Dosa-dosa Pontius Pilatus
Yohanes 19:1-6
oleh: Jenny Wongka †
Hari itu tepat sama seperti hari-hari sebelumnya bagi Pontius Pilatus. Ia menantikan tugas-tugas rutin di kantornya. Beberapa jam harus diluangkan dalam menangani persidangan pagi hari menjelang tibanya waktu makan siang. Setelah itu, menjelang pulang istirahat, ia harus sibuk menyiapkan laporan kerjanya untuk pemerintah Roma. Pada malam hari, kadang diselingi dengan jamuan makan malam tradisional para petinggi Roma, yang dimeriahkan oleh musik dan hiburan-hiburan lain. Bagi Pilatus, pagi ini mungkin sama dengan pagi-pagi sebelumnya, namun sungguh ia tidak sadar sepenuhnya betapa pagi ini merupakan suatu pagi yang sangat menentukan bagi dirinya.
Pilatus berdiri berhadapan dengan Yesus Kristus, Anak Allah,
Ia telah membuat satu keputusan besar dalam hidupnya,
Ia telah menjual kehormatan dirinya dan menandai dirinya
sendiri dengan predikat: a compromiser and a coward!
Selama kira-kira 12 jam Pilatus tampil di layar persidangan.
Pada beberapa jam itu pula dengan sangat jelas terbentang satu lukisan pergumulan diri Pilatus, kelemahan diri serta kehancuran karakter seorang pemimpin. Memang ia tampil dalam beberapa jam saja, namun justru telah memerankan satu bagian yang sangat penting dalam peristiwa penyaliban Tuhan Yesus.
Pilatus akan melakonkan perannya sekali lagi di hadapan kita pada hari ini. Dalam rangka memperingati Jumat Agung, marilah kita merenungkan dosa-dosa Pontius Pilatus sebagai sebuah peringatan untuk diri kita. Mari kita simak satu per satu!
Dosa Kompromis
Pilatus tahu dengan jelas bahwa Yesus tidak bersalah dan bahwa Yesus harus dibebaskan. Pilatus ingin melihat Dia dibebaskan. Ia ingin menjadi seorang hakim yang baik! Dalam relung hatinya ia ingin melakukan sesuatu hal yang baik. Namun Pilatus tahu bahwa musuh-musuh Yesus menginginkan kematian-Nya, dan ia tahu bahwa para musuh-Nya itu sangat berkuasa. Dengan hasrat untuk menyenangkan banyak orang, maka ia telah mencoba untuk berkompromi.
Pilatus mencoba untuk melakukan hal yang benar sekaligus hal yang salah. Ia telah mencoba untuk memuaskan tuntutan hati nuraninya, dan pada waktu yang sama untuk memuaskan hati para musuh Yesus. “Aku tidak akan membunuh Dia seandainya mereka tidak mendesak aku untuk melakukan hal ini!” Ia berkata, “Aku hanya ingin setengah membunuh Dia saja, aku akan menyesah Dia demi untuk memuaskan hati para musuh-Nya. Namun di sisi yang lain, aku akan menyayangkan nyawa-Nya, sehingga hati nuraniku tidak tertekan.”
Maka Pilatus menyerahkan Yesus ke tangan pasukan laskar Romawi yang berada di barak mereka. Pakaian Yesus ditanggalkan, dan cemeti Romawi yang terkenal sebagai alat cambuk berduri pada zaman itu dicambukkan pada punggung Yesus. Cambukan pada punggung itu mengakibatkan luka dan darah pun mengalir.
Para laskar itu kemudian berkata seorang dengan yang lain, “Marilah kita mengolok-olok Dia. Ia pernah berkata bahwa Ia seorang raja. Mungkinkah seorang raja tanpa jubah kebesarannya?” Kemudian mereka segera mengenakan kain ungu atas diri-Nya, mengenakan mahkota duri di atas kepala-Nya, sambil berteriak dengan nada mengejek, “Oh, inilah Raja Yahudi!” lalu sekali lagi cemeti dicambukkan pada diri-Nya.
