Khotbah Perjanjian Baru, Khotbah Perjanjian Lama

Khotbah Akhir Tahun: Tolehan Menjadi Tatapan

Tolehan Menjadi Tatapan (Lukas 2:15-21; Bilangan 6:22-27) Andy Kirana

Kekasih-kekasih Kristus… Di penghujung tahun 2021 ini, mari kita sejenak menoleh ke belakang. Tetapijangan terlalu lama ya. Sebab kalau terlalu lama bisa berbahaya. Coba kalau Saudara mengendarai motor atau mobil dengan melihat ke belakang terlalu lama melalui kaca spion. Apa akibatnya? (jemaat: menabrak, kecelakaan). Nah, demikian juga dalam kehidupan. Boleh kok sejenak menoleh ke belakang, supaya melalui tolehan itu kita mengingat kembali jalan kehidupan yang sudah kita lalui. 

Yuk, kita menoleh sebentar… Apa yang kita rasakan selama perjalanan di tahun yang akan kita tinggalkan ini? Indah atau buruk, manis atau pahit, sukses atau gagal… Siapa saja yang hadir dan meninggalkan kita? Orang tua, Saudara, anak, teman, tetangga… Bagaimana kita bereaksi atas kejadian-kejadian hidup? Senang atau sedih, semangat atau loyo, puas atau kecewa… Apa yang sudah kita lakukan bagi keluarga, sesama dan semesta raya ini? Membantu atau membiarkan, menyemangati atau melemahkan, merusak atau menata… Ah, ada banyak hal tidak terjawab. Ketika ada banyak hal tidak terjawab, apa yang harus dilakukan?

Kekasih-kekasih Kristus… Malam ini kita akan belajar dari respons Maria ketika menghadapi banyak hal yang tidak terjawab dalam kehidupannya. Tetapi lebih dulu kita akan melihat respons para gembala dan beberapa orang yang datang untuk melihat bayi Tuhan Yesus yang terbaring di palungan. Di depan mereka dan orang-orang yang melihat bayi Tuhan Yesus, para gembala memberitahukan apa yang mereka dengar dari para malaikat tentang Anak itu. Kita bisa membayangkan betapa hebohnya cerita para gembala dalam mengisahkan pengalaman mereka. Hal itu tampak dari respons semua orang yang mendengarnya. “Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang  apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka”(ay. 18). Semua yang mendengar tuturan cerita para gembala merespons dengan ekspresi kagum dan tampakmuncul secara spontan.

Lalu, bagaimana respons Maria saat mendengar cerita para gembala yang tampak meluapkan ekspresi keheranannya? Ternyata, respons Maria berbeda dengan mereka. “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (ay. 19). Ketakjuban dan keheranan yang dialami Maria menghasilkan “buah” yang disebut “merenung.” Yang dimaksudkan dengan “merenung” ialah saat-saat khusus untuk berpikir dalam-dalam tentang apa yang sudah dilakukan Allah. Apa yang didengarnya dahulu (Luk. 1:26-38) dan dialaminya sekarang dan didengarnya dari pihak gembala-gambala itu, dibandingkannya semuanya dan digabungkannya terus menerus, diingat-ingatnya terus menerus dalam pikirannya, tidak pernah dilepaskannya dari hatinya. Gambarannya demikian, setiap kali ia memikirkan apa yang telah terjadi dan setiap kali ia memikirkan makna dari peristiwa itu, seolah-olah ia sedang memegang sebuah perhiasan berharga di tangannya dan membalik-balikkannya sambil mengagumi keindahannya.

Merenungkan perbuatan Tuhan rupanya sudah menjadi sesuatu yang terabaikan sekarang ini. Kita hidup pada zaman yang serba cepat. Kita jarang berhenti untuk merenungkan perbuatan Allah yang ajaib dalam hidup kita. Sekarang ini mungkin Saudara juga sedang memikirkan hal-hal lainnya yang dapat atau yang ingin Saudara lakukan daripada mendengarkan firman-Nya. Mungkin Saudara sedang memikirkan, bagaimana acara atau makanan dan minuman untuk pesta tahun baru selepas dari ibadah ini. Satu cara yang bermanfaat untuk menjaga agar sukacita Kristus tetap membara dalam hati kita bukan dengan menyalakan api unggun di malam tahun baru, tetapi mengkhususkan waktu untuk merenungkan perbuatan Allah, kemudian menggunakan untuk menghangatkan perasaan kita terhadap Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *