Hidup Berkemenangan Bersama Raja Dunia
Mazmur 20:1-10
Oleh: Sepridel Hae Tada
Saudara-saudara, selama kebaktian liburan kali ini, kita belajar dari berbagai jenis Mazmur. Di mulai dengan mazmur ucapan syukur, pengajaran, keluhan, raja, dan terakhir minggu depan ialah mazmur kutukan. Mazmur raja (royal psalm) berkaitan erat dengan pengakuan terhadap pemerintahan atau kedaulatan TUHAN atas segala sesuatu.
Mazmur raja seringkali yang dikaitkan dengan dinasti Daud. Munculnya mazmur raja memang dimulai pada masa raja Daud. Daud, bukan sekadar seorang raja atau prajurit. Ia juga seorang pemazmur, seorang pemusik dan penyair! Ada sekitar 73 mazmur yang ditulis Daud. Daud juga turut serta mengatur formasi para penyanyi di rumah Tuhan (1Taw. 6:31-44). Mazmur raja dipakai dalam 3 momen penting yang berkaitan dengan raja, yaitu penobatan/pelantikan (2, 72, 101, 110), persiapan perang (20, 21, 89, 144), dan pernikahan (45). Mazmur raja yang dinyanyikan akan mengingatkan umat Tuhan, termasuk raja sebagai orang nomor satu di Israel bahwa Tuhan adalah Raja yang sejati yang berdaulat atas segala sesuatu. Tuhanlah yang membuat seseorang bertahta sebagai raja. Tuhanlah yang memimpin dalam perang. Tuhanlah yang memberikan keturunan kepada raja.
Mazmur 20 merupakan contoh mazmur yang dipakai dalam liturgi ibadah sebelum seorang raja dan pasukannya maju ke medan perang! Salah satu tugas seorang raja ialah memimpin perang. Peperangan adalah hal yang umum dalam kehidupan bangsa-bangsa kuno termasuk Israel. Bagi bangsa Israel, perang bukan sekadar masalah keamanan dan politik, namun berkaitan erat dengan keagamaan atau konsep teologi orang Israel.
Nyanyian Musa dan seluruh bangsa Israel setelah menyebrangi laut Teberau dalam Keluaran 15:3 menyatakan, “TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya” Allah yang berdaulat terlibat langsung dalam berbagai pengalaman perang sejak Israel keluar dari Mesir sampai masa monarki atau pemerintahan raja-raja. Menang atau kalah perang ada di tangan Allah, Raja yang berdaulat. Seorang raja, panglima perang, dan pasukan memang harus menyusun strategi perang. Namun, di atas semua itu seorang raja harus merendahkan diri di hadapan Allah, Raja yang berdaulat dan memohon pertolongan Allah. Inilah inti dari mazmur raja yang dipakai dalam momen jelang perang. Mari kita perhatikan 2 poin penting dalam Mazmur 20.
Doa permohonan kepada TUHAN (ay 2-5)
Dalam liturgi ibadah khusus Israel, raja dan seluruh umat berkumpul di bait Allah. Raja akan memberikan korban persembahan sebagai ungkapan merendahkan diri dan memohon pertolongan Allah. Raja atau imam akan berdoa mewakili umat. Inti dari doa permohonan seperti yang ada di ayat 2-5 ialah kiranya TUHAN mendengar, menjawab, memberkati rencana sang raja, dan memberikan kemenangan. Dasar dari permohonan ini ialah SIAPA ALLAH yang telah terbukti dalam sejarah Israel.
Mari kita perhatikan ayat 2, “Kiranya TUHAN menjawab engkau pada waktu kesesakan! Kiranya nama Allah Yakub membentengi engkau!” Sebutan “nama Allah Yakub” dikaitkan dengan perlindungan, pertolongan, dan penyertaan Allah dalam kisah hidup Yakub (Kej. 35:3). Yakub telah melewati hari-hari sulit atau masa kesesakan selama 20 tahun bekerja pada Laban. Namun, hari-hari sulit itu pun disertai Tuhan dan pada akhirnya segala jerih lelah dan kesengsaraan Yakub diperhatikan Allah. Allah bertindak membela Yakub. Allah memberkati Yakub secara berlimpah-limpah dan lepas dari tangan Laban (Kej. 31: 38-42)
Bagi umat Allah, perang itu tak terhindarkan, entah itu diserang musuh atau maju perang terlebih dahulu. Bangsa Israel bukanlah bangsa yang sangat jago perang! Jumlah dan kekuatan musuh seringkali jauh lebih besar. Seorang raja yang saleh, selalu akan mencari tuntunan Tuhan terlebih dahulu sebelum ia menyusun strategi perang. Raja dan seluruh umat perlu merendahkan diri di hadapan Tuhan terlebih dahulu supaya mereka tidak dikuasai ketakutan atau panik. Mari kita melihat contoh penggunaan mazmur raja di 2 Tawarikh 20.
Hal inilah yang dilakukan oleh Yosafat, raja keempat kerajaan Yehuda atau keturunan Daud generasi ke-6 (2Taw.20). Pada saat Yehuda diserang oleh musuh yang sangat besar, ay 3 mencatat, “Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari Tuhan. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.” Di akhir doanya, di ayat 12b, Yosafat berkata, “Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju pada-Mu” Raja Yosafat dan seluruh umat merendahkan diri di hadapan Tuhan untuk memohon pertolongan kepada Tuhan, Raja di atas segala raja yang telah menolong mereka di masa-masa sebelumnya.
