Kepenuhan Hidup dalam Kristus
oleh : Andy Kirana
Shalom… Sungguh berbahagia hari ini saya boleh bersama-sama Saudara semua. Dan saat ini saya ingin membagikan satu berkat firman Tuhan dengan tema The Fullness of Life. Kita akan terima berkat hari ini melalui Surat Paulus kepada jemaat Kolose pasal 2 ayat 6 sampai dengan ayat 15.
Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib. Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Melalui surat Kolose ini kita akan belajar bagaimana kehidupan kita baik secara rohani, jiwani, maupun badani ini sehat.
Seperti halnya pada petang hari ini, saya sudah diajak oleh pak Lukas untuk menikmati makanan dan minuman. Rasanya seger badan ini. Nah, petang hari ini saya ingin membagikan satu hal yang sangat penting, bagaimana kita menjalani kehidupan kekristenan kita ini secara segar dan sehat di dalam Tuhan.
Saya ingin memberikan suatu gambaran kepada Saudara. Bayangkan seandainya Saudara adalah seorang pemilik restoran atau kafe. Saat Saudara ada di restoran… Saudara mendengar suara ribut-ribut di luar. Kemudian, Saudara menengok, ingin tahu apa yang terjadi. Ketika Saudara lihat, ternyata ada seorang laki-laki yang sedang ribut… tapi ributnya bukan dengan manusia melainkan dengan beberapa kucing. Aneh kan? Ya, Saudara melihat ini kok anehmen, ada manusia kok ribut dengan kucing. Lalu Saudara perhatikan lagi, apa yang membuat laki-laki itu ribut dengan kucing. Ternyata, laki-laki itu ribut berebut makanan yang ada di tong sampah. Sebagai pemilik restoran Saudara mengelus dada, merasa kasihan. Kok kebangetan ya, ada manusia kok rebutan makanan apalagi makanan di tong sampah dengan beberapa kucing.
Kemudian Saudara panggil laki-laki tersebut. “Saudaraku, ke sini sebentar. Mengapa kamu harus ribut-ribut dengan kucing, rebutan makanan yang ada di tong sampah?” kata Saudara sambil merangkul laki-laki ini. “Yuk, masuk ke dalam restoranku.”
Saudara masuk bersama laki-laki itu. Saudara minta dia duduk dan menawarkan, “Mau makan apa? Mau minum apa? Semuanya tersedia di sini. Apapun yang kamu inginkan akan aku hidangkan. Mau makan dan minum apa, terserah… semuanya ada. Buah, semuanya ada. Silakan kamu makan sepuas-puasnya setiap hari di restoranku. Dan yang terpenting, kamu tidak usah bayar alias gratis.”
Tentu saja laki-laki itu sejenak melongo. “Hah? Betul? Saya boleh makan gratis di sini setiap hari? Saya boleh makan ini? Saya boleh minum itu? Semuanya?” katanya.
“Iya, betul… terserah. Minta saja makan apa. kamu akan dilayani.”
“Betul?”
“Iya.”
Tampaknya si laki-laki ini tidak yakin dengan apa yang Saudara tawarkan. Tapi, kemudian, tanpa Saudara sangka dan duga, saat disuruh memilih makanan-makanan yang sehat yang ada di restoran Anda, si laki-laki ini ngomong begini sama Saudara, “Pak, apakah saya masih boleh makan makanan yang ada di tong sampah di luar sana?” Gantian Saudara yang dibuat melongo, “Hah? Kamu boleh makan gratis makanan apa pun yang ada di restoranku, lha kok kamu malah milih makanan-makanan yang ada di tong sampah?!” Saudara akan berpikir orang ini gila. Di depan semua makanan lezat itu, yang ia pikirkan hanya makan sampah. Konyol sekali!
