Site icon

Khotbah Natal: Saat Menyembah, Allah Memberi Arah

Saat Menyembah, Allah Memberi Arah

Matius 2:1-11

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

Namanya Maizatul Farhana, siswi  kelas 7 (atau 1) SMP Negeri 3 Batam. Ia yang hari itu tepat memasuki usia 13 tahun seperti biasa masuk ke kelasnya. Teman-teman yang mengetahui bahwa hari itu ia berulang tahun mengajaknya ke kantin sekolah. Setelah kembali ke kelas, situasi mendadak tegang ketika dua orang teman sekelasnya mengaku kehilangan uang senilai Rp300.000,00 dan sebuah handphone. Ibu wali kelas segera datang dan meminta enam orang siswa memeriksa semua tas yang ada di kelas. Ternyata uang senilai Rp300.000,00 dan handphone itu berada di dalam tas Maizatul Farhana. Kontan teman-temannya menuding dirinya sambil berteriak riuh, “Maling! Pencuri!”. Terkejut dan tertekan dengan situasi yang terjadi, Maizatul Farhana pingsan sebelum teman-teman dan wali kelasnya sempat menjelaskan bahwa peristiwa itu adalah hasil kolaborasi teman-teman dan gurunya yang bermaksud untuk ngerjain di hari ulang tahunnya.

Sayangnya ia tidak sanggup menerima kejutan itu. Keesokan harinya ia masih masuk sekolah tetapi tidak bisa nyambung, terlihat seperti linglung. Kejutan itu terasa begitu menyakitkan. Berulang kali ia mengatakan bahwa ia tidak dapat menerima bahwa dirinya dituduh mencuri. Kejutan itu membuatnya terguncang dan sulit makan maupun tidur. Kondisinya melemah sehingga harus dirawat di rumah sakit. Akhirnya, ia meninggal dua minggu kemudian. Kejutan itu merenggut nyawa Maizatul Farhana, dan akibatnya kini giliran rekan-rekan dan wali kelasnyalah yang terkejut sekaligus merasakan penyesalan yang mendalam. Ya, hidup ini memang tidak lepas dari kejutan.

 

Hidup Ini Tidak Lepas dari Kejutan

Hidup yang kita jalani sering kali menyimpan banyak kejutan. Kejutan adalah sesuatu yang tidak pernah kita duga atau harapkan untuk terjadi. Namun, dalam perjalanan hidup, hal itu terjadi. Tentu tidak menjadi masalah jika di sepanjang tahun ini bertaburan kejutan yang menyenangkan, misalnya mendapatkan kenaikan pangkat, pacar yang telah sekian lama Anda doakan dan nantikan, keuntungan besar, anak yang sudah lama kita nantikan, atau hadiah dari undian tertentu. Kita malah menantikan dan menyambut dengan gembira kejutan seperti ini sembari mungkin berkata, “Wah … tahun ini saya terkejut banget dapat rejeki nomplok Blackberry, hadiah dari bank. Semoga tahun depan dapat rumah. Saya siap terkejut lagi.”

Namun, bagaimana dengan kejutan yang tidak menyenangkan di sepanjang tahun ini? Bagaimana dengan sakit penyakit yang datang tiba-tiba, kematian yang merenggut orang yang kita kasihi, problem rumah tangga yang baru saja terkuak jelas, dan karier yang mendadak terhenti. Tentu kita tidak mengharapkan kejutan yang seperti ini, bukan? Di dalam kejutan yang seperti ini, biasanya kita berseru, “Di manakah Tuhan?”

Kejutan juga dialami oleh orang-orang majus. Walaupun orang-orang majus ini mampu meramalkan kehadiran seorang raja dengan memandang bintang di angkasa, mereka tetap tidak dapat menentukan dengan tepat di mana raja itu dilahirkan. Bayangkan, mereka telah menempuh perjalanan berbulan-bulan dan sangat mungkin bertahun-tahun mengikuti sebuah bintang, tetapi mereka tidak menemukan raja itu di istana mana pun di Yerusalem. Wajar bukan mencari raja yang baru lahir di istana? Sama wajarnya dengan mencari cap cay di restoran China dan rendang di rumah makan Padang.

Tetapi, justru di sinilah kejutannya. Raja yang baru lahir itu tidak ada di dalam istana. Malahan Alkitab menuturkan bahwa Herodes, raja yang memerintah waktu itu, heran bukan kepalang. Di manakah Yesus, Raja yang baru lahir itu? Tidak di istana yang megah, tetapi dalam sebuah rumah sederhana di Betlehem, kurang lebih 10 km dari istana Herodes di Yerusalem. Kejutan yang tidak menyenangkan, bukan? Sama seperti Anda diundang untuk merayakan ulang tahun anak presiden, Anda sudah siap ke JW Marriot, eh ternyata lokasinya di rumah-rumah di sekitar Kembang Kuning. Kejutan yang tidak menyenangkan, bukan? Hal itu cukup untuk membuat Anda balik kanan dan pulang.

