Site icon

Gideon: Penakut yang Berani

Gideon: Penakut yang Berani

Hak 6:14-17, 27, 36-40; 7:7-15

Pdt. Agus Surjanto

Gideon adalah salah seorang hakim Israel yang memberi kesan mendalam dalam diri orang Yahudi. Peristiwa kemenangannya melawan orang Midian dengan hanya 300 prajurit bergema sepanjang Alkitab (1Sam 12:11; Mzm 83:11; Yes 9:4, 10:26). Bahkan PB mencatat Gideon sebagai salah seorang tokoh iman (Ibr 11:32). Tidak banyak tokoh Alkitab yang mempunyai catatan “besar” dalam Alkitab. Tetapi Gideon tercatat sebagai salah satunya. Namun siapakah sebenarnya Gideon pada mulanya? Benarkah dia orang yang memang luar biasa? Ternyata sebenarnya tidak. Gideon jauh dari orang yang dari mulanya adalah pemberani. Dia pada mulanya adalah seorang penakut. Dan sebenarnya bukan hanya penakut. Banyak karakter dalam diri Gideon, menurut penilaian manusia sekalipun, yang tidak dapat digolongkan sebagai karakter yang unggul. Memang Gideon lahir dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan dalam zamannya. Sama seperti kebanyakan orang Israel pada zamannya, pengenalannya akan Allah kemungkinan besar hanya dia peroleh berdasarkan kitab Musa (Kejadian s/d Ulangan) dan barangkali kitab Yosua.

Gideon mungkin juga tidak paham dengan jelas mengapa bangsanya harus menerima hukuman begitu besar (Hak 6:13). Peringatan Yosua, bahwa kalau nantinya umat Israel menyembah ilah lain maka Allah akan melakukan yang tidak baik kepada umat Israel (Yos 24:19-20), mungkin tidak terlalu diperhatikan oleh kebanyakan orang Israel. Keamanan, kelancaran dan kesejahteraan memang sering membuat orang melupakan Allah sumber semua kebaikan itu. Kalau sudah makmur, apalagi yang perlu diminta dari Allah? Kalau sudah aman, untuk apa berdoa mohon perlindungan-Nya lagi? Tokh semua baik-baik saja. Manusia sering lupa bahwa kebaikan yang dialami sekarang adalah karena Allah, bukan karena kemampuan atau usahanya sendiri. Pengenalan orang Israel pada zaman Gideon akan Allah sungguh masih sangat sederhana. Allah Yahweh barangkali hanya dikenal sedikit lebih berkuasa dari ilah bangsa-bangsa lain di Kanaan. Situasi seperti inilah yang sedang dialami oleh Gideon.

Diceritakan dalam kitab Hakim-hakim bahwa baru saja orang Israel dibebaskan dari penindasan raja Kanaan pada zaman Debora selama 40 tahun (Hak 5:31), tetapi ternyata dengan cepat mereka lupa mengapa Allah menghukum mereka. Mereka kembali melakukan yang jahat di mata Tuhan (Hak 6:1). Sebab itulah Tuhan kemudian menghukum mereka lagi dengan membuat mereka ditindas oleh orang Midian selama 7 tahun. Meskipun cuma 7 tahun, tetapi ketakutan yang ditimbulkan orang Midian sungguh luar biasa sehingga dikatakan bahwa orang Israel bersembunyi di gua-gua. Kalau sudah demikian maka baru mereka bertobat dan berseru kepada Tuhan. Dan Allah Yahweh adalah Allah yang luar biasa karena selalu mengulurkan tangan kasih-Nya kepada mereka yang mau bertobat dan mengakui kesalahan dan dosanya (1Yoh 1:9). Karena itulah maka kemudian Allah membangkitkan bagi mereka seorang hakim, yaitu Gideon.

Tetapi siapakah Gideon? Seorang pahlawan yang gagah berani? Orang ternama yang banyak pengikutnya? Ternyata bukan. Dia ternyata anak Yoas, seorang penyembah berhala (Hak 6:25). Di rumahnya, Yoas mendirikan patung Baal untuk disembah seluruh keluarganya, yang tentu saja termasuk Gideon. Tetapi Gideon bukan hanya penyembah berhala, dia juga seorang yang suka berdalih (Hak 6:14-17), dia juga kurang yakin terhadap dirinya maupun janji Allah (Hak 6:36-40), bahkan ternyata juga seorang penakut (Hak 6:27, 7:7-11). Bagaimana mungkin orang yang seperti itu dipakai menjadi alat Allah untuk memimpin orang Israel melawan Midian? Apakah tidak ada orang lain yang “lebih pantas” untuk tugas itu? Manusia sering minta kualifikasi tertentu untuk tugas atau jabatan tertentu, apalagi tugas jabatan rohani di gereja. Pemilihan pendeta sering lebih ketat dari pemilihan presiden. Kalau orang tidak memenuhi kualifikasi yang telah ditetapkan maka dia dianggap tidak cukup layak untuk memikul tugas itu atau menjabat posisi itu. Memang, kualifikasi sangat diperlukan, akan tetapi yang jauh lebih penting adalah ketergantungan kepada rencana dan kehendak Allah.