Cerita ini tampak mustahil, tetapi coba cerna apa yang dikatakan oleh Paulus kepada jemaat di Kolose. Itulah sesungguhnya gambaran jemaat di Kolose. Allah sudah menyediakan hidangan surgawi bagi mereka, menghidangkan makanan-makanan yang sehat bagi jemaat Kolose, tetapi apa yang diinginkan jemaat Kolose? “Tuhan, apakah aku masih boleh makan sampah ndak?” Begitu, Saudara, yang dikatakan Paulus di sini. Nah, kita akan melihat, sesungguhnya apa yang dihidangkan oleh Allah di hadapan jemaat di Kolose ini. Hidangan itu yang akan mempengaruhi keadaan, bahkan saya katakan mempengaruhi kesehatan jemaat yang ada di Kolose.
Saya membayangkan, bahwa makanan-makanan yang dihidangkan oleh Allah kepada jemaat-jemaat di Kolose adalah makanan-makanan surgawi.
Makanan-makanan yang sehat. Makanan-makanan yang akan menyehatkan kehidupan rohani mereka, iman mereka. Coba, Saudara perhatikan ayat 9 sampai dengan ayat 10. Di situ dikatakan bahwa Engkau di dalam Kristus, hai jemaat Kolose. Engkau telah dipenuhi oleh berkat-berkat rohani. Kepenuhan itu ada di dalam jemaat ini. Itu yang ingin dikatakan oleh Paulus, bahwa yang disajikan di kehidupan mereka itu untuk dinikmati. Dan dikatakan bahwa berkat surgawi, makanan-makanan surgawi yang dihidangkan Allah ini, semuanya gratis…tis…tis…
Coba perhatikan ayat 11. Inilah menu pertama yang dihidangkan Allah kepada jemaat Kolose. Engkau sudah disunat secara rohani… ini menunjukkan penanggalan akan tubuh yang berdosa. Engkau sudah lepas dari dosa. Nikmatilah kelepasanmu ini. Nikmatilah kebebasanmu ini. Kebebasan di dalam Kristus. Namun itu bukan berarti bahwa engkau kemudian bebas juga menikmati makanan sampah dunia ini. Jangan!
Kita juga melihat pada ayat yang ke-12. Disana sudah dihidangkan satu hidangan yang sehat, makanan rohani yang sehat. Dikatakan di dalam ayat itu, Engkau sudah dikuburkan, Engkau sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus. Tetapi, kenyataannya jemaat yang ada di Kolose ini masih ingin menikmati kematian dalam kubur. Mereka tidak mau dibangkitkan. Mereka tidak mau dihidupkan. Rasanya tidak nyaman dibangkitkan dari kematian. Mereka masih ingin menikmati gelapnya kubur, dinginnya kubur. Ini sampah, Saudara. Nah, ini yang dikatakan oleh Paulus, jangan makan makanan yang tidak sehat seperti ini. Di sinilah kita bisa memahami bahwa tampaknya apa yang diungkapkan firman Tuhan ini sering kali disalahpahami jemaat di Kolose.
Kemudian, di ayat 13, di sana kita melihat bahwa kita dihidupkan oleh Allah bersama-sama dengan Kristus, kita sudah diampuni pelanggaran-pelanggaran kita. Itulah makanan yang sehat, yang perlu kita terima sehingga sungguh-sungguh melalui itu semuanya… di dalam ayat ke-14 dan ke-15… kita tidak lagi mendapatkan dakwaan-dakwaan yang mengancam kita melalui dunia ini. Sehingga dengan bahasa saya sendiri boleh saya katakan, kalau Engkau sudah ada di dalam Kristus, jangan sampai ada orang mengatakan: Lho ngono to? Begitukah orang Kristen? Lha kok sama juga dengan saya? Saudara…saya tidak ingin mendengar kata-kata yang seperti itu. Seakan-akan kekristenan ini sama saja dengan dunia ini. Katakan ‘tidak’… di dalam Kristus kita tidak sama dengan dunia ini. Amin!
Saya sering berpikir, mengapa seakan-akan orang-orang yang percaya pada Kristus di negeri ini mengalami ancaman-ancaman, dakwaan demi dakwaan.
