Site icon

Ketika Tuhan Tak Terpahami

Ketika Tuhan Tak Terpahami (Kejadian 50:20)

oleh: Andy Kirana

 

Shalom. Puji Tuhan saat ini kita boleh kembali bersekutu dengan Tuhan dalam ibadah ini. Sekarang kita akan belajar dari pengalaman hidup Yusuf. Melalui kehidupannya kita bersama-sama akan belajar bagaimana ketika Allah sungguh-sungguh tidak bisa kita pahami. When God doesn’t make sense. Apa yang harus kita lakukan? Mari bersama kita baca Kejadian pasal 50 ayat 20.

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Kita lanjutkan satu ayat lagi, Saudara. Roma pasal 8 ayat 28.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus. Sebelum saya membahas lebih dalam firman Tuhan ini, saya ingin mengajak Saudara melihat sebuah kecenderungan yang konon ilmiah, Saudara. Untuk itu, saya minta tolong Pak Andi Chong untuk membantu saya.

Saudara yang dikasihi Tuhan, di layar ada kalimat yang hurufnya acak (menunjukkan di layar sebuah kalimat acak: adna bsia bcaa klaimat breisi ktaa dnegan ssunuan hruuf trelabik aasl huurf preatma dan treakhrir bnear). Saya ingin mengetes Pak Andi Chong. Bersedia, ya Pak? Coba Pak Andi Chong baca kalimat yang sesungguhnya…. (Pak Andi Chong membaca dengan benar kalimat dengan huruf acak di atas: anda bisa baca kalimat berisi kata dengan susunan huruf terbalik asal huruf pertama dan terakhir benar).

Oke, luar biasa! Tepuk tangan dulu dong untuk Pak Andi Chong. Eh… sebentar Pak, sebentar. Kalimat itu kan hurufnya saya acak. Kok bisa baca, Pak? Kenapa? (Pak Andi Chong terdiam) Nggak tau? Bisa gitu aja, ya Pak? Ya, oke ndak papa. Terima kasih, Pak.

Saudara yang dikasihi Tuhan… Pak Andi Chong tetap bisa membaca kalimat dengan benar walaupun huruf-hurufnya saya acak. Kenapa Pak Andi Chong bisa baca kalimat berisi huruf acak tadi? Karena huruf pertama dan terakhirnya benar. Itu kata kuncinya. Asal huruf pertama dan huruf terakhir benar, walaupun huruf-huruf di tengah acak, morat-marit… kita tetap bisa membaca kalimat itu. Fenomena yang menarik ini ditemukan berdasarkan riset tentang membaca. Fenomena tersebut ternyata juga sejalan dengan kehidupan Kristen. Siapa Anda dan bagaimana kehidupan Anda pada awal Anda menjadi Kristen tidak penting. Yang penting adalah Anda mau memulai langkah pertama dalam perjalanan kehidupan Kristen sebagai pengikut Kristus. Segala sesuatu pada awalnya tidak sempurna. Tuhan mengambil yang tidak sempurna untuk menjadi sempurna di dalam-Nya.

Saya melihat inilah kehidupan Yusuf, kehidupan Saudara dan saya juga. Benar, Saudara? Saat kita mengikut Tuhan Yesus, di awal kita sudah mendapatkan suatu kepastian. Di akhir juga sudah ada kepastian. Namun, dalam perjalanan hidup kita, hidup ini bisa saja acak. Kadang kita merasa hidup kita ini tidak karuh-karuhan, Saudara. Saudara pernah merasakan begitu, tidak? Ya. Namun, saat kita tahu kepastian yang awal dan akhir, sekalipun di tengah-tengahnya ndak karuh-karuhan, kita beriman, kita tetap bisa memercayai siapa Allah itu.

Tuhan Yesus berfirman, “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir” Saat kata-kata Tuhan Yesus itu kita pegang, kita imani… tidak masalah, seandainya di tengah-tengah perjalanan hidup ini kita menghadapi persoalan yang mungkin tidak bisa kita pahami…  kita tidak mengerti mengapa harus mengalami masalah seperti ini… tapi saat kita tahu yang awal dan yang akhir, kita bisa memastikan bahwa rencana-Nya sempurna dalam hidup kita. Sekarang kita akan belajar melalui kehidupan Yusuf.

