Site icon

Keselamatan Karena Kasih Karunia

Keselamatan Karena Kasih Karunia

Efesus 2:1-10

oleh: Jenny Wongka †

Betapa sering kita mendengar seseorang berkata, “Baiklah, jangan khawatir akan hal itu. Tidak akan ada  masalah serius apa pun seratus tahun kemudian dari sekarang ini.” Tentu saja tak seseorang pun di antara orang-orang yang mendengar ungkapan ini mampu membuktikan kebenaran tersebut. Namun, ada sesuatu yang lebih jauh dari seratus tahun. Dan adakah masalah yang menyangkut masa depan Anda itu yang sudah dibereskan?

Ada sejumlah hal yang tidak penting di dalam kehidupan kita. Namun, kita akan akui bahwa ada sejumlah masalah yang penting dan bahkan vital dalam kehidupan. Tidak menjadi masalah seberapa besar keberhasilan yang sudah Anda  raih dalam hidup Anda. Tidak pula menjadi masalah seberapa banyak materi yang mampu Anda kumpulkan dari perjuangan kerja keras Anda dalam meniti karier.

Hanya ada satu hal yang sungguh menjadi masalah bagi Anda kelak setelah melewati masa hidup ini. Masalah itu ialah di manakah gerangan Anda akan meluangkan masa kekekalan Anda?

Rasul Paulus dengan sangat sederhana mengungkapkan betapa kita bisa meyakini bahwa kita akan meluangkan masa kekekalan kita bersama Allah. Dalam Efesus 2:8-9, kita membaca, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Dalam dua ayat di atas rasul menyampaikan kepada kita tiga hal yang berkaitan erat dengan jalan keselamatan. Marilah kita melihat mereka dari urutan kebalikan dengan ungkapan ayat-ayat ini.

Bukan Hasil Usahamu

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan … bukan hasil usahamu; jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Apa yang dikatakan Paulus di sini terungkap dalam ekpresi kepercayaan kebanyakan orang di dunia ini. Banyak orang percaya bahwa jika Anda dapat mempersembahkan pekerjaan baik atau amal Anda kepada Allah, maka Allah akan mengumumkan bahwa Anda “cukup baik” untuk masuk ke surga. Namun Rasul Paulus menjawab bahwa “bukan hasil usahamu.”

Inilah suatu problem yang dihadapi Paulus di tengah jemaat Galatia. Ia telah melawat jemaat Galatia dan memberitakan Injil murni tentang anugerah keselamatan oleh iman di dalam Yesus Kristus. Sejumlah besar orang telah menjadi percaya dan beriman kepada Kristus. Namun setelah Paulus meninggalkan jemaat itu, maka sejumlah “serigala” telah menyusup ke antara kawanan domba dan mendatangkan kekacauan. Sejumlah “serigala” ini adalah kaum Yudaisme—para guru palsu.

“Memang Paulus benar,” mereka mengakuinya. “Kita diselamatkan oleh beriman kepada Kristus yang telah mati di atas salib. Namun Paulus telah mengabaikan suatu hal lainnya. Kita juga diselamatkan oleh usaha yang kita peragakan—oleh ketaatan akan Hukum Taurat Musa.” Dan mereka mengkhususkan ritus sunat. Sebagai akibatnya, mereka berkata bahwa keselamatan adalah oleh iman dalam Kristus PLUS sesuatu hal yang lain. Dan banyak orang telah disesatkan dengan pengajaran ini.

Tatkala Rasul Paulus mengetahui akan sesuatu yang terjadi di tengah jemaat Galatia ini, ia sungguh merasa sangat terganggu. Untuk meluruskan konsep yang keliru ini, dengan usaha semaksimal mungkin, ia menulis Surat Galatia. Ia mengekspresikan segenap hatinya kepada mereka, dengan suatu ungkapan parafrasa, “Hai, orang-orang Galatia yang bodoh! Kalian sudah memulai sesuatu hal yang baik dengan percaya hanya kepada Yesus Kristus saja. Kini kalian telah berbalik kepada sesuatu hal yang lain – mengandalkan hasil usahamu. Tidakkah kalian melihat karya Yesus tatkala Ia mati di atas Salib itu?”

