Site icon

Kesetiaan Ruth dan Kesetiaan Allah

Kesetiaan Ruth dan Kesetiaan Allah (Ruth 1)

oleh: Vincent Tanzil

 

1:1 Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. 1:2 Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana. 1:3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. 1:4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. 1:5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. 1:6 Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka. 1:7 Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda, 1:8 berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: “Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; 1:9 kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya.” Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras 1:10 dan berkata kepadanya: “Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu.”

 

Hidup tidak selalu berjalan mulus.  Terkadang ada hal-hal yang merusak keadaan karena kesalahan kita sendiri, ada pula keadaan yang rusak karena memang terjadi bencana dan kejadian yang tidak diharapkan.  Di tengah semuanya itu, bagaimanakah kita harus bersikap?  Itulah yang akan kita pelajari dari kisah Rut dan Naomi, kisah yang unik antara menantu dan mertuanya.

Kisah yang penuh dengan ironi ini terjadi pada zaman hakim-hakim.  Terjadi kelaparan di Betlehem adalah sebuah ironi  karena Betlehem artinya “rumah roti.”  Elimelekh artinya “Allahku adalah Raja.”  Nama ini merupakan sebuah ironi karena Elimelekh justru melarikan diri ke Moab pada saat terjadi kelaparan sehingga bertentangan langsung dengan namanya!

Berlari ke Moab bukanlah tindakan beriman, disebabkan lima faktor: (1) Moab adalah hasil relasi inses dari Lot dan putrinya (Kej. 19:30-38); (2) Orang Moab menahan bangsa Israel ketika mereka keluar dari Mesir (Kej. 22-24); (3) Perempuan-perempuan Moab menggoda bangsa Israel untuk menyembah ilah lain yaitu Baal Peor (Bil. 25:1-9); (4) Konstitusi bangsa Israel menolak Moab untuk berkumpul dalam perkumpulan umat pilihan karena alasan-alasan yang disebutkan sebelumnya (Ul. 23:3-6); (5) Raja Eglon dari Moab baru saja menindas Israel selama 18 tahun (Hakim 3:12-30).

Dari keterangan ini jelaslah bahwa tindakan Elimelekh itu mengherankan!  Tetapi yang lebih mengherankan setelah ini tentulah penerimaan Rut dan bagaimana Rut pada akhirnya justru menjadi seseorang yang darinya Mesias diturunkan.

Naomi artinya “menyenangkan.” Mahlon artinya “sakit.”  Kilyon artinya “berakhir” atau “kefanaan.”  Orpa artinya “leher” di mana beberapa penafsir  melihat Orpa akan membelokkan lehernya dari mertuanya.  Rut kemungkinan berarti “kesegaran, pemuasan”

Mungkin kita agak heran dengan nama-nama yang pas dengan karakter dan kisahnya.  Nama-nama pada kisah zaman dahulu bisa jadi diberikan setelah kisahnya terjadi.  Tetapi bisa juga memang nama mereka, dalam kedaulatan Allah, sesuai dengan peran yang Tuhan ingin mereka jalankan.

Pernikahan ini tampaknya tidak dianggap baik oleh penulis kitab Rut.  Hal ini ditunjukkan dari penggunaan katanya “mengambil perempuan” bukannya “menikahi.”  Selain itu peraturan Musa jelas melarang pernikahan yang berbeda penyembahan seperti ini.  Kita melihat bahwa kondisi mereka tidak bisa memiliki anak dan bahkan para lelaki meninggalkan mereka menjadi janda-janda semakin meneguhkan gambaran bahwa mereka melanggar perintah Allah.

Setelah melihat kondisi yang menyedihkan ini, Naomi akhirnya mengambil jalan untuk kembali ke Israel dengan harapan bahwa Tuhan akan memberikan mereka makanan sekali lagi.  Segera setelah berangkat, Naomi tampaknya baru menyadari bahwa kedua menantunya ini akan memiliki masa depan yang suram apabila mereka ikut pulang ke bangsa Israel yang tidak terlalu bersahabat dengan orang Moab ini.  Kedua menantunya ini menunjukkan kasih kepada mereka yang sudah mati, yaitu suami-suami mereka.  Naomi bahkan memberkati mereka dengan ucapan agar kiranya Tuhan mengasihi mereka seperti mereka mengasihi para suami yang sudah meninggal tersebut.  Naomi jelas mengasihi mereka, tetapi justru karena ia mengasihi mereka, maka ia memikirkan yang terbaik untuk para menantunya.

Selain bertemu dengan orang Israel yang tidak bersahabat, mereka juga tidak akan bisa memiliki anak dari Naomi.  Lebih dari itu Naomi merasa bahwa Tuhan mengutuk dia, sebab hidupnya terasa sangat menyedihkan.  Naomi bahkan nantinya tidak mau disebut “Naomi” lagi tapi lebih baik “Mara” yang artinya pahit.  Kita lihat bahwa Orpa pada awalnya tidak mau, tetapi akhirnya pergi juga.  Alkitab tidak mengkritik Orpa, jadi kita harus hati-hati dan tidak langsung menghakimi dia.  Orpa melakukan hal yang sangat wajar.  Justru yang paling tidak wajar adalah Rut!

Iman dari Rut adalah iman yang paling mengejutkan dan menjadi sentral dalam kitab ini.  Perkataan Rut “ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan” dengan gamblang menunjukkan komitmen Rut kepada Naomi meski di tengah kemalangan.  Tetapi yang lebih mengejutkan adalah ketika Rut menyebut nama Tuhan untuk bersumpah setia dan rela untuk menerima hukuman apabila ia melanggar kesetiaannya kepada Naomi.  Ini benar-benar menantu yang jempolan.  Bahkan seorang penafsir, Daniel I. Block, menyarankan susunan perkataan Rut ini untuk diadaptasi menjadi janji pernikahan.  Tuhanlah yang menjadi saksi kesetiaan Rut kepada Naomi “sampai maut memisahkan mereka.”

Naomi terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi kepada Rut yang sudah sedemikian kokoh keyakinannya.  Ketika mereka tiba di Betlehem kita melihat bahwa Naomi sudah pahit hatinya.  Ia menyalahkan Allah atas keadaannya.  Salahkah Naomi dalam hal ini?  Sulit untuk mengambil kesimpulan, sebab hidupnya benar-benar merana dan seseorang yang sedang merana janganlah diambil hati semua perkataannya.  Beberapa penafsir melihat kesamaan hidup Ayub dengan Naomi.  Ketika kita dalam kesengsaraan dan kesesakan, berserulah kepada Tuhan saja.  Meskipun Naomi dapat dimaklumi, tetapi sekali lagi kita melihat bahwa iman Rut semakin terang benderang.  Jauh lebih baik untuk seperti Rut yang bertahan di tengah kesesakan ini dan tetap setia.  Rut dengan cepat mengambil posisi sebagai tokoh utama dalam kisah ini dan kita akan melihat perannya di minggu-minggu ke depannya.

Apa yang kita pelajari dari kisah ini?

Allah bisa melakukan hal yang baik dari pilihan-pilihan yang keliru dari leluhur kita dan bahkan hal-hal yang tampaknya alamiah seperti ada atau tidaknya hujan.

Bencana pun dapat menjadi alat Tuhan untuk mengerjalan kehendak-Nya di tengah dunia ini.  Tentu saja kita melihat ini paling jelas dari Yesus Kristus yang secara tragis mati di kayu salib, namun justru bangkit dan menjadi kabar keselamatan yang dahsyat melalui kematian-Nya di kayu salib.  Apa yang tampaknya berantakan dapat dibuat-Nya menjadi indah dalam rancangan-Nya!

Belajar juga dari iman Rut.

Ini bukan berarti orang Kristen boleh dengan sengaja menikah dengan orang non-Kristen demi menjadikan mereka penyembah Yesus.  Memang Tuhan bisa bekerja melalui kesalahan, tetapi bukan berarti kita dengan sengaja melakukan kesalahan!  Kita melihat bahwa mungkin situasi tidak menentu dan sulit.  Justru iman kita diuji pada saat kesulitan dan kesesakan.  Tidak ada yang diuji ketika semuanya berjalan lumayan.  Iman seseorang diuji entahkah pada saat kita sedang berada di puncak atau dalam lembah yang paling kelam.  Tetapkah kita bisa berseru kepada Allah dan setia kepada-Nya?

Iman Rut menunjukkan bahwa terkadang orang-orang yang paling tidak meyakinkan pun ternyata bisa lebih beriman ketimbang orang percaya sendiri.

Mungkin ada orang di sekitar kita yang belum beriman kepada Kristus.  Mungkin kita merasa lebih baik dari mereka.  Hari ini kita melihat bahwa Tuhan seringkali menunjukkan kepada orang-orang beriman bahwa terkadang orang-orang yang paling tidak kita dugalah yang justru menunjukkan kualitas iman yang luar biasa.  Kalau kita sudah terlalu sombong karena kita beriman, marilah berbalik dan sadari betapa kita juga bisa gagal seperti Elimelekh.  Apabila ada orang di sekitar kita yang kita ragu ia dapat menjadi beriman, cobalah beritakan Injil dan lihatlah betapa Tuhan sanggup bekerja!

 

Exit mobile version