Empat “Tidak” bagi Pekerja Tuhan
2 Korintus 4:1-6; 2 Timotius 2:15
oleh: Jenny Wongka †
Dalam dunia sekuler, kita melihat begitu ketatnya perusahaan-perusahaan menyeleksi calon pegawainya. Ada sejumlah kriteria yang dituntut oleh para manajer personalia untuk urusan kepegawaian. Para calon harus melewati banyak tes, wawancara, dan sebagainya. Dalam perikop yang kita baca ini, kita dapat menemukan empat hal yang dapat dipakai sebagai penguji bagi seorang pekerja Tuhan. Keempatnya antara lain: tidak tawar hati, tidak berlaku licik, tidak memalsukan firman Allah, dan tidak memasyhurkan diri sendiri. Empat hal ini masing-masing bisa ditinjau dari segi negatif dan positif.
Segi negatif—tidak tawar hati; segi positif—memandang pelayanan yang dipercayakan Tuhan itu sebagai belas kasihan.
Segi negatif—tidak berlaku licik; segi positif—menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan.
Segi negatif—tidak memalsukan firman Allah; segi positif—menyingkapkan kebenaran Tuhan dengan terus terang, berani menyerahkan diri untuk dipertimbangkan oleh semua orang.
Segi negatif—tidak memasyhurkan diri sendiri; segi positif—hanya memasyhurkan Yesus Kristus.
Bila mematuhi keempat hal yang dikemukakan Rasul Paulus tersebut, maka seorang pekerja Tuhan akan sanggup menjadi seorang pekerja Tuhan yang tidak usah malu, seperti yang disebutkan Paulus dalam 2 Timotius 2:15.
Mari kita simak bagian firman Tuhan ini satu per satu.
-
Tidak Tawar Hati
Dari kesaksian pengalaman pelayanan para hamba Tuhan yang banyak kita saksikan maupun dengarkan, kita bisa mengaminkan bahwa tugas penginjilan benar-benar sangat mudah menyebabkan seseorang menjadi tawar hati. Dari penyebab eksternal, misalnya, terdapat kendala yang menghadang bertubi-tubi. Ditambah lagi dengan adanya seorang rekan sepelayanan yang justru selalu berselisih pendapat atau cenderung bertolak belakang dengan cara kerja kita. Penyebab internal, misalnya, berhubungan dengan kelemahan pribadi, kurangnya karunia untuk menunjang pelayanan kita, dan seterusnya. Semua faktor ini sangat mudah menjadikan kita tawar hati.
Di tengah zaman modern ini, ada banyak hal yang bisa menyebabkan kita menjadi tawar hati, misalnya dengan adanya tantangan demi tantangan dan serangan yang menghadang kita. Paham ateisme telah memperalat kuasa politik merasuki pemikiran manusia dengan berbagai cara untuk menyerang iman anak-anak Tuhan. Akibatnya, penginjilan yang kita lakukan tidak berhasil. Di mana pun jemaat itu berada, mereka selalu menjadi kaum minoritas. Di dalam masyarakat, mereka sering mendapat kritik dan cercaan pedas. Selain itu, mereka selalu dijadikan kambing hitam untuk suatu masalah, bahkan kadangkala tidak diberi kesempatan untuk membela diri.
Bila jeli melihat kondisi jemaat dewasa ini, kita akan menemukan banyak hal yang bisa membuat kita tawar hati. Berbagai jeratan ajaran sesat telah melanda jemaat. Ironisnya, ada juga pemimpin rohani yang sangat dikagumi jemaat mulai mengalihtafsirkan kebenaran, dan hal itu menambah kekalutan kondisi jemaat. Banyak pula orang percaya yang cenderung mengasihi dunia dan jemu terhadap kebenaran Tuhan, membela diri dengan berbagai cara. Sikap seperti ini mengarahkan mata mereka pada penginjil atau pendeta, lalu selanjutnya adalah mencari-cari kesalahan. Pada umumnya, kita justru mendapati bahwa gosip yang hebat disebarluaskan oleh jemaat daripada orang yang di luar jemaat.
