Kenaikan Yesus Kristus: Tak Terpisahkan Ruang dan Waktu
(Lukas 24:44-53, Kisah Para Rasul 1:1-11)
oleh: Andy Kirana
Tahu nggak dengan pernyataan ini: “Naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa.” Ya, ini adalah bagian dari Pengakuan Iman Rasuli. Kalau Saudara tahu, pernah mengucapkannya, bahkan setiap minggu; apakah Saudara mengerti maknanya? Saya menanyakan hal ini, karena ada orang-orang yang beranggapan bahwa dengan naik ke sorga, Tuhan Yesus sudah selesai menunaikan tugas-Nya. Sekarang Kristus duduk dan istirahat di sorga menikmati hasil karya-Nya tanpa melakukan apa pun. Kita yang masih di dunia ini juga tidak perlu menjalankan tugas, sebab semuanya sudah selesai kok. Dan… sebagai “anak Raja”, kita tinggal ongkang-ongkang menikmati berkat anugerah-Nya yang berkelimpahan sambil menunggu masuk sorga. Enak banget ya ikut Tuhan Yesus? Apakah memang benar demikian?
Kalau saat ini kita mengingat dan merayakan kembali peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, sadarilah bahwa kita berada di masa antara. Kita hidup di antara dua peristiwa besar, yaitu antara Tuhan Yesus yang sudah pergi meninggalkan kita, yang sudah naik ke sorga, yang sekarang ini duduk di sebelah kanan Allah Bapa, dan Tuhan Yesus yang akan datang kembali. Di tengah-tengah masa antara ini ternyata kita tidak bisa enak-enakan, karena ada tiga hal penting yang berkaitan dengan tugas perutusan kita.
Pertama, pelayanan Kristus yang tak terbatas ruang dan waktu. Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga adalah pesta naik takhta-Nya di sorga sebagai Raja dan dari sana Ia memerintah seluruh dunia. Selain memerintah sebagai Raja, Ia juga melayani di sorga sebagai Imam Besar yang memberi kita kasih karunia dalam menghadapi berbagai ujian dan pencobaan. Jika kita gagal, sebagai Pengantara, Ia mengampuni dan memulihkan ketika kita mengaku dosa. Sebagai Kepala Gereja, Kristus memperlengkapi umat-Nya untuk hidup bagi Dia dan melayani-Nya di dunia ini. Melalui firman Allah dan doa kita, Ia melayani kita oleh Roh-Nya dan membuat kita semakin menyerupai Dia. Tentunya, Tuhan Yesus juga menyediakan tempat tinggal di rumah Bapa bagi kita dan kelak akan datang kembali untuk membawa kita ke sana. Nah… banyak kan yang dikerjakan Kristus di sorga. Tuhan Yesus nggak nganggur!
Kalau Tuhan Yesus saja nggak nganggur, masak kita nganggur? Makanya Tuhan Yesus tetap melanjutkan pelayanan-Nya dari sorga melalui para murid-Nya di bumi. Sebelum Ia naik ke sorga, Kristus mempersiapkan mereka dengan mengingatkan maksud dari rencana Allah yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi, dan kitab Mazmur yang tergenapi dalam diri-Nya (Luk. 24:44). Lalu membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti bahwa Kristus harus menderita dan kemudian bangkit dari kematian, dan pertobatan serta pengampunan dosa harus diberitakan ke semua bangsa (Luk. 24:45-47). Dari semua kebenaran inilah, para murid diutus melayani Kristus dengan menjadi saksi (Luk. 24:48). Kita pun juga diutus-Nya dengan melibatkan diri di tengah realitas kehidupan sehari-hari yang keras dan pahit untuk menyampaikan kabar baik dan menghadirkan damai sejahtera Allah. Dengan pelayanan kita ini, kenaikan Tuhan Yesus ke sorga bukan sekadar peristiwa untuk diperingati, namun benar-benar suatu kuasa untuk dialami. William Barclay (1907-1978) menulis: “Yesus bukanlah suatu kenangan untuk diingat-ingat; saat ini Dia ada untuk ditemui dan sebagai Pribadi untuk dialami.”
Kedua, menjadi saksi Kristus yang tak terbatas ruang dan waktu. Ia telah naik ke sorga dan kitalah yang masih ada di bumi. Kitalah sekarang yang mesti berbuat sesuatu bagi-Nya. Apa yang harus kita lakukan bagi-Nya? Tuhan Yesus menjawab, “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Perintah Tuhan Yesus ini jangan sampai dipahami secara sempit, seakan-akan orang percaya harus menjadi pemberita Injil secara lisan (verbal), sekadar ber-“PI” secara dangkal, yakni “mengkristenkan” sesama. Padahal, perintah Tuhan Yesus ini sebenarnya dimaksudkan agar orang percaya yang menjadi saksi Kristus bersedia menyaksikan bagaimana kehidupan mereka telah diubah kuasa Roh Kudus. Jadi, pembaruan hidup sebagai buah Roh Kudus yang harus disaksikan dari tingkat lokal (dekat) sampai pada tingkat global (jauh), sebab kehidupan yang telah diubahkan akan menjadi seperti ragi yang sedikit demi sedikit mengkhamirkan seluruh adonan.
