Site icon

Makna Kebangkitan Tubuh Jasmani

Makna Kebangkitan Tubuh Jasmani

1 Korintus 15:12‑19

Oleh: Jenny Wongka †

Kepada jemaat di Korintus, Paulus mengingatkan kembali inti dari pemberitaannya. Di dalam ayat 1‑11, tampak bahwa orang‑orang Kristen di Korintus telah percaya akan kematian dan kebangkitan Kristus. Penegasan relita kebangkitan itu didasarkan pada dua argumen yang terdapat dalam pasal 15. Oleh karena Yesus telah dibang­kitkan, maka kebangkitan dari kematian adalah hal yang tidak mustahil lagi bagi manusia. Maksudnya, oleh karena kebangkitan Yesus, maka manusia pun kelak akan bangkit dari kuburnya. Karena jika tidak demikian, maka kebangkitan Yesus menjadi sia-sia. Dua kebangkitan ini berkaitan erat satu dengan yang lain. Bahkan, apabila tidak ada kebangkitan, maka pemberitaan Injil tidak lagi memiliki makna dan tidak berguna.

Sungguh disayangkan, sejumlah orang percaya menerima menerima  beberapa bagian dari kebenaran Allah tetapi tidak menerima bagian yang lain dari kebenaran itu. Hal itu tampak jelas dari kemunculan berbagai masalah yang dipengaruhi oleh filsafat pagan (pemberhalaan). Pemikiran filsafat dan spiritualisme pada masa Paulus, sama seperti yang kita miliki dewasa ini, memiliki banyak gagasan dan konsep yang keliru tentang hal‑hal yang bakal terjadi setelah kematian.

 

Sejumlah agama mengajarkan bahwa jiwa tidak akan pernah mati. Pada saat kita mati secara jasmani, maka jiwa dan roh kita beristirahat. Para penganut materialisme percaya akan kepunahan total, pembinasaan seu­tuhnya. Tidak ada bagian tubuh manusia yang dapat bertahan sete­lah kematian. Kematian adalah titik akhir dari kehidupan. Sejumlah agama mengajarkan reinkarnasi, di mana jiwa atau roh dapat mengulangi hidup dari satu bentuk ke bentuk yang lain, bahkan dari manusia menjadi binatang atau tanaman atau sebaliknya. Yang lain percaya bahwa baik secara utuh maupun sebagian, roh akan kembali kepada sumber­nya, yakni ke dalam eksistensi atau kehendak ilahi. Kepercayaan itu direfleksikan di dalam sebuah pernyataan dari filsuf kontem­porer Leslie Weatherhead, “Apakah akan jadi masalah besar apabila saya lenyap seperti setitik air di tengah lautan, jika suatu ketika saya menjadi ombak yang kemudian menghantam bibir pantai dengan tenang?”

 

Dari semua pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa keinsanan dan kepri­badian manusia akan lenyap begitu saja setelah ia mati. Jadi jika ada sesuatu yang terus hidup tanpa mengalami kematian, pasti itu bukanlah manusia, dan juga bukan suatu bentuk kesatuan individu yang hidup dengan normal.

 

Prinsip dasar dari filsafat Yunani kuno adalah dual­isme, sebuah konsep yang umumnya dihubungkan dengan seorang filsuf ternama, Plato. Dualisme menandaskan bahwa segala sesuatu yang bernuansa spiritual (rohani) pada hakikatnya adalah baik dan segala sesuatu yang bersifat fisikal (jasmani) adalah jahat. Bagi siapa saja yang menganut pandangan ini, maka ide tentang kebangkitan tubuh dinilai repug­nant (menjijikkan). Menurut mereka, alasan utama manusia melangkah pada kehidupan setelah kematian tak lain karena mereka ingin melarikan diri dari segala hal yang bersifat jasmani. Mereka berpikir bahwa tubuh itu bagaikan sebuah kubur, atau perangkap, yang membelenggu roh manusia selama hidup di dunia ini. Bagi orang‑orang Yunani, tubuh mereka akan berakhir dan mereka tidak mau membawanya serta pada kehidupan selanjutnya. Mereka percaya akan immortalitas (kekekalan) roh dan dengan tegas menentang ide kebangkitan tubuh. Paulus mengalami pertentangan itu dalam pelayanan penginjilannya di Areopagus. Ketika para ahli filsafat di Atena mendengar pengajarannya mengenai kebangkitan orang mati, beberapa dari mereka mencemooh dan berkata, “lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal ini” (Kisah Para Rasul 17:32). Seneca memiliki pandangan dualisme yang khas, “Tatkala hari itu tiba, ketika akan terjadi pembauran ilahi dan manusiawi, maka aku akan meninggalkan tubuhku ini, dan akan kembali menjadi allah.” Beragamnya ajaran serta filsafat mengenai kebangkitan membuat orang-orang Yahudi yang juga menjadi jemaat di Korintus mempertanyakan kebenaran dari pengajaran Paulus mengenai kebangkitan. Kendatipun fakta­nya pengajaran tentang kebangkitan telah diberikan sejak zaman Perjan­jian Lama, namun sejumlah orang Yahudi, seperti para Saduki, tidak percaya akan kebangkitan.