Bukankah semua hal ini dapat dengan mudah mengakibatkan kita sebagai pekerja Tuhan menjadi tawar hati? Namun, Rasul Paulus berkata, “Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati” (2 Korintus 4:1). Latar belakang Rasul Paulus jelas berbeda dengan latar belakang kita dewasa ini, namun kesulitan dan tantangan pelayanan pasti tetap sama. Mengapa Rasul Paulus tidak menjadi tawar hati?
Tidak lain karena ia menghargai pelayanan yang diserahkan Tuhan, kesempatan pelayanan itu dinilai sebagai suatu kemurahan Tuhan. Di tengah jemaat Korintus, ada yang meremehkan Paulus, meragukan kerasulannya, menilai kasar tutur bahasanya. Namun, Paulus tetap saja tidak meremehkan jabatannya. Menghadapi penilaian orang terhadap para hamba Tuhan sebagai orang-orang yang ber-MDS (Masa Depan Suram) bukanlah suatu masalah yang penting, sebab yang terpenting ialah apakah kita sendiri juga menilai diri sama dengan penilaian mereka. Walaupun Rasul Paulus rendah hati, ia tidak menghina diri. Walau diperhadapkan dengan berbagai kesulitan, aniaya, cambukan serta ancaman maut sekalipun, ia tetap tidak tawar hati. Jabatan pelayanan dinilai sebagai suatu kebanggaan.
-
Tidak Berlaku Licik
Berlaku licik ialah melakukan segala perbuatan tersembunyi yang memalukan, atau yang mengandung unsur tipu muslihat. Dalam bagian ini, yang diutamakan Paulus ialah tidak ditemukan adanya kelicikan dalam pelayanan kita di hadapan Allah. Bila pelayanan kita yang kelihatan secara lahiriah di depan mata orang tidak sepadan dengan kehidupan pribadi yang tidak kelihatan, inilah yang disebut perbuatan licik. Di depan jemaat umum ia sanggup memperagakan kehidupan yang hormat dan takut akan Allah, hidup saleh, dan sangat beribadah, tetapi sikap-sikap tersebut tidak ditemukan dalam kehidupan pribadinya. Sebagai seorang pekerja Tuhan, janganlah kita berlaku licik. Sebaliknya, dengan hati yang jujur dan tulus marilah kita melayani Tuhan.
Tidak berlaku licik berarti menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan. Ini bukan masalah metode atau kecakapan pekerja itu, melainkan motivasi dan hati pekerja itu sendiri. Sama seperti seorang prajurit dengan cara menembaknya yang tidak jitu, yang selalu gagal mengenai sasaran. Ia mungkin gagal menembak musuh, tetapi kesetiaannya yang selalu berdiri pada posisinya paling tidak bermanfaat, ia sudah melakukan fungsinya dengan baik. Setidaknya, musuh tahu bahwa ada orang yang siap siaga di sana, menghadangnya, bahkan menjadi ancaman bagi nyawa musuh. Masalah akan menjadi lain dan sangat kontras apabila prajurit ini adalah seorang penembak ulung, yang bukannya menembaki musuh, tetapi justru menembaki prajurit sepasukannya. Jadi, di sini tidak berbicara tentang masalah kecakapan, melainkan kesetiaan.
Sebagai pekerja-pekerja Tuhan, apa yang perlu kita perbuat agar jemaat kita bisa menghargai jabatan kita? Apakah melalui publikasi, ilmu pengetahuan, kuasa, atau segala gelar yang telah kita raih? Sama sekali bukan, melainkan hanya dengan tulus memberitakan Injil, tidak sudi berlaku licik, dengan menolak segala perbuatan tersembunyi yang sangat memalukan.
-
Tidak Memalsukan Firman Allah
Tidak memalsukan Firman Allah berarti hanya menyatakan kebenaran Tuhan, yang dengan demikian juga berarti berani menyerahkan diri untuk dipertimbangkan oleh semua orang.
Saya menemukan dua alasan mengapa seorang pekerja Tuhan dapat jatuh ke dalam perbuatan memalsukan firman Allah.
