karena itu sahabat kita yang sejati mungkin sekali membuat kesalahan terhadap kita. Bagaimana sikap kita apabila sahabat itu membuat kesalahan kepada kita?
- Kita juga adalah manusia berdosa yang pasti akan membuat kesalahan terhadap sahabat kita. Apa yang harus kita lakukan terhadap sahabat kita apabila kitalah yang membuat kesalahan kepada mereka.
- Menurut anda, bagaimana kita dapat meningkatkan persahabatan kita makin baik?
- Bagaimana anda dapat menjadi sahabat sejati bagi orang serumah? Apakah anda punya pengalaman yang dapat dibagikan sehingga terjadi persahabatan sejati dalam rumah tangga anda?

