Site icon

Kita Berharga di Mata Tuhan

Kita Berharga di Mata Tuhan (Yesaya 43:1-7)

Andy Kirana

Saudara-saudara yang dikasihi Kristus… Salah satu surat kabar di Mississippi memuat berita tentang seorang wanita yang mencoba untuk bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke laut, karena ia tidak memiliki tujuan hidup. Seorang pemuda melihat wanita itu terjun ke dalam laut dan langsung terjun ke laut itu untuk menyelamatkannya. Pemuda itu lupa bahwa ia tidak bisa berenang. Pemuda itu langsung tenggelam. Melihat hal itu, wanita itu lupa akan masalahnya dan ia berusaha menyelamatkan orang yang ingin menyelamatkan dia. Ia menarik pemuda itu ke tepi pantai. Wanita itu berkata kepada para wartawan bahwa pada saat ia menyelamatkan pemuda itu, hidupnya memiliki tujuan. Dalam usahanya menyelamatkan orang lain, ia menyelamatkan dirinya sendiri. Wanita itu memiliki alasan untuk terus menjalani hidupnya.

Demikianlah, hidup kita menjadi berarti bila kita mengasihi dan dikasihi oleh orang lain. Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, cepat atau lambat akan menderita. Saling mengasihi dan saling menolong akan menguatkan hidup kita. Hidup menjadi berharga untuk dijalani. Lebih-lebih hidup kita akan sangat berarti kalau kita betul-betul menyadari dan merasakan bahwa Allah mengasihi kita dan menilai kita ini sangat berharga di mata Tuhan. Itulah hasil karya keselamatan Allah yang tanpa syarat dalam hidup kita.

Saudara-saudara yang dikasihi Kristus… Sebelum karya keselamatan Allah yang tanpa syarat dinyatakan melalui nabi Yesaya, kita menyaksikan sikap umat yang tuli dan buta terhadap firman Allah, sehingga mereka dijarah dan dirampok habis-habisan. Allah menghukum mereka dengan menyerahkan mereka kepada para penjarah (Yes. 42:18-20). Sang nabi menjelaskan alasan penderitaan yang dialami oleh umat Israel, yaitu: “Siapakah yang menyerahkan Yakub untuk dirampas, dan Israel kepada penjarah? Bukankah itu TUHAN? Sebab kepada-Nya kita telah berdosa, dan orang tidak mau mengikuti jalan yang telah ditunjuk-Nya, dan kepada pengajaran-Nya orang tidak mau mendengar” (Yes. 42:24).  Penderitaan yang mereka alami bukan karena sikap hidup mereka yang membela kebenaran dan keadilan, tetapi karena keberdosaan mereka dengan melawan firman-Nya. Api kekudusan Allah benar-benar membakar dan membinasakan mereka, sehingga mereka tercabut dari tanah perjanjian dan terbuang di Babel. 

Namun ternyata kasih-karunia Allah melampui keberdosaan dan kelemahan umat-Nya. Yesaya 43:1 mengungkapkan penebusan Allah yang tanpa syarat: “Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.” Perkataan “tetapi sekarang” menunjuk kepada suatu kejadian penting di mana Allah yang murka berubah menjadi Allah yang berbelas-kasihan. Itu berarti semua yang dikemukakan sebelumnya mengenai dosa Israel telah merupakan masa lalu, dan demikian juga hukumannya. Pernyataan “tetapi sekarang” mengungkapkan tersedianya suatu pengharapan baru. Keselamatan telah tiba, sebab Allah telah menebus dan memanggil mereka sesuai dengan namanya. Dengan pernyataan “tetapi sekarang” Allah yang bernama Yahweh menegaskan bahwa umat yang terhukum tetaplah umat kepunyaan-Nya. Dengan demikian arti pernyataan “tetapi sekarang” mengungkapkan karya penebusan Allah yang tanpa syarat. 