Saya percaya, jangan-jangan ini yang jadi persoalan. Dalam ayat yang ke-15 Paulus katakan, kalau kita ada di dalam Dia, menikmati hidangan surgawi yang dihidangkan oleh Allah, kita diberi kemenangan atas semua kuasa. Wow! Mengapa kita kalah? Karena kita tidak mempunyai kuasa. Sebetulnya, karena kita tidak menyadari kuasa-Nya. Ini merupakan makanan yang sehat yang sering kali kita lupakan sehingga kita sering kalah dengan dunia ini.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, di sinilah kita bisa memahami bahwa apa yang dihidangkan oleh Allah adalah sajian surgawi. Dan inilah—seperti yang Paulus katakan—hidup yang penuh. Saudara tahu “penuh”? Ya, tidak kurang suatu apa pun. Dan itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sebagai “hidup yang berkelimpahan” (Yohanes 10:10). Hidup yang kepenuhan. Nah, di sinilah kita bisa memahami mengapa Paulus dengan tegas, dengan jelas, dan saya katakan dengan keras memperingatkan jemaat di Kolose ini. Di situ, Paulus mengatakan ‘hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu.’ Kata ‘hati-hatilah’ ini menunjukkan suatu keadaan yang gawat yang dialami oleh jemaat di Kolose. Demikian juga ini merupakan suatu keadaan yang gawat seandainya kita tidak makan makanan surgawi supaya kita penuh dengan berkat-berkat surgawi. Paulus mengatakan ‘hati-hatilah’ supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu. Inilah yang menjadi biangnya…yang menjadi penyebab mengapa jemaat di Kolose ini tidak sehat, yaitu filsafat yang kosong dan palsu.
Saya pernah mengajar mata kuliah Filsafat di salah satu STT di Semarang. Terus terang, sering kali banyak mahasiswa theologi yang masih menyalah artikan kata filsafat ini. Memang, ada filsafat dunia, tetapi juga ada filsafat surga. Filsafat itu adalah ajaran yang kita pegang. Nah, yang dikatakan Paulus adalah filsafat yang kosong dan palsu. Itu adalah filsafat dunia. Artinya apa? Ada filsafat yang tidak kosong dan tidak palsu. Nah, itu yang ingin ditegaskan oleh Paulus.
Sekarang mari kita lihat filsafat yang kosong dan palsu. Filsafat yang kosong adalah ajaran mengenai kehidupan yang kosong. Artinya apa? Saat kita menjalani kehidupan dengan filsafat dunia ini, kita merasa seakan-akan mempunyai isi yang penuh, tetapi kenyataannya itu kosong. Begitulah yang banyak kita lihat. Ada banyak ajaran dunia ini yang menawarkan ‘engkau akan mengalami kepenuhan, engkau akan mengalami kepopuleran, engkau akan mengalami kesuksesan yang luar biasa, yang dahsyat’. Tetapi, saat kita mengejar hal itu, kita mendapati diri kita ini hampa, kosong, tidak memiliki pegangan. Kelihatannya besar, tetapi tidak ada isinya. Itu filsafat yang kosong.
Kemudian mengenai filsafat palsu. Ini menunjukkan bahwa filsafat yang ditawarkan itu, tampaknya memberikan kepuasan, tetapi sebenarnya itu kepuasan sementara. Saat menikmati kepuasan itu kita bisa mengalami ekstasi, kita bisa mengalami kenikmatan yang menggairahkan, kita bisa mengalami kepuasan puncak. Tetapi itu kenikmatan yang sementara dan palsu.
Filsafat atau ajaran yang diajarkan kepada jemaat di Kolose itu bukan hanya Injil saja, tapi juga ditambah ajaran-ajaran yang lain. Ada ajaran-ajaran filsafat Yunani… ada ajaran-ajaran Yahudi dioplos jadi satu. Seakan-akan Kristus saja tidak cukup, harus plus. Ini ajaran “Kris-Plus.” Nah, ini sesuatu hal yang sangat membahayakan, Saudara. Saya menamakan filsafat yang kosong dan palsu tersebut “Filsafat Balon.” Eh… balon apa plembungan, yo? Plembungan, ya kalau di sini. Soalnya kalau balon, beda artinya. Setahu saya, selama saya hidup di Jawa Timur, artinya beda.
Saya ingin memberikan satu gambaran kepada Saudara, sesungguhnya apa sih yang dimaksud Paulus mengenai filsafat yang kosong dan palsu ini. Filsafat yang kosong dan palsu itu merupakan kehidupan yang sama persis dengan plembungan. Orang-orang yang menjalani kehidupan dengan filsafat yang kosong dan palsu ini persis kayak menjalani filsafat plembungan (mengeluarkan plembungan). Mereka berusaha memasukkan berbagai hal ke dalam plembungan ini (meniup plembungan). Dia masukkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa Tuhan (meniup plembungan). Dia memasukkan segala kenikmatan yang ada di dunia ini (meniup plembungan). Dia tambahkan jabatan yang setinggi-tingginya dengan berbagai macam cara (meniup plembungan). Dia ingin meraih popularitas yang tinggi, ngetop dikenal oleh banyak orang (meniup plembungan). Saudara bisa menambahkan hal-hal yang lain. Coba lihat plembungan ini. Kelihatannya menarik, ya, to? Iya! Menawan hati. Apik. Mungkin kita katakan ‘dahsyat, luar biasa, besar, mewah, wow.’ Barangkali kita cuma gedhek-gedhek (menggeleng-gelengkan kepala-red) sambil mengatakan, “Hebat…aku tidak bisa kayak begitu!”
Tetapi, apa Saudara… Sesungguhnya hidup mereka ini persis seperti plembungan. Keto’e gedhe, keto’e wah, keto’e luar biasa, kelihatannya kuat, kelihatannya seger, kelihatannya terpandang, kelihatannya ngetop, kelihatannya pangkatnya tinggi… tetapi apa isi plembungan ini? Kosong. Isinya cuma abab thok. Cuma udara saja!
Inilah yang diprihatinkan oleh Paulus. Jemaat di Kolose pun seperti itu, Saudara. Mereka mengandalkan duniawinya. Mereka mengandalkan kedagingannya. Saya mengatakan nggak papa lho, Saudara punya uang banyak. Saudara sugih, ndak papa. Punya pangkat tinggi, ndak papa. Tapi, Saudara ingat… kalau itu di dalam Tuhan… itu akan jadi berkat. Tetapi, kalau itu tidak di dalam Tuhan… kayak balon, Saudara. Keto’e wah, keto’e mewah, tapi apa… kotong isinya. Blong, melompong. Opo meneh? Saya memperhatikan, ternyata anak-anak Tuhan pun ada yang memegang filsafat balon ini… dan hidupnya sia-sia.
Nah, sekarang saya ingin Saudara membayangkan, kalau seandainya plembungan ini saya taruh di sini (di meja-red). Kira-kira besok, dua hari lagi, seminggu lagi, apa yang terjadi dengan balon ini? Kempes. Iya. Kempes. Memang tampaknya alon kempesnya, tidak kentara. Tapi, itu nyata. Itulah bahaya yang dilihat oleh Paulus. Jemaat Kolose lama-lama kempes. Gembos di dalam Tuhan. Lama-lama hidup mereka gembos, kempes. Artinya apa Saudara? Kalau kempes, apakah plembungan ini bisa tegak begini? Bisa kencang? Ndak… langsung begini… lemes, loyo, ambruk. Itu yang terjadi. Penyebab kempesnya macam-macam. Bisa melalui stress, bisa melalui sakit-penyakit.
Yang kedua, Saudara. Coba, Saudara perhatikan kenyataan bangsa kita, bangsa Indonesia ini… Orang Indonesia banyak yang memegang filsafat balon ini sehingga hidup merekapun persis kayak balon.
