Site icon

Jangan Sampai Tersisihkan

Jangan Sampai Tersisihkan

Ibrani 12:12-17

oleh: Jenny Wongka †

Doktrin merupakan hal yang amat penting di dalam Kitab Suci, bagaikan fondasi bagi segala sesuatu. Terlepas dari kebenaran doktrin, kita tidak mungkin tahu hal-hal tentang Dia, tentang diri kita sendiri, atau tentang bagaimanakah Allah memandang kita dan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Terlepas dari doktrin, tidak ada basis untuk ketaatan, beriman kepada Allah, atau mengasihi Allah, karena kita tidak tahu-menahu tentang Dia.

Pengetahuan tentang doktrin alkitabiah dan mengimani pengetahuan itu merupakan dua sisi sebelah menyebelah yang tidak terpisahkan seperti sebuah uang logam. Paulus menggabungkan kedua hal ini dalam nasihatnya kepada anak rohaninya, “Ajarkanlah dan nasihatkanlah” (1 Timotius 6:2). Terjemahan lain adalah teach and preach—inilah tugas kita, yakni mengajarkan doktrin yang benar dan mengimaninya dalam kehidupan yang benar agar mencapai tujuan akhir dengan tanpa tersisihkan!

Dalam pelayanan selama dua hari di Jakarta (September 1992), saya kira bukanlah kebetulan bila saya bersama empat rekan saya. Saya melayani di GKJMB Pos Sunter, yang digembalakan oleh seorang teman lama dari Persekutuan Pemuda GKI Ujung Pandang. Saya bersama keluarganya sempat mengenang kembali sesosok figur bapak rohani kami. Tidak sedikit pemuda bimbingan beliau, baik di Indonesia maupun manca negara, melayani Tuhan dengan giat dan setia. Sebagai seorang penerjemah, masih jelas dan terus mengiang di telinga saya munculnya sebuah ungkapan yang jujur, “Saya tidak tahu apakah saya bisa terus setia kepada Tuhan dalam pelayanan hingga titik akhir hidup saya ini?”

Dalam Ibrani 12:12-17, perikop yang kita baca ini, kita bisa menemukan 3K: Kontinuitas, Ketekunan, dan Kewaspadaan sebagai nasihat bagi kita bersama.

Mari kita simak satu demi satu:

  1. Kontinuitas (12:12-13)

Di ayat ini tampaklah metafora tentang pertandingan: tangan dan lutut berperan penting dalam perlombaan lari. Penulis kitab Ibrani mendapatkan metafora ini dari Nabi Yesaya tatkala bangsa Israel diperhadapkan pada banyak raja yang jahat, nabi-nabi palsu, dan musuh-musuh yang gagah perkasa yang menggentarkan hati, ditambah pula dengan kaum sebangsanya yang keras kepala, tegar tengkuk, sehingga seolah-olah mereka sudah kehilangan prospek untuk hidup di tanah yang damai. Di saat kekecewaan melanda dan membuat orang nyaris menyerah, Yesaya berseru, “Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: ‘Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah, Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!’” (Yesaya 35:3-4). Saya yakin bahwa penekanan dalam Ibrani 12:12 sama dengan yang disebutkan Nabi Yesaya ini. Kepada kita dinasihatkan untuk menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah. Cara terbaik untuk tetap menjadi kuat adalah memberikan dorongan kepada orang lain dengan inisiatif sendiri. Prinsip ini saya temukan dalam Ibrani 10:25b, “Marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

“Luruskanlah jalan bagi kakimu”, maksudnya tetaplah berlari pada lintasan perlombaan Anda sendiri. Jikalau kita menyimpang atau keluar dari lintasan, maka kita tidak saja akan didiskualifikasi, tetapi juga akan mengganggu pelari yang lain. Seorang pelari tidak akan dengan sengaja keluar dari lintasan, kecuali bila ia kehilangan kontrol dan konsentrasi pada sasarannya untuk keluar menjadi pemenang dalam perlombaan lari itu.