Yang pertama mari kita lihat bagaimana penderitaan yang dialami Yusuf berkaitan dengan rencana Allah di dalam kehidupannya. Ini penting, Saudara… karena itu perlu benar-benar kita pahami. Tidakkah ketika kita mengalami penderitaan yang tidak bisa kita pahami, sering kali kita bertanya, di manakah Tuhan? Di manakah Dia? Mengapa Tuhan diam saja? Mengapa Tuhan tidak lagi mengasihi aku? Mengapa Tuhan tidak peduli atas apa yang aku alami di dalam hidup ini?

Kejadian 50 ayat 20 tadi mengatakan … tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Kalau memang itu yang terjadi, tentu tidak seharusnya aku mengalami situasi yang berat seperti ini. Seharusnya, aku tidak mengalami hal yang buruk di dalam hidupku. Secara manusiawi, kita akan berpikir begitu. Betul-tidak, Saudara? Kalau memang benar lho, Kejadian 50 ayat 20 ini, harusnya bukan mereka-rekakan yang buruk. Secara manusiawi sangat wajar kita berpikir: saat kita dengan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, saat sungguh-sungguh taat pada Tuhan, saat kita sungguh-sungguh melayani Dia, harusnya kita ini bebas dari segala perkara… bebas dari segala masalah. Wong aku sudah layani Dia, aku sudah taat pada Tuhan… harusnya kan aku dapat perlakuan khusus. Bukankah begitu cara berpikir kita, Saudara?

Di sinilah persoalannya. Ketika Tuhan mereka-rekakan yang baik bagi kita, itu bukan berarti kita akan terhindar dari masalah. Ini memang sulit, Saudara. Sekali lagi saya katakan ini perkara yang sulit… ini perkara yang pelik. Karena apa? Karena saat kita mencoba memahami dengan pikiran manusia, kita penginnya kalau Tuhan memang mereka-rekakan yang baik, mestinya kita nggak akan mengalami masalah. Seharusnya kita tidak punya beban yang berat. Namun, coba kembali perhatikan kehidupan Yusuf. Yusuf dimasukkan ke dalam sumur…  Yusuf dijual menjadi budak… Yusuf menjadi budak dan difitnah… Yusuf dijebloskan ke dalam penjara… apakah semua itu dialami Yusuf karena ia tidak taat kepada Tuhan? Contoh yang lain, Daniel. Daniel dilemparkan ke dalam gua singa, apakah karena ia tidak mau melayani Allah… karena Daniel tidak taat kepada Allah? Demikian juga dengan Tuhan Yesus. Mengapa Ia disalib? Apakah karena Ia kurang mengasihi Allah Bapa? Saudara, pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pertanyaan-pertanyaan kunci. Yusuf, Daniel dan Tuhan Yesus adalah tokoh-tokoh yang mengasihi Allah, orang-orang yang taat sepenuhnya kepada Allah. Namun, mengapa mereka harus mengalami semua itu?

Inilah masalah besar kita. Kita sering memandang persoalan dengan pola pikir yang salah, mindset yang salah, cara pandang yang salah. Kalau mau jujur, sering kali kita berpikir bahwa kita mengalami penderitaan karena dosa yang sudah kita perbuat… karena kita tidak taat kepada Tuhan. Tetapi, pola pikir yang sebaliknya juga sering kita alami, Saudara. Mengapa saya mengalami seperti ini padahal saya sudah taat kepada Tuhan, sudah melayani Dia dengan sungguh-sungguh? Aku sangat kecewa… Tuhan telah berdusta terhadap saya. Janjinya tidak ditepati.

Mari, kita akan kembali belajar dari firman Tuhan. Kita membuka Mazmur pasal 23 ayat 4. Ini menjadi suatu contoh yang baik bagi kita.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku, gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku.

Saudara, kalau kita tidak berhati-hati, satu ayat ini bisa menjebak Saudara dan saya dalam pola pikir yang salah. Mari kita lihat. Saat kita membaca Mazmur 23 ayat 4 ini, kita bisa saja memahaminya seperti ini: sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, Engkau besertaku. Aku jadi tidak takut bahaya sama sekali. Saudara, bener tidak ini? Bener tidak pemahaman ini? Halo? Betul tidak, Saudara? Betul. Tetapi, bisa juga kita memahami ayat tersebut dengan cara pandang yang salah: “Lha kalau Allah menyertai saya, mengapa saya ada di dalam lembah kekelaman? Mengapa saya ada di dalam bahaya?” Saudara bisa menangkap perbedaan kedua pemahaman di atas? Lagi Saudara… ini cara pikir yang benar, “Sekalipun aku hidup di dalam kekelaman, gada-Mu dan tongkat-Mu menjaga dan menghibur aku.” Tapi bisa juga ketika menghadapi masalah, pemahaman kita menjadi seperti ini: “Kalau memang benar ada gada dan tongkat Allah yang menjaga aku, mengapa aku berjalan di dalam kekelaman?”