Gereja didirikan oleh Allah. Karena itu, Allah juga yang berhak untuk memilih siapa yang Dia ingin tetapkan untuk memimpin gereja-Nya. Karena itu kepekaan akan rencana dan kehendak Tuhan harus menjadi prioritas yang pertama dan terutama, bukan kualifikasi manusia. Gideon, di mata manusia, sama sekali tidak masuk kualifikasi untuk menjadi hakim Israel. Tetapi di tangan Allah, Gideon yang tidak layak menjadi hakim, dilayakkan oleh Allah. Untuk itu Allah dengan sabar dan penuh kasih melakukan empat tindakan untuk melayakkan Gideon menjadi salah satu hakim Israel yang luar biasa. Allah dengan tekun mempersiapkan, meneguhkan, menguji dan akhirnya mengutus dia menjadi hakim yang dikenang sepanjang sejarah Israel.

Dalam mempersiapkan Gideon, Allah menjumpai Gideon secara pribadi ketika Gideon sedang bersembunyi karena takut pada orang Midian (Hak 6:11). Bagi orang yang akan dikenan dan dipakai Allah, perjumpaan secara pribadi dengan Allah sangat menentukan. Sebab tanpa perjumpaan ini, tidak akan pernah terjadi relasi secara pribadi dengan Allah. Dan tanpa adanya relasi maka juga tidak akan pernah ada perdamaian dengan Allah. Gideon perlu diyakinkan bahwa yang ada di belakang dia melawan orang Midian adalah memang benar Allah Yahweh sendiri (Hak 6:22-23). Peristiwa ini membawa pertobatan kepada Gideon yang dinyatakan dengan membuat mezbah bagi Allah dan menamai mezbah itu “TUHAN itu keselamatan” (LAI). Kata yang dipakai sebenarnya adalah Yahweh Shalom, yang berarti TUHAN pembawa damai (Hak 6:24). Jelas ini merupakan pengalaman pribadi Gideon yang merasakan adanya damai sejahtera setelah perjumpaannya dengan Allah. Penyembah Baal itu telah bertobat,merasakan dan mengalami damai sejahtera dari Allah, dan kemudian menjadi penyembah Yahweh. Tetapi dia harus menyatakan pertobatannya ini kepada orang lain. Dan dia juga harus menyatakan kepada orang Israel bahwa dia telah diangkat oleh Yahweh menjadi hakim Israel. Allah menghendaki Gideon memimpin orang Israel berperang melawan orang Midian dan membebaskan mereka dari penindasan orang Midian. Dan konfirmasi itu harus dimulai dari dalam rumah tangganya sendiri.

Maka Allah menyuruh dia merobohkan mezbah Baal di rumahnya dan mendirikan mezbah Yahweh sebagai gantinya. Gideon “taat” merobohkan mezbah Baal itu, tetapi rupanya Gideon melakukan itu dengan ketakutan. Alkitab mencatat bahwa Gideon melakukan perintah Allah pada malam hari berarti sebenarnya dia takut. Tetapi justru melalui peristiwa itu dia merasakan dan mengalami, untuk pertama kalinya, pertolongan Allah melalui tindakan ayahnya yang melindungi dia dari ancaman orang-orang (Hak 6:27-32). Ini merupakan pengalaman pertama Gideon akan penyertaan dan pemeliharaan Allah bagi dia. Dalam situasi yang menjepit dia karena orang banyak mulai marah, Yoas ayahnya, tampil membela dia. Padahal Yoas sendiri yang telah mendirikan mezbah itu. Allah dengan caranya yang ajaib telah menolong Gideon. Tetapi pengalaman itu belum cukup bagi Gideon, karena masih terlalu banyak karakter internal dalam diri Gideon yang harus “diperbaiki.” Masih banyak proses yang harus ia lalui bersama Allah supaya dia benar-benar berkenan kepada Allah.