Kata “jalan” yang dipakai di sini yakni “path” atau trochia, sebenarnya menunjukkan jejak yang ditinggalkan oleh roda-roda kereta, yang sering kali menjadi patokan jalan yang bakal diikuti oleh orang yang menyusul di belakangnya. Ketika kita berlari, adakah jejak yang kita tinggalkan itu menuntun atau justru menyesatkan orang yang berlari di belakang kita. Satu-satunya jalan untuk menjaga agar jejak yang kita tinggalkan tetap lurus adalah lari dengan benar pada lintasan kita masing-masing. Berikanlah perhatian yang besar untuk jejak lari yang kita tinggalkan bagi orang lain.

“Sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh” (Ibrani 12:13b). Kata “pincang” di sini bisa diaplikasikan pada orang Kristen yang lemah, yang mudah tersesat. Saudara seiman kita yang lemah pasti akan sangat mudah sekali terluka karena contoh kita yang buruk. Dalam LXX (Septuaginta: terjemahan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani) untuk 1 Raja-raja 18:21 dipakai kata yang sama artinya dengan 12:13b ini. Di situ Elia diperhadapkan pada bangsa Israel yang pincang dan bimbang untuk memberikan respons positif mereka: memilih untuk percaya kepada Allah atau Baal. Kepada kita, penulis kitab Ibrani memperingatkan tentang adanya bahaya bagi orang Kristen yang bimbang, yang meragukan Injil dan melemahkan kelanjutan perjalanannya mengiring Tuhan.

Pada tahun 1958, Indira Gandhi menulis sebuah memo pada Rajiv Gandhi yang berbunyi, “Seseorang harus ekstra hati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku kalau ia tidak mau mencemarkan bukan saja nama keluarga, tetapi juga bangsanya” (Tempo No. 31, 3 Oktober 1992).

Menyedihkan sekali, tidak sedikit orang Kristen, bahkan pemimpin rohani, secara sadar atau tidak sadar menjadi batu sandungan bagi orang lain. Sebuah contoh yang buruk perihal komitmen hamba Tuhan kepada Kristus, sebuah kesaksian hidup yang buruk dapat mengakibatkan kejatuhan saudara seiman yang lain, merugikan kerohanian orang lain. Allah menghendaki supaya mereka yang lemah itu menjadi sembuh, diselamatkan, dan mampu untuk berlari hingga pada garis akhir mereka. Pertanyaannya, rindukah kita atau mampukah kita secara terus-menerus berlari dengan baik pada lintasan lomba yang diwajibkan bagi kita? Segera terlintas dalam benak saya sebuah syair lagu: “May the foot prints that we leave lead others to believe! May the foot prints that we leave lead other to obey! O, May all that come behind us find us faithful!

  1. Ketekunan (12:14)

Ayat ini tidak mudah ditafsirkan, bahkan menjadi persoalan bagi banyak orang Kristen sepanjang masa. Dalam ayat ini, sekilas tampak bahwa keselamatan diperoleh karena hasil usaha kita. Jikalau kita berusaha hidup damai dan mengejar kekudusan, maka kita akan diselamatkan dan akan melihat Tuhan.

Saya pribadi percaya bahwa penulis kitab Ibrani berbicara tentang damai dan kekudusan ini secara praktis. Di dalam Kristus, secara status, orang Kristen sudah berada dalam kondisi yang damai dan kudus, namun secara praktis, orang Kristen masih belum terlepas dari urusan besar yang harus dilaksanakan. Kita telah diperdamaikan dengan Allah, maka hendaklah kita menjadi pendamai atau peacemaker. Kita telah diperhitungkan “kudus”, maka kita wajib untuk menghidupi kekudusan itu. Praktik hidup kita hendaknya sepadan dengan status kita. Bila tidak, jangan heran bila Anda akan mendengar ungkapan, “Mengapa engkau tidak mempraktikkan apa yang engkau nasihatkan? Jikalau engkau tidak hidup seperti yang Kristus katakan, mengapa saya harus menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan saya?”

Ungkapan “Berusahalah hidup damai” terutama menunjuk pada “kasihilah sesama”. “Kejarlah kekudusan” menunjuk pada “kasihilah Allah”. Jika kita mengasihi sesama manusia, kita akan berdamai dengan mereka, dan jika kita mengasihi Allah, kita akan menuntut diri untuk hidup kudus.

