Site icon

Khotbah Natal: Tiga Kado Surgawi

Tiga Kado Surgawi

Titus 2:11-14

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

Setiap kali kali menjelang Natal, Mama selalu meminta kami untuk mencari rumput-rumputan yang kemudian ditaruh di kaus kaki di pohon Natal. Mama selalu berkata, “Sediakan rumput untuk kuda Sinterklas supaya kamu dapat kado yang bagus.” Saya pun mencari dan menaruh rumput yang terbaik untuk ditaruh di kaus kaki pada malam Natal.  Tanggal 25 pagi, ketika bangun, saya langsung berlari ke arah pohon Natal. Benar, rumput-rumputan itu sudah tidak ada, sebagai gantinya ada begitu banyak kado di bawah pohon Natal, dengan nama saya tertera di situ. “Wah, Pak Sinterklas tahu nama saya,” seru saya waktu itu.

Setiap kali saya membuka kado, saya selalu takjub dan berkata, “Wah, Pak Sinterklas tahu mainan kesukaan saya; baju yang diberikan Pak Sinterklas bagus, dan ada nama saya yang dibordir di baju itu.” Saya senang menerima kado yang sesuai dengan apa yang saya inginkan atau butuhkan. Saya rasa demikian pula dengan kita semua. Kita senang menerima kado, dan jauh lebih senang bila kado itu tepat seperti apa yang kita butuhkan.

Natal adalah saat ketika Tuhan memberikan kado istimewa bagi manusia. Karena Tuhan sangat mengenal manusia, maka kado dari-Nya adalah apa yang dibutuhkan oleh manusia. Sesuatu yang sangat penting untuk keberlangsungan hidup manusia. Apa kado yang diberikan oleh Tuhan? Firman Tuhan berkata, “… kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.” Inilah kado dari Allah! Kasih karunia!

Apa sih kasih karunia itu? Kasih karunia adalah kemurahan hati Allah kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerima kemurahan hati itu. Yesus menggambarkan kasih karunia itu lewat kisah anak yang hilang. Ketika si anak melangkah ragu untuk pulang ke rumah, si bapa sudah berlari untuk memeluknya. Bukan untuk memarahi dan menghukum, melainkan untuk menyatakan kasih. Inilah kasih karunia itu. Inilah kemurahan hati Allah kepada manusia. Kasih karunia adalah hadiah dari Allah yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Karena Allah sangat mengenal manusia, maka pemberian-Nya pun menunjukkan hal ini. Namun, apakah manusia tahu benar apa yang dibutuhkannya untuk hidup di dunia ini? Setidaknya ada tiga hal penting yang dibutuhkan oleh manusia selain soal kebutuhan hidup yang mendasar seperti makanan, minuman, dan pakaian.

 

Kado Pertama: Damai

Pertama, manusia membutuhkan damai di hidupnya. Oh, Anda tentunya tahu bagaimana tidak nyamannya hidup di tengah konflik yang berlangsung terus menerus. Rumah tangga, tempat kerja, dan bahkan gereja bisa terasa seperti neraka karena konflik. Namun, konflik tidak selalu berbicara tentang urusan kita dengan orang lain. Konflik juga berbicara tentang urusan kita dengan diri sendiri. Banyak orang hidup dan berkelahi dengan dirinya sendiri. Apa maksudnya? Berapa banyak orang yang tidak puas dengan hidupnya? Berapa banyak orang hidup dalam penyesalan dan air mata. Ketidakpuasan, penyesalan, dan air mata adalah tanda bahwa kita masih berkelahi dengan diri sendiri.

Mengapa kita berkonflik dengan orang lain, dan bahkan dengan diri sendiri? Alkitab mengajarkan bahwa konflik dengan orang lain dan diri sendiri itu dimulai dengan konflik terhadap Tuhan. Adam dan Hawa memberontak terhadap Tuhan, dan sejak itu semua manusia, termasuk Anda dan saya, berkonflik dengan Tuhan. Buktinya? Seberapa sering kita melakukan hal yang kita tahu bahwa itu salah atau berdosa? Seberapa banyak hal baik yang kita tahu seharusnya kita lakukan namun kita mengabaikannya? Pelanggaran terhadap kehendak Tuhan dan pengabaian terhadap firman-Nya adalah bukti bahwa kita terus berkonflik dengan Tuhan.

Bagaimana caranya supaya kita berhenti berkonflik dengan orang lain dan bahkan dengan diri sendiri? Pernahkah Anda mengancingkan baju dan setelah mencapai kancing yang terakhir barulah Anda menyadari bahwa sedari awal Anda telah memasukkan kancing ke lubang yang salah? Apa yang harus kita lakukan? Tentu saja membukanya kembali dan memulai dari awal, bukan? Nah, kalau kita ingin berhenti berkonflik dengan diri sendiri dan orang lain, kita harus memulai dari awal. Berhentilah berkonflik dengan Tuhan. Bagaimana caranya?

Firman Tuhan berkata, “… kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.” Kita berhenti berkonflik dengan Tuhan ketika kita menerima hadiah kasih karunia itu. Terimalah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat Anda, maka konflik Anda dengan Tuhan akan berakhir. Damai dengan Tuhan, damai dengan orang lain, dan damai dengan diri sendiri. Kasih karunia itu membawa damai yang sejati kepada kita. Bila dua ribu tahun yang lalu Yesus lahir di kandang karena tidak ada orang yang menyediakan tempat bagi-Nya, kini bersediakah Anda membuka hati sehingga Yesus lahir di hati Anda?