Ajaran sesat yang sudah cukup kuno yang dihadapi Paulus pada zamannya masih tetap hidup dan menampilkan diri dengan luar biasa pada zaman kita dewasa ini. Masih jelas dalam ingatan saya tatkala studi di Amerika, dalam menjalankan tugas PI pribadi, seorang profesor saya yang belasan tahun sangat aktif dalam pelayanan Campus Crusade For Christ memperkenalkan buklet kecil tentang spiritual law. Setelah mengadakan pendekatan dengan seseorang, pertanyaan pertama harus kami ajukan: “Sudahkah Anda tiba pada kehidupan spiritual yang di dalamnya Anda tahu dengan pasti bahwa jikalau malam ini Anda akan mati, maka Anda pasti masuk surga?”

Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan kedua: “Seandainya Anda mati malam ini serta berdiri di hadirat Allah dan tatkala Dia bertanya kepada Anda, ‘Mengapa Aku harus membiarkan kamu masuk ke surga?’ Apakah jawaban Anda kepada Allah?”

Dalam hasil pengumpulan jawaban dari kelas PI Pribadi itu yang dilaporkan dari anggota kelas, hampir 90% jawaban untuk pertanyaan kedua adalah:

“Saya merasa bahwa saya orang yang cukup baik. Saya sudah tergolong sebagai anggota gereja A atau B sekian tahun lamanya. Saya kira saya sebaik para anggota jemaat lainnya dalam kongregasi kami. Saya selalu memperlakukan orang lain dengan sangat adil dan baik.”

Dengan kata lain, “Saya pikir Allah harus membiarkan saya masuk ke surga mulia-Nya sebab saya cukup baik untuk berada di sana.”

Jawaban Paulus atas pertanyaan itu adalah suatu penegasan: “BUKAN HASIL USAHAMU!—supaya jangan ada orang yang memegahkan diri!” Ia ingin mengungkapkan bahwa jangan sekali-kali ada orang yang berjalan di surga sambil memegahkan diri dan berkata, “Rekaman tentang usaha atau perbuatan saya di bumi sana itu begitu baik hingga Allah tidak mungkin menutup pintu surga bagiku.” TIDAK! tak seorang pun di antara kita akan disambut hangat di surga kecuali kita sanggup dengan kerendahan hati menyanyikan sebuah pujian dari dasar hati terdalam kita:

“Saya tidak membawa apa pun di tangan saya ya, Tuhan, Saya hanya bergantung pada salib-Mu saja!”

 

Melalui Iman

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman.”

Pada butir yang kedua, Paulus menyampaikan kepada kita bahwa keselamatan bukan diraih dengan hasil usaha kita yang benar, tetapi oleh iman yang polos seperti keyakinan atau kepercayaan seorang anak kepada orangtuanya.

Kini iman keselamatan itu mencakup dua hal:

Pertama,

Percaya pada fakta yang diperbuat oleh Yesus Kristus—Siapakah diri-Nya dan apa yang telah diperbuat-Nya.

Banyak orang modern dewasa ini yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah. Mereka menilai Dia sebagai tidak lebih dari seorang yang agung, guru agung, seorang yang memberikan pengaruh moral yang besar. Banyak orang yang tidak percaya bahwa kematian Yesus di atas salib menggenapkan karya penebusan dosa dan justru melalui kematian-Nya itulah Dia telah memenuhi tuntutan keadilan Allah. Mereka melihat hal itu sebagai suatu kematian seorang pahlawan—kematian seseorang yang berkorban demi ideologinya sendiri.

Saya akan mencoba mengungkapkan hal ini dengan cara sesederhana mungkin: dengan menyangkali keilahian Yesus dan penebusan-Nya atas dosa yang dikaryakan di atas salib SAMA DENGAN menghancurkan inti kepercayaan iman kristiani! Iman keselamatan sejati selalu menuntut percaya akan kebenaran tentang Yesus Kristus.

Kedua,

iman keselamatan itu lebih dari suatu persetujuan intelektual—mempercayakan diri (TRUST).

