Manusia Bertanya, Raja Turun Takhta
oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya
Saya rasa bukan kebetulan apabila kita merayakan Natal pada tanggal 25 Desember, beberapa hari menjelang tahun ini berakhir. Sebagai umat Tuhan, ketika kita merayakan Natal, kita juga mendapatkan kesempatan untuk merenungkan perjalanan hidup selama satu tahun ini. Kalau Anda ditanya apakah Anda puas dengan apa yang terjadi di dunia ini, di Indonesia ini. Bagaimana jawaban Anda? Sekarang, berkenaan dengan apa yang terjadi di dalam hidup Anda pribadi, berkenaan dengan pekerjaan dan keluarga Anda, “Puaskah Anda dengan apa yang terjadi di sepanjang tahun ini?”
Banyak dari kita mungkin tidak berani mengatakan bahwa kita sangat puas, atau sangat tidak puas. Kita cenderung untuk memilih yang sedang-sedang saja. “Yah … tidak terlalu memuaskan, tetapi juga tidak terlalu menyedihkan …. Lumayanlah.” Nah, kata lumayan ini yang menjadi tidak jelas. Ada orang yang mengalami kecelakaan dan patah kaki. Orang bertanya kepadanya, “Bagaimana, parahkah?” “Lumayanlah cuman kaki doang yang patah, bukan leher!” Kalau ternyata meninggal dunia, orang akan berkomentar, “Wah … masih lumayan tuh, … daripada cacat seumur hidup.” Hari ini saya tidak ingin mendengar jawaban lumayan. Saya akan mempertajam pertanyaan menjadi demikian:
Berapa banyak hal yang Anda harapkan terjadi di tahun ini namun ternyata tidak terjadi? Berapa banyak hal yang tidak Anda harapkan terjadi namun justru terjadi? Kalau Anda menjawab, “Banyak!” ini berarti memang sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya Anda tidak puas dengan apa yang terjadi di dunia ini, juga di seputar kehidupan Anda.
Manusia Tak Puas Maka Bertanya-tanya
Rasa tidak puas sebenarnya sangat manusiawi. Namun, rasa tidak puas ibarat sebilah pisau dengan kedua sisi yang sama tajamnya. Di satu sisi, rasa tidak puas membawa dan mendorong perubahan terjadi di dalam kehidupan umat manusia. Perkembangan teknologi, misalnya, lahir dari rasa tidak puas, sehingga manusia terus berusaha menciptakan yang terbaik. Namun, rasa tidak puas sering kali juga bisa menjadi masalah besar. Rasa tidak puas itu sering kali membawa manusia untuk mencari kesalahan. Kalau tidak menyalahkan orang lain, situasi, dan keadaan, maka ujung-ujungnya adalah menyalahkan Tuhan, bukan? Rasa tidak puas juga sering kali menjadi alasan bagi orang untuk bertindak semaunya. Suami meninggalkan istri, istri lari dari rumah. Remaja dan pemuda melarikan diri menuju kehidupan seks bebas, minuman keras, dan narkoba.
Kalau Anda tidak puas dengan apa yang terjadi pada dunia di sekeliling Anda, juga pada kehidupan pribadi Anda, maka saya punya kabar baik bagi Anda. Anda bukan satu-satunya pribadi yang tidak puas dengan dunia ini. Banyak pribadi juga demikian. Namun, kalau ada satu pribadi yang paling layak kecewa dengan dunia ini, kecewa dengan perilaku manusia, maka pribadi itu adalah Sang Pencipta. TUHAN. TUHAN di dalam bagian Alkitab yang kita baca digambarkan sebagai Raja, artinya penguasa dan pemerintah dunia. Seluruh alam raya tunduk di hadapan-Nya. Gambaran ini terdapat di ayat 2-5.
Namun, mengapa dunia ini menjadi seperti ini? Mengapa ada begitu banyak peperangan, perselisihan, dan musibah di dunia ini. Apakah ini adalah tanda bahwa Tuhan tak lagi menjadi Raja? Apakah ini berarti bahwa Tuhan Sang Raja itu gagal dalam memerintah dunia ini?