 

Kado Kedua: Kesempatan Kedua

Kedua, manusia membutuhkan kesempatan kedua untuk hidupnya. Pada umumnya, manusia menyadari bahwa dirinya tidak sempurna. Tidak sempurna berarti bisa bersalah. Dan tidak ada obat untuk kesalahan, selain pengampunan dan diberi kesempatan untuk mencoba kembali. Anda tentu pernah mengalami betapa gelisahnya ketika orang yang Anda kasihi belum atau tidak mengampuni Anda dan bahkan tidak bersedia memberikan kesempatan kedua. Sungguh menyiksa.

Apalagi dalam relasi dengan Tuhan. Walaupun kita adalah orang Kristen, duh … betapa seringnya Anda dan saya berbuat dosa. Janji, berjuang, jatuh lagi. Begitu terus sampai kita sendiri menyerah dengan dosa tertentu. Kita sampai sungkan atau malas untuk mengakui dosa dan kesalahan kita. Kita takut Tuhan akan menghukum pelanggaran dan kesalahan kita. Kita tidak menginginkan hukuman, kita merindukan kesempatan kedua. Kita berkata, “Biarlah saya mencoba lagi!”

Firman Tuhan berkata, “Ia (kasih karunia itu) mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah ….” Kasih karunia itu mendidik kita. Kata yang digunakan untuk mendidik di bagian ini adalah paideuo dalam bahasa aslinya. Itu adalah kata yang sama yang digunakan untuk menggambarkan seorang ayah yang mengajar anaknya. Ketika saya mengajar anak saya berjalan, maka ada saat ketika berulang kali anak saya jatuh. Tentu saya harus mengangkatnya berdiri. Agar dapat berjalan, saya harus mengajarinya berjalan. Itu berarti saya harus memberikan kesempatan kedua baginya untuk bangkit berdiri. Anak saya tidak dapat berjalan kalau saya tidak memberikan kesempatan kedua dan selanjutnya. Kasih karunia itu membawa pada kita: kesempatan kedua. Apakah kita sedang dalam keadaan jatuh dan mengharapkan kesempatan kedua? Apakah hidup Anda pribadi sedang membutuhkan kesempatan kedua? Tatkala Anda sudah gagal, dan tidak ada seorang pun yang memercayai Anda, padahal Anda membutuhkan kesempatan kedua, maka datanglah kepada Yesus malam ini.

Apakah keluarga Anda sedang membutuhkan kesempatan kedua? Anda tahu bahwa masalah dalam keluarga lahir karena kesalahan Anda dan Anda merindukan kesempatan kedua. Datanglah kepada Yesus malam ini.

Bagaimana dengan pekerjaan Anda, apakah pekerjaan Anda membutuhkan kesempatan kedua? Anda sudah berupaya maksimal, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan harapan Anda. Berhentilah menyalahkan orang lain karena harapan kedua itu tidak datang dari mereka. Datanglah kepada Yesus malam ini. Datanglah kepada Yesus dengan mengakui kesalahan dan kelemahan kita, dan terimalah kasih karunia-Nya. Kasih karunia itu membawa kesempatan kedua kepada kita.

 

Kado ketiga: Harapan

Ketiga, manusia membutuhkan harapan untuk hidup. Mengapa orang bunuh diri? Pada umumnya orang bunuh diri karena kesulitan uang atau putus cinta. Namun, benarkah itu? Bukankah ada yang lebih mendasar dari itu: uang masih bisa dicari dan cinta masih bisa diperjuangkan, tetapi mengapa tidak mau berjuang? Karena putus harapan. Keputusasaan alias kehilangan harapan merenggut nyawa banyak orang saat ini. Manusia membutuhkan harapan untuk bertahan hidup.

Firman Tuhan berkata, “… dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia …”  kasih karunia itu membawa pengharapan kepada kita. Bukan pengharapan yang didasarkan pada kesanggupan manusia, tetapi pengharapan yang didasarkan pada kesanggupan Allah.

Saya pernah menonton film tentang satu pasukan yang terjebak di wilayah musuh. Dari beberapa belas orang, tinggal lima orang yang bertahan hidup. Terkepung di sebuah bukit, tetapi terus berjuang. Mengapa tidak menyerah? Ternyata, melalui telepon yang mereka pegang, mereka mendengarkan suara sang komandan, “Jangan menyerah, berjuanglah terus. Helikopter bantuan segera datang.” Harapan itu membawa kekuatan bagi mereka untuk terus berjuang.

Itu pulalah yang kita miliki karena kasih karunia Allah: harapan. Bukan dari manusia, tetapi dari Sang Komandan Agung: Yesus Kristus sendiri. Bantuan segera datang, jangan menyerah. Berjuanglah terus. Jangan menyerah dengan keadaan, jangan menyerah dengan rumah tangga Anda, jangan menyerah dengan pekerjaan Anda. Berjuanglah terus, bantuan sedang datang.  Kasih karunia itu membawa pengharapan pada kita.

Ketika saya berumur lima tahun, saya mulai tahu bahwa tidak ada Sinterklas yang datang. Tidak ada kuda yang perlu diberi rumput segar. Yang ada hanyalah orangtua saya yang meletakkan kado itu pada malam hari ketika saya masih tidur. Namun, ada satu hal yang tidak berubah. Saya masih senang bila menerima kado, apalagi jika kado itu adalah apa yang saya butuhkan.

Apakah Anda sudah menerima kado untuk Natal ini? Kado yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Terimalah kasih karunia sebagai kado terindah dari Allah, sebab kasih karunia itu memberikan kepada kita: damai, kesempatan kedua, dan pengharapan.

Exit mobile version