 

Di dalam Kitab Ayub, kita membaca, “juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingpun aku akan melihat Allah” (Ayub 19:26, bandingkan dengan Mazmur 17:15). Penglihatan yang dialami Yehezkiel tentang tulang‑tulang kering (37:1‑14) menggambarkan pemulihan bangsa Israel sekaligus kebangkitan jasmani umat Allah. Nubuatan Daniel tentang kebangkitan juga amat jelas, yaitu mengenai kebangkitan tubuh orang-orang yang sesat maupun orang yang selamat: “Dan banyak dari antara orang‑orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengala­mi kehinaan dan kengerian yang kekal” (Daniel 12:2).

 

Perlu disadari bahwa ajaran Perjanjian Lama tentang kebangki­tan sangat terbatas dan belum lengkap, sedangkan di dalam Perjanjian Baru, pengetahuan tentang kebangkitan sangat banyak dibahas. Walaupun injil‑injil belum selesai tertulis pada masa Perjanjian Baru, tetapi kehidupan Yesus sudah dikenal secara luas, dan orang Korintus telah memelajari segala hal yang Dia ajarkan dari Petrus dan murid‑murid Yesus lainnya, serta Rasul Paulus. Yesus berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman” (Yohanes 6:44). Ia menyatakan hal ini di hadapan sejumlah orang Yahudi di dekat Laut Galilea. Kepada Marta Dia bersabda, “Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes 11:25).

 

Dasar dari pengajaran rasuli ini adalah bahwa Kristus bangkit dari kematian dan bahwa semua orang yang percaya akan Dia juga akan dibang­kitkan kelak. Sama seperti apa yang telah diberitakan oleh Petrus dan Yohanes segera setelah hari Pentakosta, “imam‑imam dan pengawal Bait Allah serta orang‑orang Saduki itu sangat marah karena murid‑murid mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa di dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati” (Yohanes 4:1,2). Paulus telah menuliskan surat kepada jemaat Tesalonika beberapa tahun sebelum ia menulis surat kepada jemaat di Korintus, “maka Tuhan sendiri akan turun dari surga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit” (1 Tesalonika 4:16). Dengan tegas ia mengajarkan kebenaran yang sama kepada jemaat di Korintus, dan di dalam surat berikut­nya ia berkata kepada mereka, “… kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama‑sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersa­ma‑sama dengan kamu kepada diri-Nya” (2 Korintus 4:14).

 

Selain dari fakta tentang kebangkitan orang percaya yang diajar­kan di dalam Perjanjian Lama, kita pun dapat melihat bahwa di dalam pengajaran Yesus selama pelayanan-Nya di dunia ini serta di dalam pengajaran para rasul, tema kebangkitan tubuh merupakan tema yang populer dan banyak menjadi perdebatan, termasuk di dalam kehidupan berjemaat di Korintus. Iytulah sebabnya, ketika muncul keragu‑raguan di antara mereka, Paulus mengulas hal ini dengan jelas dan tegas di dalam suratnya kepada mereka, terutama di dalam pasal 15. Ia membuka ulasannya dengan sebuah argumentasi yang sederhana dan masuk akal: “Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?” Secara gramatikal dari bahasa aslinya, kalimat ini mengimplikasikan suatu kondisi yang benar. Orang-orang Korintus percaya akan kebangkitan Kristus (1 Korintus 15:1‑11) dan bahwa Dia telah bangkit dari kematian-Nya. (Kata “bangkit” pada konteks ini dalam bahasa aslinya adalah egeiro, yang artinya “telah dibangkitkan”.) Jika demikian, mengapa kemudian mereka menyangkal kebenaran umum tentang kebangkitan ini? Apabila Kristus telah dibangkitkan, maka berarti bahwa kebangkitan menjadi hal yang mungkin.

