Site icon

Jinakkan Lidahmu!

Oleh: Pdt. Andy Kirana

Yakobus 3:1–12

Shalom, Saudara… tema firman Tuhan yang akan kita pelajari pagi ini adalah Jinakkan Lidahmu. Mungkin saat Saudara mendengar tema ini berpikir dan bertanya: “Masak sih lidah itu liar dan buas… lidah itu bermasalah?!” Ingat nggak dengan almarhum Bob Tutupoli? (Andy Kirana menunjukkan fotonya). Ingat… Pernah dengar lagu ini? (Andy Kirana menyanyikan lagunya Bob Tutupoli). Memang lidah tak bertulang. Tak berbekas kata-kata. Tinggi gunung seribu janji. Lain di bibir lain di hati… Tuh kan… Bung Bob saja tahu kalau lidah itu bermasalah. Kalau Saudara masih nggak percaya liar dan buasnya lidah… yuk kita bersama-sama membuka Alkitab kita dan membaca Yakobus 3:1–12.

Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?

Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan… Apakah Saudara tahu, siapa Yakobus? Yakobus adalah saudara Tuhan Yesus. Yakobus merupakan soko guru jemaat di Yerusalem. Nasihat-nasihat Yakobus dalam surat-suratnya merupakan nasihat-nasihat yang praktis dan langsung bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan, pagi ini kita akan belajar dari Yakobus mengenai bagaimana kita menjinakkan dan menggunakan lidah kita untuk memuliakan Tuhan dan memberkati sesama.

Saudara, saya membagi ayat 1-12 tadi menjadi tiga bagian.

Pertama, Lidahku Adalah Kritikku

Dalam ayat 1 tadi dikatakan “janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru.” Di ruangan ini, siapa yang menjadi guru, coba tunjuk jari! Wow… banyak sekali, Saudara. Padahal, firman Tuhan katakan, menjadi guru itu berat… penghakimannya juga berat. Supaya Saudara tidak salah mengerti ayat ini; guru dalam ayat ini bisa diartikan sebagai orang yang mengajar firman. Guru dalam ayat ini juga bisa diartikan sebagai orang yang menghakimi atau orang yang mengkritik. Ada kan orang yang karena merasa sudah hafal firman Tuhan lalu mengkritik orang lain ‘salah’, ‘sesat’, ‘bidah’ dan macam-macam. Hati-hati dengan penghakiman seperti ini, Saudara. Mengapa? Karena menghakimi itu tidak gampang.

Saya punya cerita tentang seorang pendeta dengan seorang jemaatnya, Saudara. Suatu hari seorang jemaat menjemput pendetanya ketika sang pendeta pulang dari pelayanan di luar kota. Dalam perjalanan si jemaat ini bercerita kepada pendetanya, “Pak Pendeta, ketika Bapak pergi pelayanan keluar kota, daerah kita dilanda badai. Banyak sekali rumah roboh. Rumah saya juga roboh.” Sang pendeta itu menjawab, “Saya sudah pernah mengingatkan kamu, ini adalah hukuman dari Tuhan. Kamu harus mengakui dosa-dosamu.” Si jemaat menambahkan, “Tapi, Pak Pendeta… rumah Pak Pendeta juga ambruk!”. (jemaat tertawa). Apa jawab Pak Pendeta ini, Saudara? “Ooo iyaaa… kehendak Tuhan memang tidak bisa kita selami!” (jemaat tertawa lebih keras!).

Seperti itulah yang disampaikan Yakobus, Saudara. Menjadi guru itu sulit. Kalau kemalangan menimpa orang lain, orang lain didosa-dosakan, tetapi kalau kemalangan yang sama mengenai diri sendiri, dikatakan itu kehendak Tuhan. Oleh karena itu, dalam ayat 2, Yakobus menasihati agar kita tidak saling menghakimi, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal…” Perhatikan Saudara… kita semua bersalah dalam banyak hal! Jadinya lucu Saudara, sama-sama salah tetapi saling menyalahkan.

Kedua, Lidahku Adalah Dosaku

Yakobus menggambarkan lidah sebagai kekang yang dikenakan pada mulut kuda. Kekang itu kecil, tetapi ia dapat mengendalikan seluruh kekuatan kuda yang sangat besar. Yakobus juga menggambarkan lidah sebagai kemudi kapal. Kemudi itu benda kecil, tetapi benda kecil tersebut bisa mengendalikan kapal yang amat besar sekalipun. Apa artinya ini, Saudara? Ini artinya bahwa sekalipun kecil, lidah memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan ini. Oleh karena itu, Saudara… hati-hati gunakan lidahmu.

Saudara tahu siapa Mao Tse Tung? Ya, mantan Presiden Republik Rakyat China (sekarang Republik Rakyat Tiongkok). Semasa kecil dia bersekolah di Eropa dan juga ikut sekolah minggu. Suatu kali di sekolah minggu itu, gurunya memanggil Mao seperti ini, “Hai, kamu… anjing kuning!” Mao disamakan dengan anjing kuning. Dan, seketika itulah Mao tidak mau lagi ke sekolah minggu dan menjadi orang yang anti-Tuhan. Sejak saat itulah ia menjadi komunis yang tidak mengakui adanya Tuhan. Kelak, dia menjadi pendiri Partai Komunis China dan ketika dia diangkat menjadi presiden dia menjadikan China sebagai negara komunis yang tidak mengakui adanya Tuhan.