Unsur ketekunan dalam konteks ayat ini adalah:

Pertama, mengasihi sesama. Dua orang, dua negara, mustahil dapat hidup berdampingan dengan damai bila mereka senantiasa berada dalam konflik peperangan. Yesus berdamai dengan semua orang, namun sayang sekali, tidak semua orang mau berdamai dengan Dia. Tidak heran bila Rasul Paulus menasihati kita, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18).

Majalah Reader’s Digest, Oktober 1992, memberikan sebuah penggambaran yang menarik. Tatkala kita tidak senang kepada seseorang, maka sikap kecil seperti gaya memegang sendok dan garpu waktu ia makan pun sudah sangat menjengkelkan kita. Namun, bila kita menyukai orang tersebut, meski saat makan piringnya terbalik dan makanannya tumpah mengenai kita, kita tetap tidak marah atau heran.

Setiap orang hanya bertanggung jawab pada proses damai dari sudut dirinya sendiri, dan jangan sekali-kali memakai sikap pihak lain yang memusuhi kita sebagai dalih bagi kita untuk merespons mereka dengan sikap permusuhan pula. Adapun kewajiban kita adalah hidup berdamai sekalipun keadaan sekeliling memperlakukan kita dengan tidak damai. Bila mereka hidup dengan sikap tidak damai, itu adalah persoalan mereka.

Kedua, mengasihi Allah. Berkenaan dengan kekudusan tidak akan terlepas dari pengertian: kemurnian hati untuk taat sepenuhnya melalui kehidupan kudus demi memuliakan Dia, karena Dia menuntut kita untuk hidup serupa dengan-Nya. Ketika tahap ini telah kita capai, maka orang lain akan melihat Dia di dalam kita. Kedua unsur ini: mengasihi sesama dan mengasihi Allah adalah dua hal yang tidak terpisahkan satu dengan yang lain.

Bagian yang paling sulit ditafsirkan adalah ungkapan “tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan”. Bagi saya, referensi untuk bagian ini mengacu pada orang-orang bukan Kristen yang melihat dan memberikan observasi terhadap tuntutan bagi kita dalam hal hidup berdamai dan kekudusan. Tatkala kita gagal melaksanakan kedua tuntutan itu, saat itu juga kita gagal mendekatkan orang-orang non-Kristen kepada Kristus. Perhatikanlah bahwa ayat ini tidak berbunyi, “Tanpa kekudusan, engkau tidak akan melihat Tuhan,” tetapi “tidak seorang pun”. Dengan kata lain, ketika melihat hidup damai dan kekudusan orang Kristen, orang non-Kristen akan tertarik untuk datang kepada Tuhan. Yesus bersabda, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35). Dia juga berdoa kepada Bapa agar “mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21). Kasih kita kepada sesama menjadi kesaksian kita kepada sesama tentang Bapa dan Anak, yang itu berarti mendekatkan manusia kepada Kristus. Terlepas dari itu, tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Ketekunan untuk menjadi Christlikeness adalah sasaran yang terus menantang kita seumur hidup sebagai anak-anak Tuhan.

  1. Kewaspadaan (12:15-17)

Kata “jagalah” atau yang dalam bahasa aslinya adalah episkopeo, berkaitan erat dengan kata benda episkopos, yaitu overseer atau penilik. Setiap kita hendaknya menjadi penilik bagi orang lain, menolong setiap pribadi, setiap anak Tuhan, untuk bertumbuh di dalam kekudusan dan Christlikeness. Kita tidak dipanggil untuk menghakimi, melainkan menjadi sensitif dan penuh pengertian pada kesempatan yang disediakan untuk menghantar orang lain pada keputusan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadinya.

Sebagai penilik, hal-hal apakah yang patut menjadi kewaspadaan kita bersama?

Pertama, waspada supaya tak seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah. Fungsi kita sebagai penilik bagi saudara seiman adalah waspada agar saudara seiman kita tidak sampai menjauhkan diri dari kasih karunia Allah. Ayat ini tidak bermaksud mengatakan bahwa saudara kita itu kehilangan keselamatan. Pengertian di sini tak lain adalah agar mereka tidak sampai tersisihkan dalam hal berlari pada perlombaan yang diwajibkan bagi mereka.