1. Sebab Ia Sendiri Tidak Mengerti Kebenaran Tuhan dengan Baik
Oh, mungkin saja menurutnya ia sudah mengerti, tetapi sesungguhnya ia hanya mengerti sedikit sehingga uraian kebenaran itu justru keliru. Seorang pekerja Tuhan, dalam konteks ini adalah penginjil, memiliki tugas utama, yakni mengabarkan Injil—kebenaran firman Allah. Jika sebagai penginjil ia justru tidak menyampaikan Injil, tidak menguraikan kebenaran Tuhan dengan jujur, melainkan mengemukakan segala teori dan filsafat manusia, maka betapa besar kerugian yang akan dialami oleh jemaat. Status tinggi seorang pekerja Tuhan di tengah sebuah jemaat tidak menjamin ketepatan dirinya di dalam menguraikan firman Allah. Jika tidak sudi membayar dengan harga mahal—seorang pekerja Tuhan tidak mau menuntut diri dalam penggalian firman Tuhan—maka dengan mudah sekali ia dapat memalsukan firman Allah. Mari kita mengoreksi diri masing-masing di hadapan Allah saat ini, sambil memohon Roh Kudus, Roh kebenaran itu untuk mengoreksi dan menuntun kita ke dalam kebenaran, sehingga kita sanggup dengan tepat menguraikan firman-Nya.
2. Sebab Ia Sendiri Mempunyai Motif Terselubung
Seorang yang tidak mengerti kebenaran Tuhan, bisa memalsukan firman Allah. Di pihak lain, seorang yang mungkin saja mengerti firman Allah dengan baik namun memiliki motif terselubung, juga dapat memalsukan firman Allah. Bila tidak ditunjang dengan kesaksian hidup pribadi yang baik, seorang penginjil dapat melakukan pelayanannya hanya dengan motivasi untuk meraih banyak uang atau popularitas. Motivasi terselubung ini cenderung membuat penginjil mengalihtafsirkan firman Allah. Ada pertimbangan pribadi darinya, yakni apakah keterusterangan dalam memberitakan firman Allah dapat mengancam keuntungan pribadi, atau mungkin akan menyinggung perasaan orang-orang yang jelas sebagai sponsor utamanya. Pertimbangan lain ialah apakah uraian kebenaran Tuhan justru akan menempelak dirinya sendiri? Ironisnya, dengan mengalihtafsirkan kebenaran Tuhan, ia berhasil membela kesalahan pribadinya, atau malah menyenangkan hati para pendengarnya.
Mengapa Rasul Paulus tidak gentar terhadap kuasa kegelapan? Sebab ia “hanya mengungkapkan kebenaran Tuhan saja!” Selain menjelaskan kebenaran firman Allah dengan segenap ketulusan hati, ia tidak menambahkan dengan motivasi terselubung lainnya. Hal ini terbukti dari ungkapan Paulus sendiri, “Dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah” (2 Korintus 4:2).
Sesungguhnya manakala kita dengan setia memberitakan firman Allah, kita akan berani menyerahkan diri untuk dipertimbangkan semua orang. Di zaman yang sudah terkontaminasi dengan kepalsuan ini, banyak orang tidak lagi berbicara dan berlaku menurut suara nurani. Kita bisa menemukan orang-orang yang dengan jelas menentang dan meremehkan kita. Namun anehnya, mereka bisa berwajah plus bermulut manis mengatakan hal yang terdengar sebaliknya. Sikap lahiriah dan batiniah saling bertentangan. Rasul Paulus dalam ayat ini berkata, “Kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.” Maksud Paulus adalah kendati orang menentang kita lewat mulut dan sikap lahiriahnya, semoga sesungguhnya dalam hatinya yang terdalam ia akan membenarkan apa yang kita katakan.