 

Pada ayat 13‑19, Rasul Paulus menjelaskan uraiannya bahwa kebangkitan tidak hanya sesuatu yang mungkin, tetapi juga hal yang penting bagi iman, sembari menyatakan berbagai konsekuensi logis yang pasti akan terjadi, baik secara teologis maupun humanis, apabila memang tidak ada kebangki­tan. Konsekuensi tersebut akan dijabarkan pada bagian selanjutnya.

  1. Kristus tidak mungkin dibangkitkan
  2. Pemberitaan Injil menjadi hal yang sama sekali tidak bermakna
  3. Iman kepada Kristus adalah hal yang sia‑sia
  4. Semua kesaksian dan segala pemberitaan tentang kebangkitan menjadi dusta besar
  5. Seluruh umat manusia tetap hidup di dalam dosa‑dosa mereka
  6. Semua orang‑orang percaya yang hidup pada masa sebelum Kristus akan binasa untuk selama-lamanya.
  7. Orang‑orang Kristen menjadi orang yang paling malang di bumi ini akibat kebohongan dan pengajaran yang tidak benar yang mereka terima selama ini.

 

Berbagai Konsekuensi Teologis Apabila Tidak Ada Kebangkitan Orang Mati  (1 Korintus 15:13‑15)

1) Kristus tidak mungkin dibangkitkan

Ini merupakan konsekuensi pertama dan terutama apabila tidak ada kebangki­tan orang mati Jadi dengan mudah dapat disimpulkan bahwa jika orang mati tidak dapat bangkit, maka Kristus pun tidak akan pernah bangkit.

 

Bisa jadi pada saat itu, di kalangan orang-orang Korintus yang belum percaya meragukan kenyataan bahwa Kristus adalah seorang manusia sejati. Sebab dengan populernya orientasi dualisme di antara mereka, sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas, mereka berasumsi bahwa oleh sebab Kristus adalah Allah, maka mustahil jika Dia adalah seorang manusia, dan akibatnya, ia tidak dapat mewujudkan diri-Nya dalam tubuh dan sifat manu­sia. Jadi, Dia tidak sungguh‑sungguh mati, melainkan hanya terlihat mati. Seturut dengan pandangan tersebut, berbagai penampakan diri-Nya selama masa penyaliban dan kenaikan-Nya ke surga itu hanya dianggap sebagai ilusi dan manifestasi diri yang seolah‑olah tampak secara jasmani saja.

 

Sudah tentu pandangan tersebut tidak sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Yesus, para penulis Injil, dan pengajaran para rasul. Injil dengan jelas mengisahkan kehidupan dan pelayanan Yesus di bumi, dan bahwa Dia adalah seorang manusia sejati. Dia dilahirkan dari rahim seorang perawan. Dia makan, minum, tidur, dapat merasa letih, sedih, disalibkan, luka-Nya mengeluarkan darah, dan mati. Pada saat Dia menampakkan diri untuk pertama kali kepada murid‑murid-Nya setelah peristiwa penyaliban, Yesus bahkan menyu­ruh murid-Nya untuk menjamah tubuh dan bekas luka-Nya untuk membuktikan bahwa Dia bangkit dalam wujud keadaan-Nya.sebagai manusia. Kemudian Dia meminta sesuatu dari mereka dan “mengambilnya serta memakannya di hadapan mereka” (Lukas 24:39‑43).

