Renungan Berjalan bersama Tuhan

Hidup Hari ini

Hidup Hari ini

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

1 Yohanes 2:7-17

Kalau hari telah berlalu, kita sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi dan tidak ada gunanya bagi kita untuk menyesali hari kemarin. Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Dengan demikian, yang tinggal hanya “hari ini”. Ya, “hari ini”. Apa yang kita kerjakan dan lakukan sekarang ini, kita harus berupaya sekuat tenaga untuk melakukan yang paling baik dan benar.

Bagaimana kita bisa melakukan yang paling baik untuk hari ini? Caranya, kita harus peka terhadap “kesempatan”, entah itu kesempatan yang diberikan kepada kita untuk melakukan sesuatu; kesempatan yang membuat kita bekerja lebih baik lagi, baik dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, hidup bermasyarakat, relasi persahabatan; kesempatan untuk melakukan kunjungan kepada mereka yang perlu dikunjungi; dan sebagainya. Pekerjaan baik untuk menolong orang lain tentunya merupakan wujud pelayanan kita kepada Tuhan atau program pelayanan yang memenuhi kebutuhan masyarakat. Apa yang sedang terjadi di tengah lingkungan kita?

Seorang anak Sekolah Minggu, kira-kira berusia 12 tahun, sebut saja namanya Andy. Dia lahir di tengah keluarga dengan orangtua yang mengasihi Tuhan. Mereka aktif melayani Tuhan. Mereka sangat bersyukur karena dikaruniai seorang anak. Sebagai anak tunggal, tentunya Andy sangat disayang oleh orangtuanya. Andy tumbuh sehat. Namun, tiba-tiba di usia 12 tahun, dia mengalami demam tinggi, tubuh memerah, dan merasa lemas. Segera orangtuanya membawa Andy ke dokter anak. Dalam pemeriksaan yang intensif, akhirnya dokter menemukan bahwa Andy menderita  kanker darah stadium empat. Tentunya hasil pemeriksaan itu sangat mengejutkan. Andy dibawa ke beberapa dokter, sempat diterbangkan ke Singapura, dan hasilnya sama. Anak itu harus menjalani kemoterapi. Apa boleh buat, karena itulah satu-satunya jalan pengobatan yang bisa diambil. Pada kemoterapi seri pertama sampai ketiga, Andy tidak mengalami masalah yang serius. Namun, ketika sampai pada seri kelima, Andy tidak kuat. Ia harus kembali opname. Di rumah sakit, banyak orang yang mengunjunginya, bukan saja teman dan kerabat orangtuanya, tetapi juga teman-teman Andy. Ia seorang anak yang ramah dan pemerhati, ucapannya sudah seperti orang dewasa. Andy menjadi daya tarik tersendiri sehingga banyak pasien yang berada di kamar lain merasa iba. Pagi hari itu, Andy dikunjungi oleh seorang bapak yang dirawat di kamar sebelah. Bapak ini sudah sembuh dan akan pulang, tetapi ia menyempatkan diri mengunjungi Andy. Rupanya kunjungan itu tidak sia-sia. Andy sangat menyukai bapak ini sehingga ia berkata, “Om, tidak ada gunanya sehat dan sembuh kembali kalau Om tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Saat sakit begini, saya tidak takut, Om. Sekalipun saya harus meninggal, saya yakin masuk surga karena Tuhan Yesus sudah menjadi Juru Selamat saya. Om, percaya saja kepada Tuhan Yesus, itu barulah namanya Om mendapatkan kesembuhan yang sesungguhnya.”Andy dipakai oleh Tuhan secara luar biasa. Pada malam harinya, Tuhan memanggil Andy. Pada malam penghiburan, bapak tersebut bersaksi tentang pengalamannya bersama Andy. Ia bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya secara pribadi, bahkan seluruh keluarganya percaya kepada Tuhan Yesus. Kesaksian ini benar-benar memberikan penghiburan bagi ayah dan ibu Andy. Mereka sungguh bersyukur dikaruniai anak tunggal yang bisa dirawat dengan penuh cinta kasih, walaupun hanya selama 12 tahun, tetapi tidak sia-sia, karena Andy telah membawa jiwa baru yang diselamatkan oleh Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *