Hidup dalam Dunia yang Terbalik (Pengkhotbah 8:19-13)
oleh : Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya
8:9 Semua ini telah kulihat dan aku memberi perhatian kepada segala perbuatan yang dilakukan di bawah matahari, ketika orang yang satu menguasai orang yang lain hingga ia celaka. 8:10Aku melihat juga orang-orang fasik yang akan dikuburkan boleh masuk, sedangkan orang yang berlaku benar harus pergi dari tempat yang kudus dan dilupakan dalam kota. Inipun sia-sia. 8:11Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat. 8:12 Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. 8:13 Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah
Mungkin banyak dari kita tidak terlalu akrab dengan kitab Pengkhotbah, selain mungkin pasal ke-3. Berbeda dengan kitab Mazmur yang memuat banyak ayat favorit kita. Sesungguhnya kitab ini merupakan kitab yang unik dan khas, bahkan terbilang nyentrik dalam gagasan dan pandangannya, khususnya tentang kehidupan. Pengkhotbah meneropong dengan cermat kemudian mengemukakan berbagai pernyataan yang mungkin bisa membuat kita merasa tidak terlalu nyaman.
Di dunia ini banyak orang mengejar hikmat dan kepandaian supaya hidupnya bisa berlangsung dengan baik dan nyaman. Akan tetapi, apakah yang dikatakan Pengkhotbah tentang hikmat? Bagaimana Pengkhotbah berbicara tentang hikmat? Pengkhotbah 1:18 berkata, “Karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan.” Di sini seolah-olah Pengkhotbah ingin menertawakan orang yang mengejar hikmat di dalam hidupnya. Ia berkata bahwa sesungguhnya semakin banyak kita tahu, semakin banyak pengetahuan ada di dalam diri kita, semakin banyaklah kesedihan.
Bagi kita yang percaya kepada kekayaan dan mengharapkan diri kita selalu berada dalam yang kondisi yang kaya, perhatikan apa yang dikatakan oleh Pengkhotbah 5:10, “Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain daripada melihatnya?” Pengkhotbah ingin mengatakan kepada kita, yang berada di dalam kondisi kaya, bahwa semakin banyak uang yang kita miliki dan yang kita kumpulkan dengan kerja keras, maka akan semakin banyak orang datang dan menghabiskan uang kita. Jadi, kita berjerih payah dan berlelah-lelah dan akhirnya hasil jerih payah itu dinikmati lebih banyak untuk orang lain.
Kita yang percaya bahwa harus meraih masa depan dengan belajar baik-baik dan bertanggung jawab, melalui membaca banyak buku, mari kita baca apa yang dikatakan oleh Pengkhotbah 12:12, “Lagi pula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku, tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.” Nah, lho sepertinya ayat tadi bukannya menyemangati orang belajar, tetapi cenderung berusaha mengendurkan semangat bukan?
Inilah cara pandang Pengkhotbah. Apa yang dianggap orang sebagai hal yang wajar, normal dan lazim, semua ditentangnya dan seolah-olah ditertawakannya.
Seolah-olah dengan sinis ia berkata bahwa itu tidak ada gunanya. Tiga contoh di atas hanyalah sedikit saja dari berbagai nada sinis, bahkan sengit yang dilontarkan oleh Pengkhotbah mengenai kehidupan. Pikiran utama dari Kitab Pengkhotbah 1:1, 2 adalah hidup ini dipandang sebagai kesia-siaan belaka. Pengkhotbah memotret kehidupan ini demikian sinis dan mungkin ada di antara kita yang berpikir mengapa ia begitu pesimistis terhadap hidup ini.