Saudara-saudara, hari-hari sukar seringkali tak terhindarkan. Persoalan pekerjaan, kuliah, keluarga, relasi, kesehatan, dan lain sebagainya. Dari yang kelihatannya baik-baik saja, eh tiba-tiba bermasalah. Secara manusiawi, kita pasti akan terkejut, panik, takut! Percaya gak percaya tapi itu sungguh terjadi. Namun, yang terpenting ialah bagaimana kita menanggapinya. Apakah akan terus-menerus panik? Marah-marah? Ketakutan atau mengasihani diri? Menyalahkan keadaan atau orang lain? Mencari kontak keluarga atau koneksi yang bisa membantu kita? Mari kita belajar dari mazmur raja. Dalam rasa takut atau panik, redamlah perasaan-perasaan itu dengan merendahkan diri di hadapan Allah, sang pemegang kendali atas segala sesuatu. Kita dan keluarga, rekan kerja, rekan pelayanan, atau komunitas perlu bersatu hati merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ingatlah, bahwa Tuhan, Raja yang berdaulat masih memegang kendali!
Keyakinan kemenangan dari TUHAN (ay 7-10)
Setelah raja atau imam berdoa mewakili umat, maka biasanya ada seseorang, entah itu imam, orang Lewi, atau nabi yang akan menyampaikan peneguhan atau firman Allah sebagai tanggapan atas doa sebelumnya. Pada ayat 7, dikatakan “Sekarang aku tahu, bahwa Tuhan memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawab dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya.” Tuhan memberi kemenangan dalam bahasa Ibraninya Hoshia Yehova, memakai hiphil perfect tense. Perfect tense menekankan “completed action” (tindakan telah selesai dilakukan) entah di masa lalu, masa sekarang, atau masa yang akan datang. Sedangkan hiphil verb menekankan causative (penyebab) dan declarative (deklarasi). Jadi, Hoshia Yehova artinya TUHAN telah menyelamatkan. Tuhanlah telah menyebabkan kemenangan. Tuhanlah telah mendeklarasikan kemenangan. Kemenangan hanya bersumber dari Tuhan. Kuda dan kereta bukanlah sumber utama kemenangan. Tuhan adalah pahlawan perang yang bertindak bagi umat-Nya. Tuhan telah menyediakan kemenangan. Raja dan pasukannya tinggal maju bertempur untuk meraih kemenangan tersebut!
Saudara-saudara, kembali dalam kisah raja Yosafat dalam 2 Tawarikh 20. Setelah raja selesai berdoa, maka seorang dari suku Lewi menyampaikan firman Allah bagi umat. Mari kita perhatikan ayat 15-18. Tuhanlah yang berperang bagi umat-Nya. Tuhanlah yang memberikan kemenangan. Tugas Yosafat ialah menyiapkan pasukan lalu maju perang dengan gagah berani dan mereka akan menyaksikan bagaimana Tuhan, pahlawan perang, Raja yang berdaulat itu memberikan kemenangan kepada mereka. Penyertaan dan pertolongan Tuhan menjadi jaminan kemenangan ketika mereka maju berperang.
Amsal 20:18 mencatat, “Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat.” Lalu, Amsal 21: 31 mencatat, “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN.” Bagian ini menegaskan sekali lagi bahwa kemenangan di tangan Tuhan. Namun, hal ini tidak berarti bahwa kita hanya duduk diam saja dan menunggu mukjizat terjadi. Kita juga harus mengerjakan bagian kita secara maksimal untuk fighting! Tuhan akan bekerja melalui usaha dan perjuangan kita.
Saudara-saudara, dalam film facing the giant, ada sebuah analogi yang bagus. Seorang bapak tua berbicara dengan si tokoh utama ketika ia frustrasi dengan berbagai masalah dalam keluarga, pekerjaan, dan tim olah raganya. Tokoh utama ini merasa doa dan perjuangannya tidak membuahkan hasil. Bapak tua itu berkata, “Ada dua orang petani butuh hujan yang berdoa meminta hujan kepada Tuhan. Namun, hanya satu petani yang turun untuk persiapkan ladangnya menerima hukan. Di antara kedua petani itu, manakah yang akan diberikan hujan? Kamu tipe petani yang mana? Siapkanlah ladang dan Tuhan akan memberikan hujan ketika ladang itu siap!
Saudara-saudara, kita termasuk tipe petani yang mana? ketika kita memohon kemenangan atau pertolongan Tuhan atas pergumulan-pergumulan kita? Sudahkah kita menyiapkan diri kita dan berjuang? Tuhan tahu dan peduli dengan pergumulan kita. Tuhan mendengar seruan doa kita pada masa-masa kesesakan. Namun, Tuhan juga mau kita mengambil langkah iman. Tuhan mau kita mengerjakan sesuatu supaya kita bisa mengalami pertolongan Tuhan secara nyata.
Saudara-saudara, mazmur raja mengajarkan kita bahwa Tuhan adalah Raja yang berdaulat atas segala sesuatu. Allah tetap memegang kendali bahkan ketika Ia mengizinkan kita mengalami hari-hari sulit. Kepada Allah yang berdaulat inilah kita bisa datang merendahkan diri memohon pertolongan-Nya. Dalam kemurahan-Nya, Ia akan menguatkan kita di masa-masa bergejolak tersebut dan akan melepaskan kita dari segala kesesakan. Amin.