 

Pada hari Pentakosta Petrus menyatakan bahwa “Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah” (Kisah Para Rasul 2:22). Kemudian pada pemberitaan yang sama ia pun menyatakan bahwa Yesus hidup, tidak sekadar di dalam roh tetapi juga di dalam tubuh manusia. Ia pun mengutip apa yang dikatakan Daud bahwa “ia telah meli­hat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan bahwa, Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa dagingNya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah” (Kisah Para Rasul 2:31‑32). Pada bagian pendahuluan dalam Surat Paulus kepada jemaat di Roma, ia memperjelas bahwa dari “Injil Allah”, ia dipanggil sebagai rasul dan dikuduskan Ia pun menyatakan bahwa yang diberitakannya adalah Injil yang telah dijanjikan dengan perantaraan para nabi “tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati” (Roma 1:1‑4). Kebangkitan Yesus adalah bukti nyata atas sifat kemanusiaan serta keilahian-Nya.

 

Pada penglihatan yang diberikan kepada Yohanes di Patmos, Kristus mengatakan bahwa, “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama‑lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” (Wahyu 1:17,18). Pada Suratnya yang kedua, Yohanes menyatakan pentingnya memercayai bahwa Yesus dilahirkan, hidup, mati, dan dibangkit­kan, “sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan anti‑Kristus” (2 Yohanes 7).

 

Paulus memperingkatkan jemaat di Korintus dan juga kita, agar tidak terpengaruh oleh berbagai pandangan serta paham yang menyatakan bahwa Kristus hanya pernah hidup sebagai seorang manusia dan mati tanpa pernah bangkit kembali. Dia adalah manusia sempurna; secara fisik ia hidup, dan mati, serta bangkit kembali. Sebab itu, apabila kebangkitan tubuh adalah hal yang mustahil, maka “Kristus juga tidak dibangkitkan.”

 

2) Pemberitaan Injil menjadi hal yang sama sekali tidak bermakna

Bila Kristus tidak bangkit, maka inilah konsekuensi selanjutnya. Paulus mengatakan bahwa inti dari Injil adalah kematian dan kebangkitan Kristus bagi keselamatan kita. “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa‑dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Korintus 15:3). Hanya melalui kebangkitan Kristus saja, dosa atau maut atau neraka itu ditaklukkan, dan manusia pun terselamatkan dari semua itu.

 

Tanpa kebangkitan Kristus, berita baik itu akan menjadi berita buruk, dan pemberitaan Injil tidak akan memiliki makna. Tanpa kebangkitan-Nya, Injil hanyalah berita bohong dan kosong belaka, berita yang tidak mengandung harapan dan tidak masuk akal. Jika Kristus tidak menaklukkan dosa dan maut, serta membuat jalan bagi manusia kepada kemenangan, maka tidak akan ada Injil untuk diproklamirkan.

 

3) Iman kepada Kristus adalah hal yang sia‑sia

Seandainya Kristus tidak bangkit, maka sama halnya dengan pemberitaan Injil, iman kepada Kristus juga menjadi hal yang sia-sia. Seorang juruselamat yang mati tidak mampu untuk memberikan hidup, apakah gunanya? Jikalau orang mati tidak mungkin bangkit, maka Kris­tus tidak bangkit, sehingga kita pun tidak akan mungkin bangkit juga. Akhirnya kita hanya dapat berkata sebagaimana yang dikatakan pemazmur, “sia‑sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih” (Mazmur 73:13), atau seperti seorang hamba yang berkata, “Aku telah bersusah‑susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia‑sia dan tak berguna” (Yesaya 49:4).

 

Apabila tidak ada kebangkitan, maka tokoh‑tokoh iman dalam Ibrani pasal 11 akan diberikan julukan orang‑orang bodoh. Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Sara, Musa, Rahab, Daud, para nabi, dan semua orang beriman lainnya telah beriman untuk sesuatu yang tidak ada gunanya. Bukankah itu bodoh? Segala cercaan, olokan, perlakuan kasar, pemenjaraan, sakit, aniaya, bahkan mati sahid yang mereka alami menjadi pengorbanan yang sia-sia. Semua orang beriman sepanjang abad akan beriman pula pada kesia‑siaan; hidup dan juga mati untuk kesia‑siaan.

 

4) Semua kesaksian dan segala pemberitaan tentang kebangkitan menjadi dusta besar

Jikalau Kristus tidak bangkit, maka semua orang yang bersak­si dan mengabarkan berita tentang kebangkitan-Nya layak pendusta, tidak terkecuali Rasuk Paulus dan para rasul lainnya. Mereka akan disebut sebagai saksi dusta, yang mengklaim hal yang tidak benar tentang kebangkitan Kristus.

