KERAMAHAN PADA ORANG KECIL
(oleh: Pdt. Yosua Agung Nugroho)
Saudara, kehidupan manusia dewasa ini makin tidak ramah. Masih saya ingat dulu saya SD melihat di luar pagar rumah, banyak tersedia kendi-kendi dan gelas berisi air. Maksudnya agar siapapun yang lewat dan kehausan, boleh minum sepuasnya. Wisatawan asing pun banyak tertarik untuk datang berkunjung ke Indonesia, karena orang Indonesia katanya ramah-ramah… Itu dulu, namun bagaimana sekarang?
Rasanya makin hari, makin sulit kita menunjukkan keramahtamahan pada orang asing. Kita harus berhati-hati saat mau menerima orang yang tidak kita kenal dalam rumah tangga kita. Karena sudah banyak kejadian kejahatan yang memanfaatkan keramahan dewasa ini. Mulai dari yang pura-pura jadi tukang reparasi, mengaku disuruh sang empunya rumah, bahkan saya di gereja pun sering kedatangan orang-orang yang berpura-pura kesusahan untuk mendapatkan uang. Memang sikap hati-hati pada masa kini sangat dibutuhkan, namun kiranya jangan sampai kehati-hatian tersebut lebih menonjol sampai menghilangkan keramahtamahan kita.
Dalam Alkitab sebenarnya ada banyak sekali kisah-kisah/ayat-ayat yang mendorong umat Allah untuk bersikap ramah mulai dari kisah Abraham menyambut tiga orang tamu (malaikat) tidak dikenal, sampai perumpamaan orang Samaria yang murah hati. Bahkan keramahtamahan orang percaya tidak hanya terbatas ditujukan kepada orang yang sudah dikenal, namun juga kepada orang yang tidak dikenal, tamu, ataupun orang asing. Intinya, ndak peduli siapapun juga, baik kenal maupun tidak, harus disambut dengan keramahtamahan.
Dalam Injil Matius 10:40-42 Tuhan Yesus juga menyinggung mengenai keramahtamahan, terutama keramahtamahan yang diberikan kepada para murid yang diutus oleh Yesus untuk membawa berita. Berita apa? Berita bahwa di dalam Yesus Kristus ada keselamatan, di dalam Yesus Kristus ada pemulihan dan pengampunan dosa. Sebuah tugas perutusan yang mulia, namun sama sekali tidak mudah. Ada dua kemungkinan yang dihadapi oleh para murid: ditolak dengan kebencian atau diterima dengan ramah. Bagi barangsiapa yang menolak kehadiran para murid, maka ia sama saja dengan menolak Yesus sendiri. Namun bagi barangsiapa mau menyambut para murid, maka berarti ia mau menyambut Yesus, dan barangsiapa mau menyambut Yesus berarti ia mau menyambut Allah Bapa masuk dalam kehidupannya. Menyambut di sini bukan sekedar menerima, karena bisa jadi seseorang menerima tamu dengan tidak ramah. Dalam bahasa Yunani, kata menyambut (dexomai) memiliki arti yang lebih mendalam, yakni menerima dengan ramah, hangat, dengan tulus. Nah, bagi barangsiapa yang mau menyambut para murid dengan keramahan, maka bacaan kita menyebutkan bahwa orang tersebut akan menerima upah sesuai dengan keramahan yang ditunjukkan. Kalau ia ramah kepada nabi, maka ia akan menerima upah nabi. Kalau ia ramah pada orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Kalau ia ramah pada orang yang diutus Allah, maka ia akan menerima upah dari Allah.
Menerima ‘upah’, ini kata yang menarik. Matius adalah seorang pemungut cukai, maka ia sehari-hari berhadapan dengan perihal upah-mengupah dalam pekerjaannya. Akan tetapi upah yang dimaksudkan oleh Matius di sini bukanlah upah berupa uang, melainkan berupa berkat. Di sini kita menemukan poin yang penting, bahwa Tuhan melihat keramahtamahan sebagai sesuatu yang berharga, dan harus menjadi perhatian semua orang percaya. Jika ada orang yang mau menunjukkan keramahtamahan pada orang lain, maka Tuhan tidak segan untuk menunjukkan berkat pada orang tersebut. Hal ini senada dengan apa yang Tuhan Yesus pernah ucapkan dalam kotbah di bukit: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan”. Oleh karena itu mari kita jangan ragu-ragu sungguh-sungguh ramah satu dengan yang lainnya.