Sang Raja Tak Puas Maka Turun Takhta
Tuhan Sang Raja itu telah menciptakan manusia dengan segala yang terbaik bagi manusia. Termasuk di dalamnya adalah pilihan dan kehendak bebas yang Dia taruh di hati manusia. Tuhan Sang Raja itu tidak memaksa manusia untuk berlutut dan menyembah-Nya. Jika Tuhan Sang Raja itu memaksakan ketaatan pada diri manusia, maka sesungguhnya itu bukanlah ketaatan, tetapi keterpaksaan alias ketiadaan pilihan lain. Jadi, sesungguhnya di tangan manusialah pilihan-pilihan hidup mereka berada. Dan manusia tampaknya telah membuat keputusan untuk menolak pemerintahan Tuhan di dalam hidup mereka. Dunia yang kita hidupi saat ini adalah dunia hasil penolakan dan bahkan pemberontakan manusia atas pemerintahan-Nya. Dunia yang menganggap bahwa kehendak Tuhan itu adalah pembatas yang merampas sukacita kebebasan kita. Manusia kadang kala bisa sedemikian aneh. Apa yang dititahkan Sang Raja tidak mereka lakukan. Apa yang dilarang malah dilakukan.
Suatu ketika saya diajak oleh teman saya untuk mengunjungi peternakan babi miliknya. Ia memelihara ratusan babi. Yang menarik bagi saya adalah ketika babi-babi itu hendak dipindahlokasikan ke penjagalan yang berada di luar kota. Babi-babi yang beratnya 50-60 kg itu harus dinaikkan ke atas sebuah truk. Bagaimana cara menaikkannya? Tidak mungkin diangkat satu per satu, bukan? Anehnya, ketika babi itu dijerat lehernya dan ditarik-tarik ke atas truk melewati papan, eh … babi itu malah mogok jalan. Semakin ditarik, semakin mogok dan malah mundur. Bagaimana caranya agar babi-babi itu mau menaiki papan yang menuju ke bak truk itu? Ternyata sederhana! Babi itu dihadapkan ke bak truk tersebut, dan seseorang berdiri di belakang babi itu sambil menarik si babi ke belakang. Ternyata dengan cara itu, justru Babi tersebut bergerak maju menaiki papan menuju ke bak truk itu. Babi, jika ditarik ke depan, ia malah mundur ke belakang. Jika ditarik ke belakang, ia malah melangkah maju. Apa yang diperintahkan justru dilawan. Jadi, jika ada orang yang Tuhan perintahkan untuk menjaga kekudusan pernikahan namun malah selingkuh, itu berarti ia seperti … (jawab sendiri). Jika Tuhan Sang Raja memerintahkan untuk hidup jujur namun malah lihai menipu, itu berarti ia seperti …. Anak-anak yang diminta untuk menghormati orangtua namun malah mencaci maki, itu seperti …. Orangtua yang diminta untuk mengasihi anaknya namun malah menganiaya anak, itu seperti .…
Jadi, kini kita tahu di mana letak permasalahan utamanya. Manusia. Ya, Anda dan saya telah menyerahkan diri ke dalam hawa nafsu dan segala keinginan. Kita menolak untuk menjadi hamba dari Tuhan Sang Raja, tetapi kita memilih untuk menjadi budak hawa nafsu dan dosa kita. Tatkala semua perbuatan kita telah membawa kita ke tebing-tebing kehancuran, masih adakah harapan bagi kita? Kalau kita ingin dipulihkan, kita harus mengambil langkah pertama: bertanggungjawab atas hidup kita di hadapan Tuhan. Berhenti menyalahkan orang lain. Berhenti menyalahkan situasi. Kita harus berani mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi di dalam kehidupan kita.
Natal adalah saat ketika Tuhan Sang Raja itu turun ke dunia. Dia tidak puas dengan dunia ini. Dia prihatin menyaksikan kehidupan Anda. Dia prihatin dengan keadaan keluarga dan pekerjaan Anda. Dia turun menjadi manusia, dengan satu tujuan: Dia ingin memerintah hati dan hidup Anda. Dia ingin mengubah hidup Anda menjadi kehidupan yang lebih baik, lebih memuaskan, lebih bernilai dan berharga di mata-Nya. Firman Tuhan berkata, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Bersediakah Anda menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan? Syaratnya hanya satu: Biarkan Tuhan menjadi Raja atas hidup Anda.

