Etos Kerja Orang Kristen
Kejadian 1:27-28; Pengkhotbah 3:22
oleh: Jenny Wongka †
Berada di tengah masyarakat yang multietnis, multireligius, multi-latar belakang serta level sosial yang tidak merata, bahkan kompleks di Indonesia memperlihatkan suatu realitas di mana latar belakang pendidikan dan lingkungan hidup manusia jelas membentuk wawasan pemikiran dan kebudayaan manusia itu sendiri. Konsekuensi logisnya adalah pendapat, penafsiran serta penerapan etika kerja bisa menjadi sangat berbeda satu dengan yang lain.
Sebagai orang Kristen di tengah masyarakat, Allah telah menetapkan tempat bagi ktia masing-masing. Teristimewa sebagai para pemuda yang sudah percaya kepada Tuhan, di mana sebagian dari kita juga sudah terjun di tengah masyarakat untuk bekerja.
Ada sejumlah pertanyaan yang sering muncul, baik dalam benak pribadi atau saat kita sedang berkumpul dalam forum diskusi informal atau obrolan formal. Pertanyaan itu antara lain:
Mengapa orang Kristen harus bekerja dengan jujur dan tulus? Mengapa orang Kristen harus memberikan dampak yang luas dalam pekerjaannya? Apakah saya harus memikirkan kesejahteraan masyarakat, peningkatan taraf hidup, keseimbangan hidup, kestabilan politik, bahkan kelestarian lingkungan hidup, dan seterusnya?
Dalam uraian saya berikut ini saya ingin mencapai satu sasaran, yaitu agar setiap anggota pemuda tahu posisi dan identitasnya sebagai orang Kristen, tahu menempatkan diri secara tepat dalam tugas dan pekerjaannya sehari-hari, baik itu di kampus maupun di kantor. Oleh karena itu, saya ingin membagikan beberapa pemikiran kristiani tentang etos kerja orang Kristen.
Etos Kerja itu perlu untuk menjaga sikap kita di dalam bekerja. Alkitab menyaksikan bahwa manusia diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah, manusia dipanggil untuk bekerja, dipanggil untuk menaklukkan serta mengerjakan bumi ini (Kejadian 1:27-28). Kerja itu pada dasarnya adalah suatu karakteristik manusia sebagai gambar dan rupa Allah, sebab Allah sendiri bekerja, bahkan hingga saat ini. Tujuan utama bekerja adalah menemukan pencapaian natur dan panggilan kita sebagai manusia. Satu hal yang juga tidak mungkin dipungkiri adalah bahwa pemenuhan kebutuhan primer itu sendiri tidak membuat kerja sebagai suatu sarana “pencapaian manusia”. Dorothy Sayers dalam buku Managing Your Time pernah berkata, “Work is not a thing one does to live, but a thing one lives to do.” Maksudnya, kita bukan bekerja untuk hidup, melainkan hidup untuk bekerja.