Yesaya 43:3-4 akan membantu kita mengerti akan isi hati Allah yang terungkap dalam karya penebusan-Nya. Awalnya, itu akan terdengar asing, tetapi perhatikanlah firman-Nya di ayat 3: “Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu.” Di mana Etiopia dan Syeba itu? Keduanya adalah nama propinsi di Mesir bagian selatan. Pendengar pertama nubuat Yesaya memiliki pikiran budak, jadi Allah mengingatkan mereka akan sejarah kuno mereka. “Ingatkah kau ketika Aku membebaskan kau dari perbudakan?” Tebusan untuk kemerdekaan mereka adalah nyawa orang-orang Mesir. “Ingat semua darah yang tercurah itu? Berbagai tulah, yang kemudian diikuti dengan kematian anak-anak sulung pada tengah malam itu, dan lain-lain. Kemudian, ketika kau keluar dari Mesir, pasukan Mesir tenggelam di dasar Laut Merah. Ingat itu? Itu sungguh terjadi!” Inilah prinsipnya: Allah berkata, “Aku akan melepaskanmu, bahkan jika itu harus mengorbankan orang-orang lain.”

Lihatlah dua kata terakhir dalam ayat 3: “sebagai gantimu.” Prinsip yang sama ada di bagian akhir ayat 4: “Aku akan memberikan orang-orang lain sebagai gantimu dan orang-orang lain sebagai penukar hidupmu.”Sungguh suatu kebenaran yang “menakutkan” dan membuat kita rendah hati. Kedua frasa itu mengacu pada prinsip penebusan yang bersifat menggantikan. Karena kekudusan-Nya, Allah menuntut agar dosa itu dibayar. Tetapi karena kasih-Nya, Dia mengizinkan adanya pengganti. Prinsip pengganti (substitusi) ini ada di sepanjang bagian  Alkitab,  baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dan apa yang digambarkan dalam Perjanjian Lama digenapi dan diproklamirkan dalam Perjanjian Baru.

Proklamasi itu adalah: Tuhan Yesus sebagai pengganti bagi Saudara dan saya. Itu hal yang jauh berbeda dari orang-orang Mesir yang mati ‘menggantikan’ orang-orang Israel. Tuhan Yesus murni dan tanpa cela, kudus, dan benar. Dia tidak layak mendapatkan hukuman. Dia menanggung sendiri hukuman itu sebagai Anak Allah supaya kita dapat diampuni. Sungguh menakjubkan! Tetapi, mengapa Tuhan Yesus memilih untuk melakukan itu? Jawabannya ada di ayat 4, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.” Dalam bahasa Ibrani aslinya, masing-masing frasa itu ditulis dalam bentuk perfect tense. Itu memaparkan kasih Allah bagi kita dari masa lalu yang kekal hingga masa kini, dan selamanya di masa depan. Ini merupakan bukti bahwa umat-Nya berharga, sehingga Allah menebus mereka. 

Mungkin Saudara meragukannya dan bertanya-tanya: “Bagiamana Tuhan tetap bisa mengasihi saya? Saya telah melakukan beberapa hal yang tidak dapat saya bicarakan…” Tunggu. Saudara masih belum mengerti. Singkirkan hal-hal yang membuat pandangan Saudara tentang diri sendiri menyimpang. Hapuslah dalam benak Saudara semua pandangan menyimpang yang telah diukir oleh perilaku dan keangkuhan Saudara terhadap identitas Saudara. Tidak ada hal dalam diri kita yang membuat kita berharga. Kenyataan bahwa Allah menghargai kita, mengatakan sesuatu tentang Allah. Itu tidak mengatakan apa-apa tentang kita. Allah tidak mencurahkan kasih-Nya kepada kita karena dalam hidup kita ada sesuatu yang sedang berlangsung, yang tidak dimiliki oleh orang lain di sekitar kita. Tidak ada sesuatu yang berharga dari diri kita sendiri, dan percaya atau tidak – itu adalah berita bagus! 

Beginilah kenyataannya: Jika Allah mengasihi kita karena sesuatu yang dilihat-Nya dalam diri kita, kemudian apa yang terjadi ketika kita berubah? Ketika kita gagal, atau jatuh, atau layu? Apakah hati Allah akan berubah? Mungkin kasih-Nya akan pergi. Tidak! Mungkin perbedaannya tampak kecil, tetapi dengarkan – itu adalah perbedaan yang besar. Kita tidak hanya berharga; kita dihargai! Saudara melihat perbedaannya, bukan? Keberhargaan kita tidak terletak dalam siapa saya, tetapi siapa yang memiliki saya. Kasih Allah itu kekal, jadi kasih-Nya tidak akan hilang. Dengan demikian nilai “keberhargaan” umat manusia sama sekali bukan ditentukan oleh dirinya, tetapi oleh kasih dan rahmat Allah yang tanpa syarat. 