Setelah mempermainkan dan menista Yesus, mereka segera mengembalikan Yesus kepada Pontius Pilatus. Dia berdiri di hadapan Pilatus, dengan luka-luka serta lumuran darah, penuh derita dan kesakitan. Pilatus menunjuk ke arah Yesus serta berseru kepada orang banyak, “Lihatlah orang ini!” Ia berharap, dengan memandang kondisi Yesus tersebut, mereka menjadi simpatik dan melepaskan tuntutan mereka atas kematian Yesus. Namun pandangan dan tindakannya itu malah mengobarkan tuntutan yang tegas, dan dengan suara nyaring mereka berseru, “Salibkan Dia, salibkan Dia!”
Kompromi Pilatus ternyata tidak mempan untuk melunakkan hati orang banyak. Kompromi Pilatus tidak berjalan mulus! Mungkin saja tampaknya kompromi bisa berhasil dalam waktu yang relatif singkat. Manakala dua orang terlibat dalam masalah perbedaan pendapat, kadangkala sikap sedikit berkompromi akan sangat membantu. Namun dalam area moral dan spiritual, kompromi tidak pernah atau tidak akan pernah boleh diterapkan.
Charles Pitts telah menulis sebuah buku berjudul Chaplains in Gray yang mengisahkan tentang seorang Chaplain Konferensi yang bertugas selama peperangan antara States. Sejumlah chaplain adalah orang-orang yang dijuluki “yes men”. Mereka menutup mata terhadap semua perilaku dan kehidupan para sardadu di dalam kamp. Mereka tidak ambil pusing dengan perilaku mabuk-mabukan, berjudi, mengutuk, dan umpatan para sardadu. Sikap kompromi ini hanya bertujuan untuk mendapatkan popularitas dari bawahannya. Namun hal ini tidak berlangsung lama, mereka akhirnya tidak dihargai oleh para sardadu. Akibatnya, mereka harus pulang ke rumah dan kehilangan status sebagai chaplain.
Dewasa ini pencobaan untuk berkompromi yang sangat kuat dan besar melanda dunia kita. Baik dunia bisnis, kehidupan sosial, rumah tangga, bahkan di dalam gereja dewasa ini. Kompromi tampak sangat atraktif sebab menawarkan jalan keluar yang termudah dari kesulitan kita, atau kompromi mendatangkan kepuasan untuk mencapai keinginan hati kita. Marilah kita mengingat bahwa kompromi terhadap hal prinsipiil yang tertinggi selalu berakhir dengan kehancuran dan kegagalan.
Dosa Ketidakadilan (Injustice)
Pilatus berhadapan dengan orang banyak yang menuntut kematian Yesus, dan akhirnya berkata, “Ambillah Dia dan salibkanlah Dia!” Kini, kesalahan besar telah diperagakan dalam pengadilan atas diri orang yang tidak bersalah namun justru dijatuhi hukuman. Di dalam dunia pengadilan, sejumlah orang bersalah harus membayar denda, ada yang dijebloskan ke dalam penjara, sejumlah lainnya harus menerima eksekusi, hukuman mati. Terdakwa yang terbukti bersalah akan tampak wajar bila menerima hukuman yang setimpal. Namun, yang paling lucu di sepanjang sejarah pengadilan dunia adalah hukuman salib dijatuhkan atas diri Yesus Kristus yang tanpa salah itu.
Dengan sangat jelas dan tegas Pilatus berkata,
“Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini” (Lukas 23:4).
Dengarkan sekali lagi apa dikatakan oleh Pilatus,
“Kamu telah membawa orang ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya” (Lukas 23:14).
Dengarlah apa yang Pilatus katakan kemudian,
“Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati padaNya, yang setimpal dengan hukuman mati” (Lukas 23:22).
Baiklah, Pilatus, sebenarnya engkau harus membebaskan Dia. Bukankah engkau sudah tiga kali menyatakan Dia tidak bersalah, dan tidak seharusnya dihukum mati? Hukum Roma yang engkau pelajari, yang memperlakukan setiap manusia dengan adil bukan? Sungguh, Pilatus, Yesus tidak bersalah, jadi engkau patut membebaskan Dia dari semua tuntutan orang banyak. Engkau harus segera membebaskan Dia dengan harga apa pun yang harus engkau bayar, bukan?