Jika dibandingkan dengan isi Alkitab dari bagian lainnya, kita akan menjumpai sepertinya kitab Pengkhotbah memiliki pandangan yang berbeda. Sewaktu Paulus berkata dan menasihati jemaat, “Persekutuanmu dengan Tuhan dan jerih payahmu tidak akan sia-sia.” Pengkhotbah malah mengatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia (1:2). Terhadap mereka yang hidupnya saleh dan suci, Pengkhotbah menertawakan dan berkata, “Janganlah terlalu saleh, janganlah perilakumu terlalu berhikmat; mengapa engkau akan membinasakan dirimu sendiri?” (7:16)
Pesimistiskah Pengkhotbah? Menyerahkah ia pada realita kehidupan ini? Bagi saya, Pengkhotbah bukanlah orang yang pesimistis. Namun, Pengkhotbah adalah seorang realis. Seorang realis adalah seorang yang melihat kenyataan, menggambarkannya, dan menyatakan kenyataan tersebut sebagaimana adanya, tanpa menambahkan bumbu atau hiasan. Jelek dibilang jelek. Salah dibilang salah. Indah dibilang indah. Elok dibilang elok. Buruk dibilang buruk.
Seorang Pengkhotbah bisa dibandingkan dengan seorang juru potret yang mengambil potret close-up dari kehidupan seseorang tanpa memasang filter lensa. Biasanya, kalau kita ingin diambil fotonya secara close-up, kita akan meminta agar difoto dengan filter lensa, supaya wajah kita bisa terlihat mulus dan halus. Kalau masih kurang halus, misalnya masih kelihatan bercak merah bekas jerawat di wajah kita, maka bisa hal itu bisa dimanipulasi dengan teknik digital melalui komputer. Hasilnya, lahirlah wajah yang jauh lebih indah daripada aslinya. Akan tetapi, Pengkhotbah bukanlah tukang potret yang seperti itu. Ia memotret kehidupan ini tanpa penyaring. Ia mengatakan, apa adanya kehidupan ini.
Kita semua akan memerhatikan dua hasil jepretan alat potret yang berasal dari kitab Pengkhotbah. Yang pertama, yang terlihat dalam ayat 10, “Aku melihat juga orang-orang fasik, yang juga akan dikuburkan boleh masuk, sedangkan orang yang berlaku benar harus pergi dari tempat kudus dan dilupakan dalam kota”. Apa yang ia potret dalam kehidupan ini? Yang diambil oleh Pengkhotbah adalah potret pemakaman. Ia menggambarkan bahwa ada orang-orang yang selama hidupnya jahat, jauh dari Tuhan, dan penuh dengan kekerasan kepada sesama, tetapi ternyata ia dikuburkan dan diingat orang. Sementara orang yang hidupnya saleh, teratur, tertata, dan sangat santun serta baik kepada Tuhan maupun kepada manusia, ternyata ketika hendak dikuburkan saja, ia tidak boleh masuk ke tempat itu dan dilupakan.
Potret pertama yang diambil dari kitab Pengkhotbah 8 ini jelas merupakan sebuah potret dunia yang terbalik, di mana orang yang hidupnya saleh dan santun malah menerima ganjaran yang pantas diterima oleh orang-orang fasik.
Kemalangan itu terjadi justru kepada orang baik. Orang yang jahat dan fasik bahkan bertambah gemuk. Pengkhotbah melihat realita dunia yang terbalik seperti itu dan ia bertanya mengapa justru orang-orang yang jahat hidupnya sepertinya lebih sukses, lebih makmur dan lebih dipandang orang dibandingkan dengan orang-orang yang hidupnya sederhana, santun, dan saleh. Orang yang berkata-kata benar justru tidak diterima masyarakat. Orang-orang yang jahat, yang perkataannya penuh dengan tipu daya, justru didengarkan oleh orang. Mengapa orang yang jujur dianggap bodoh? Dan, orang yang licik dianggap pintar? Mengapa barang yang asli dikatakan palsu dan yang palsu dianggap sejati?
Pengkhotbah memotret sebuah realita dunia yang terbalik. Sebuah potret yang saya rasa pernah menggelisahkan hati dan kehidupan kita secara pribadi. Mungkin kita pernah bertanya, “Mengapa Tuhan, saya sudah jadi orang yang baik, setia dan tulus kepada-Mu, tetapi justru kemalangan terjadi atas hidup saya? Mengapa ia yang ke gereja saja tidak pernah, yang hidupnya saja hancur-hancuran kok tambah lama hidupnya tambah baik?” Pengkhotbah memotret realita itu dan menanyakan pertanyaan yang sama, yang menurut saya, sering kita tanyakan kepada diri kita sendiri.