Meskipun tugas perutusan kita sebagai saksi-Nya tak terbatas ruang dan waktu, namun jangan lupa bahwa menjadi saksi-Nya itu harus “mulai dari Yerusalem” (Luk. 24:47), dari komunitas yang paling kecil. Tugas ini tidak dimulai dari tempat yang jauh, tetapi dimulai dari tempat yang paling dekat. Di mana pun kita tinggal, sebagai orang Kristen kita harus mulai kesaksian kita dari rumah, kemudian diperluas “sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Pendeta Oswald Jeffrey Smith (1889-1986) pernah berkata, “Cahaya yang bersinar paling jauh, bersinar paling terang di rumah.” Bukankah memang begitu? Masak nggak percaya sih? Perhatikan lampu senter ini. Saat saya hidupkan lampunya dan saya arahkan jauh ke depan, bagian mana dari sinar lampu yang paling terang? Pasti bagian sinar yang paling dekat dengan sumber cahaya kan? Oleh karena itu, jadilah saksi di rumah kita masing-masing terlebih dulu.
Ketiga, penyertaan Roh Kudus yang tak terbatas ruang dan waktu. Tugas menjadi saksi-Nya yang diberikan kepada para murid juga disertai dengan janji penyertaan-Nya. Tuhan Yesus mengatakan kepada para murid bahwa mereka akan menerima kuasa Roh Kudus: “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa. Tetapi kamu harus tinggal di kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk. 24:49). Ayat ini menandaskan bahwa perutusan sebagai saksi-Nya disertai dengan kuasa yang akan memampukan dan memperlengkapi para murid. Mereka menjadi saksi bukan karena kekuatan dan kemampuan mereka sendiri, namun ada kuasa dari tempat tinggi yang menyertai langkah mereka. Janji penyertaan ini juga diperlihatkan oleh Tuhan Yesus ketika naik ke sorga dengan cara “mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka” (Luk. 24:50).
Tuhan yang mengutus kita menjadi saksi-Nya itulah juga yang memperlengkapi kita dengan kehadiran Roh Kudus-Nya yang tak terbatas ruang dan waktu. Kehadiran Roh Kudus yang memimpin dan memampukan para murid untuk terus bersaksi, itulah juga yang diberikan kepada kita saat ini. Roh Kudus yang menerangi para murid sehingga mereka dapat mengerti bagaimana harus melangkah, juga menerangi kita. Itu berarti penyertaan Allah melalui kuasa Roh Kudus memampukan kita untuk berani menghadapi segala tantangan dan hambatan. Karena sejatinya perintah: “Kamu akan menjadi saksi-Ku” (Kis. 1:8) seperti dalam beberapa terjemahan lainnya: “Kamu akan menjadi martir-martir bagi-Ku, atau martir-martir-Ku”sudah dibuktikan dengan penderitaan para murid, bahkan sampai mati. Bapa Gereja Tertullianus (155-230) menyaksikan bahwa “Semakin sering kami engkau babat, semakin banyak kami bertumbuh. Darah para matir adalah benih Gereja.” Bukankah itu juga yang harus kita buktikan sebagai saksi-Nya yang disertai Roh Kudus?
Saat ini adalah momen yang paling tepat untuk mengevaluasi diri kita dan gereja kita. Sudahkah kita menjadi saksi Kristus yang bergerak keluar dari yang terdekat sampai dengan yang terjauh? Seperti lampu senter ini terangnya keluar dan menembus jauh ke depan, demikian pula seharusnya terang kesaksian kita. Atau kita masih berada dalam zona nyaman dengan program-program internal gereja saja? Seperti lampu senter yang terangnya terkurung dalam satu ruangan, sehingga terang itu tidak mampu menembus keluar ruangan. Kalau memang benar realitanya seperti itu, kita diingatkan supaya tidak terpaku dan diam saja, namun berani bergerak keluar melewati batas tembok rumah dan gereja untuk mewartakan kabar baik dan menghadirkan damai sejahtera Allah. Janganlah takut dan ragu-ragu untuk menjadi saksi bagi Kristus. Walaupun kita tidak didampingi secara jasmani oleh Tuhan Yesus yang telah naik ke sorga, kita senantiasa disertai Roh-Nya. Dengan demikian, kita tidak pernah berjalan sendirian dalam melanjutkan misi-Nya. Kristus tetap selalu menyertai kita dan gereja-Nya. Tak terpisahkan ruang dan waktu. Amin.