Tahu maksud saya, Saudara? Balon ini kalau kesenggol, apa yang terjadi, Saudara? Mbeledos. Ya… mbeledos, meletus. Coba perhatikan di tengah-tengah bangsa ini. Ada orang yang kesinggung sithik, nawur. Kesinggung sithik, ngobong. Kesinggung sithik, mateni. Bener ndak, Saudara? Saya berharap di gereja ini tidak ada yang kayak balon. Kesenggol sedikit nesu. Kesinggung sithik, wis moh persekutuan. Mendengar kata-kata dari saudaranya yang mungkin menyakitkan hati langsung dorr… meledak, Saudara (balon diledakkan dengan jarum). Kalau seperti itu, hidup ini menjadi sangat sensitif. Iya, jadi sensi deh. Gitu kata anak muda. Segala-galanya serba sensitif. Saya membayangkan hidup yang seperti ini sangat membahayakan. Mengapa? Kalau kita mendapati segala sesuatu tidak seperti yang kita inginkan, kita mudah meledak. Padahal, balon kalau sudah meletus, jadinya bagaimana? Kiwir-kiwir, Saudara. Balon kalau meletus, ya, jadinya kiwir-kiwir. Saudara mau hidupmu kiwir-kiwir kayak balon yang meletus gini? (sambil menunjukkan serpihan balon yang meledak).
Saya percaya kita anak-anak Tuhan tidak mau nasibnya kayak gini. Ancur-ancuran, Saudara. Apa yang dikatakan Paulus supaya hidupmu tidak meledak… supaya hidupmu tidak hancur… supaya hidupmu tetap kokoh kuat, hidupmu tetap sehat, dan berkelimpahan di dalam Tuhan? Paulus memberikan suatu gambaran. Gambaran yang indah supaya kita tidak lagi menjadi tawanan roh dunia ini…supaya hidup kita tidak kiwir-kiwir kayak gini, ancur-ancuran kayak gini, Saudara. Pada bagian yang pertama, di situ Paulus mengatakan, kamu harus tetap ada di dalam Tuhan. Kuncinya cuma satu ini. Kamu harus tetap di dalam Tuhan. Karena di sanalah engkau akan menikmati kelimpahan berkat-Nya. Ini adalah hidup yang benar di dalam Tuhan. Hidup yang kaya di dalam Tuhan. Hidup berpangkat tinggi di dalam Tuhan. Ini merupakan hidup dengan popularitas yang tinggi di hadapan Tuhan. Ini filsafat yang benar. Ini filsafat yang melampaui filsafat dunia ini. Filsafat hidup di dalam Kristus.
Kalau Saudara pernah membaca surat-surat kiriman Rasul Paulus… Saudara akan menemukan satu kata kunci yang senantiasa diulang di dalam surat-suratnya. Kata kunci apa, Saudara? Di dalam Tuhan. Di dalam Kristus. Di dalam Allah. Paulus selalu mengulang kata itu. Baik di saat ia mengalami penderitaan, baik di saat dia mengalami kebahagiaan. Dalam bahasa aslinya, di dalam Tuhan itu intheos. Itulah filsafat yang dipegang Paulus. Itu adalah satu kata yang luar biasa. Kata ‘intheos’ itu ternyata merupakan akar kata atau kata dasar dari antusias. Enthusiasm. Saudara mengerti apa yang saya maksud? Kalau engkau di dalam Tuhan, engkau akan senantiasa antusias. Engkau akan senantiasa semangat. Engkau akan senantiasa berkobar-kobar. Jadi, kalau kita berada dalam keadaan sebaliknya… kayak balon tadi, kempes, kiwir-kiwir… berarti kita di dalam Tuhan atau ndak, Saudara? Tidak. Kalau kita loyo, lemes, lesu… itu berarti kita tidak di dalam Tuhan, tetapi di luar Tuhan. Gampang titen-titenane. Begitu engkau mengalami kelemahan, loyo, ‘aduh males aku’… engkau berada di dalam Tuhan atau di luar Tuhan, Saudara?
Paulus senantiasa antusias. Coba perhatikan suratnya kepada jemaat di Filipi. Pada waktu itu Paulus sedang berada di dalam penjara di Roma. Tetapi, dia senantiasa mengulangi kata-kata bersukacitalah… bersukacitalah… senantiasa bersukacitalah, aku katakan sekali lagi bersukacitalah. Wow. Saudara tahu kata suka cita itu? Itu merupakan ungkapan kegembiraan yang luar biasa. Suka cita yang digambarkan itu seakan-akan Paulus melonjak, melompat, horeeee.….. Begitu di dalam Tuhan. Wow. Padahal, sekali lagi, pada waktu itu Paulus berada di dalam penjara. Mengapa antusiasme Paulus begitu tinggi padahal dia sedang berada di dalam penjara? Karena ia ada di dalam Tuhan. Ini yang terjadi dalam hidup Paulus.