Saudara tahu maksud saya? Ketika Allah mereka-rekakan yang baik, kita harus memahami kalimat tersebut dengan cara pandang yang benar. Itu bukan berarti Tuhan melepaskan kita dari kemungkinan untuk ditimpa hal-hal yang jahat. Walaupun Allah mereka-rekakan yang baik, kita  tetap masih mungkin mengalami persoalan-persoalan. Nah, ini yang harus kita pahami. Dengan  pemahaman kita yang benar di hadapan Tuhan, kita akan menjadi kuat. Kita akan menjadi tegar di dalam menghadapi kesulitan demi kesulitan seperti yang dihadapi oleh Yusuf.

Yang kedua. Bagaimana proses dan penggenapan rencana itu di dalam kehidupan Yusuf, Saudara? Mari kita perhatikan. Saat Yusuf diberi mimpi oleh Tuhan, jelas melalui kedua mimpi Yusuf itu Allah ingin menunjukkan rencana-Nya bagi hidup Yusuf. “Masa depanmu akan sesuai dengan mimpi yang Aku berikan. Semua saudaramu akan tunduk dan menyembah engkau. Bahkan orang tuamu juga.” Namun, Saudara… ini yang harus kita pahami… Saat Tuhan memberikan rencana-Nya bagi kehidupan Yusuf, Tuhan sama sekali tidak memberi tahu bagaimana proses pencapaian mimpinya ini. Tuhan tidak menunjukkan proses yang harus dijalani hingga mimpi itu digenapi. Allah tidak memberi tahu Yusuf, “Yusuf… Aku kasih mimpi. Ini rencana-Ku untuk hidupmu nanti. Kamu nanti akan jadi orang besar. Bahkan saudara-saudaramu akan tunduk menyembahmu, orang tuamu juga. Untuk sampai mimpi itu menjadi kenyataan, kamu harus melalui proses yang panjang. Jadi, Yusuf… kamu tidak usah takut kalau nanti orang tuamu menyuruhmu menemui saudara-saudaramu dan kemudian saudara-saudaramu mau membunuhmu. Tidak usah takut karena mereka tidak akan membunuhmu. Saudara-saudaramu hanya akan melemparkanmu ke dalam sumur kering. Nah, setelah itu, kamu akan diangkat lagi, kamu akan dijual menjadi seorang budak. Kamu akan menjadi budak di rumah Potifar. Di rumah Potifar kamu akan digoda oleh istri Potifar. Nah, nanti kamu akan difitnah dan dijebloskan ke dalam penjara. Di dalam penjara  kamu akan bertemu dua orang staf raja yang bermimpi. Kamu pasti bisa menafsirkan mimpi itu karena Aku akan memberitahukannya kepadamu. Oleh karena kamu mampu menafsirkan mimpi itu, kelak kamu akan dipanggil ke istana raja… ke istana Firaun. Nanti Firaun akan bermimpi dan kamu bisa menafsirkan mimpi Firaun itu. Saat itulah nanti kamu akan diangkat jadi penguasa Mesir.”

Begitu, Saudara? Begitu? Tidak. Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, proses itu tidak diberitahukan. Kalau seandainya proses yang harus dialami Yusuf itu diberitahukan lebih dulu oleh Tuhan, “Nanti kamu akan mengalami begini begini begini,” kira-kira bagaimana seandainya Saudara menjadi Yusuf? “Ah, tidak masalah aku digoda sama istri Potifar. Pokoknya nanti aku ikuti saja prosesnya… difitnah, dijebloskan ke dalam penjara, tidak apa-apa, toh nanti aku akan jadi perdana menteri Mesir.” Betul kan Saudara, begitu? Enak rek nek ngono. Ya, enteng hidup ini.