Saudara…. sang guru sekolah minggu ketika itu pasti tidak sadar bahwa lidahnya yang kecil telah menjadikan milyaran orang menjadi komunis yang tidak memercayai adanya Tuhan.

Yakobus juga mengatakan bahwa lidah itu seperti api. Saudara tahu, api itu panas, bukan? Demikian juga kata-kata yang keluar dari mulut ini juga panas. Hati siapa yang tidak panas mendengar kata-kata hujatan, hinaan, fitnah…? Api bisa bersifat merusak, lidah juga bisa bersifat merusak. Berapa banyak keluarga atau persekutuan atau bahkan gereja yang rusak karena gosip, karena fitnah? Negara juga bisa hancur karena hoax. Selain panas dan merusak, api bersifat cepat menyebar. Lidah juga punya sifat itu. Coba perhatikan bila ada gosip, cepat sekali dia menyebar! Benar, Saudara? Iya… walaupun ketika menyebarkannya kita bumbui dengan kata-kata, “Jangan ceritakan kepada orang lain!” Yakobus mengungkapkan bahwa lidah yang seperti itu dikuasai oleh api neraka. Ini artinya bahwa lidah yang seperti itu adalah lidah yang dikuasai oleh setan. Dengan demikian, ketika kita salah menggunakan lidah kita, kita sudah melayani setan.

Ketiga, Lidahku Adalah Kemuliaan-Mu

Yakobus mengungkapkan bahwa dari lidah yang sama bisa keluar berkat dan kutuk. Lidah bisa memuliakan Tuhan, tetapi lidah yang sama juga bisa mengutuk sesama. Rupanya, lidah kita ini bisa bercabang, Saudara. Apa maksudnya? Minggu pagi ini bisa saja Saudara beribadah memuji Tuhan. Namun, begitu keluar dari gereja Saudara menggunakan lidah Saudara untuk menghancurkan orang lain… mengata-ngatai atau memfitnah orang lain. Itu lidah yang bercabang! Orang Jawa mengatakan: “Esuk dele, sore tempe” (“Pagi kedelai, sore tempe” – red).

Ya… Lidah yang tidak konsisten! Sama seperti sebuah pohon tidak mungkin mengeluarkan dua jenis buah, dan sebuah mata air tidak mungkin mengeluarkan air tawar dan air asin, maka Yakobus berkata bahwa lidah harus digunakan secara konsisten. Kita tidak boleh sebentar menggunakan lidah kita untuk Tuhan, dan sebentar untuk setan! Boleh jadi kalau Saudara sedang berada di gereja Saudara menggunakan lidah Saudara dengan baik. Pada waktu memberitakan Injil Saudara juga menggunakan lidah Saudara dengan baik. Tetapi bagaimana Saudara menggunakan lidah Saudara terhadap pegawai, bawahan, dan pembantu Saudara? Bagaimana kalau Saudara jengkel atau marah? Apakah Saudara lalu menggunakan lidah Saudara untuk mencaci maki dan mengutuki orang lain?

Saudara, pagi ini kita diingatlah oleh Yakobus agar hal-hal seperti itu tidak terjadi dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan.

Saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai lidah ini. Setiap pagi Saudara sikat gigi, ya? (Jemaat menjawab, “Ya.”). Pernah ndak Saudara ketika mau sikat gigi, odolnya kebanyakan? (Andy Kirana mengambil odol dan menekan sampai odolnya keluar banyak sekali melimpah di piring kecil). Pernah mengalami seperti ini? “Waduh… odolnya kebanyakan!” Apa yang dilakukan Saudara? Apakah odol itu bisa dimasukkan kembali ke dalam tube-nya? Kalau ada yang bisa silahkan maju ke depan (jemaat tidak ada yang mau maju terima tantangan). Rasanya, tidak mungkin, ya Saudara. Kalau toh mungkin, kita akan belepotan odol. Tidak bisa kembali seperti semula. Demikian juga kata-kata. Kata-kata yang sudah keluar dari mulut kita… entah itu kata-kata berkat, entah itu kata-kata kutuk… tidak mungkin kita tarik kembali. Justru karena itu, Yakobus mengingatkan kita agar kita hati-hati menggunakan lidah kita.

Karena pada kenyataannya kata-kata yang keluar dari mulut kita tidak mungkin kita tarik lagi; apakah dengan demikian lebih baik kita mengunci mulut kita? Kita tidak usah berbicara apa pun kepada siapa pun? Tidak demikian, Saudara. Yang benar adalah, kita tetap berbicara… tetap menggunakan lidah kita… tetapi kita menggunakan lidah kita untuk memuliakan Tuhan dan memberkati sesama. Bisakah hal ini kita praktikkan sekarang? Kita mulai dengan memberkati sesama dengan lidah kita. (Andy Kirana kemudian mengajak jemaat untuk beranjak dari tempat duduk. Setiap jemaat diminta untuk mengatakan ‘Tuhan Yesus memberkatimu’ sedikitnya kepada sepuluh jemaat. Jemaat saling memberkati).

Saudara sudah saling memberkati dengan saling mengatakan ‘Tuhan Yesus memberkatimu.’ Mari sekarang kita muliakan Tuhan yang sudah menciptakan lidah kita dengan pujian: Kemurahan-Mu lebih dari hidup. Kemurahan-Mu lebih dari hidup. Bawa lidahku memuji Engkau. Kemurahan-Mu lebih dari hidup… Amin.

Exit mobile version