Selanjutnya, Saudara…inilah filsafat yang benar untuk menolak filsafat yang kosong dan palsu. Yang pertama Paulus mengatakan, hendaklah kamu berakar di dalam Dia. Saya ingin menggaris bawahi kata berakar. Ya, kata berakar ini di dalam bahasa aslinya berasal dari dunia tanaman. Di situ Paulus menggambarkan bahwa orang yang ada di dalam Dia, ia akan seperti pohon yang besar, pohon yang rimbun, pohon yang mengeluarkan buah-buah yang begitu banyak, yang hidup di tepian aliran sungai. Seperti digambarkan dalam Mazmur 1:3, “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Mazmur ini menggambarkan persis seperti ucapan Paulus ini: berakar di dalam Dia.
Pada saat saya merenungkan Mazmur 1:3 ini, Saudara… tanaman dalam ayat itu pasti bukan pohon cangkokan. Itu bukan tanaman yang dikerdilkan. Itu bukan tanaman pajangan. Tetapi, itu sungguh pohon-pohon yang ditanam di tepian aliran sungai. Tumbuh subur, lebat dan berbuah. Itu berarti bahwa Saudara dan saya harus berakar di dalam Kristus. Saat saya semakin masuk merenungkan ayat ini, Saudara… saya merasakan Roh Kudus mengingatkan, “Hei, Andy… coba lihat… lihat… banyak kehidupan anak-anak Tuhan yang tidak seperti itu. Banyak anak-anak Tuhan yang hidupnya bukan seperti pohon besar yang berada di tepian aliran air… tetapi kayak tanaman di pot itu.”
Tahu yang saya maksudkan, Saudara? Coba Saudara lihat pot itu (menunjuk pot yang ada di mimbar). Kalau pada suatu ketika mungkin kita tidak sreg pot itu berada di sana, kira-kira bisa ndak dengan mudah kita memindahkannya, Saudara? Tak pindah sana lagi, tak pindah sana lagi (sambil memindahkan pot). Bisa, Saudara? Saya melihat banyak anak Tuhan yang jadi Kristen pot-potan, Saudara. Saya berharap di sini tidak ada, ya… Apa maksudnya Kristen pot-potan? Ngibadah neng kono rak enak, ‘ah aku wes kecenthok karo gembalane, aku tak pindah wae rono.’ Eh, jebulane kok ya neng kene padha wae, ah tak golek seng enak meneh. Eh, tenyata ndak enak lagi… pindah lagi pote, pindah lagi pote. Saudara bisa membayangkan kalau pot ini dipindah-pindah, tidak ditanam; kapan tanamannya akan berakar dalam? Tahu yang saya maksud? Kalau engkau mau berakar di dalam Dia, di mana pun engkau ditempatkan, berakarlah di situ. Ya, ojo pindhah-pindhah lah, rek. Gembalanya, ya sedih, ya. Iya, sedih lho. Benar. Lha terus kapan bisa jadi dewasa kalau seperti itu?
Saya melihat sendiri, Saudara… tidak di Surabaya sih, kalau di Surabaya sih kelihatannya tidak ada. Di tempat saya banyak seperti itu. Sampai kemarin saya mendengarkan keluhan seorang gembala. Waduh, domba-dombaku kesedhot meh separo ke gereja yang baru. Waduh, kadang kita merasa prihatin dengan kondisi seperti itu, Saudara. Terus terang, karena saya ini banyak mengajar hamba-hamba Tuhan, saya juga sering mendengar keluhan-keluhan para gembala. Aduh, ngelus dada, Saudara. Berakar, lho ya, Saudara… berakar! Jangan jadi orang Kristen pot-potan. Maunya mesti disirami terus… Kudu dijoki terus. Begitu lupa disirami… alum. Tetapi, kalau engkau berakar dalam, tumbuh di dalam Kristus, lha mbok udan, angin, panas… tetep segar dan berbuah. Itu yang dimaksudkan Paulus.