Kalau katakanlah Saudara diberi rancangan bahwa Saudara nanti akan menjadi presiden. Misalnya begitu. Lalu kepada Saudara diberi tahu apa-apa yang harus Saudara alami untuk mencapai rancangan itu… kamu akan dibenci orang lain, kamu akan dimusuhi lawan politikmu, mungkin kamu disakiti dan diancam mau dibunuh… dan seterusnya dan seterusnya. Tapi, kan Saudara sudah tahu nanti mau jadi apa. Jadi Saudara sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam hidup ini.

Justru melalui hal-hal yang terjadi… yang sering kali tidak kita pahami inilah, Allah menginginkan ada iman. Kalau langsung dikasih tau, kita tidak perlu punya iman wong sudah ngerti kok. Melalui proses yang tidak kita pahami itu Allah menuntut kita untuk beriman kepada-Nya. Untuk bergantung sepenuhnya pada Allah dalam setiap peristiwa yang kita alami.

Ada saatnya Allah menyingkapkan rencana-Nya dalam hidup kita dan itu bisa kita pahami. Namun, Allah juga bisa menyembunyikan setiap proses yang ada dalam kehidupan ini sehingga tidak kita pahami. Kalau demikian, bagaimana dengan apa yang disampaikan oleh firman Tuhan? Bagaimana kebaikan Allah itu bisa kita pahami, Saudara? Yusuf mengatakan bahwa Tuhan mereka-rekakan yang baik, sedangkan Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu itu akan mendatangkan kebaikan…  apa arti semuanya ini, Saudara? Bagaimana kita memahami kebaikan Allah? Kita sering kali mengartikan kebaikan menurut pikiran kita. Bener ndak, Saudara? Coba kalau kebaikan itu lain dari yang Saudara pikirkan, apakah Saudara masih bisa katakan itu kebaikan? Biasanya tidak. Malah sering kali kita katakan, “Lho, Tuhan… bukan itu kebaikan yang aku inginkan.” Ada juga fakta umum yang sering kita hadapi. Sering orang mengatakan ada hikmah di balik setiap bencana. Ada berkat di balik setiap persoalan. Tapi, sekali lagi, orang ngomong begitu, kan karena kebaikan itu cocok dengan apa yang kita inginkan. Ya. Sehingga saya mengatakan, “Oh, saya mendapatkan hikmah yang sesuai dengan keinginan saya.”

Saudara yang dikasihi Tuhan, firman yang kita renungkan saat ini hendak mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud adalah bukan kebaikan versi manusia. Kebaikan di sini adalah kebaikan versi Tuhan… kebaikan menurut Allah, bukan menurut manusia. Bukan menurut selera Saudara, bukan menurut selera saya. Penggenapan kebaikan itu seturut dengan kehendak Allah, sesuai dengan rencana-Nya.

Saya ambil satu contoh di dalam kehidupan saya pribadi. Saya pernah mengalami kondisi di mana saya tidak punya tempat untuk berteduh. Pada saat itu kami berdoa memohon supaya Tuhan kasih rumah, Saudara. Tapi, apa yang terjadi, Saudara? Tuhan memang memberikan rumah untuk kami tempati, tapi bukan rumah kami, itu rumah orang lain. Saat itu saya berpikir, “Ini jelas bukan kebaikan Tuhan. Kalau kebaikan Tuhan, Tuhan pasti kasih saya rumah!” Ini versi saya, selera saya, keinginan saya. Tetapi, Tuhan berkata lain, Saudara. Saya harus menjalani suatu proses yang sangat panjang sampai akhirnya Tuhan betul-betul memberikan rumah. Prosesnya tidak enak sekali. Karena apa? Karena tidak sesuai dengan selera saya, tidak sesuai keinginan saya.

Jadi, saya ulang, Saudara… melalui kehidupan Yusuf, saat ini kita belajar mengenai bagaimana menghadapi proses penggenapan rencana Allah dalam hidup kita. Ada dua pilihan. Pilihan yang pertama, karena Allah mereka-rekakan yang baik di dalam hidup saya, maka berarti hidup saya akan senantiasa lancar, akan senantiasa aman, tidak menghadapi persoalan, tidak menghadapi kesulitan apa pun. Pilihan yang kedua, sekalipun Allah mereka-rekakan yang baik dalam hidup saya, itu tidak berarti hidup saya jadi mudah. Menurut Saudara, pilihan mana yang benar? Pilihan yang pertama atau kedua? Wah, kalau pilihan yang kedua tidak enak Pak Andy… tidak enak itu. Namun, Saudara… justru itulah yang dihadapi oleh Yusuf.  Itulah fakta yang ada di dalam hidup ini, Saudara.