Jika “work is a thing one lives to do”, maka attitude atau sikap kita akan selalu menilai kerja sebagai karakteristik, dan bukan sarana. Untuk memahami pernyataan di atas dengan lebih sederhana, mari kita menyimak moto sekuler: tujuan membenarkan sarana. Asal sudah mencapai tujuan, kita tidak perlu peduli tentang sarana apa pun yang kita pakai. Atau yang menarik, saya pernah mendengar bahwa sikap jenis ini sama dengan gaya kodok berenang, yang melakukan gerakan ke atas menyembah, ke samping menyikut, ke bawah menendang/menyepak. Jelas ini bukan moto orang Kristen dalam kerja, mengapa demikian? Karena bagi orang Kristen, sarana akan mewujudnyatakan level kematangan dan benar tidaknya motivasi manusia dalam memilih pencapaian suatu tujuan. Dengan kata lain, orang Kristen akan berpikir bahwa pencapaian tujuan kerja dapat ditemukan dari sifatnya sebagai gambar dan rupa Allah—apakah kerjanya mendatangkan berkat bagi orang lain dan dapat memuliakan nama Tuhan. Hal ini hanya bisa terpenuhi bila:
Kita Melakukan Pekerjaan yang Mengembangkan Talenta/Bakat yang Allah Berikan
Di tengah masyarakat, kita bisa menemukan realitas tentang kedaulatan Allah—Allah menciptakan manusia dengan bakat yang berbeda-beda (ada yang menjadi dokter, insinyur, ahli hukum, mekanik komputer, usahawan, psikiater, dan seterusnya). Allah menginginkan supaya setiap pribadi bekerja sesuai dengan bakat atau talentanya masing-masing. Namun, kita perlu camkan bahwa Allah kita adalah Allah yang mempunyai master plan dan teratur (lihat 1 Korintus 14:33). Ketertiban dan keteraturan Allah itu bukan hanya pada pembangunan tubuh Kristus, melainkan juga dalam mengerjakan setiap pekerjaan baik yang sudah disediakan oleh Allah sebelumnya. Dia menginginkan kita hidup di dalamnya (Efesus 2:10). Setiap kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan masing-masing dengan bakat yang diberikan Allah kepada kita. Sebagai contoh, pembangunan Bait Allah di Yerusalem di bawah pemerintahan Raja Salomo. Coba kita bayangkan betapa kacaunya pekerjaan pembangunan itu andaikata pintu, meja ukupan, dan perabot-perabot dari emas serta perak itu dikerjakan oleh tangan orang yang tidak cocok dengan pekerjaan tersebut! Betapa indahnya ketika justru masing-masing orang dengan keahlian atau bakatnya melakukan tugas dan tanggung jawabnya, sehingga terjadilah suatu proyek pembangunan yang besar—pembangunan Bait Allah yang megah bagi Tuhan. Dalam konteks kantor atau pekerjaan kita, kenalilah bakat kita dan lakukan bagian kita dengan baik dan setia. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam kegiatan-kegiatan komisi. Every one does his part, saling melengkapi untuk melayani Tuhan. Pengkhotbah 3:22 berbunyi, “Tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya.” Maksud penulis Pengkhotbah (Raja Salomo) ialah di dalam kita “bergembira dalam pekerjaan” terdapat suatu apresiasi atas pekerjaan yang sudah Allah percayakan kepadanya, pekerjaan sesuai dengan talenta dan bakatnya.
Dalam realitas kita menemukan ada saja kendala untuk merealisasikan suatu kegembiraan dalam bekerja. Kendala utama ialah ketidakrelaan manusia untuk menerima pekerjaan yang dipercayakan Allah kepadanya. Allah memberikan talenta dan bakat yang berbeda pada setiap pribadi, namun manusia selalu cenderung menolak apa yang diberikan kepadanya. Sebaliknya, manusia malah iri hati pada apa yang dimiliki orang lain, mengerjakan apa yang bukan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Bulan lalu saya baru saja mendengar sebuah kisah dari seorang rekan sekantor. Suatu hari, seorang wanita muda dengan paras yang lumayan cantik bekerja pada sebuah rental laser-disc di Malang. Dengan persaingan bisnis yang cukup ketat dewasa ini, ia ditugaskan kantor untuk melayani pelanggan door to door. Dalam pembicaraan sebelum ia meninggalkan rumah, barulah diketahui bahwa ternyata ia seorang sarjana hukum, yang sudah 2½ tahun menyandang gelar tetapi tidak mendapatkan pekerjaan. Dari setiap compact-disc yang disewa orang, ia hanya mendapatkan Rp500,00. Coba kita menempatkan diri pada posisi wanita ini, apakah kita mampu untuk bergembira dalam pekerjaan tersebut? Saya tidak bermaksud untuk mendiskusikan salah siapa, baik itu kondisi maupun lingkungan, atau alasannya untuk terpaksa melakukan pekerjaan ini demi sesuap nasi. Andaikata durasi pekerjaan tersebut hanya bersifat sementara untuk menimba pengalaman saja, mungkin oke-oke saja! Namun, saya percaya, secara normal kita tidak akan pernah bisa bahagia bila terus menggeluti pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian studi yang sudah kita dapatkan.