Kemudian Allah meneguhkan Gideon dengan membuka mata rohaninya untuk dapat menguasai rasa tidak percaya diri dan ketakutannya itu. Dikatakan bahwa Roh TUHAN menguasai dirinya (Hak 6:34) sehingga seluruh kaumnya (Abiezer) mengikuti dia dan ketika Gideon mengirim pesan kepada sukunya yaitu Manasye, mereka juga mau mengikuti dia. Kemudian Allah terus meneguhkan Gideon sehingga beberapa suku Israel yang ada disekitarnya juga bersedia mengikuti dia (Hak 6:35). Sungguh suatu dukungan yang luar biasa. Secara akal manusia sebenarnya dukungan semacam itu sudah cukup untuk membuat Gideon siap berperang. Akan tetapi karena memang dia orang yang kurang percaya diri, maka dukungan yang telah digerakkan oleh Allah ternyata belum cukup. Gideon minta tanda ajaib (Hak 6:36-40). Dia minta supaya bulu domba yang ditaruhnya basah oleh embun sedangkan tanah di sekitarnya tetap kering. Apabila itu terjadi maka “tahulah aku” kata Gideon sendiri (Hak 6:37) bahwa benar Allah yang akan berperang bagi dia (Hak 6:37). 

Dengan kata lain Gideon merasa bahwa kalau dia mengalami tanda mujizat itu, maka dia akan tahu (baca yakin) bahwa benar Allah Yahweh yang menyuruh dia berperang. Tetapi ketika permintaannya dikabulkan, ternyata dia masih “tidak tahu” dan minta terjadi yang sebaliknya. Bulu domba yang ditaruh harus kering dan tanah di sekitarnya yang basah. Sungguh menjengkelkan. Dia sendiri yang minta konfirmasi tetapi dia sendiri yang akhirnya tidak yakin dan minta konfirmasi lagi. Tetapi itulah Gideon dan Allah sudah mengetahui sebelumnya seperti apa Gideon itu. Namun Allah sungguh Allah yang luar biasa. Dengan sabar Allah terusmeneguhkan Gideon. Mungkin kita bertanya dalam hati, orang seperti itu mengapa dipilih untuk melakukan perkara besar. Apakah tidak ada orang lain lagi yang lebih pantas dari Gideon. Apa sih kelebihan Gideon sehingga dia dijadikan hakim oleh Allah? Memang kalau dilihat dari kaca mata manusia, terlalu banyak kekurangan Gideon. 

Seringkali kita juga tertutup dengan hal-hal negatif yang begitu banyak dari seseorang, sehingga hal-hal positifnya tidak kelihatan. Dari sekian banyak kekurangan Gideon, ternyata ada satu hal yang luar biasa yang dimiliki Gideon, yaitu dia orang yang terus terang dan berani mengakui kelemahannya dengan tulus. Kalau dia tidak yakin, dia bilang dia tidak yakin, kalau dia takut, dia mengakui bahwa dia takut. Tidak ada usaha untuk menutupi kelemahan dan kekurangan dirinya. Dia menampilkan dirinya apa adanya tanpa topeng. Apapun yang dipikirkan dan dirasakan, dinyatakan dengan terus terang, walaupun mungkin itu akan membuat orang lain memandang rendah dirinya. Dengan kata lain Gideon adalah orang yang berintegritas, luar dan dalam sama. Ketulusan inilah yang dilihat oleh mata Allah yang tajam sehingga Gideon dipilih menjadi salah satu hakim Israel. Tetapi Allah belum selesai dengan Gideon, karena masih ada hal negatif dalam diri Gideon yang harus disingkirkan yaitu ketakutannya.

Sekali lagi Gideon harus mengalami pembentukan Allah, yaitu ujian. Ujian pertama adalah dengan memangkas pasukannya menjadi tinggal 10.000 orang dari jumlah semula 32.000 orang. Ini dimaksudkan Allah supaya tidak ada satu orangpun dari umat-Nya yang menyombongkan diri (Hak 7:2-3). Dalam ujian ini Gideon lulus, karena 10.000 orang memang jumlah yang cukup besar, apalagi ada Allah yang menopang. Dengan penuh semangat Gideon terus memimpin pasukannya untuk berperang. Tetapi Allah ingin Gideon benar-benar berubah menjadi Hakim Allah yang layak. Ketakutan yang dilihat oleh Allah masih ada dalam diri Gideon harus dibereskan. Karena itu jumlah pasukan yang “lumayan” itu dipangkas lagi menjadi tinggal 300 orang, padahal jumlah musuh ada 135.000 orang (Hak 8:10). Suatu perbandingan yang sangat tidak memadai. Secara akal sehat manusia, tidak ada kemungkinan sedikitpun Gideon akan menang dan memang itulah yang dikehendaki Allah. Bersama dengan Allah, tidak ada yang perlu ditakutkan. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita (Rm 8:31)?