 

Dengan tidak adanya kebangkitan, maka para nabi pada zaman Perjanjian Lama, para rasul, serta para pemimpin gereja pada masa Perjanjian Baru tidak sekadar berbuat kesalahan, tetapi juga sengaja membuat kesalahan. Dengan kata lain, mereka semua adalah penipu ulung. Tidak ada kemungkinan sama sekali, seperti apa yang dikatakan para penganut liberalisme, bahwa kesalahan tersebut bersifat naif. Jikalau Kristus tidak bangkit dari maut, maka mereka bukan hanya tidak diutus Allah untuk menyampaikan berita mengenai diri-Nya, tetapi mereka juga adalah para pembohong yang bersekongkol untuk mempertahankan kebohongan mereka secara konsisten dan memadukan dengan rapi kisah bohong tersebut.

 

Dalam perikop ini, Paulus menegaskan apabila kebangkitan itu tidak benar, maka Kristus pun dengan sendirinya adalah seorang penipu, atau paling tidak Dia berbuat kesalahan yang sangat fatal. Jika salah satu dari kemungkinan tersebut benar, maka Dia sama sekali tidak layak disebut sebagai Anak Allah atau Juruselamat dunia dan Tuhan. Jikalau Dia tidak bangkit, maka Dia bukan pemenang, melainkan korban pembunuhan orang lain. Atau, jikalau para penulis Perjanjian Baru mengalihtafsirkan pengajaran Kristus dan para rasul, maka isi Perjanjian Baru akan menjadi sebuah dokumen yang tidak perlu dipercayai lagi.

 

Berbagai Konsekuensi Humanis Apabila Tidak Ada Kebangkitan Orang Mati (1 Korintus 15:16‑19)

Pada bagian selanjutnya Paulus menggambarkan 3 konsekuensi yang akan dialami manusia yang akan terjadi bila tidak ada kebangkitan. Sama seperti empat hal di atas, semua konsekuensi ini memiliki signifikasi teologis, namun kesemuanya juga memberi pengaruh secara langsung kepada setiap orang percaya.

 

a. Seluruh umat manusia tetap hidup di dalam dosa‑dosa mereka

Pada ayat 16 Paulus menempatkan argumen utamanya: “sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.” Kematian Kristus akan mengakibatkan berbagai konsekuensi dan malapetaka, salah satunya sebagaimana yang dikemukakan Paulus adalah: “jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia‑sialah keper­cayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.” Setelah mengu­langi pernyataan mengenai konsekuensi bahwa iman orang percaya itu menjadi sia‑sia, Rasul Paulus menunjukkan akibat lain, yaitu bahwa orang percaya tidak akan lebih baik secara rohani daripada orang-orang yang tidak percaya. Orang Kristen akan tetap hidup di dalam dosa mereka sama seperti para penyembah berhala dan orang‑orang fasik lainnya. Kita akan berada di dalam perahu yang sama dengan orang-orang yang tidak menyembah Allah, yang kepada merekalah, Yesus bersabda, “Kamu akan mati dalam dosamu” (Yohanes 8:21).

 

Apabila Yesus tidak bangkit dari kematian, maka dosa telah mengalahkan Kristus, dan oleh karena itu, dosa akan terus‑menerus menaklukkan umat manusia. Apabila Yesus tetap mati, maka setelah kita mati, kita akan tetap mati dan mengalami penghukuman. “Sebab upah dosa adalah maut” (Roma 6:23), dan apabila kita tetap mati, maka maut dan penghukuman kekal akan menjadi satu-satunya masa depan, baik bagi orang percaya maupun mereka yang tidak percaya. Tujuan untuk percaya akan Kristus adalah untuk mendapatkan pengampunan dosa, sebab dari pengampunan dosa inilah kita diselamatkan. “Kristus telah mati karena dosa‑dosa kita … dikuburkan, dan …bangkit pada hari yang ketiga” (1 Korintus 15:3,4). Apabila Kristus tidak dibangkitkan, maka kematian-Nya menjadi percuma, iman kita pun sia-sia, dan kita akan selamanya hidup di dalam dosa. Kita tetap mati di dalam pelanggaran dan dosa‑dosa, dan akan mati secara rohani untuk selama‑lamanya. Apabila Kristus tidak bangkit, maka Dia tidak membawa pengampunan dosa dan keselamatan, pendamaian atau kehidupan rohani yang baru bagi kita, baik dulu, sekarang, sampai selama-lamanya.