Kedua, waspada supaya tidak sampai tumbuh akar yang pahit. Musa memperingatkan umat Israel di padang belantara agar “janganlah di antaramu  ada laki-laki atau perempuan, kaum keluarga atau suku yang hatinya pada hari ini berpaling meninggalkan Tuhan, Allah kita, untuk pergi berbakti kepada allah bangsa-bangsa itu” (Ulangan 29:18-19). “Akar yang pahit” menunjuk pada seseorang yang secara lahiriah mengidentifikasikan diri bersama umat Allah namun yang sesungguhnya berpaling pada paganisme. Tujuan kewaspadaan saya dan Anda dalam hal ini adalah berjaga-jaga dari kemurtadan. Tidak dapat disangkal, ada orang Kristen, hamba Tuhan yang murtad, meninggalkan gereja dan Tuhan, dan kemudian lenyap tanpa ada beritanya lagi. Bagaimanapun, seorang yang bertumbuh menjadi akar yang pahit di dalam pelayanan Tuhan, ia pasti menjadi kontaminasi serius bagi pertumbuhan tubuh Kristus.

Menurut saya, tokoh kedua yang cukup menyedihkan dalam Kitab Suci selain Yudas Iskariot adalah: Esau. Tindakan kedua tokoh ini dengan tegas sangat dicela. Mereka berdua memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal dan mengiring Tuhan. Mereka mengetahui firman Tuhan, mendengar perjanjian Tuhan, melihat mukjizat-mukjizat Tuhan, mengiring Tuhan bersama bangsanya, namun dengan sangat sadar dan penuh kerelaan hati pula mereka memalingkan diri dari Tuhan yang begitu mengasihi mereka.

Esau tidak saja imoral, tetapi juga meremehkan Allah. Ia tidak beretika dan juga tidak beriman. Ia tidak menghargai hal yang baik, benar, dan ilahi. Sebaliknya, ia bersikap sangat duniawi, sangat sekuler. Orang Kristen, hamba Tuhan seperti saya dan Anda harus waspada adanya Esau atau menjadi Esau yang akan mengontaminasi tubuh Kristus di mana pun berada.

Yakub, saudara Esau, memang bukanlah contoh dalam hal etika dan integritas bagi kita, tetapi ketulusan hati untuk menghargai hal-hal yang ilahi, hak kesulungan tampak begitu penting bagi dirinya. Tentu saja tidak dan sama sekali tidak dibenarkan bahwa ia berusaha merebutnya dengan tipu daya. Namun di balik itu, pada dasarnya yang terlihat dalam hatinya adalah suatu ketergantungan diri pada Allah, sedangkan Esau bergantung hanya pada dirinya sendiri.

Memang kemudian kita melihat betapa Esau sadar bahwa ia kehilangan semua berkat karena kerakusannya, bahkan sekalipun ia sudah memintanya dengan cucuran air mata. Tetapi yang kita temukan pada dirinya hanyalah sebuah “regret but not repent”. Kerakusannya menyebabkannya kehilangan segala berkat Tuhan, sehingga untuk seterusnya ia hidup di luar anugerah Tuhan yang berkelimpahan itu. Ini juga merupakan suatu peringatan bagi kita.

KESIMPULAN

Dalam melangkah pada jalan persembahan kita ini, ada yang sedang menempuhnya selama 1, 2, 3, 4, atau 5 tahun, bahkan tidak sedikit pula yang sudah lebih dari sepuluh tahun. Bagaimana caranya supaya langkah kita semakin mantap dan tegap? Jalan persembahan kita bukanlah berjalan santai, melainkan suatu perlombaan lari yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita mengingat 3K: Kontinuitas berlari pada lintasan lari kita; Ketekunan untuk hidup berdamai dengan semua orang dan bertekun pula untuk hidup kudus di hadapan Tuhan; sambil menjaga Kewaspadaan yang tinggi terhadap bahaya tersisihnya kita dari kasih karunia Allah, bahaya bertumbuh menjadi akar pahit, dan bahaya kerakusan yang akan menjauhkan kita dari segala berkat Tuhan yang berlimpah.

Biarlah Tuhan sumber segala kekuatan kita itu terus menjaga serta memelihara hati persembahan kita, menguatkan kita agar mampu berlari hingga mencapai garis akhir pada perlombaan yang telah Tuhan wajibkan bagi kita bersama! Amin.

 

Exit mobile version