Namun belum berhenti sampai di sana, keramahan itu rupanya tidak hanya berlaku bagi para nabi dan orang benar. Tuhan Yesus dalam ayat ke-42 menambahkan sebuah penekanan baru: “barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, aku berkata kepadamu: sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”
Secangkir air sejuk kepada seorang yang kecil. Kalimat ini menarik. Tuhan Yesus hidup di tanah Palestina yang dahulu gersang dan berdebu, 11-12 lah dengan Pekalongan. Di tengah panas terik matahari, tentu secangkir air sejuk menjadi sangat memuaskan. Kata air sejuk di sini menunjukkan penyambutan yang sangat baik, bukan air seadanya yang disajikan, tapi air sejuk yang harus dipersiapkan dulu secara khusus (karena pada jaman itu belum ada kulkas!). Air yang dipersiapkan secara khusus ini lalu diberikan kepada seorang yang kecil. Orang yang kecil adalah sebuah ungkapan/sebutan yang diberikan kepada mereka yang pada umumnya tidak dipandang orang. Contohnya: saat Obama datang ke Bali, Jogja dan akhirnya Istana Bogor, setiap tempat yang dikunjungi Obama dan keluarga ditutup dan dijaga ketat. Tidak boleh sembarang orang masuk. Yang boleh berinteraksi dengan Obama hanyalah orang-orang yang terpilih, sedang rakyat biasa hanya bisa awe-awe dari kejauhan. Nah orang-orang yang awe-awe (bhs. Jawa, melambaikan tangan) dari kejauhan inilah yang dapat disebut orang kecil. (jeda) Saya yakin hampir semua orang tua di Indonesia berharap bahwa anak-anak dan cucu-cucunya akan menjadi orang yang besar. Rasanya hampir mustahil ada orang yang cita-citanya hanya menjadi orang kecil. Orang tua saya juga termasuk demikian, dari dulu saya dimotivasi agar kalau nanti sudah dewasa, jangan jadi orang kecil, jadilah pembesar. Dan betul saja, saat ini saya berdiri di depan anda semua sebagai orang yang besar (perutnya)!
Kembali pada teks, Tuhan Yesus memberikan penekanan agar orang-orang yang kecil ini jangan dilupakan dalam pemberian keramahtamahan. Bukan berarti bahwa orang kecil lebih berhak mendapat perlakuan spesial dibanding orang yang besar/kaya, sama sekali tidak! Jika kita membaca dengan teliti ayat 42, maka kita akan menemukan alasan mengapa orang kecil pun harus tetap diperhitungkan dalam keramahtamahan. Alasannya adalah, karena orang yang kecil ini adalah murid kepunyaa Yesus! Maka pesan yang dapat kita ambil adalah: pada saat kita hendak menunjukkan keramahan pada seseorang, jangan sekali-kali kita pilih-pilih melihat status orang tersebut (apakah besar/kecil, kaya/miskin), melainkan lihatlah: kepunyaan siapa orang tersebut! Segala kebaikan, keramahan, pertolongan yang kita berikan seharusnya hanya berlandaskan pada satu alasan: yakni bahwa orang yang kita beri ini adalah milik Kristus. Tak perlu alasan lain.
Mungkin ada yang berpendapat, bahwa di gereja masih banyak orang yang ramah. Kalau memang masih ada, maka puji Tuhan! Namun mari kita introspeksi diri, apakah keramahan yang ditunjukkan itu keramahan yang sungguh-sungguh atau tidak? Karena seringkali orang Kristen itu punya penyakit: keramahan ditunjukkan secara berkala… Kala-kala ada maunya! Kala-kala ada butuhnya… maka ramah! Tapi kalau tidak ada kepentingannya, apalagi sudah bergesekan, berselisih pendapat, atau ada ndak suka sedikit saja, keramahan itu bisa bergeser menjadi gosip, rasan-rasan, sindiran, bahkan ejekan dan permusuhan! Untuk menghindari hal itu terjadi, mari kita menengok bacaan kedua kita dari Roma 6:12-23. Rasul Paulus mengingatkan pada kita semua, siapakah sebenarnya kita. Kita semua tanpa terkecuali adalah hamba. Dahulu kita adalah hamba dosa, dimana tubuh kita penuh dengan kecemaran dan kedurhakaan. Tetapi kini kita telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran (Roma 6:18). Status kepemilikan diri kita telah berubah, dari dosa menjadi kebenaran, akan tetapi kita tetap hamba! Di mata Allah kita tetap ‘orang kecil’! Orang-orang kecil yang membutuhkan kasih karunia Allah supaya kita beroleh hidup yang kekal dalam Kristus Yesus.
Oleh karena itu mari kita jangan sombong atau merasa diri lebih besar daripada yang lain. Sesama orang kecil, marilah kita tidak saling menyikut, tidak saling curiga, tidak saling membully! Sebaliknya, mari kita berlomba-lomba lebih dahulu menunjukkan keramahtamahan kepada sesama orang kecil. Tidak perlu ambil pusing siapa yang kita hadapi dan layani, mungkin orang yang tidak kita kenal, mungkin orang yang dulunya kita anggap lebih ‘rendah’, mungkin orang tersebut belum pernah berlaku ramah kepada kita, itu tidak menjadi masalah! Karena yang penting adalah sebuah kesadaran, bahwa orang ini adalah milik Allah, maka kita mau berlaku ramah kepadanya. Toh Yesus tidak meminta kita menunjukkan keramahan yang berlebihan, yang di luar batas kemampuan kita. Yang diminta adalah keramahan dalam wujud secangkir air sejuk. Keramahan dalam bentuk-bentuk sederhana, kebaikan sehari-hari, itulah yang diminta oleh Tuhan. Mungkin terlihat sepele, tapi bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka upah berkat Tuhan akan tercurah baik bagi yang memberi keramahan, dan juga bagi yang menerima keramahan.
Saudaraku, dunia memang makin tidak ramah, namun jangan kita ikut larut di dalamnya. Kita dipanggil untuk tampil berbeda dengan dunia. Maka di dalam dunia yang makin marak permusuhan, mari kita makin giat menyebarkan keramahan!