Dalam menghadapi kejutan yang tidak menyenangkan ini, berurusan dengan harapan yang tidak menjadi kenyataan ini, apa yang dilakukan oleh orang-orang majus? Mereka bisa saja menjadi kecewa dan ragu. Mereka bisa saja pulang dengan kecewa sambil berkata, “Raja macam apakah yang dilahirkan di dalam sebuah rumah biasa!” Mereka bisa saja berkata, “Bukan ini yang kita harapkan, ayo balik kanan dan pulang saja.” Namun, apa yang dilakukan oleh para Majus itu?

 

Merespons Kejutan dengan Penyembahan

Alkitab menggambarkan dengan indah apa yang dilakukan oleh orang-orang majus itu ketika berhadapan dengan kejutan yang tidak sesuai dengan harapan mereka. “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.”  Mereka menerima kejutan yang tidak menyenangkan itu, dan memilih untuk sujud menyembah, dan mempersembahkan apa yang mereka miliki kepada sang raja itu.

Menyembah tatkala berkat Tuhan melimpah itu perkara mudah.  Tetapi, menyembah tatkala hidup membawa kejutan yang tidak menyenangkan, maka itu bukan hal yang gampang. Menyembah berarti mengakui kedaulatan Tuhan di tengah tanda tanya besar mengapa peristiwa ini dan itu terjadi. Menyembah berarti menaklukkan diri di bawah otoritas sang raja. Menyembah berarti menaklukkan pikiran dan perasaan kita di hadapan Sang Pencipta kehidupan.

Apa yang kita lakukan ketika hidup membawa kejutan yang tidak menyenangkan? Marah dan kecewa? Terhadap diri sendiri, orang lain, dan bahkan Tuhan? Kemarahan dan kekecewaan adalah reaksi alami dan manusiawi, tetapi tidak produktif di dalam kehidupan ini. Tidak ada jalan keluar yang lebih baik ketika hidup ini tidak sesuai harapan selain menyembah. Menyembah berarti mengakui kedaulatan Allah di dalam kehidupan kita. Menyembah berarti menerima segala perkara yang diizinkan Allah untuk terjadi. Menyembah adalah pilihan yang terbaik bukan ketika hidup ini berlangsung lancar, melainkan lebih dari itu, yakni ketika hidup membawa kejutan yang tidak menyenangkan.

Pergumulan orang-orang majus mengikuti Bintang itu adalah cerminan pergumulan kita mengikuti pimpinan Allah. Pergumulan kita untuk mengikut kehendak Tuhan sering kali akan membawa kita pada tempat dan situasi yang tidak kita harapkan atau inginkan. Ketika hal ini terjadi, dengan mudah kita akan berkata, “Ini bukan kehendak Allah. Ini pasti ada yang salah.” Pengalaman orang-orang majus mengingatkan kita bahwa perjalanan mengikuti tuntunan Tuhan itu bisa saja membawa kita pada tempat yang tak terduga dan tak diharapkan. Namun, di situlah kita menemukan Tuhan dan kehadiran-Nya.

 

Menyembah Menghasilkan Arah

Apa yang terjadi dalam hidup orang-orang majus ketika mereka menyembah? Marilah kita memerhatikan catatan Alkitab tentang apa yang terjadi setelah mereka menyembah Yesus, “Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.” Setelah orang-orang majus itu menyembah, mereka mendapatkan arah yang baru. Mereka berencana untuk pulang dan tidak mampir ke istana Herodes. Mengapa? Kalau mereka kembali kepada Herodes dan memberitahukan tentang di mana Yesus, Raja yang baru itu lahir, maka bukan hanya nyawa Yesus yang terancam, bisa-bisa mereka pun akan kehilangan nyawa. Tuhan memberikan arah yang baru, yang menyelamatkan orang-orang majus itu dari bencana setelah mereka menyembah.

Apakah hari ini kita sedang membutuhkan arah yang baru? Kita stuck alias macet pada cara-cara yang lama, kita terjebak pada dosa yang itu-itu saja tanpa terobosan kemenangan, dan kejutan yang tidak menyenangkan itu mengguncang kehidupan kita. Apakah kita membutuhkan arah yang baru untuk perjalanan kehidupan kita? Marilah menyembah Tuhan, seperti orang-orang majus itu. Ketika kita mengakui kedaulatan Tuhan atas kehidupan kita, maka kita akan siap menerima tuntunan arah dari Tuhan. Menyembahlah, maka Allah akan memberi arah yang baru.

 

Exit mobile version