Namun, yang terjadi justru sebaliknya! Deklarasi ketidakbersalahan Yesus oleh Pilatus diteruskan dengan vonis mati atas diri Yesus. Pada hari itu, Pilatus duduk sebagai representatif hukum Romawi yang meninggikan semboyan: Setiap warga diperlakukan dengan adil! Justru ketidakadilan telah diperlakukan atas diri Yesus. Tatkala kita sejenak merenung: Bukankah kita akan berkata, “Sungguh tidak fair, Tuhan kita Yesus Kristus yang jelas dinyatakan tidak bersalah itu, harus dicambuk, disiksa, dan bahkan disalibkan dengan keji!”
Dosa Pengecut
Bagaimana kita menjelaskan perilaku Pilatus pada hari ini? Ada beberapa alasan untuk merenungkan: Mengapa ia gagal untuk melaksanakan keadilan yang dijunjung tinggi oleh hukum Romawi? Mengapa ia sebagai seorang abdi hukum justru menjalankan ketidakadilan hanya untuk meraih penghormatan orang banyak? Kita bisa menemukan jawaban dari teriakan orang banyak saat itu:
“Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar” (Yohanes 19:12).
Betapa teriakan itu telah menciutkan hati Pilatus. Ia tahu apa yang bakal terjadi bila ia membebaskan Yesus. Di kota Roma akan berlangsung suatu pertemuan dan sebuah laporan akan disampaikan kepada kaisar, “Kaisar yang mulia, tahukah engkau apa yang sedang terjadi di Yerusalem? Jenis pembesar apakah yang engkau tetapkan di Yerusalem itu? Ada seorang bernama Yesus telah membangun sebuah kerajaan dengan diri-Nya sebagai Raja. Dia menjadi begitu populer di sana. Orang banyak sudah membawa Dia ke hadapan Pontius Pilatus, namun Dia justru dibebaskan!”
Pilatus tahu bahwa bila hal ini terjadi, ia segera akan dipanggil ke Roma, dan jelas ia akan kehilangan kedudukan, bahkan nyawanya akan terancam. Pilihan serius terbentang di hadapan Pilatus: antara persahabatan dengan kaisar dan persahabatan dengan Yesus. Inilah saat yang menentukan bagi Pilatus.
Ia segera menentukan pilihannya. Ia memilih kaisar. Ia membelakangi dan menolak Yesus. Siapa pun yang mendengar pemberitaan Injil juga diperhadapkan pada satu pilihan yang menentukan:
Menerima keutamaan diri atau justru diri Kristus!
Diterima oleh dunia ini atau diterima oleh Allah?
Melakonkan peran sebagai pengecut, Pilatus berseru, “Apa yang harus kuperbuat dengan orang ini?” Ia menginginkan ada seseorang yang akan memberi usul untuk menangani orang ini! Namun, sesungguhnya tak seorang pun bisa mengambil keputusan untuk dirinya. Satu keputusan penting sudah diambilnya sendiri, dan hal itu pula yang terjadi pada diri Anda hari ini! Tidak ada seorang pun bisa mewakili kita untuk mengambil satu keputusan penting: Apa yang harus kita lakukan terhadap diri Yesus? Hari ini apakah Anda akan menerima atau menolak Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan atas diri Anda! Sebagai hamba Tuhan, adakah kita masih terus menyakiti hati Tuhan dengan perilaku yang buruk?
Dosa Kemunafikan
Definisi untuk seorang munafik ialah seseorang yang dikira baik namun sesungguhnya justru sebaliknya. Betapa itu merupakan suatu lukisan yang amat hidup tentang Pilatus, yang dikira tidak bersalah namun sebenarnya ia dengan sadar tahu akan kesalahannya.
Setelah menentukan vonis mati atas Yesus, ia mengambil sebuah baskom yang berisi air, berdiri di atas podium pengadilannya, mencelupkan kedua tangannya ke air, dan memperagakan pembasuhan tangan di depan banyak orang. Kemudian memercikkan sisa air pada tangannya sambil berseru kepada mereka:
“Lihatlah kini, saya sedang membasuh tangan dari seluruh proses pengadilan ini. Saya tidak menuntut orang ini harus mati. Saya sudah tiga kali menegaskan bahwa Dia tidak bersalah. Namun kalian mendesak saya untuk melakukan hukuman mati atas diri-Nya. Darah-Nya akan menuntut hati nurani kalian, dan tidak atas diri saya.”