Pengkhotbah memiliki pertanyaan dan kegelisahan yang sama ketika melihat kebenaran itu makin lama makin jauh dari kehidupan manusia. Di dalam kehidupan bangsa ini: kebohongan, kepalsuan, dan dusta menyentuh sampai di lembaga yang konon paling suci di negara ini: Mahkamah Agung. Beberapa waktu yang lalu saya membaca harian Jawa Pos terkait kasus seorang pejabat teras. Setelah diteliti, pejabat ini mempunyai enam nama alias agar hartanya bisa dibagi-bagi di atas nama-nama tersebut. Di sudut kecil di bagian pojok kiri harian itu, ada komentar yang sedikit nakal, “Pejabat kita ini punya enam nama alias. Imam Samudra saja kalah. Imam Samudra saja cuma punya dua atau tiga nama alias.”
Apa yang terjadi pada bangsa ini ketika dusta, ketidakadilan, dan kebohongan menyentuh ke level yang paling tinggi di dalam kehidupan berbangsa bernegara kita, di mana orang tidak lagi menganggap kesalahan dan dusta itu merusak intergritas? Ini sesuatu yang serius, tetapi orang menganggapnya wajar-wajar saja. Dusta dan kelicikan dianggap sebagai suatu kepintaran dan bukan kesalahan. Siapa yang tidak bertanya-tanya di dalam dunia yang serba terbalik ini? Kita bertindak benar, saleh, dan kudus, maka orang-orang akan menertawakan kita semua. Kita bersusah payah untuk hidup, ternyata kemudian kita ditipu oleh rekan kita sendiri. Kita sedapat mungkin menjaga keluarga kita hidup di dalam Firman Tuhan dan menaatinya, ternyata musibah datang.
Sungguh inilah potret dunia yang terbalik, dan saya tahu pasti dari Alkitab bahwa ini bukan rencana Allah yang mula-mula. Pada waktu Tuhan menciptakan dunia ini, Ia berkata bahwa segala sesuatu baik, tetapi segala sesuatu menjadi terbalik ketika dosa itu pertama kali menguasai hati Adam dan Hawa. Cara pandang perspektif manusia dibalikkan oleh dosa di dalam dirinya. Kini kesalahan bukan lagi dipandang kesalahan, dusta dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa. Korupsi dianggap hanya sebuah kesalahan prosedur semata dan banyak lagi yang lain-lainnya. Potret pertama dari Kitab Pengkhotbah adalah potret dunia yang terbalik, yang bukanlah merupakan rancangan Allah mula-mula karena dosa sudah masuk ke dalamnya.
Potret kedua yang digambarkan oleh Pengkhotbah ada di ayat ke-11, “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat.”
Tampaknya potret kedua ini bersanding dengan potret pertama. Kalau potret pertama adalah potret dunia yang terbalik, ketidakadilan adalah potret kedua yang berada di sampingnya. Pengkhotbah mengamati banyak orang semakin lama semakin menjadi jahat karena seolah-olah tidak ada hukuman. Orang jahat seolah bebas berbuat jahat. Seolah ada pemikiran, “Ia jahat, saya juga jahat, tetapi tidak ada hukuman.” Maka semua orang bebas melakukan kejahatan.