Saya mempercayakan diri saya kepada dokter yang merawat saya. Tatkala saya jatuh sakit, saya datang kepada dokter. Saya mempercayakan diri saya sepenuhnya ke dalam tangannya untuk melakukan apa saja yang perlu demi kesembuhan saya.

Saya mempercayakan diri kepada seorang pilot pesawat tatkala bepergian ke kota lain dengan pesawat. Saya percaya bahwa ia sangat kompeten dan berpengalaman. Saya mempercayakan hidup saya ke dalam tangan pilot itu yang akan membawa saya selamat tiba di tempat tujuan, kemudian saya mengikatkan sabuk pengaman dan duduk dengan santai menikmati makanan yang dibagikan sang pramugari.

Demikian pula yang terjadi dengan saya yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang menyerahkan nyawa-Nya untuk saya sebagai korban substitusi di atas salib. Saya memberikan persetujuan intelektual atas kebenaran ini, tetapi saya melangkah lebih jauh dari persetujuan intelektual ini untuk menerima Dia sebagai Juruselamat pribadi saya dan mempercayakan diri sepenuhnya kepada Dia di sepanjang sisa hidup saya dan dalam kekekalan.

Dia layak untuk dipercaya (He is trustworthy). Inilah ungkapan janji-Nya dalam Yohanes 6:37: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Biarlah orang berdosa itu datang! Biarlah ia datang dengan masa lampau suramnya, biarlah ia datang dengan beban dosa beratnya. Biarlah ia rela menyerahkan dirinya di bawah kemurahan Kristus, dan ia akan mendapatkan jaminan janji Juruselamat:

“Datanglah, setiap orang yang berbeban berat dengan saratnya dosa. Ada belas kasihan Tuhan, dan Ia akan memberikan perhentian yang pasti, hanya dengan beriman akan firman-Nya.”

 

Sebab Karena Kasih Karunia

“Sebab karena kasih karunia ….”

Akhirnya, Rasul Paulus menyampaikan kepada kita bahwa keselamatan datang dari hati Allah yang penuh kasih sebagai suatu pemberian-Nya kepada kita. Keselamatan itu diberikan kepada mereka yang merasa tidak layak untuk menerimanya. Sebaliknya, bagi mereka yang merasa dirinya layak untuk menerima keselamatan Tuhan, mereka hanya akan menerima murka Allah, penghakiman dan tersisihkan untuk selama-lamanya. Inilah yang dikatakan Alkitab tatkala mendiskusikan KASIH KARUNIA.

Apakah definisi “kasih karunia?” Banyak orang mengaminkan definisi tradisi tentang “kasih karunia” sebagai sesuatu yang sangat kita perlukan namun kita tidak berhak menerimanya. Seorang hamba Tuhan yang bernama Dr. Lindsay yang melayani sebuah jemaat di kota Richmond, Virginia, mengisahkan makna “kasih karunia” dalam pengalaman pribadinya pada awal pelayanannya di Skotlandia.

Waktu itu ia adalah seorang guru untuk Kelas Sekolah Minggu Pra-remaja. Pada awal musim Semi di suatu hari Minggu, ia menyampaikan pelajaran Sekolah Minggu dari Surat Efesus pasal 2 ini. Ia berulang kali menegaskan tentang makna “kasih Karunia”, yakni sesuatu yang kita perlukan namun kita tidak berhak menerimanya. Hanya sedikit anak Pra-remaja yang menaruh perhatian pada isi pelajaran hari itu.

Pada hari berikut, sementara ia menempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju sebuah desa untuk menghadiri pertemuan sosial, seorang anak remaja melihat dari kejauhan kedatangan Dr. Lindsay. Ketika itu bulan April, namun masih tersisa salju basah di seluruh permukaan tanah. Anak ini segera membuat bola-bola salju yang lumayan besar dan keras di tangannya sambil menantikan kedatangan sang guru Sekolah Minggu itu. Dengan sambil bersembunyi di balik sebuah pohon besar, ia sekali-kali mengarahkan pandangannya serta memusatkan arah lemparan bola salju itu ke arah gurunya. Dengan sangat tepat sebuah bola salju keras melayang dan mengenai telinga sang guru sehingga guru itu merasa sangat kesakitan. Si Bobby, sang remaja yang begitu yakin dengan ketepatan lemparannya itu segera berbalik dan lari dengan cepat tanpa menoleh sekejap pun.