Contoh konkret untuk hal ini adalah pada diri raja Herodes, yang akhirnya memasukkan Yohanes Pembaptis ke dalam penjara. Apa yang dilakukannya jelas menentang Yohanes Pembaptis, tetapi hati nuraninya membenarkan teguran Yohanes Pembaptis itu. Mengapa hati Herodes menjadi sedih tatkala putrinya meminta kepala Yohanes Pembaptis? Bukankah ini membuktikan bahwa ia tahu Yohanhes Pembaptis sudah bertindak benar atas dirinya? Wibawa seorang pekerja Tuhan bukanlah menyebabkan orang yang dilayaninya menghormati dirinya dari sikap lahiriah saja, melainkan juga memberi respek kepadanya secara batiniah.
-
Tidak Memasyhurkan Dirinya Sendiri
Rasul Paulus berkata, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan” (2 Korintus 4:5). Dari segi pasif, seorang pekerja Tuhan tidak memasyhurkan dirinya sendiri; dari segi aktif, ia hanya memasyhurkan Yesus Kristus. Seorang penginjil yang memasyhurkan dirinya sendiri tidak dapat memasyhurkan Kristus. Sebaliknya, ia yang memasyhurkan Kristus tidak ingin memasyhurkan dirinya sendiri.
Sayang sekali, orang-orang pada zaman kita ini selain cenderung menilai orang lain dari sudut lahiriah, juga menilai hal-hal dari sudut luar saja. Orang-orang yang mampu mempublikasikan dirilah yang banyak mendapatkan sambutan. Sebaliknya, mereka yang tidak suka menggembar-gemborkan diri akan cenderung diremehkan, bahkan celakanya, kadangkala dinilai sebagai orang yang tidak menarik. Rasul Paulus justru berkata, “Aku tidak mengabarkan diriku sendiri, melainkan hanya Kristus.” Sesungguhnya Paulus mempunyai banyak kesempatan untuk memasyhurkan dirinya, tetapi dalam jemaat Korintus selain salib Kristus, ia tidak mengabarkan hal yang lain. Di tengah zamannya, baik di dalam masyarakat maupun jemaat, Paulus dikenal sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi. Orang-orang sangat memuji wawasan pengetahuan Paulus. Tatkala Paulus diperhadapkan dengan raja Agripa untuk diadili; raja pun sempat berkata, “Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila” (Kisah Para Rasul 26:24). Orang Yunani sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, tetapi mengapa Paulus justru tidak memperagakan wawasan pengetahuannya kepada mereka? Paulus mengetahui dengan jelas bahwa pada saat ia memasyhurkan dirinya sendiri, maka pada saat itu pulalah ia akan kehilangan kuasa. Saat ia tidak menjunjung tinggi Yesus Kristus, saat itulah ia akan kehilangan kekuatan dalam pelayanannya. Paulus jelas tahu bahwa pengetahuan tidak sanggup untuk menyelamatkan manusia. Semua orang yang memakai kesempatan penginjilan untuk memasyhurkan dirinya sendiri adalah para pelayan Tuhan yang tidak setia. Para pelayan Tuhan ini akan kehilangan penyertaan Allah. Dengan kata lain, ia akan kehilangan kuasa dalam pelayanan.
Penginjil yang memasyhurkan diri, tidak menganggap Allah saja yang bisa diolok-olok, tetapi juga para pendengarnya. Padahal, bukan hanya Allah yang tahu kesetiaan kita, orang lain juga bisa mengetahui adakah kita setia untuk memasyhurkan kebenaran Allah atau tidak. Tatkala orang banyak mendapati kita tidak setia memasyhurkan Kristus, dan hanya memasyhurkan diri sendiri, maka kita akan segera kehilangan kewibawaan serta respek dari orang banyak. Semua pelayan Allah yang tidak menghormati Allah akan kehilangan respek dari jemaat. Rasul Paulus telah menjadi seorang pelayan yang dihormati Allah dan manusia. Alasannya ialah:
Ia tidak tawar hati—menghargai jabatan yang diserahkan Tuhan.
Ia tidak berlaku licik—meninggalkan segala perbuatan yang tersembunyi.
Ia tidak memalsukan firman Allah—hanya menyampaikan kebenaran Tuhan.
Ia tidak memasyhurkan diri sendiri—tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan adalah inti pemberitaannya.