 

Tetapi sesungguhnya “Allah … telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita” (Roma 4:24,25). Oleh karena Kristus benar-benar hidup, maka kita pun akan hidup (Yohanes 14:19). “Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan‑Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kisah Para Rasul 5:30,31).

 

b) Semua orang‑orang percaya yang hidup pada masa sebelum Kristus akan binasa untuk selama-lamanya.

Apabila tidak ada kebangkitan, maka “demikinlah binasa juga orang‑orang yang mati di dalam Kristus”. Orang‑orang yang mati pada konteks di atas adalah setiap orang kudus, orang percaya dalam Perjanjian Lama, atau orang Kristen, yang telah mati sebelum kematian Kristus, dan mereka akan binasa selama‑lamanya tanpa kebangkitan-Nya. Hal itu pun menunjukkan konsekuensi yang sama yang berlaku pada setiap orang kudus yang telah mati di dalam Kristus saat Paulus menulis surat ini, bahkan Paulus sendiri, para rasul lainnya, serta berbagai tokok Kristen seperti Agustinus, John Calvin, Martin Luther, Wesley, D.L.Moody. Jadi setiap orang percaya dari segala zaman akan mengalami penderitaan kekal, tanpa Allah dan pengharapan. Iman mereka menjadi percuma, sia‑sia, dosa‑dosa mereka tidak mendapatkan pengampunan, dan nasib mereka akan berakhir pada penghukuman kekal.

 

c) Orang‑orang Kristen menjadi orang yang paling malang di bumi ini akibat kebohongan dan pengajaran yang tidak benar yang mereka terima selama ini.

Di bawah terang konsekuensi lainnya, inilah konsekuensi terakhir dan yang paling jelas. “Apabila dalam hidup ini kita kita hanya menaruh pengharapan pada Kristus saja, maka kita adalah orang‑orang yang paling malang dari seluruh umat manusia.” Tanpa kebangkitan, keselamatan, dan berkat yang dibawa-Nya, maka kekristenan menjadi nasib sial para penganutnya dan tidak berarti. Tanpa kebangkitan, kita tidak akan memi­liki Juruselamat, tidak mengalami pengampunan, tidak ada Injil, dan tidak ada iman yang memiliki makna, hidup tanpa pengharapan dan mengalami berbagai malapetaka lainnya.

 

Apabila kita hanya memiliki harapan pada Kristus selama kita hidup dan ternyata Dia tidak bangkit, maka segala pengajaran, pemberitaan, penderitaan, pengorbanan serta seluruh pekerjaan atau jerih lelah kita di dalam Dia menjadi sia‑sia. Apabila Kristus tetap mati, maka bukan saja Dia tidak berdaya untuk membawa kita kepada hidup yang kekal, tetapi Dia pun tidak akan mampu menolong kita pada masa hidup kita sekarang ini. Apabila Dia tidak mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, maka Dia tidak dapat mengem­bangkan kehidupan kita di bumi ini. Apabila Dia tidak hidup, maka kita tidak memiliki sumber damai sejahtera, sukacita, atau kepuasan hidup. Hidup kristiani akan menjadi sebuah kisah tragis yang tanpa makna.

 

Seorang Kristen tidak memiliki Juruselamat kecuali Kristus, tidak memiliki Penebus kecuali Kristus, dan tidak memiliki Tuhan kecuali Kristus. Oleh sebab itu, apabila Kristus tidak bangkit, maka kita pun tidak memiliki hidup (lifeless). Tidak ada apa‑apa lagi yang dapat kita pakai untuk membenarkan iman kita. Pemahaman Alkitab, pemberitaan Injil, atau kesaksian kita tentang Dia, pelayanan, serta penyembahan kita kepada-Nya tidak membawakan pengharapan kepada kita baik pada lehidupan sekarang ini maupun untuk masa yang akan datang.

 

Tetapi yang sebenarnya adalah, kita bukanlah orang malang seperti semua uraian di atas, karena Paulus meneruskan dengan kalimat, “Tetapi yang benar, adalah bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang‑orang yang telah meninggal“ (1 Korintus 15:20).

Exit mobile version