Dalam konteks pemenuhan “pencapaian diri” (self-fulfillment), banyak sekali pekerjaan yang mengandung nilai yang terlalu rendah karena tidak sebanding dengan potensi dan kapabilitas manusia, seperti contoh yang saya kemukakan di atas. Seolah-olah melalui pekerjaan-pekerjaan tersebut manusia justru kehilangan kemanusiaannya karena pekerjaan tersebut tidak memberikan self-fulfillment sebagai manusia seutuhnya.
Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia adalah makhluk yang berkreasi, yang terus-menerus berkembang. Ia akan menemukan, menaklukkan, mengolah, dan mengembangkan, bahkan kadangkala bisa merekayasa. Itulah manusia, siapa pun dirinya dan bagaimana pun latar belakang kehidupan maupun pendidikannya. Bisa saja ia adalah seorang desa yang tidak pernah mendapatkan pendidikan formal, tetapi ia tetap sebagai gambar dan rupa Allah. Ia juga berusaha melalui pekerjaannya untuk menemukan self-fulfillment.
Ilmu Psikologi menyingkapkan bahwa kehidupan orang dewasa yang sehat selalu ditandai dengan kehidupan yang integratif, artinya kehidupannya memiliki suatu hubungan dan kesatuan antara kerja, keluarga dan pelayanan. Tiga unsur ini berkaitan erat dan tidak dapat dipisah-pisahkan, bahkan saling mempengaruhi. Keberhasilan seseorang dalam pekerjaannya selalu meningkatkan kebahagiaan pribadinya dan keluarganya, sekaligus meningkatkan efektivitas pelayanan dirinya di tengah masyarakat luas. Bagi seorang dewasa, kebahagiaannya dalam bekerja selalu membawa dampak positif bagi produktivitas kerja, kebahagiaan diri dan keluarganya, dan peningkatan pelayanan dalam masyarakat umum di mana ia hidup dan berkarier.
Kita Harus Melakukan Pekerjaan yang Mengembangkan “Natur yang Baru” dalam Kristus
Jika diminta untuk melukiskan keadaan masyarakat dewasa ini, saya yakin kita akan menemukan bahwa masyarakat kita sangat menyadari akan kebutuhan untuk “pembebasan” dari berbagai jerat dosa (Roma 8:20-22). Bila kita mencermati laporan koran dan majalah, jelaslah bahwa di sana sini disingkapkan tentang keprihatinan manusia terhadap kondisi yang semakin memburuk dan rusak. Sebagai contoh, manusia sudah tidak lagi merasakan keganasan perbuatannya. Hanya karena menginginkan milik orang lain, manusia tega merebut, bahkan menghabisi nyawa orang. Perbudakan manusia atas dosa seks: manusia tidak segan-segan untuk memerkosa putri kandungnya sendiri atau anak balita tetangganya dsb. Fenomena serupa ini juga telah banyak dijadikan sebagai tema seminar yang dibimbing oleh para pakar, dengan satu maksud, yakni mencari jalan keluar untuk memperbaiki kondisi masyarakat kita. Suatu pengharapan manusia yang terdalam, yang berakhir dengan munculnya sebuah pertanyaan, “Apa resepnya?” Apakah yang bisa mengubah kesadaran batiniah dan menciptakan suatu “titik balik” dalam jiwa manusia sehingga manusia menjadi lebih baik daripada sebelumnya?
Mungkin kita akan memberikan respons yang sama dengan pendapat umum bahwa pendidikan merupakan jawaban yang tepat untuk masalah di atas. Sudah beratus-ratus tahun manusia bergumul dengan hal yang sama, ratusan pendekatan dan metode pendidikan telah dicoba. Namun, masalah tersebut masih belum terselesaikan. Hal itu karena pengaruh dosa yang merusak jiwa manusia ternyata jauh lebih kuat dari apa yang dihasilkan melalui pendidikan. Akhirnya, manusia terkondisi dalam “hopeless and disappointed”.