Untuk menyimpulkan perenungan ini, saya ingin memberi gambaran kepada Saudara. Saya bisa minta bantuan 2 orang maju ke depan. (Dony dan Ody maju ke mimbar). Nah, saya ingin Saudara berdua membantu saya.

Lihat gambar ini. Ini gambar apa?

Ikan. Ikan apa itu?

Bandeng.

Ya betul, ikan bandeng. Saya tanya kepada Anda berdua. Pernah makan bandeng?

Nggak suka.

Pernah?

Pernah.

Kalaupun tidak suka bandeng, tahu tidak ikan bandeng itu seperti apa?

Banyak durinya.

Banyak durinya. Betul banyak durinya. Bandeng itu enak, tapi banyak durinya.

Dipresto aja, Pak.

Lho kalau yang presto, ada durinya tidak?

Ada, tapi durinya bisa dimakan.

Ooo gitu ya. Kalau misalnya, Mas Dony dan mas Ody tak kasih bandeng presto, mau

ndak?

Mau.

Kalau gitu, tolong, Pak, ambilkan bandeng di tas saya. Iya, silakan sini Pak. Lho, temenan lho aku. Ini Bandeng presto Semarang lho, ini oleh-oleh. Nah silakan diterima, tapi hadap sana dulu. Dibuka dulu bener ndak ini Bandeng, jangan-jangan teri. Dibuka dulu. Silakan dibuka. Diambil satu saja. Ya. Betul ndak ini bandeng presto? Tolong tunjukkan pada jemaat.

Saudara, kita semua tahu, terutama ibu-ibu… kalau nggoreng Bandeng, yang jadi masalah adalah durinya banyak. Dan duri itu nempel sama dagingnya. Sulit untuk memisahkan. Bagaimana cara mengatasi masalah itu, Saudara? Bandengnya dipresto.

Saya pernah melihat cara membuat bandeng presto, Saudara. Bandeng dimasukkan ke dalam suatu alat besar, kalau tidak salah itu namanya pressure cooker. Alat masak ini memiliki tekanan yang sangat tinggi dan tekanan itu bisa diatur sedemikian rupa…. Saat bandeng-bandeng itu dimasukkan ke dalam pressure cooker, lalu tekanan alat itu disetel, disesuaikan, apa yang terjadi? Tulang-tulang bandeng itu akan menjadi empuk. Duri-duri bandeng itu akan menjadi lunak. Yang jadi pertanyaan, dagingnya hancur tidak? Tidak. Yang hancur itu cuma duri dan tulang-tulangnya, Saudara. Kitapun dapat menikmati bandeng yang lezat tanpa harus terganggu dengan tulang dan durinya lagi.

Pada saat saya merenungkan proses pembuatan bandeng presto ini, Saudara… bukankah seperti itu juga Allah memproses kita? Allah memasukkan kita ke dalam pressure cooker, memasukkan kita ke dalam kehidupan di mana tekanan demi tekanan sudah Allah atur sesuai dengan kekuatan kita. Yang perlu Saudara pahami adalah, saat Allah menyesuaikan tekanan demi tekanan itu, hidup kita tidak hancur. Yang hancur adalah egoisme kita, kesombongan kita, dan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Pada akhirnya, kita bisa menikmati bandeng presto kehidupan ini, Saudara. Wow luar biasa!

Seperti itu juga yang Tuhan lakukan di dalam hidup Yusuf. Allah memasukkan Yusuf ke dalam pressure cooker kehidupan dan Allah setel semuanya ini. “Engkau mampu jalani setiap penderitaan dan persoalan ini, tanpa Aku menghancurkan hidupmu. Saat nanti engkau Aku ambil keluar, duri, tulang-tulang yang keras, yang kaku, yang mudah marah, yang mudah tersinggung, yang mudah khawatir dan was-was, sudah Aku hancurkan. Dan engkau akan serupa dengan gambaran Anakku.”

Oleh karena itu, Saudara… apabila saat ini mungkin Saudara sedang dimasukkan ke dalam pressure cooker, sedang dipresto oleh Allah, percayalah Tuhan tidak akan menghancurkan Saudara. Allah justru sedang membuat hidup Saudara menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih nikmat. Itulah rencana Tuhan yang indah bagi hidup Saudara dan saya. Amin.

Exit mobile version