Bagaimana bisa terjadi yang demikian ini? Saya mengamati bahwa setiap kita secara alami tidak suka akan ketidakadilan dan tidak suka akan keadaan dunia yang terbalik ini. Kita geram dan mengharapkan ada hukuman untuk ketidakadilan itu. Kita ingin orang jahat akan segera dihukum, atau segera tertimpa kemalangan. Akan tetapi, kenyataanya tidak ada hukuman yang datang, bukan? Tuhan tidak menurunkan petir dari surga untuk menghabiskan politisi yang kerjanya cuma berdusta. Kalau Tuhan melakukan itu, Senayan bisa kosong! Sanksi dari manusia yang kita harapkan juga tidak menjadi kenyataan. Jadi kesimpulannya, mula-mula melihat dunia yang terbalik ini kita menjadi geram dan marah serta menanti supaya Tuhan mendatangkan hukuman. Namun, setelah menanti dan menanti, ternyata tidak ada hukuman sama sekali. Yang jahat menjadi semakin jahat. Dari merasa geram dan marah ini, kini kita menjadi pesimistis.
Kita berpikir memang seperti itulah dunia ini dan kita harus menerimanya. Dari merasa marah karena tidak ada keadilan, kita turun satu langkah, menjadi merasa harus menerima keadaan. Kita berpikir memang dunia ini tidak sempurna. Jika ini yang terjadi, akan sangat wajar dan manusiawi. Akan tetapi, yang dikhawatirkan adalah setelah kita turun dari merasa geram lalu menjadi merasa pesimistis, jangan-jangan lalu kita menjadi seperti oportunis, yaitu memiliki kecenderungan untuk mengambil keuntungan di dalam situasi tanpa memperhitungkan prinsip apa pun.
Dengan kata lain, setelah kita pesimistis melihat kejahatan, melihat ketidakdilan, dan ketidakbenaran di dalam hidup ini, lalu kita berpikir, “Kalau saya menyerah begitu saja, saya akan diinjak-injak orang. Di sisi lain, saya juga tidak bisa mengubah dunia ini. Jadi bagaimana? Ya, saya akan lakukan yang sama saja.” Artinya, jika semua orang menjadi tidak bermoral, tidak menghargai kebenaran, dan tidak menghargai kejujuran, apa salahnya kita juga menjadi begitu? Toh semua orang berlaku tidak jujur, misalnya, di dalam hal keuangan. Toh saya tidak bisa mengubah dunia, buat apa saya mesti berjuang dengan kekonsistenan prinsip saya? Seorang oportunis akan berbicara seperti ini: “Kalau tidak bisa diubah, manfaatkan saja sekalian.” Kalau seisi kampung kita adalah maling, jangan cuma menerima begitu saja. Jadilah maling sekalian, kalau bisa pimpinannya malah. Sikap oportunis seperti inilah yang menjadi masalah bagi bangsa kita dan bagi hidup kita secara pribadi. Waktu orang tidak puas melihat suatu keadaan dan mulai geram, lalu ia menjadi pesimis karena tidak ada perubahan, maka pada akhirnya ia bisa menjadi seorang oportunis yang memanfaatkan keadaan untuk mengambil keuntungan pribadi.
Inilah yang dilihat Pengkhotbah ketika ia berkata makin lama orang makin jahat. Orang tidak menjadi jahat tanpa sebuah proses. Orang menjadi jahat karena geram karena ketiadaan hukum, lalu menjadi pesimis dan kemudian menjadi jahat dengan mengambil prinsip oportunis. Bayangkan kalau di dalam satu komunitas ada orang yang kita tahu tidak jujur dalam hal keuangan di kantornya, dan bisa membeli mobil baru, maka kegeraman kita yang mula-mula itu akan berubah menjadi perasaan pesimistis. Ternyata orang itu bukanlah satu-satunya orang yang tidak jujur tetapi berhasil, maka lama-lama kita akan berpikir, “Apa salahnya jika saya juga melakukan hal yang sama?” Dan terjadilah! Inilah uang dimaksud bahwa orang bertambah jahat dan semakin lama semakin jahat saja.