Di tengah kondisi tiada pengharapan ini, umat Kristen dipanggil untuk menyadari kasih karunia dan hak istimewa yang mereka miliki sebagai anak-anak Tuhan di dalam Yesus Kristus. Ada tertulis dalam Alkitab bahwa apa yang tidak mungkin dilakukan manusia (kegagalan manusia dalam melakukan tuntutan hukum Tuhan karena kelemahan daging manusia), telah dilakukan oleh Allah di dalam Yesus Kristus (Roma 8:3). Jadi, bukan kita yang melakukan, tetapi Dia. Iman kepada-Nya sanggup mengubah apa yang impossible menjadi possible, karena Roh Kudus yang menyertai dan menolong orang percaya (Yohanes 14:15-17). Bahkan ditegaskan pula oleh firman Tuhan bahwa “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya” (Filipi 2:13).
Inilah misteri dari “kelahiran baru”, yaitu pemberian natur baru: hati dan roh yang baru. Sejak manusia menerima Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan, maka natur kehidupannya yang lama sudah lenyap (tidak diperhitungkan lagi oleh Allah) dan yang baru sudah terbit (2 Korintus 5:17). Ia menjadi manusia yang baru dengan natur yang baru. Mungkin saja ia masih jatuh-bangun dalam segala kelemahannya, namun sikap hatinya yang sudah diperbarui itu akan selalu membenci dosa, dan mendorongnya untuk bersandar pada anugerah Tuhan. Natur yang baru akan mendorongnya agar berani untuk mengaku salah, menanggung risiko dan membuktikan diri dalam seluruh tindakan kehidupan barunya. Keluarga, persekutuan, gereja, bahkan masyarakat umum, membutuhkan orang-orang seperti ini.
Kelahiran baru adalah karya Roh Kudus, kehadiran natur yang baru ini sama dengan “air anggur yang baru” yang harus disimpan di dalam kirbat kulit yang baru pula. Natur baru tersebut harus dipelihara, dirawat, dilatih, dikembangkan dan diaplikasikan dalam setiap aspek kehidupan kita agar seluruh kehidupan dan totalitas diri serta pencapaian kita menjadi suatu kehidupan yang sesuai dengan maksud dan rencana Allah. Dalam konteks inilah kita sebagai orang Kristen berbicara mengenai etos kerja kita.
Seorang Kristen yang sudah dilahirbarukan tidak mungkin pernah menemukan kepuasan dalam pekerjaannya bila pekerjaan tersebut tidak mengerjakan dan mengembangkan “natur baru” yang sudah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Ia bisa saja menjadi seorang karyawan yang baik, dengan etos kerja yang tepat, bahkan menjadi kesayangan ataupun kebanggaan bos maupun keluarganya, tetapi bila pekerjaannya tidak dilakukan dan dikembangkan menurut natur yang baru, maka jiwanya tetap akan merasa kosong dan gelisah. Natur yang baru itu hanya dikerjakan melalui “kepatuhan pada pimpinan Roh Kudus”. Kita bisa bandingkan dengan apa yang dikatakan Paulus dalam Galatia 5:16,22-24 yang menegaskan bahwa, “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. … Buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. … Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”
Mungkin saja kita sebagai orang Kristen memiliki “kebaikan” yang mengagumkan orang lain. Tetapi, apakah “kebaikan” itu adalah buah Roh hasil dari kepatuhan kita kepada Roh Kudus, ataukah itu hanya berupa tingkah laku yang kita pelajari atau tiru, atau justru merupakan manifestasi dari kematangan pribadinya sendiri. Bagi orang yang sudah dilahirbarukan, self-fulfillment hanya akan dialaminya jika ia mengerjakan “natur yang baru” bukan dari dirinya sendiri, melainkan dari apa yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Jadi, orang yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus tidak mungkin menemukan self-fulfillment dalam pekerjaan yang dilakukannya bila ia hanya mendisiplin diri sendiri dan berusaha menjadi orang yang lebih baik. Mengapa demikian? Karena kelahiran baru itu sesungguhnya menyangkut masalah iman dan komitmennya kepada Allah Roh Kudus, pada jalan keselamatan yang disediakan Tuhan, pada Alkitab yang menyingkapkan keunikan rencana, pribadi, dan eksistensi Allah, dan juga pada pembangunan gereja sebagai Tubuh Kristus. Keunikan kita sebagai karyawan Kristen bukan hanya terletak pada kebaikan etis dan moral yang juga dapat diusahakan oleh orang-orang lainnya, bahkan sering kali kita mengatakan orang-orang non-Kristen lebih berhasil mengekspresikan hal-hal itu. Keunikan kita terletak pada eksistensi kita sebagai manusia dengan “natur yang baru” yang sudah dianugerahkan oleh Roh Kudus dalam kehidupan orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Kita Melakukan Pekerjaan yang Mengerjakan Hal-hal yang Memuliakan Allah
Pernyataan ini mungkin kedengarannya terlalu rohani, tetapi sebagai seorang hamba Tuhan, tentu saja tolok ukur yang akan saya pakai pasti berasal dari apa yang Alkitab katakan. Memang Alkitab selalu mengingatkan kita bahwa kehidupan orang Kristen benar-benar merupakan kehidupan yang unik. Sejak kita menjadi orang Kristen, maka segala sesuatu yang kita lakukan harus benar-benar memuliakan Allah. Paulus mengatakan bahwa apa pun yang Anda lakukan, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Korintus 10:31). Bahkan ia menegaskan lebih jauh bahwa tanpa keyakinan akan kebenaran ini, maka segala sesuatu yang Anda lakukan itu adalah dosa (Roma 14:23). Karena di luar dari titik tolak tersebut, maka apa yang kita kerjakan adalah suatu penyangkalan atas penebusan yang sempurna yang dikaryakan oleh Yesus Kristus.
Kita sudah lazim mendengar ungkapan “Ora et Labora” yang berarti ibadah dan bekerja. Hari ini saya akan memperkenalkan satu ungkapan lain “Laborare Orare” yang artinya work is worship atau bekerja adalah ibadah. Di dalam melakukan pekerjaan apa saja, baik sebagai pegawai di perusahan besar; sebagai teller atau kepala bagian di bank, atau mungkin sebagai seorang usahawan muda, apa saja yang kita lakukan dalam tugas dan karier, sesungguhnya merupakan ibadah kepada Allah. Melalui semua itu Allah dimuliakan.
Unsur ibadah dalam pekerjaan hanya dapat ditempatkan dalam konteks general revelation, di mana pengabdian pada kebenaran Allah yang tersedia dalam alam ini menjadi sarana yang menstimulasikan kerinduan manusia untuk memuliakan Allah (Mazmur 19). Dalam konteks kerja, umat Kristen bertemu, bergaul, dan bekerja sama dengan umat beragama lain. Kerja yang mampu mengerjakan hal-hal yang memuliakan Allah terdapat dalam general revelation ini.
Dalam pekerjaan yang disediakan oleh Allah selalu tersedia “kebenaran-kebenaran Allah” untuk ditemukan, disingkapkan, dan dipakai. Tidak heran ada pekerja Kristen yang bisa tetap mempertahankan prinsip-prinsip etos kerja kristiani yang kadangkala sangat mengagumkan. Misalnya, ia menolak untuk dipromosikan bila dipaksa untuk melakukan servis khusus dengan mengantarkan mitra bisnis bosnya ke night club, ke hotel berbintang untuk memesan wanita penghibur bagi mitra bos tersebut. Hal ini dipertahankannya dan secara tidak langsung setidaknya sang bos tahu bahwa ia seorang Kristen yang berprinsip teguh, serta dalam benaknya sang bos pasti melihat adanya sesuatu yang lain pada dirinya. Dalam hal ini ia pun telah memuliakan Allah.