“Saya sungguh tergoda untuk segera mengejarnya dan menghajar anak itu,” demikian kata Dr. Lindsay. “Kemudian saya teringat pada pelajaran Sekolah Minggu yang saya bawakan dalam kelas baru lalu tentang kasih karunia. Saya segera merasa perlu untuk mempraktikkan kasih karunia tersebut kepada anak itu.”

Dr. Lindsay tahu bahwa Bobby membutuhkan sebuah alat pancing sebab Minggu siang yang lalu ia telah meminjam alat pancingnya itu. Maka ia segera pergi ke toko alat-alat pancing. Dicarinya sebuah alat pancing yang baik dengan warna yang menarik, lebih menarik dari kepunyaannya sendiri. Ia menuju ke rumah Bobby, namun anak itu tidak ditemukan. Dr. Lindsay menyerahkan alat pancing itu kepada ibu Bobby agar diberikan kepada Bobby.

Pada sore hari menjelang pukul 6.00 terdengarlah ketukan pelan di pintu rumah Dr. Lindsay. Di ambang pintu tampaklah Bobby berdiri dengan alat pancing di tangannya.

“Saya tidak boleh menerima pemberian Anda ini, Dr. Lindsay,” ujarnya.

“Mengapa tidak, Bobby?”

“Sebab andai saja Bapak tahu bahwa sayalah orang yang melemparkan bola salju ke arah Bapak sehingga menyakiti Bapak, maka Bapak tidak mungkin memberikan alat pancing ini pada saya.”

Bobby menundukkan kepala dengan perasaan takut dan kacau.

“Ingatkah kamu tentang pelajaran kasih karunia pada hari Minggu yang lalu?” Dr. Lindsay bertanya. “Itu tentang kasih karunia. Kita berkata bahwa kasih karunia adalah sesuatu yang kita perlukan meski seharusnya kita tidak berhak untuk menerimanya. Kini, Bobby, apakah makna kasih karunia itu bagi dirimu sendiri?”

Bobby kemudian mulai memahami makna kasih karunia itu. Kasih karunia itu ialah “sebuah alat pancing ini.”

“Benar, Bobby. Kasih karunia itu ibarat alat pancing ini tatkala alat ini merupakan sesuatu yang kauperlukan meski seharusnya kamu tidak berhak untuk menerimanya.”

Sesungguhnya sesuatu yang layak diterima oleh Bobby adalah suatu hukuman dari gurunya: mungkin sebuah tamparan atau hajaran keras atas perilakunya. Namun sebaliknya, yang diterimanya adalah: kasih, pengampunan—dan sebuah alat pancing.

 

Kesimpulan

Dalam pengertian yang lebih luas, Allah mengembangkan kasih karunia dan belas kasihan-Nya kepada umat manusia, saya dan Anda. Sebagai ganti dari apa yang seharusnya kita terima: hukuman atas segala dosa kita, Dia mengaruniakan apa yang tidak layak kita terima, yakni pengampunan atas segala dosa kita, penyucian atas kecemaran hidup kita, penyertaan-Nya yang konstan dan bukannya keterpisahan dari-Nya, dan akhirnya surga untuk kita. Inilah yang dimaksudkan Rasul Paulus tatkala ia berkata, “Ssebab karena kasih karunia kamu diselamatkan.”

Mampukah Anda dan saya berkata dari hati, “Aku inginkan harta karun yang besar ini. Aku ingin mengalami kasih karunia Allah. Aku menerima tawaran-Nya ini. Keputusanku adalah bagi Yesus Kristus. Aku percaya akan Dia sebagai Juruselamat pribadiku, dan aku mengagungkan Dia sebagai Tuhan dalam hidupku ini?”

Jika Anda sekalian merasa perlu untuk mengungkapkan pernyataan tersebut, katakanlah kepada Dia sekarang juga!

Exit mobile version