Ujian kali ini membuat hati Gideon ciut, maka ia perlu diteguhkan lagi. Kalimat “jika engkau takut untuk turun menyerbu,” (Hak 7:10) sungguh menunjukkan Allah Yahweh adalah Allah yang mau mengerti kelemahan umat-Nya. Allah yang melihat hati Gideon yang paling dalam tahu persis bahwa Gideon masih takut. Tetapi Allah menerima dengan lapang dada ketakutan Gideon. Karena itulah maka Allah berjanji untuk memberi keberanian kepada Gideon untuk melawan 135.000 orang musuh dengan hanya 300 orang. Ternyata Gideon memang adalah seorang penakut, terbukti bahwa kemudian dia turun dan akhirnya mendengar dengan telinganya sendiri bahwa orang Midian akan dikalahkan olehnya. Tindakan Gideon turun menunjukkan bahwa memang dia takut. Tetapi disinilah Tuhan mematahkan sifat penakut Gideon. Ketika dengan tulus Gideon mengakui ketakutannya, maka Allah memberi keberanian kepadanya seperti yang telah dijanjikannya (Hak 7:11).

Sungguh Allah yang setia dan tidak pernah ingkar janji. Akhirnya dengan penuh keberanian Gideon memimpin 300 pasukannya melawan 135.000 pasukan Midian (Hak 7:15) dan berhasil menewaskan 120.000 orang musuh. Bukan Gideon dan pasukannya yang berperang, tetapi Allah sendiri, karena memang Gideon dan pasukannya sama sekali tidak berperang. Mereka hanya meniup sangkakala dan musuh mereka saling membunuh satu sama lain. Gideon Si Penakut akhirnya diubahkan Allah menjadi salah seorang Hakim Israel yang namanya dikenang sepanjang masa. Nubuat Allah bagi Gideon terjadi (Hak 6:12).

Kesabaran Allah sungguh luar biasa. Dengan tekun, sabar dan kasih, satu demi satu kelemahan Gideon dikikis habis. Dan kita akan makin takjub karena semua itu terjadi dalam bilangan minggu atau bulan saja. Bukan tahunan atau puluhan tahun. Mengapa bisa demikian? Karena Gideon mempunyai sesuatu yang langka, yaitu ketulusan. Tidak pernah Gideon menyembunyikan kekurangan dan kelemahan dirinya. Dia tidak berusaha menampilkan topeng yang palsu di mata manusia lain. Kebanyakan manusia ketika tahu punya kelemahan tertentu, cenderung untuk menyembunyikannya serapat-rapatnya. Jangan sampai orang lain tahu. Memalukan. Mau di taruh di mana muka kita kalau orang-orang tahu kelemahan dan kekurangan kita. Pasti kita akan diremehkan dan dianggap enteng. Begitulah barangkali sikap kita terhadap diri kita sendiri. Bahkan seringkali kita juga tidak mau mengakui kelemahan kita di hadapan Allah. Tetapi ketahuilah saudaraku, makin kita merasa mampu, merasa kuat, merasa bisa, makin sulit kuasa Allah bekerja. Karena ketika Allah mau memakai kita, Dia tidak pernah memaksa. Allah menanti sampai kita mengakui bahwa tanpa Dia, kita bukanlah apa-apa. Alkitab mengatakan bahwa justru dalam kelemahan maka kuasa Allah menjadi sempurna (2Kor 12:9).

Allah menunggu sampai kita dengan tulus mengakui semua kelemahan kita dan saat itulah Dia mengubah kita sedemikian rupa sehingga kita yang penakut menjadi pemberani, kita yang tidak mempunyai keyakinan menjadi percaya diri, kita yang suka berdalih diberi hati yang taat, yang kurang hati-hati menjadi hati-hati. Kesediaan untuk rela dibentuk inilah yang ditunggu-tunggu oleh Allah. Dan kesediaan itu hanya akan muncul ketika ada pengakuan atas kelemahan dan kekurangan kita. Ingatlah bahwa Allah melihat hati kita yang paling dalam.Sebab itu ketulusan pengakuan kelemahan merupakan suatu hal yang harus dilakukan dengan sejujur-jujurnya. Sedikit saja ada hati yang tidak rela, Allah tahu dan Dia tidak berkenan akan hal itu.

Exit mobile version