Ada sebuah analogi yang mengarisbawahi uraian di atas dengan ekspresi kata yang lain namun dengan isi yang sama. Konon ilmuwan Albert Einstein lebih suka hidup sederhana, menolak kehidupan yang glamor karena melalui apa yang dilakukannya ia sudah mengalami kepuasan diri. Mungkin ia bukan orang yang beragama yang khusuk dalam ibadah, tetapi ia mengabdikan diri pada kebenaran Allah yang tersedia di dalam alam. Oleh sebab itu, hal menemukan kebenaran-kebenaran tersebut merupakan self-fulfillment tersendiri—justru melalui inilah Allah dimuliakan.
Analogi lainnya adalah Socrates. Dalam kebenaran yang ditemukannya, ia rela membayar dengan nyawanya sendiri. Kebenaran-kebenaran tersebut di kemudian hari menjadi kekuatan yang mengubah dan mempengaruhi seluruh cara berpikir Yunani. Dari cara berpikir yang semata-mata mitologis yang memuaskan nafsu dan emosi belaka menjadi cara berpikir yang teratur dan tertata nalar. Ini merupakan self-fulfillment yang diraih Socrates.
Dalam konteks sebagai orang Kristen, kita meraih self-fulfillment dalam pengabdian kita pada kebenaran-kebenaran yang Allah gariskan bagi kita. Pengabdian tersebut akan membebaskan kita dari keserakahan dan segala ekses yang terkandung di dalamnya, misalnya: penyuapan merupakan ekses keserakahan. Kebutuhan untuk menerima suap tersebut akan hilang bila pribadi yang bersangkutan mempunyai etos kerja yang baru, yaitu kerja untuk mengabdi dalam kebenaran yang tersedia di dalam pekerjaannya.
Penutup
Dengan sebuah kisah nyata saya ingin menutup perenungan kita.
Tatkala masih berusia kira-kira delapan tahun, Dr. John Watson gemar sekali melihat prosesi para majelis gereja dalam pelayanan Perjamuan Kudus di gerejanya. Ia tertarik dan mengamati seorang majelis gereja yang seluruh kepalanya beruban putih bersih, dan yang paling menarik dari semuanya itu ialah: wajah lembut serta pancaran mata yang penuh kasih dari sang majelis tersebut.
Pada suatu hari, tatkala John Watson menyusuri sebuah jalan yang harus ia lewati, tempat para buruh kasar sedang memperbaiki jalan. Di samping jalan itu tampaklah para buruh sedang menghancurkan batu-batu besar. Sekali lagi, seseorang dengan kepala beruban putih bersih menarik perhatiannya. Ia segera mendekatinya dan betapa terkejutnya ia ketika ternyata orang beruban itu adalah majelis gereja yang dikaguminya. Sambil tersenyum manis, buruh itu menyapanya, “Hi, John, how are you? Where are you going, dear?”
Masih dipenuhi rasa terkejut, ia mengisahkan apa yang dilihatnya kepada ayahnya. Kemudian sang ayah mengatakan bahwa majelis itu menempati posisi tinggi di gereja walaupun sesungguhnya ia hanyalah seorang buruh kasar yang miskin, karena ia adalah orang yang paling saleh. Kendati ia seorang buruh kasar yang menghancurkan batu-batu besar untuk perbaikan jalan, ia tahu banyak tentang Allah bila dibandingkan dengan para majelis yang lain.
Marilah kita mengintrospeksi diri, apakah Anda dan saya masing-masing bekerja dalam konteks etos kerja kristiani yang menimbulkan respek orang lain kepada kita, ataukah kita justru terbawa dalam praktik kerja yang sama dengan kolega kita yang tidak mengenal Tuhan. Berbeda atau sami mawon. Semoga Tuhan menolong kita agar kita benar-benar mampu mengenal diri dan membawa diri dengan baik di tengah pekerjaan kita masing-masing. A M I N.