Perhatikanlah, orang percaya yang sungguh-sungguh itu berharga di mata Allah. Mereka adalah perhiasan-Nya, harta kesayangan-Nya. Ia mengasihi mereka, Ia bersukacita di dalam mereka, melebihi umat mana pun. Jemaat-Nya adalah kebun anggur-Nya. Hal ini membuat umat Allah itu benar-benar mulia, dan besarlah nama mereka. Sebab siapa sesungguhnya manusia itu terletak pada siapa mereka di hadapan Allah. Kemuliaan dan keberhargaan manusia yang seperti itu diungkapkan oleh pemazmur: “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Mzm. 8:6). Dengan demikian nilai kemuliaan dan keberhargaan manusia merupakan wujud pemberian Allah dalam karya penebusan Kristus. 

Itu semua menunjukkan betapa Allah itu sangat menghargai kita manusia yang dikasihi-Nya. Karena Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang tidak berguna dan tidak berharga. Walau mungkin dalam pandangan manusia, kita dianggap tidak masuk hitungan karena dinilai terlalu buruk, parah dan tidak pantas, tetapi di mata Tuhan kita begitu berharga. Sekarang perhatikan, di tangan saya ini ada silet yang tajam. Saya mau bertanya: “Bisa tidak silet ini dipakai untuk memotong kertas?”  (jemaat: Bisa). Kalau dipakai untuk mencukur jenggot atau rambut, bisa nggak? (jemaat: Bisa). Sekarang saya akan mempergunakan silet ini memotong balok kayu ini, bisa nggak? (jemaat: Nggak bisa; Sulit). Bayangkan, dengan silet ini saya akan menebang pohon yang besar, mampu nggak ya? (jemaat: Nggak mampu; Nggak efektif). Ya, betul. Baiklah, di tangan saya ada sebilah kapak. Kembali saya akan bertanya kepada Saudara-saudara. Menurut Saudara, kapak ini bisa nggak dipakai untuk menebang pohon? (jemaat: Bisa). Seandainya kapak ini dipakai untuk memotong kain atau kertas, bahkan untuk mencukur jenggot, bisa nggak? (jemaat: Bisa, tapi kesulitan). Ya, saya sependapat dengan Saudara. Melalui peragaan ini, saya ingin menunjukkan bahwa setiap orang itu unik, penting, dan berharga tergantung fungsi kita masing-masing. Jangan pernah menganggap rendah orang sebelum Saudara memahaminya. Demikian juga, kita harus betul-betul memahami bahwa keberhargaan kita di hadapan Tuhan juga unik. 

Saudara-saudara yang dikasihi Kristus… Yesaya mati martir di bawah pemerintahan Manasye, salah satu raja terjahat dalam Perjanjian Lama. Menurut tradisi itu, Yesaya bersembunyi dalam sebuah pohon yang berlubang untuk melarikan diri dari Manasye. Para prajurit raja, yang mengetahui bahwa Yesaya ada di dalam pohon, menggergaji pohon itu sampai rubuh. Dengan demikian, Yesaya pun ikut digergaji. Sejumlah ahli merasa bahwa Yesaya termasuk dalam acuan di kitab Ibrani tentang para pahlawan iman yang digergaji (Ibr. 11:37). Ini menunjukkan bahwa keberhargaan kita di mata Tuhan bukan hanya semasa kita hidup, tetapi Allah juga menghargai kematian kita. Memang benar apa yang dikatakan sang Pemazmur, “Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mzm. 116:15). Wow, itu sungguh menenangkan hati. Bukankah ini saatnya kita memuji dan memuliakan nama-Nya? Mari kita pujikan “Ku Berharga di Mata-Mu.”

Ku berharga di mata-Mu,

Ku berharga di mata-Mu,

Lebih dari semua yang Engkau miliki,

Betapa mulia diriku.

Kau rela b’rikan diri-Mu,

Menjadi insan s’pertiku,

Bahkan mati di kayu salib yang keji,

Menebus semua dosaku.

Bagaimana ya Tuhan 

Ku tidak mengasihi-Mu,

S’genap hidup ku jadi milik-Mu.

Takkan pernah ku dapat 

Membalas kebaikan-Mu,

Selamanya Tuhan ku muliakan.

Exit mobile version