Yang kedua, Saudara. Di situ dikatakan bahwa di samping kita berakar di dalam Dia, yang kedua, kita dibangun di atas Dia.
Dibangun di atas Dia. Dia siapa? Yesus. Kalau yang pertama Paulus memberikan filsafat dari dunia tanaman, yang kedua ini dia memaparkan filsafat dari dunia konstruksi. Dari dunia bangunan. Pada saat saya merenungkan kata dibangun, kata itu tidak asing bagi saya, Saudara. Karena apa? Karena saya pernah kuliah di bidang itu. Saya kuliah S1 Arsitektur di Undip, kemudian melanjutkan kuliah S2 Arsitektur di ITB. Saya paham kata-kata Paulus ini. Ini menunjukkan satu hal yang penting. Bahkan saya percaya, Saudara tahu semuanya. Kalau Paulus mengatakan ‘dibangun di atas Dia’, itu artinya, Saudara… Tuhan Yesus yang menjadi dasarnya, fondasinya (1 Korintus 3:11).
Apakah Saudara pernah mengamati waktu rumah Saudara dulu dibangun? Atau mungkin Saudara pernah mengamati sebuah gedung yang sedang dibangun? Kalau misalnya si tukang bangunan membuat fondasinya wes sak meter wae… Saudara bisa membayangkan ndak bangunan yang berdiri di atas fondasi itu kira-kira dhuwure sepiro? Satu lantai? Dua lantai? Dua puluh satu lantai? Tidak akan mungkin tinggi kan? Mesti bangunane cilik. Nggak besar. Nggak tinggi. Ya, paling dua lantai lah. Kalau pondasinya pakai pondasi tiang pancang dalamnya lebih dua puluh meter, pasti bangunan di atasnya bisa lebih dari sepuluh lantai. Pondasi kita adalah Tuhan Yesus, jadi pasti bangunannya besar, tinggi, megah, dan kuat. Nah, Saudara, kalau fondasinya adalah Tuhan Yesus, maka kita harus membangun hidup kita di atasnya supaya tidak mudah digoncangkan dan dihancurkan ‘gempa’ persoalan hidup ini.
Yang berikutnya Saudara, yang ketiga. Hendaklah kamu bertambah teguh di dalam iman yang telah diajarkan kepadamu.
Saya ingin menggarisbawahi kata ‘diajarkan’, Saudara. Jelas sekali kata ‘diajarkan’ ini berasal dari dunia pendidikan. Kalau yang pertama Paulus menggunakan gambaran dari dunia tanaman, lalu yang kedua dari dunia bangunan; untuk yang ketiga ini Paulus menggunakan filsafatnya dari dunia pendidikan. Dia sesungguhnya ingin menggambarkan, “Kamu hai jemaat yang ada di Kolose… kalau kamu tidak mau diajar, ya… kamu tidak akan naik kelas.” Sekarang coba bayangkan, ada ndak orang yang berpikir atau anak yang berpikir kemudian mengatakan pada gurunya, “Pak Guru mbok aku ndak usah belajar, ndak usah ulangan wae, tapi nanti tolong dinaikkan kelas, ya.” Ada ndak, Saudara? Ndak ada. Pasti dia akan mengalami ujian untuk kenaikan, dan supaya naik kelas dia harus mau diajar dan belajar. Oleh karena itu, jangan menyepelekan ajaran! Dan saya percaya, Bapa surgawi kita pun ingin kita diajar dan juga naik kelas, lulus, naik lagi, naik kelas lagi, lulus… sampai mencapai tingkat yang tertinggi. Kita semakin bertambah teguh di dalam iman, sehingga tidak tumbang oleh “rupa-rupa angin pengajaran” (Efesus 4:14).
Yang terakhir, Saudara. Paulus mengatakan bahwa kehidupan yang sehat di dalam Tuhan adalah suatu kehidupan yang melimpah dengan syukur.
Hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Yang pertama Paulus mengungkapkan dari dunia tanaman (botani), yang kedua dari dunia bangunan (konstruksi), yang ketiga dari dunia pendidikan (edukasi), yang keempat, Saudara… ini dari dunia pengairan (irigasi). Kata ‘berlimpah’ itu dalam bahasa aslinya menggambarkan satu sungai yang besar yang dialiri oleh aliran sungai yang deras. Nah, itulah hidup yang penuh di dalam Tuhan. Itu hidup yang ada di dalam Kristus.
Saudara bayangkan kalau ada sungai dengan airnya yang mengalir deras. Terus Saudara berusaha untuk membendungnya, untuk menyetop aliran air ini. Apa yang mungkin terjadi? Saat aliran ini dibendung, apa yang terjadi? Airnya akan meluber dan membanjiri daerah di sekelilingnya. Tetapi, ada kemungkinan yang kedua: bendungan ini jebol. Nah, ini yang ingin digambarkan oleh Paulus. Hidup anak-anak Allah adalah hidup yang melimpah. Dialiri aliran air surgawi yang melimpah melalui sungai-Nya. Tapi, jangan sekali-sekali engkau membendung aliran berkat itu untuk dirimu sendiri. Itu akan mengacaukan kehidupan orang-orang di sekitarmu. Keluargamu, kerabatmu akan hancur juga. Benar tidak, Saudara? Ya.
Saat ini saya dan istri masih mendampingi seorang ibu di dalam penggembalaan. Orang ini menerima berkat-berkat yang luar biasa besarnya. Tapi, yang jadi persoalan yaitu saat berkat-berkat itu dibendung hanya untuk keperluan diri mereka sendiri. Apa yang terjadi, Saudara? Dia ikut terlempar karena aliran yang sangat deras itu, saat tanggul hidupnya jebol. Dan sekarang… hidup rumah tangganya kacau, Saudara. Ya, bayangkan saja Saudara… di tubuhmu itu ada aliran-aliran darah. Nek mbok bumpeti kira-kira apa yang terjadi, Saudara? Isa ngelu, isa stress, isa stroke, isa mati. Oleh karena itu benar, apa yang Amsal 11 ayat 25 beritakan: siapa banyak memberi berkat diberi apa? Kelimpahan. Ya, itu hidup yang sehat. Kalau engkau membendung berkatmu, itu tidak sehat. Jadinya macam-macam. Entah pusing-pusing, sering migraine, dan sebagainya. Karena apa? Karena alirannya kesumpetan.
Pada petang hari ini kita sudah diingatkan. Banyak filsafat, ajaran dunia yang diajarkan kepadamu. Tapi, ingat itu kayak balon. Ajaran itu membuat engkau tampaknya seakan-akan wow, tapi sebetulnya nol, kosong, melompong. Namun, Paulus memberikan satu solusi, yaitu tetap ada di dalam Tuhan. Terus berakar di mana engkau ditanam. Engkau harus membangun bangunan hidupmu di atas fondasi yang benar, fondasi Kristus. Engkau harus mau diajar, diajar di dalam kebenaran-Nya supaya engkau semakin teguh di dalam iman. Dan saat engkau menerima aliran-aliran berkat ini dari Tuhan, jangan sekali-sekali engkau membendungnya. Biarkan aliran-aliran itu melimpah pada orang di sekelilingmu. Memberkati orang lain, memberkati gerejamu, memberkati masyarakatmu, memberkati bangsamu, negerimu. Itu namanya orang Kristen yang hidupnya sehat.
Saudara… pada hari ini biarkan firman Tuhan itu meresap masuk ke dalam hatimu. Dan kalau sekarang ini Saudara merasakan, ‘aku kok kayak balon ya, aku sudah kempes, aku sudah meledak, aku sudah ancur-ancuran’… jangan khawatir. Kita mempunyai Bapa yang sungguh baik, yang menyediakan makanan sehat dan melimpah dalam hidup kita setiap hari, sepanjang hidup kita.