Apakah Pengkhotbah mendorong atau mengajak kita untuk jadi oportunis yang mengambil keuntungan saja karena dunia ini memang seperti ini? Meskipun Pengkhotbah memaparkan dua potret ini, ia mengambil satu kesimpulan yang tegas di ayat ke-12-13, “Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lebih lama, namun aku tahu bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.” Kesimpulannya, Pengkhotbah tidak mengajak kita menjadi oportunis, tetapi mengajak kita untuk justru menjauhi kejahatan. Di ayat yang ke-13, ia katakan bahwa kejahatan itu seperti bayang-bayang yang kelihatan menyeramkan dan menakutkan, tetapi sebenarnya sebentar saja sirna. Dengan kata lain, kalau kita menjadi jahat seperti orang lain, menjadi licik seperti orang-orang di sekeliling kita, maka kita akan mengalami hal yang sama seperti mereka. Mereka kelihatannya kokoh, kelihatannya kuat, tetapi akan sirna seperti bayang-bayang.
Sebenarnya pada setiap perbuatan kejahatan, tersimpan benih-benih kehancurannya sendiri. Pada setiap kejahatan yang seolah perkasa dan mantap, sebenarnya ada benih-benih kehancurannya sendiri. Artinya kejahatan yang dilakukan orang pada suatu saat nanti akan menjadi jerat yang mematikan bagi orang yang melakukannya Setiap kali orang mempraktikkan kejahatannya, benih-benih kehancuran diri itu akan mulai bertumbuh dengan kuat. Perhatikan apa yang terjadi dengan pemimpin-pemimpin yang dianggap jahat oleh dunia ini, misalnya Adolf Hitler. Ia memerintah dengan penuh darah di tangannya dan seolah-olah tidak tersentuh oleh waktu. Hitler membuat banyak orang takut terhadap kejahatannya, terhadap perkataannya, dan terhadap tangannya. Akan tetapi, ke manakah Hitler sekarang? Ia sudah mati. Namun, sebelum ia mati, kejahatannya menghancurkan dirinya sendiri. Hitler akhirnya bunuh diri karena ketakutan dan depresi setelah pasukannya kalah. Mussolini juga demikian. Ia mati karena ambisinya sendiri. Dan, jika didaftar, kita masih akan mendapatkan banyak lagi nama-nama orang jahat. Semuanya terjerat dalam kejahatannya sendiri dan tidak mungkin lepas.
Pengkhotbah meminta agar kita jangan ikut berbuat jahat. Kesenangan yang ditimbulkan oleh kejahatan hanya sementara, tetapi suatu saat kejahatan itu pasti akan menghancurkan diri kita sendiri. Pengkhotbah mengatakan, janganlah kita menjadi oportunis atau menjadi ikut-ikutan berbuat jahat. Selain kejahatan itu menghancurkan diri sendiri, Pengkhotbah mengajak kita melihat bahwa orang yang fasik tidak akan memperoleh kebahagiaan seperti bayangannya tidak akan panjang umur dan akan sirna karena ia tidak takut akan hadirat Allah.
Alasan lain yang dikatakan Pengkhotbah adalah bahwa semua kejahatan nantinya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pengkhotbah mengabarkan bahwa jauh di atas sana Tuhan tidak kehilangan kendali. Kalau Ia tidak menghukum bukan berarti Ia tidak bisa membaca situasi. Ada saatnya Ia menanti pertanggungjawaban setiap orang yang menjadi oportunis dan yang menjadi penjahat. Pengkhotbah ingin mengajak kita untuk menjadi orang yang takut akan Tuhan dan yang hormat kepada-Nya walaupun pada saat tak seorang pun melihat diri kita.
Seorang pesimiskah Pengkhotbah? Saya rasa bukan. Ia seorang realis yang memberikan kepada kita dua potret tentang dunia yang terbalik dan perilaku manusia di dalamnya.
Namun, lebih dari seorang realis, ia adalah seorang yang tetap bertahan dengan keyakinannya bahwa ada Tuhan di balik Matahari. Ada Tuhan yang memandang, menilai dan menghakimi manusia. Saya berharap setiap kita bukan termasuk orang yang oportunis dan ikut berbuat jahat, tetapi menjadi orang yang takut dan hormat kepada Allah di tengah dunia yang terbalik ini.