Sesungguhnya, dengan peragaan ini Pilatus hendak menyatakan dirinya tidak bersalah. Namun, benarkah air baskom itu sanggup meniadakan noda bersalah dari jiwanya?
Ada seorang yang menulis sebuah buku berjudul Letters From Hell. Di situ digambarkan tampaklah sebuah pancuran air yang mengalir dari dunia orang yang terhilang. Di tepi pancuran air itu berdirilah seorang yang tampak sedih sebab terus-menerus gagal untuk menghilangkan noda di tangannya. Orang itu dengan sekuat tenaga mengulangi adegan pembasuhan tangannya. Tidak lama kemudian, datanglah seorang lain yang menepuk bahunya dan berkata, “Pilatus, apa yang sedang engkau lakukan di sini?” Sambil menoleh, Pilatus memperlihatkan dua telapak tangannya yang bernoda darah Yesus Kristus. Pilatus meratapi kegagalannya untuk menghilangkan noda tersebut, ia berkata, “Aku tidak sanggup meniadakan noda ini!”
Noda itu tidak mungkin dan tidak pernah mungkin hilang, Pilatus. Sampai pada kekekalan, noda pada kedua tanganmu itu tidak akan pernah hilang! Noda darah orang yang tidak bersalah itu akan terus mengikutimu!
Apakah Pilatus memetik pelajaran berharga dari kisah kebangkitan Kristus? Kita tidak tahu dengan pasti. Kitab Suci tidak mencatat hal itu untuk kita.
Namun, marilah kita renungkan: seandainya ia diperkenankan untuk berjumpa dengan Yesus setelah kebangkitan itu, mungkin dengan sangat malu dan gentar ia menyapa Yesus, “Tuan, saya tahu siapakah Engkau kini, Engkau adalah Anak Allah, Mesias yang sudah datang. Hatiku hancur oleh kebodohan yang sudah kulakukan atas diri-Mu. Saya telah menjatuhkan vonis mati bagi-Mu sehingga Engkau harus disalibkan. Sudikah Engkau mengampuni aku? Sudikah Engkau memberi belas kasihan atas diriku ini?”
Kira-kira jawaban apa yang akan diterima Pilatus? “Aku mengampuni engkau, Pilatus. Dosamu Kubasuh bersih. Aku menerima engkau ke dalam keluarga orang-orang tebusan-Ku.” Tentu saja jawaban ini akan diberikan kepada Pilatus bila ia dengan kehancuran hatinya datang ke hadapan Yesus. Yang jelas melalui pena Nabi Yesaya, Tuhan bersabda, “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya” (Yesaya 55:7).
Kristus sanggup memberikan pengampunan atas kesalahan apa pun kepada kita. Syaratnya ialah: apakah kita rela datang ke hadapan-Nya untuk mengakui kesalahan kita? Masihkah kita tega untuk melibatkan diri dalam dosa tidak jujur, mencuri yang menyayat hati Yesus? Tegakah kita meremehkan curahan darah Kristus di atas kayu salib? Apakah pengorbanan diri-Nya masih belum terasa cukup bagi kita, sehingga kita masih menikmati kehidupan yang tidak jujur itu?
Berteduhlah di hadapan Kristus, pandanglah kedua telapak tangan-Nya yang meninggalkan bekas paku, luka pada rusuk dan kedua kaki-Nya yang diderita untuk Anda dan saya.
Dengan sangat berat, dengarkanlah ajakan saya ini: Bertobat dan tinggalkan dosa yang sudah dan sedang Anda lakukan itu! Jangan mengulanginya lagi, berhentilah dari kebiasaan buruk Anda itu! Jangan biarkan kesempatan untuk memperbaiki diri Anda terlewat, dan Anda akan dicampakkan dari barisan orang-orang yang disebut sebagai rekan kerja Tuhan! Jangan biarkan pada akhirnya diri Anda ditemukan dan dijuluki Si Yudas Iskariot, pencuri ulung.

